
Pasangan suami istri itu benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk dapat bersama, dan lebih saling mendekatkan. Mereka yang sebelumnya tidak saling mengenal, bahkan terkesan saling bermusuhan, saat ini mereka seperti pasangan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Ide untuk lebih memperbanyak acara bebas daripada seremonial, dalam family gathering keluarga Cokro ternyata membawa dampak besar bagi hubungan mereka. Bahkan Rolland dan Jenny juga mendapatkan imbas kedekatan yang lebih intens.
"Mas, nanti kita mampir ke outlet itu ya." kata Aleta pada Devan dengan tangannya menunjuk pada outlet **ger yang berada di kiri jalan.
Saat ini mereka sedang melintas di desa Luwus, Baturiti, Tabanan dalam perjalanan menuju objek wisata Bedugul.
"Iya nanti kita kesana setelah balik dari Bedugul, kalau kelewatan, nanti mas temani di cabangnya, di daerah Jl. Sulawesi Denpasar juga ada " kata Devan.
"Aku juga mau mampir, mau beli accesories untuk teman-teman kantor." sahut Jenny.
"Wanita-wanita selalu rempong, tidak bisa sedikitpun lihat tempat perbelanjaan." gerutu Rolland.
"Makanya sampai sekarang tidak pernah dekat dengan wanita. Memahami wanita saja tidak bisa," celetuk Jenny.
"Apa kamu bilang," seru Rolland.
"Nggak, itu lho tadi di luar ada laki-laki ribut dengan istrinya." sahut Jenny sambil tertawa ngikik.
"Rolland sama mbak Jenny dari kemarin Aleta amati, seperti tikus dan kucing, bertengkar terus," kata Aleta tiba-tiba.
"Dia tuch yang nabuh genderang perang," sahut Jenny sambil menunjuk Rolland.
Aleta tertawa mendengar perselisihan yang selalu terjadi jika mereka sedang berdua.
"Tapi mbak, kalau sering ribut itu berarti malahan selalu ada komunikasi, tidak dipendam sendiri. Nanti kalau tiba-tiba pisah, tidak ketemu lama, pasti nanti terasa ada sesuatu yang hilang banget. Jadinya rinduuuu." kata Aleta.
"Benci jadi rindu." lanjutnya lagi.
Rolland dan Jenny tiba-tiba jadi terdiam mendengar perkataan Aleta.
Setelah 35 menit perjalanan, mobil yang membawa mereka sudah berhenti di tempat parkir. Hawa dingin khas dataran tinggi segera menyeruak ke tubuh Aleta saat keluar dari mobil. Devan segera melepas jaket yang dikenakannya, dan memakaikan di tubuh istrinya.
"Mas, kita kesana yuk, Aleta pingin naik Speedboat." kata Aleta.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan Rolland dan Jenny, Devan langsung menggandeng Aleta dan berjalan menuju danau Bratan. Danau Bratan merupakan salah satu danau dari tiga danau yang berada di kawasan Bedugul. Danau itu merupakan kaldera yang terbentuk dari letusan gunung Lesung.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, mas cari Speedboat dulu." kata Devan.
Aleta menganggukkan kepalanya.
"Kakak ipar.., kenapa kami ditinggal." protes Rolland yang menyusul mereka dari belakang sambil menyeret Jenny.
"Ha...ha..ha..," Aleta tertawa mereka.
"Sudah tahu jalan ke outdoor, ini malah pakai heels." kata Rolland mengomentari penampilan Jenny.
"Maaf lupa sih, karena kebiasaan." sahut Jenny.
"Rolland..., beli sandal jepit saja di warung itu. Kita mau naik Speedboat, masak naik Speedboat pakai heels." kata Aleta menyarankan.
Tanpa menunggu diperintah, Rolland berlari menuju kios. Lima menit kemudian Rolland sudah membawa sandal jepit berwarna biru dengan tulisan Bedugul.
Jenny segera melepaskan heels kemudian memasukkan di plastik kresek bekas tempat sandal jepit.
"Ayok sini, Speedboat nya ada di sebelah sana." Devan memanggil mereka untuk segera menuju Speedboat.
"Tidak perlu kencang-kencang ya pak, biar kita bisa menikmati pemandangan." pesan Devan pada pengemudi.
"Ya pak." jawab pengemudi singkat.
"Ahhhhhhhh... segar...," seru Rolland yang berdiri dan merentangkan kedua tangannya ke samping.
Sedangkan Devan melihat Aleta kedinginan, langsung merangkul erat tubuh istrinya. Setelah mendekati satu putaran, pengemudi menghentikan Speedboat di sekitar Pura Ulun Danu, yang dikenal sebagai pura terapung yang berada di tepi barat danau Bratan.
"Mau masuk ke pura bapak ibu." pengemudi menawarkan kepada mereka untuk mengunjungi pura.
"Tidak perlu pak, berhenti saja. Kita mengamati dari sini saja." sahut Devan.
Rolland segera mengambil foto dengan latar belakang keindahan pura, danau dan gunung. Bekas-bekas kejayaan kerajaan Mengwi dapat mereka lihat di depan mata. Setelah puas menikmati keindahan alam sekitar pura, Devan meminta pada pengemudi untuk mengantar mereka ke tempat semula.
__ADS_1
"Habis ini kita kemana," tanya Rolland.
"Dari booklet panduan wisata, di sekitar sini masih ada dua danau lagi, yang terkenal dengan sebutan danau kembar yaitu danau Tambingan dan danau Buyan."
"Kamu capai tidak, kalau capai kita kembali ke villa. Kalau masih kuat, kita kunjungi dua danau lainnya." kata Devan pada Aleta.
"Kuat dong, masak sudah sampai sini akhirnya turun lagi. Ayuk." jawab Aleta semangat.
Akhirnya keempat orang itu menghabiskan waktu dalam sehari untuk mengunjungi semua lokasi wisata yang ada di kawasan Bedugul.
*****
"Maurin... Tante boleh menanyakan sesuatu padamu." tanya Rengganis pada Maurin dengan hati-hati. Saat ini mereka sedang menunggu di lounge bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, sambil menunggu panggilan boarding.
"Iya tant, mau menanyakan perihal apa." jawab Maurin kemudian fokus memperhatikan Rengganis.
"Di malam kemarin, apakah kamu yakin bahwa yang masuk ke kamarmu adalah Devan putraku."
"Kenapa Tante tiba-tiba menanyakan hal itu." tanya Maurin dengan ekspresi kaget.
Rengganis tersenyum, kemudian memegang bahu Maurin.
"Tidak apa-apa, hanya Tante kok kurang yakin kalau Devan yang telah masuk kamarmu. Sedikitpun Tante tidak menemukan jejak keberadaan Devan yang tertinggal." kata Rengganis sambil tersenyum.
"Tante.., Maurin sudah melakukan sesuai yang Tante inginkan, dan sudah mengorbankan milik Maurin yang paling berharga. Tapi kenapa Tante menanyakan itu, apa Tante meragukan Maurin." kata Maurin panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Tante ya sayang, bukan begitu maksud Tante." kata Rengganis menghibur Maurin, dan menghapus air mata di sudut matanya.
"Kemarin waktu Tante masuk kamarmu, Tante melihat ada kaos besar milik laki-laki yang berserakan di lantai bergabung dengan pakaianmu. Dan dari aroma parfum yang menempel, sepertinya itu bukan parfum yang digunakan Devan." kata Rengganis perlahan dengan hati-hati.
"Maurin juga tidak tahu Tante, kenapa kaos itu bisa ada di kamar Maurin. Tapi bisa saja itu kaos dari tamu villa yang menginap sebelumnya." kata Maurin.
"Yah, bisa jadi." kata Rengganis singkat.
"Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi. Tante hanya berharap, semoga kejadian malam itu segera membuahkan hasil. Jika kamu mengandung anak Devan, Tante yakin Devan tidak akan melepaskan tanggung jawab, dia pasti akan menikahimu."
__ADS_1
Meskipun Rengganis agak meragukan jawaban Maurin, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi kalau sampai Maurin membocorkan rahasia mereka, dan semua orang tahu bahwa dia telah menjebak Devan, maka dia akan dibuang oleh keluarga Cokro.
******