
Satu jam perjalanan Rengganis baru memarkirkan mobil di garasi rumah keluarga Cokro. Lampu rumah yang biasa terang sudah digantikan dengan lampu malam yang redup. Seperti tidak terjadi sesuatu, Rengganis melangkah masuk rumah dengan santai dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Darimana kamu Anis, jam sebelas malam baru sampai di rumah. Ingatlah, usiamu sudah tidak muda lagi Anis. Saatnya kamu sudah harus mengendalikan dirimu sebagaimana wanita seusiamu." Atmaja menasehati istrinya.
"Huh... ada suamiku rupanya. Dan saat ini mas Atma suamiku sudah mulai peduli dengan istri ya sekarang. Kemarin kemana saja mas, apakah masih merindukan dan mengingat wanita itu yang saat ini sudah mengembara di alam lain." sahut Rengganis sinis dan memojokkan Atmaja.
Atmaja memandang istrinya dengan perasaan sesak.
"Mengapa kamu masih mengingat orang yang saat ini sudah tenang di alamnya. Apakah kamu tidak menggunakan logikamu Anis," tanya Atmaja yang mulai terpancing.
"Ha .ha .ha.., logika berpikirku tidak jalan mas, sama seperti kamu telah menganggapnya aku mati rasa. Cap sebagai wanita berselingkuh tidak pernah hilang dari image ku, dan brand sebagai suami alim yang bertanggung jawab sangat manis bertengger pada citramu." Rengganis menyampaikan isi hatinya pada Atmaja.
Atmaja hanya diam mendengarkan ocehan Rengganis. Dia mengakui sebagian perkataan istrinya, tetapi dia tidak pernah mengkhianati Rengganis.
"Kita ini sama-sama sampah mas Atma, tidak perlu berpura-pura menjadi emas. Sampah ketemu sampah, maka tidak ada gunanya kita saling menghujat. Demi kamu, aku mengorbankan semuanya untukmu. Bahkan sudah di alam kubur saja, wanita itu masih terus menghalangiku" Rengganis semakin berani memojokkan Atmaja.
"Anis, cukup. Hentikan mulut kotormu itu menghina Kinara. Dia istriku, aku menikahinya lebih dulu daripada aku menikahimu. Aku tidak pernah mengkhianatimu selama ini" Atmaja sudah tidak dapat mengendalikan emosinya saat Rengganis mulai menghina Kinara.
"Ha ..ha..ha.., pernikahan.... itu yang kamu bilang? Bullshit.., kalau kamu menganggap Kinara istrimu, beranikah kamu mengakuinya pada si tua Bangka itu. Beranikah kamu Tuan Atmaja yang terhormat, kamu mengumumkan bahwa kamu sudah menikahi perempuan itu, pada saat kamu menerima keinginan laki-laki tua itu untuk menikahiku" Rengganis semakin kalap dan berani.
Apalagi Rengganis tahu, bahwa di rumah ini hanya ada dia dan Atmaja serta ART. Cokro, Devan, dan Rolland masih berada di Sukoharjo mencari Aleta. Perlahan Rengganis melepaskan pakaiannya satu persatu di hadapan Atmaja sampai dia telan**** bulat, dan menghampiri Atmaja.
__ADS_1
"Apakah aku tidak menarik bagimu mas Atma, hingga sampai saat ini kamu memilih tidur dengan semua ilusimu." kata Rengganis mencoba memancing ***rat laki-laki Atmaja.
Tangannya dengan lincah mencoba menggoda Atmaja. Atmaja menahan nafas menghadapi godaan Rengganis, dan saat dia sudah terpancing untuk melakukan hal yang lebih pada Rengganis.
"Berjanjilah untuk meneriakkan namaku pada saat kamu mencapai tujuanmu mas, aku akan melayani dengan segenap ragaku. Aku muak mendengar nama Kinar yang selalu kamu bisikkan pada saat kamu memasuki ku. Berjanjilah dulu." kata Rengganis sinis.
Atmaja terkejut dengan ucapan Rengganis yang terus terang. Dia juga tidak dapat mengendalikan dirinya, pada saat dia menyatukan diri dengan Rengganis, selalu bayangan Kinara yang sedang tersenyum menggodanya. Pada saat dia melakukan pelepasan, seperti un control mulutnya selalu mendesiskan nama Kinara. Mendengar perkataan Rengganis, perlahan hasrat yang sudah berada di ubun-ubun menghilangkan diri.
Melihat Atmaja tanpa daya, Rengganis meninggalkan Atmaja dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena pergulatannya dengan Jatmiko. Perlahan Rengganis memejamkan mata dan menikmati air hangat di bath up untuk beberapa saat.
**********
Di sebuah base camp dengan banyak grafiti di luarnya, hasil penyulapan gudang tua, tampak Bambang kakak Rengganis sedang mengarahkan anak buahnya. Hasil laporan dari anak buahnya, Cokro sudah mengirimkan beberapa orang melakukan penyelidikan tentang penyergapan yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu.
Mereka menabrak Cokro atas instruksi dari Bambang, kemudian membawanya yang saat itu sedang pingsan, kemudian membuangnya di sebuah wilayah perbatasan Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta dengan kabupaten Klaten Jawa Tengah. Pada saat itu mereka memperkirakan Cokro sudah meninggal, sehingga membuangnya di pinggir sungai besar dengan harapan akan terbawa arus sungai.
"Sepertinya tidak bos, kami juga sudah membayar orang untuk mengaku sebagai perbuatannya jika suatu saat kejadian waktu itu terbongkar." lapor anak buahnya.
"Bagus. Aku juga tidak menyangka jika ternyata si kakek tua itu masih memiliki keberuntungan, masih punya nyawa rangkap." gumam Bambang merasa geram.
"Langkah kita selanjutnya apa boss, kita menunggu atau kita beri mereka pelajaran sekarang." tanya anak buahnya yang dipanggil Kobra.
__ADS_1
"Jangan melakukan apa-apa dulu, aku yakin mereka sedang meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi cucunya. Datangnya Maurin dalam keadaan hamil, akan sedikit mengguncang perhatian mereka. Kita tunggu dulu, biarkan adikku Rengganis yang akan bermain untuk kali ini." kata Bambang dengan tersenyum sinis.
Bambang menghentikan bicaranya, kemudian meneguk minuman beralkohol dari gelasnya.
"Berarti kita diam dulu ya boss, kita tunggu perkembangan selanjutnya Jika Bu Rengganis gagal, baru kita cari strategi lain." tanya Kobra.
"Iya. Saat ini kita perlu untuk mengganti fokus pengamatan kita. Kelemahan laki-laki tua itu adalah cucu menantunya yang telah menyelamatkannya dari maut waktu itu. Terus amati dia, beberapa orang-orangku sudah menyelidiki dan ternyata anak itu sekarang sedang berada di daerah asalnya." Bambang memberikan arahan langkah selanjutnya.
"Baik boss, nanti aku kirimkan beberapa orang untuk mengamati gadis itu. Tempat tinggal asal gadis itu ada di panti asuhan Rejeki tempat kami membuang kakek tua itu waktu itu" Kobra berkata pada Bambang.
"Jika tidak berhasil menemukan gadis itu, sekap ibu asuh panti asuhan Rejeki. Aku yakin, gadis itu akan keluar dengan sendirinya jika mengetahui ibu asuhnya dalam keadaan kesulitan." dengan senyum licik akan ide barunya, Bambang menyampaikan pada anak buahnya.
"Siap boss, akan segera saya kondisikan." jawab Kobra. Kobra kemudian mengumpulkan teman-temannya dan memberi tahu langkah yang harus mereka lakukan selanjutnya.
"Gunakan uang itu dulu untuk langkah persiapan." Bambang melemparkan segepok uang lembaran ratusan ribu kemudian melangkah keluar dari gudang tua.
"Siap." sahut Kobra cepat sambil menangkap uang yang dilemparkan Bambang.
*********
Sementara itu Lastri sedang mengajak Maurin putrinya, membicarakan tentang keinginan Rengganis untuk mengirimkannya ke Singapura sementara waktu. Dia juga memberi tahu jika Devan dipastikan tidak akan mau menikahinya sebelum hasil test DNA dia dapatkan.
__ADS_1
Dengan berat hati, akhirnya Maurin menyetujui gagasan yang ditawarkan mamanya Devan untuk berangkat ke Singapura sementara waktu.
*******