Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Wasiat


__ADS_3

"Opa..., opa kenapa?" teriak Axel melihat opa Broto terbaring dengan banyak peralatan di tubuh laki-laki tua itu. Mendengar teriakan cucunya, Broto berusaha tersenyum, dan Devan segera mendekatkan Axel ke ranjang tempat pak Broto berbaring.


"Axel.., good boy. Tinggallah kamu dengan Om Devan dan Auntie Aleta sayang. Karena opa akan segera per..gi jauh." tersengal-sengal nafas pak Broto saat mencoba berkomunikasi dengan cucunya.


Aleta tidak tahan melihatnya, air mata mengalir membasahi pipinya. Axel segera didudukkan Devan di kursi tepat di depan ranjang opanya, dan di belakangnya Aleta memegangi dan mengelus punggung anak laki-laki itu. Axel menangis tersedu-sedu melihat kondisi opanya, dan sambil memegang sebelah tangan opanya, Axel meletakkan kepalanya di atasnya.


"Axel.., Axel sa..yang. Jadi..lah, anak laki-laki yang ku..at, tidak cengeng. Axel mau jan.. ji dengan opa?" dengan terbata-bata, pak Broto masih mencoba menasehati Axel. Anak itu patuh, meskipun sambil menangis, Axel mendengarkan nasehat dari opanya.


"Nak De..van.., nak Ale..ta.," panggil Broto pada Devan dan Aleta.


"Iya pak Broto.., kami ada di depan Bapak." kata Devan lebih maju mendekat ke arah laki-laki paruh baya itu.


"Aku titipkan Axel..., pa..da.. kalian ber..dua. Pilih..kan seko..lah, atur masa depan..nya!" Devan langsung memegang tangan pak Broto.


"Pak Broto.., Bapak istirahat saja dulu. Bapak tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Axel. Dia akan aman tinggal bersama kami, sekarang Bapak yang penting harus segera pulih, segera sembuh!" kata Devan menyemangati Broto.


"Tidak.., itu aku su..dah dijemput. Aku akan bi..sa tenang, ji.ka Axel berada di tangan yang tepat. Anggoro....!" pak Broto tiba-tiba memanggil nama Anggoro. Ternyata dia adalah pengacara kepercayaan pak Broto, yang sengaja dijemput Ridwan untuk hadir di rumah sakit siang itu.


"Iya pak Broto, Anggoro disini." Anggoro segera mendekat ke arah tempat berbaring pak broto.


"Ba..cakan!" kata pak Broto mulai lemah.


"Baik pak. Selamat siang semuanya, saya pengacara Anggoro akan membacakan wasiat yang diminta oleh pak Broto Kusumo. Pada poin pertama, rumah di Dago diserahkan untuk Rico, dan rumah yang ada di Lembang diserahkan untuk Ridwan kedua putra asuh dari pak Broto. Selanjutnya perusahaan diwasiatkan untuk Axel Prahasta, tetapi sambil menunggu berusia 17 tahun, pengelolaan diserahkan pada Rico dan Ridwan dengan pengawasan dari PT. Anugerah, Tbk, dan setiap keputusan diambil harus mendapatkan persetujuan dari Tuan Devan." Anggoro terus membacakan pokok-pokok inti yang tertuang dalam surat wasiat tersebut.

__ADS_1


Devan dan Aleta terkejut, karena nama Devan dan perusahaannya menjadi pengawas kegiatan operasional dari perusahaan pak Broto, yang nantinya setelah dewasa akan diserahkan pada Axel. Tetapi mereka memilih diam, karena yang penting pak Broto segera pulih. Tetapi setelah Anggoro selesai membacakan surat wasiat tersebut, Pak Broto meminta Aleta dan Devan segera mendekatnya.


"Nak De..van, nak Ale..ta, tolong setu..jui perminta..an Bapak. Agar Bapak bisa te..nang." akhirnya melihat nafas tersengal-sengal dari laki-laki seusia papanya itu, akhirnya Devan menganggukkan kepala, diikuti dengan Aleta.


"Axel.., mere..ka berdu.a seka..rang adalah orang tuamu. Patuh..lah dengan Om De..van dan Auntie Ale..ta." sambil memegang pipi Axel yang terus menangis, pak Broto berbicara.


Tidak berapa lama, pak Broto mengambil nafas panjang, tetapi tidak sampai selesai mesin pemantau yang berada di sisi atas sudah menampilkan grafik datar. Melihat itu, dengan sigap Devan langsung mengangkat Axel dan mendekapnya, Aleta menangis tersedu-sedu.


"Panggil Dokter Rico, sepertinya Bapak sudah tenang berbeda alam dengan kita!" kata Devan perlahan. Ricp langsung berlari keluar kamar, dan Devan segera membawa Axel keluar kamar.


"Opa.., opa.., Axel mau bersama opa Om Dev. Axel mau menemani opa!" teriak Axel sambil menangis meraung-raung. Devan meminta Aleta duduk di sofa, kemudian menyerahkan Axel, dan kembali masuk ke dalam.


Aleta menciumi pipi Axel dengan penuh rasa keibuan. Dia mendekap Axel dalam pelukannya sambil duduk.


Tidak berapa lama, berlarian dokter dan perawat menuju kamar pak Broto. Setelah dilakukan pemeriksaan, akhirnya pak Broto dinyatakan meninggal dunia.


*********************************


Axel dengan ditemani Aleta tampak masih menangis memeluk kuburan pak Broto yang terlihat masih berwarna merah. Sedangkan Arend dan Arick duduk di pinggir lokasi pemakaman dengan ditemani Atmaja  dan Kinara. Sedangkan Devan berdiri mendampingi Aleta dan Axel sambil memegang payung di tangannya.


"Auntie..., Axel mau disini dengan opa. Kasihan opa, tidur di dalam tanah." kata Axel pelan sambil menangis terisak.


"Axel sayang, masih ingat apa pesan opa kemarin sayang? Harus kuat dan tegar, serta menjadi anak yang baik. Selain itu, Axel harus patuh kan sama nasehat auntie?"

__ADS_1


"Sekarang kita pulang dulu, kita harus banyak berdo.a untuk opa. Kalau Axel sayang sama opa, harus kuat, dan tunjukkan pada opa jika Axel anak yang tegar." kata Aleta.


Axel menengadahkan mukanya, dia melihat Aleta dan Devan. Aleta tersenyum sambil berusaha membangunkan Axel, untungnya Axel anak yang penurut. Setelah berdiri, Devan langsung mengangkatnya dan membawanya keluar dari pemakaman.


"Axel.., kita selalu bersama sekarang. Karena kata Mommy and Daddy, Axel tinggal bersama kita." kata Arick.


Axel melihat ke arah temannya itu.


"Arend dan Arick, apakah tidak keberatan jika Axel mengambil kasih sayang Mommy and Daddy?" tanya Axel dengan polosnya.


Arend dan Arick melihat ke arah Mommy and Daddynya, dan setelah melihat mereka berdua mengangguk.


"Boleh Axel, karena kita hanya berbagi Mommy and Daddy. Sekarang kita semua adalah keluarga. Ayuk..., **give me five!" **


Akhirnya ketiga anak laki-laki itu melakukan tos di mobil. Kemudian Aleta memberikan roti dan susu UHT kepada mereka untuk mengganjal perut. Karena melihat si twins dengan lahap makan roti, akhirnya Axel menerima dan menghisap susu UHT kemudian menggigit roti yang diberikan Aleta.


"Kita langsung pulang Tuan, atau ada yang mau dicari dulu?" tanya pak Asep.


"Langsung pulang dulu saja pak, kita mau mandi dulu. Kalau mau keluar bisa nanti malam, biar anak-anak istirahat dulu!" sahut Aleta.


"Baik Non."


Devan langsung menyandarkan kepalanya di kursi mobil, dia sudah mulai bernafas lega karena Axel sudah dapat berinteraksi lagi dengan kedua putranya. Dia kemudian memejamkan matanya, karena  dari kemarin sampai hari ini sibuk mengurusi pemakaman Broto. Sedangkan Aleta, dengan penuh sifat keibuan tampak mendampingi ketiga anak laki-laki itu bermain di dalam mobil.

__ADS_1


************************************


__ADS_2