
"Hari ini kita akan ke rumah keluarga. Bersiaplah." kata Devan di pagi hari setelah mereka selesai sarapan.
"Ya, jauhkah lokasinya dari sini." tanya Aleta.
"Tidak, tiga puluh menit perjalanan dari sini. Makanya aku mengajakmu kesana pagi hari, agar tidak terjebak macet di jalan."
Aleta segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Tidak sampai lima menit, Aleta keluar dengan mengenakan baju terusan lengan panjang, dengan panjang diatas mata kaki. Melihat penampilan istrinya, Devan sedikit memicingkan matanya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi bulan-bulanan keluargaku." batin Devan sendiri.
Devan berbicara dalam hati. Kemudian dia terlihat sibuk menelpon seseorang.
"Sepuluh menit aku sampai ke butikmu, kamu harus sudah ada disana saat aku tiba." Devan terlihat sedang menyuruh seseorang.
"Iya, aku baru saja memasuki halaman parkir. Perempuan mana lagi yang kamu minta aku untuk menyiapkan wardrobenya?" tanya seseorang di seberang telepon.
Devan tidak menjawab, malah terus memberikan perintah.
"Mulai saat ini, stop semua perempuan yang mengatasnamakan aku untuk ambil baju di butikmu."
"Hanya satu wanita yang sebentar lagi akan aku bawa kesana, yang boleh mengambil karyamu sesuka hatinya. Berapapun harganya." tegas Devan
"Siap boss, betapa beruntungnya wanita itu."
Aleta tampak sudah siap untuk berangkat. Devan kemudian mengakhiri panggilannya.
"Ayuk berangkat," Devan menggandeng tangan Aleta menuju basement untuk mengambil mobil.
Sepuluh menit kemudian Devan menghentikan mobilnya di kawasan Dago, dan mengajak Aleta segera turun dari mobil. Aleta memandang Devan penuh tanda tanya,. tapi akhirnya mengikuti turun.
"Disini kakek tinggal." tanya Aleta pelan.
"Bukan, kita mampir sebentar menemui seseorang."
"Selamat datang pak Devan, on time kan kita menyambut kedatangan Bapak." sapa laki-laki agak melambai menyambut mereka.
"Wow...exotic. Siapa ini pak Devan, mutiara terpendam. Tinggal mengasah sedikit. Cantik banget kamu Cint, ..matamu oh my God..," kata laki-laki itu sambil menjawil dagu Aleta.
Aleta merasa risih lalu mundur di belakang Devan.
"Joni..., jauhkan tangan kotormu itu dari istriku, atau aku patahkan saat ini juga." Devan berteriak marah.
"Maaf boss, jangan khawatir..., Joni hanya gemes melihat mutiara ini." kata Joni sambil mengedipkan mata ke arah Devan.
__ADS_1
"Jangan takut, ikuti dia. Pilihlah gaun yang kamu suka." ucap Devan lembut pada Aleta.
Joni kaget melihat Devan bisa bersikap lembut pada gadis lugu di depannya. Devan, si boss tak terkalahkan bisa bersikap manis dengan gadis yang bahkan tubuhnya belum berkembang penuh.
"Jon... pakai asisten perempuanmu untuk fitting baju, kamu jangan sentuh istriku."
"Siap Bosss, duh yang punya mutiara langka. Posesifnya ampun."
Aleta mengikuti Joni ke dalam untuk di make over. Lima menit Joni keluar menemui Devan.
"Boss, tidak sulit make over istrinya jadi seperti artis ibukota. Tapi sayang boss, mutiara tidak nampak bersinar lagi."
"Tidak perlu bertele-tele, katakan."
"Joni pingin aura mbak Aleta tetap di usianya, hanya minimalis dengan pakaian sesuai usia dan jati dirinya. Tapi kalau lagi jalan boss, ya mirip-mirip lah seperti sugar Daddy bawa cabe-cabean," kata Joni sambil cekikikan.
"Atur sesuai usianya."
"Siap, ga sampai sepuluh menit siap,"
Tak lama Aleta keluar didampingi Joni dan asisten perempuannya.
Mata Devan tak berkedip menatap istrinya, tanpa bedak tebal terlihat fresh seperti anak SMA. Mengenakan baju midi dress panjang selutut, wajahnya tampak berkilau.
"Aku khawatir mbak Aleta akan dibully, jika masuk pada lingkaran pergaulan boss."
"Sampe berani ada yang menindasnya, aku tidak akan segan-segan menghabisinya." jawab Devan menyampaikan peringatan.
"Bukan begitu boss, tidak mungkin kan 24 jam, boss akan bisa mengawasi mbak Aleta. Percayakan saya boss."
Devan memandang Joni dengan teliti. Tampak wajah Joni serius, tidak ada tanda-tanda dia bergurau seperti biasanya. Akhirnya Devan menganggukkan kepalanya.
"Aku melihat kejujuran dan kebaikan di mata mutiara istri Boss. Aku tidak rela mutiara ini jatuh." sahut Joni seakan tahu keraguan Devan.
"Kita pergi Joni, kirim bill ke sekretaris."
"Ashiap..., tapi tunggu tunggu." Joni lari ke dalam ruangan, dan akhirnya keluar membawa flatshoes warna pastel.
"Kenakan ini mbak Aleta, tidak perlu high heel... tampillah seperti Usiamu."
"Terima kasih." ucap Aleta dengan tersenyum manis.
Devan langsung menggandeng tangan Aleta dan membawanya memasuki mobil.
__ADS_1
*******
Di rumah keluarga. Kesibukan dari pagi
"Pa...., hari ini Devan akan membawa istrinya kemari, yang kita tidak tahu dari antah berantah mana asalnya." kata Rengganis ketus pada suaminya.
"Jaga ucapanmu ma, bagaimanapun dia adalah menantumu. Calon ibu dari cucu-cucu kita." jawab Atmaja papa Devan.
"Aku tidak rela kalau cucu-cucuku terlahir dari rahim dia, yang tidak jelas silsilah keluarganya."
"Terus apa maumu, Devan sudah menikahi gadis itu secara agama dan negara. Aleta istri sah Devan, terlepas kamu setuju atau tidak." kata Atmaja tegas.
"Kenapa bapak selalu mengatur kehidupan kita. Bahkan untuk masa depan anakku, semua harus tergantung pada bapak." protes Rengganis.
Atmaja tidak menanggapi ucapan istrinya, karena jika ditanggapi maka keributan mereka akan terdengar kemana-mana. Sejak awal Rengganis tidak menyetujui pernikahan Devan dengan gadis yatim piatu yang tidak jelas keluarganya. Dia menginginkan Devan menikahi sosialita di lingkungan pergaulannya.
"Hari ini aku mengundang Maurin putri pak Susilo, bandingkan dengan gadis kampung itu. Akan kita lihat siapa yang lebih pantas menjadi ibu dari cucu-cucuku."
Tidak mau pembicaraan melebar kemana-mana, Atmaja memilih untuk mengalah dan meninggalkan kamar.
******
Kakek Cokro dari pagi sudah terlihat sibuk menghubungi keluarga dekatnya. Pagi ini meskipun tanpa pesta, kakek berencana mengenalkan cucu menantunya pada keluarga dan relasi-relasinya. Melihat Atmaja putra satu-satunya sedang termenung sambil merokok di pinggir kolam renang, kakek Cokro datang menghampiri.
"Ada apa, kamu ribut lagi dengan Rengganis." tanya kakek Cokro.
"Tidak pak, Atma baru banyak pikiran." jawab Atmaja.
"Kamu tidak usah berbohong pada bapak, aku tahu Rengganis tidak pernah setuju jika Devan menikahi gadis pilihanku."
"Tetapi ingatkan untuk selalu menjaga sikapnya pada cucu menantuku. Sekali-kali bersikaplah tegas padanya." Kakek Cokro menasehati Atmaja.
Tiba-tiba...
"Kakek, papa... keluarga sudah banyak yang datang di depan." panggil Rolland memberi tahu jika sebagian tamunya sudah pada datang.
"Panggil Rengganis untuk keluar menemui keluarga yang datang." perintah Kakek Cokro sambil keluar menemui keluarga yang sudah pada mulai berdatangan.
Rolland berjalan mendekati papanya.
"Ada apa pa, ribut lagi sama mama." tanya Rolland pada papanya. Rolland tahu jika papanya lebih banyak mengalah menghadapi mamanya.
"Sudah, tidak ada apa-apa. Temani kakekmu, papa akan memanggil mamamu.
__ADS_1
******