Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Posesif


__ADS_3

Aleta ikut pak Asep menjemput putra-putranya ke sekolah. Sebelumya dia tidak memberi tahu mereka, jika hari ini dia akan ke sekolah. Aleta merasa sudah lama tidak memiliki quality time dengan mereka, sehingga dari sekolah dia akan langsung menuju perusahaan suaminya.


"Drttt...," ponsel Aleta berdering, saat ini dia masih dalam perjalanan ke sekolah.


"Assalamualaikum, ya Jenn... ada apa?" Aleta menerima panggilan dari Jenny.


"Sedang dimana Aleta? Mau minta tolong nih, tapi jika mengganggu tidak jadi." terdengar suara Jenny di seberang telepon.


"Sekarang posisi di mobil dalam perjalanan mau jemput anak-anak ke sekolah.Kasih surprise.., karena dah lama tidak membersamai mereka. Ada apa Jenn.. tidak perlu sungkan?"


"Wah kebetulan dong .., Aku tidak sempat jemput Cynthia.., barusan wali murid kirim WhatsApp jika pulang lebih awal. Posisi aku baru dalam perjalanan ke Jakarta, bisa sekalian jemput Cynthia tidak? jika tidak aku akan minta Rolland saja yang jemput."


"Sudah aku saja yang jemput.., sekalian rame-rame sama anak-anak semua. Tidak perlu khawatir, nanti Cynthia juga bisa tidur di rumah, sekalian juga jadi teman aku." dengan ramah Aleta menyanggupi.


"Okay..okay.. nitip Cynthia ya aunty cantik. Bye..," setelah pamitan Jenny langsung mengakhiri panggilan.


"Pak Asep... putar ke Jl. S. Sumantri pak! Kita ke Bandung International School dulu jemput Cynthia." Aleta meminta pak Asep putar balik.


"Iya.., Non."


*********


Sesampainya di BIS, Aleta lapor ke petugas piket memberi informasi jika dia yang saat ini menjemput Cynthia. Setelah dilakukan verifikasi dan konfirmasi ID Card, Aleta diminta menunggu di lounge untuk menunggu siswa keluar.


Baru saja Aleta akan duduk, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memanggilnya.


"Aleta..., benarkan ini kamu?" Aleta memandang laki-laki yang memiliki wajah sebelas dua belas dengan penyanyi band asal Bandung Ariel. Meskipun guratan sudah mulai muncul di wajahnya, tetapi tidak mengurangi ketampanannya.


"Hai... Irvan kah ini?? Bisa-bisanya kita ketemu disini, sedang apaan?" tanya Aleta balik bertanya pada laki-laki itu. Keduanya lantas berjabat tangan.

__ADS_1


"Aku lagi jemput putraku disini. Sedangkan kamu.., atau jangan-jangan putramu juga sekolah disini?"


Aleta menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Aku jemput keponakan, putrinya adik. Kebetulan dia pas tidak bisa jemput, ya sudah.. sekalian aku mau ke sekolah anakku, mampir dulu kesini."


"Oh gitu. Ayo.. duduk dulu! Masih 30 menit kok, anak-anak baru bisa keluar. Kamu awet muda Aleta, dari pertama kali kita bertemu wajahmu sedikitpun tidak berubah. Hanya tambah lebih dewasa, lebih matang kecantikannya." Irvan memuji Aleta, sambil duduk di kursi tunggu.


"Hadeh . Van. Usia sudah bertambah tua, lihat kerutan sudah muncul di wajahmu. Masak kayak gitu masih genit saja kamu.., berani muji istrinya orang di muka umum." protes Aleta sambil tersenyum.


"Aku bicara apa adanya.. mana mungkin aku bisa langsung mengenali kamu, kalau wajahmu sudah berubah tua. By the way.. gimana kabar suamimu?? Masih posesif kah?" tiba-tiba Irvan bertanya tentang Devan.


"Ya masihlah. karena posesifnya itu yang membuat aku makin sayang. He .he..he. Kok tahu kalau suami aku posesif?"


"Hampir semua laki-laki yang pernah dekat dengan kamu, ya pasti tahulah. Karena suamimu dengan ancamannya menekan kami-kami untuk tidak berani mendekati kamu lagi. Aku nih.., terutama. Sampai Joni minta tolong padaku, karena usahanya diancam akan dibuat bangkrut oleh suamimu. Tapi.. lupakan itu masa lalu!"


Tiba-tiba... terdengar suara Cynthia memanggilnya.


"Aunty.... senangnya Cynthia dijemput aunty..." tiba-tiba Cynthia sudah menghambur ke pelukan Aleta


Aleta membalas pelukan dari keponakannya itu.


"Sudah keluar?? Jika sudah kita langsung jalan, khawatir kakak-kakakmu sudah keluar." ucap Aleta sambil melepas pelukannya.


Irvan merasa langsung terabaikan dengan kemunculan gadis kecil itu hanya cengar-cengir. Dia melihat interaksi kedekatan aunty dengan keponakannya itu.


"Van.. maaf aku langsung cuekin kamu. Aku duluan ya, mau jemput anak-anak di sekolah lain." tiba-tiba Aleta ingat akan Irvan yang masih ada di sampingnya.


"Ga pa pa Aleta, sudah biasa. He..he..he.., nomormu masih pakai yang lama kan? Kapan-kapan aku chat ya, semoga keposesifan suamimu sudah berkurang."

__ADS_1


Sambil jalan keluar, Aleta menganggukkan kepala.


************


"Aleta jemput Cynthia sekarang kak." Rolland memberi tahu kakaknya saat mereka sedang berada dalam satu ruangan.


"Kok bisa?? Memangnya kemana si Jenny?" sahut Devan, karena tadi dia sudah berharap akan *** after lunch dengan istrinya.


"Ga tahu... katanya mendadak harus ke Jakarta. Biasa kak... bisnis keluarganya. Yah.. mau ga mau, aku harus mengalah." terlihat Rolland mengambil nafas. Melihat ekspresi adiknya, Devan menutup laptopnya.


"Kamu gimana.., merasa nyaman tidak dengan perilaku Jenny? Jika tidak, bicarakan dengan istrimu. Jangan hanya kamu pendam sendiri, orang berumah tangga itu jika ada apa-apa bicarakan berdua." Devan menasehati Rolland.


"Kamu masih ingat, saat dulu Maurin didekatkan padaku sama mama Rengganis?? Bagaimana kakak iparmu tanpa bicara apa-apa langsung pulang ke Solo meninggalkan kakak?? Itu terjadi karena masih ada rasa sungkan pada kakak iparmu untuk bertanya langsung padaku."


"Iya sih kak. Aku ingat kejadian dulu itu. Jujur kak, akhir-akhir ini aku memang merasa jauh dengan istriku. Kalau sudah bilang ada janjian dengan orang tuanya, kakak dan lain-lain aku sudah tidak bisa apa-apa kak." Rolland mulai terbuka menceritakan masalah rumah tangganya dengan Devan.


Devan terkejut dengan perkataan adiknya. Rolland yang selalu lebih terbuka daripada dia, ternyata mulai merasakan ketidak nyamanan dalam berumah tangga.


"Rolland..., kunci semua orang dalam berinteraksi itu adalah komunikasi. Mau interaksi dalam kantor, dengan teman, apalagi dengan pasangan. Komunikasi akan dapat menghapus kecurigaan, prasangka. Komunikasikan dengan bijak dengan Jenny. Atau bisa juga kamu bicara dengan keluarga istrimu."


Rolland terdiam, setelah beberapa saat.


"Ya kak, nanti kalau Jenny sudah pulang. Coba aku ajak bicara. Terkadang aku malah inginnya Cynthia tinggal bersama kakak di rumah keluarga Cokrodirjan, tapi lagi-lagi terus aku dengan siapa kalau Jenny juga sedang tidak ada?"


"Berarti istrimu sering tidak pulang ke rumah? Kenapa sudah seperti itu, kamu baru bicara sekarang Rolland. Secepatnya kamu harus segera bicarakan hal ini dengan istri, dan jika perlu dengan anggota keluarganya. Jangan sampai, semua menjadi sudah terlanjur, dan tidak bisa kita selamatkan semuanya."


"Iya kak.., nanti aku coba."


***********

__ADS_1


__ADS_2