Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Suami dan Istri


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan kakakku mas," tanya Rengganis pada Atmaja.


"Maafkan aku Nis, aku tidak bisa menolong kali ini. Aku sendiri juga marah dengan mas Bambang. Ternyata waktu papa hilang hampir setahun lalu, dan akhirnya ditemukan Aleta itu adalah karena ulahnya." Atmaja menyampaikan kesal hatinya pada istrinya.


"Sebenarnya apa salah papa pada keluarga kalian? Ternyata tidak hanya dulu, kejadian sampai menculik Aleta dan ibu asuhnya juga ulah dari mas Bambang." lanjut Atmaja.


Rengganis diam, karena sebenarnya dia juga sudah tahu masalah itu. Tapi kali ini dia tidak mau berbicara apapun, karena salah bicara akan berdampak pada posisinya di keluarga ini.


"Katakan padaku Nis, apakah kamu tahu sebelumnya tentang masalah ini." tanya Atmaja.


Rengganis tidak menjawab pertanyaan dari Atmaja. Dia malah berdiri untuk meninggalkan suaminya, tetapi tangan Atmaja menahannya untuk pergi.


"Lepaskan tanganmu mas, aku mau membersihkan muka. Aku mengantuk, aku mau segera tidur." ucap Rengganis.


"Aku bertanya padamu Nis, ingat aku sudah tidak peduli lagi dengan semua kenyataan. Silakan kalau mau kamu bongkar di hadapan papa. Aku ingin semua keluargaku aman." Atmaja tetap memegang tangan Rengganis.


Rengganis akhirnya kembali duduk di samping Atmaja. Kemudian dia menatap mata suaminya.


"Mas Atma, apakah kamu tidak takut kalau aku memberi tahu semua anggota keluarga tentang si Devan? Ha...ha...ha.., semua orang tahunya Devan adalah anakku." Rengganis tertawa mencoba membangkitkan emosi Atmaja.


Atmaja terdiam, kemudian dia memegang tangan istrinya.


"Silakan kalau kamu mau buka Rengganis. Usiaku juga sudah tua, aku tidak mau menutupi semua kebohongan. Aku hanya mau memutuskan bahwa papa, dan anakku semuanya dalam keadaan aman dan selamat." akhirnya Atmaja menyampaikan putusannya.


"Dan apakah kamu sudah siap akan dampaknya?" tanya Rengganis


"Yah, aku akan siap dengan semua dampak yang akan timbul. Daripada aku menutup semua kebohongan ini sampai aku mati." Atmaja membulatkan semua tekadnya.

__ADS_1


"Bahkan kalaupun aku harus menceraikanmu, aku akan lakukan kalau kamu yang meminta." lanjutnya lagi.


Rengganis terdiam, dia berpikir jika dia dicerai oleh Atmaja saat ini, dia tidak akan mendapatkan apapun. Kalau dia kembali pada ........, apakah laki-laki itu dan keluarganya mau menerima. Akhirnya tanpa membersihkan muka, Rengganis merebahkan badannya di atas ranjang. Atmaja ikut diam, dan membiarkan istrinya terbaring di atas ranjang.


********************


Di kamar satunya Devan membiarkan Aleta membersihkan mukanya, dia diam mengamati Aleta dari atas ranjang. Setelah selesai membersihkan mukanya, Aleta menuju ranjang kemudian duduk di samping suaminya. Devan memainkan ponsel di tangannya, membiarkan Aleta melihatnya.


"Lagi baca berita penting mas, masak dari tadi istrinya didiamkan." Aleta memecah kesunyian.


"Lha mas Devan diminta bicara apa saat ini, bukankah istriku sudah pintar terkadang ambil keputusan tanpa membicarakan dulu." sahut Devan dengan mata tetap fokus pada layar ponselnya.


Padahal sebenarnya, dia tidak membaca apapun dari dalam ponsel. Dia hanya mau menguji istrinya. Aleta tiba-tiba meraih ponsel di tangan suaminya, kemudian menaruhnya di atas nakas. Karena ponselnya diambil, Devan menatap mata istrinya, kemudian dia tersenyum dan kedua tangannya memegang bahu Aleta.


"Apa yang mau dibicarakan istriku saat ini, mas siap mendengarkannya."


"Hari ini mas tidak ada masalah kantor atau masalah apapun, yang jadi masalah hanya tadi pas kita makan malam." kata Devan.


"Pas makan malam, ada masalah apa mas? Sepertinya tadi kita makan malam, tidak ada permasalahan apapun. Kakek dan papa, juga tidak ada masalah apapun." sahut Aleta yang merasa tidak ada masalah.


"Tapi tadi sepertinya mas mendengar, ada yang mau balik ke Sukoharjo besok sore. Katanya mau segera berangkat magang."


"Owalah itu mas. Memang itu masalah mas, itu kan masalah Aleta yang harus segera dituntaskan. Tapi kenapa itu bisa menjadi masalah untuk mas juga ya. Aleta bingung." Aleta bicara sendiri.


Devan menggelengkan kepalanya, kemudian tangannya berada di dagu Aleta, dan menghadapkan tatapan Aleta ke matanya.


"Aleta sayang...., ingat sayang. Aleta itu istri mas, jadi sebelum memutuskan sesuatu, Aleta harus minta pertimbangan dulu dengan mas Devan. Kita ini sah secara agama dan hukum pemerintah, kalau kita ini suami istri." Devan menjelaskan posisi hubungan mereka dengan lembut.

__ADS_1


"Deg..," hati Aleta seperti ada yang memukul.


Tanpa Devan duga, Aleta kemudian menubruk dada Devan. Dia memeluk erat tubuh suaminya, dia baru menyadari posisinya sebagai seorang istri. Dia teringat pesan-pesan dari Bu Rosna, saat melepaskan dia pertama kali untuk dibawa pergi sama Devan.


"Maafkan Aleta mas, Aleta tidak ada maksud apa-apa. Aleta hanya berpikir untuk segera menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa, kemudian mendampingi mas Devan selamanya sebagai seorang istri." ucap Aleta lirih.


"Aleta pikir, mas Devan menyetujui apa yang Aleta pikirkan. Jadi tanpa minta pertimbangan mas Devan terlebih dahulu, Aleta tadi sudah bilang di depan keluarga kita mas." lanjutnya lagi.


Devan tersenyum kemudian memeluk balik Aleta dengan erat. Setelah itu dia melepaskan pelukannya, kemudian memegang kedua pipi Aleta dengan kedua tangannya.


"Asalkan itu untuk kebaikan kita, mas pasti akan setuju sayang. Tapi jangan Senin besok, temani mas dulu disini. Nanti mas yang akan mengantarkan kamu balik ke Sukoharjo." sahut Devan lembut.


"Maafkan Aleta ya mas, belum bisa menjadi istri yang seperti mas Devan harapkan. Iya, kali ini Aleta ikut apa yang mas inginkan."


Devan kembali memeluk Aleta, kemudian menggerakkan bibirnya ke arah bibir Aleta. Aleta membuka bibirnya, akhirnya Devan dengan bebas mengeksplorasi bibir itu sangat lama dan semakin ke dalam.


"A..ah," tanpa sadar mulut Aleta mengeluarkan *******, yang membangkitkan gelora dari dalam tubuh Devan


Tangan Devan sudah masuk ke dalam atasan yang dikenakan Aleta. Bibirnya tersenyum


"Terima kasih sayang," bisik Devan karena istrinya sudah tidak mengenakan apapun dibalik piyama atasannya.


Tanpa bisa dicegah, tangan itu memainkan kedua daging yang tumbuh kembar di bagian depan tubuh bagian atas Aleta. Rasa gemetar dan geli seperti merayap di sepanjang tubuh Aleta, kedua tangannya langsung diletakkan diatas leher suaminya.


Devan tidak bisa menahan lagi, bibirnya mulai bergerak menurun ke leher Aleta, dan akhirnya setiap inci dan jengkal daging Aleta dia susuri. Tangannya bergerak menyingkirkan semua penghalang di tubuh Aleta maupun tubuhnya sendiri.


Kedua tubuh tanpa penutup itu akhirnya berjalin, bergulat menjadi satu. Secara bergantian kedua tubuh itu berhadapan dan saling memuaskan satu dengan yang lain. Akhirnya setelah beberapa saat, keduanya melakukan penyatuan secara bersamaan. Devan memberikan kecupan di kening Aleta untuk menyudahi eksplorasi dan petualangannya kali ini.

__ADS_1


********************


__ADS_2