
Sementara itu, setelah melakukan pengecekan kamera CCTV dapat diketahui mobil yang digunakan Aleta untuk melarikan diri. Melihat kakaknya terpuruk dan tidak bisa berpikir jernih, Rolland mengambil tindakan cepat. Saat itu juga, dia menghubungi perusahaan jasa transportasi tersebut dan diberikan informasi bahwa mobil disewa untuk tujuan Sukoharjo. Tetapi driver belum bisa dihubungi untuk dimintai informasi.
"Rolland siapkan pesawat, kita akan langsung menuju Bandara Adi Sumarmo." Cokro langsung memberikan instruksi pada Rolland.
Dengan sigap, Rolland mengatur semuanya dan tinggal menunggu informasi ijin terbang dari bandara Husein Sastranegara.
Devan yang selalu tampak keras dan garang dalam menghadapi setiap permasalahan, hari ini terlihat seperti orang yang putus asa dan kesakitan. Setelah mendapatkan penenang dari psikiater pendampingnya, Devan saat ini sedang tertidur. Atmaja dengan setia menemani putranya yang tiba-tiba seperti dikejar rasa takut, dengan Rengganis yang ikut duduk di sampingnya.
Dengan ekspresi marah, Cokro mendatangi Rengganis.
"Keputusanku untuk menerimamu kembali di rumah ini, ternyata membawa malapetaka bagi cucuku. Pergilah dari hadapanku saat ini juga." teriak Cokro dengan nada tinggi.
Rengganis hanya diam tidak menanggapi emosi mertuanya itu.
"Papa..., tolong kendalikan emosi papa. Rengganis biar nanti menjadi urusan Atma pa. Sekarang saatnya kita mengembalikan kondisi psikis Devan pa." kata Atmaja memohonkan pada Cokro.
"Aku juga tidak menyangka sebesar ini pengaruh perginya Aleta pada traumatik Devan. Ternyata cucuku betul-betul sangat mencintai dan menganggap berharga cucu menantu pilihanku." kata Cokro, yang tidak terasa air bening tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya yang sudah penuh dengan kerutan.
Melihat dua laki-laki di hadapannya terpuruk dalam kesedihan, Rengganis meninggalkan mereka.
Tiba-tiba Devan membuka matanya, dan melihat wajah dua pria yang selalu berada di sampingnya pada saat sisi-sisi terburuknya muncul.
"Sayang.., Aleta..., kamu dimana sayang." suara lirih keluar dari mulut Devan, dan seperti sembilu yang menyayat hati kedua pria bapak dan anak itu.
'Devan, cucuku... ayo bangun. Tegarlah, kita akan menjemput Istrimu di Sukoharjo. Bersiaplah kita akan segera berangkat." Dengan tegas Cokro membangkitkan semangat Devan.
Sedangkan Atmaja tidak tega melihat kondisi anak laki-lakinya, perlahan dia keluar kamar dan mencari Rolland.
"Papa.., gimana kondisi kakak pa." tanya Rolland begitu melihat Atmaja keluar dari kamar Devan.
"Tidak lebih baik, tapi sudah agak tenang. Kakekmu sedang menguatkannya. Bagaimana persiapan ke Solo, apakah sudah siap"
"Jam 11 kita baru mendapat ijin terbang pa. Tapi apakah kita tidak konfirmasi dulu dengan rumah di Solo. Kakak ipar apa betul-betul pulang ke rumah.Jika tidak ada, apakah kondisi kakak tidak akan bertambah parah." tanya Rolland mengkhawatirkan kondisi kakaknya.
__ADS_1
"Iya, papa malah tidak berpikir sampai di situ." sahut Atmaja.
"Rolland saja pa, yang akan konfirmasi keluarga di Klaten dan penunggu rumah Sukoharjo." kata Rolland kemudian melangkah keluar untuk melakukan panggilan ke Bu Rosna.
Setelah tiga kali panggilan, akhirnya Bu Rosna mengangkat panggilan masuk dari Rolland.
"Assalamu alaikum," sapa Bu Rosna dengan keramahan seperti biasanya.
"Wa Alaikum salam, Bu Rosna... saya Rolland ibu, adik iparnya Kak Aleta." jawab Rolland sambil mengingatkan kembali pada Bu Rosna siapakah dia.
"Oh nak Rolland, bagaimana kabar keluarga di Bandung. Putriku baik-baik saja kan. Sampaikan pada Aleta nak, ibu kangen banget."
"Deg." mendengar jawaban Bu Rosna menghilangkan harapan besar Rolland untuk menemukan kakak iparnya.
"Iya ibu, nanti Rolland sampaikan pada kakak ipar ibu," kata Rolland gugup.
"Makasih ya nak. Terus ada berita apa nak, kok tumben-tumbenan nak Rolland menghubungi ibu, bukan Aleta sendiri." tanya Bu Rosna.
"Kakak ipar sedang sibuk Ibu. Hanya mau menginformasikan saja, kalau siang ini kita akan ke rumah Sukoharjo. Jika ibu ada waktu, bisa minta tolong untuk dibantu melihatkan kondisi rumah bersih atau tidak. Jika belum dibersihkan, kami berencana untuk menginap di hotel semenjak." Rolland berusaha mencari alasan.
Rolland segera berpamitan pada Bu Rosna dan menutup panggilan.
Mengetahui Aleta tidak ada di Klaten, Rolland memiliki firasat bahwa Aleta juga tidak akan mereka temukan di rumah Sukoharjo. Tapi karena sudah memberikan harapan baru untuk kakaknya, Rolland mencari strategi agar kakaknya tidak tambah terpukul.
"Bagaimana Rolland, ada kabar dari Bu Rosna tentang keberadaan kakakmu." tanya Atmaja yang tiba-tiba sudah menyusulnya ke depan.
"Tidak ada pa, terus kita harus bagaimana pa. Tetap ke Sukoharjo atau tetap disini." kata Rolland bingung minta pendapat Atmaja.
"Kita harus tetap kesana sambil kita pikirkan cara baru. Semoga dengan berada di kota kecil, trauma psikologis kakakmu bisa sedikit-sedikit disembuhkan. Dia juga butuh shock theraphy, untuk membangkitkan kembali ingatannya. Jika dia bisa melewati tahapan ini, papa yakin kakakmu akan sembuh." kata Atmaja.
********
Pukul 11 tepat akhirnya jet pribadi yang membawa Rolland, Devan dan Cokro meninggalkan bandara Husein Sastranegara Bandung. Rolland sudah menghubungi Ijonk untuk menjemput mereka di bandara Adi Soemarmo, dan sudah menyuruh orang-orang di Sukoharjo membuat alasan tentang keberadaan Aleta.
__ADS_1
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota Solo. Melalui akses via executive lounge, mereka bisa dengan cepat keluar dari pintu kedatangan. Ijonk dan pak Karyo sudah menjemput di VIP Park depan lounge.
Devan nampak lebih tenang kondisinya dibandingkan dengan kondisinya sewaktu berada di kota Bandung.
"Jonk...kemana Aleta, kenapa tidak ikut jemput ke Bandara," tanya Devan yang sudah mulai bisa berkomunikasi.
"Non Aleta sedang ada kegiatan di kampus Tuan, katanya ada persiapan magang di perusahaan." jawab Ijonk lancar. Dia sudah mendapatkan arahan dari Rolland untuk menenangkan kondisi Devan.
"Berarti cucu menantuku segera lulus ya. Senangnya kamu Van, sebentar lagi kamu akan berkumpul selamanya dengan istrimu." sahut Cokro ikut mengalihkan perhatian Devan.
Devan tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke luar mobil. Terbayang di matanya si mungil istrinya sedang merajuk, kemudian tersipu malu, dan tersenyum manis. Tanpa sadar Devan ikut tersenyum.
"Kek., kira-kira Aleta masih marah tidak ya sama Devan," kata Devan tiba-tiba.
"Asalkan kamu bisa menjelaskan dengan bijak, aku yakin Aleta tidak akan marah. Dia gadis yang kuat, tetapi kalau dia marah berarti dia menyayangimu, dia tidak mau posisinya digeser untuk orang lain." sahut Cokro hati-hati.
"Tapi kalian semua tenang, kakekmu ini meskipun sudah tua, tapi masih memiliki banyak manfaat. Nanti jika Aleta ada, kita lihat bersama bukti yang menjadi alibi bahwa bukan kamu yang menghamili Maurin." lanjut Cokro yang cukup membuat mereka terkejut.
"Bukti apa kek, kenapa tidak sekalian kakek buka bukti itu tadi malam," tanya Rolland penasaran.
"Pelan-pelan, karena aku yakin. Meskipun sudah ada bukti, Maurin dan ibunya tidak akan berhenti berusaha. Apalagi mamamu ada di pihaknya." jawab Cokro.
"Devan..., kakek pesan tolong kali ini kami menurut sama kakek." tiba-tiba Cokro mulai mengajak bicara Devan.
"Iya kek." sahut Devan.
"Kendalikan emosi dan amarahmu. Hanya kamu sendiri yang tahu bagaimana cara untuk menekannya. Jika Aleta tidak ada di rumah, itu tantangan bagimu untuk membuatnya kembali. Kamu anak laki-laki, kuat dan tegar."
Mendengar perkataan kakeknya, Rolland agak menakutkan kondisi kakaknya. Tapi, kekhawatirannya mendadak hilang.
"Iya kek, Devan akan menemukannya Aleta kembali. Bukan karena perjalanan paksa oleh kakek, tapi Devan akan membawanya kembali dengan upaya Devan sendiri." sahut Devan mantap.
"Good job cucuku." ucap Cokro sambil memukul bahu Devan dengan tinjunya.
__ADS_1
**********