Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Lapor Diri


__ADS_3

Malam itu setelah memberi informasi pada Cokro dan Rolland, akhirnya Devan dan Aleta menginap di Hotel Novot**. Sedangkan Ijonk diminta pulang, dan menjemput kembali mereka esok paginya pada pukul 08.30. Aleta bermaksud untuk menemui pimpinan dari Solo Techno tempatnya untuk melakukannya kuliah magang.


Melalui berbagai penjelasan yang disampaikan suaminya, Aleta bisa memahami logika berpikir Devan. Dan untuk sementara, Aleta percaya bahwa tidak pernah terjadi hubungan apapun antara Devan dan Maurin. Setelah berhari-hari, Devan tidak menikmati tidur berkualitas karena merasa kehilangan istrinya, malam ini mereka tidur nyenyak tanpa agenda keluar. Bahkan untuk mengisi perut, dari kedatangan sampai menjelang tidur, mereka mengandalkan room service untuk menyediakan pesanan makan.


"Bagaimana rencanamu hari ini sayang," tanya Devan esok harinya di saat mereka menikmati sarapan pagi di hotel.


"Aleta hari ini tidak ada agenda lain mas, hanya menemui pemimpin Solo Techno untuk melaporkan diri jika Aleta jadi melakukan kegiatan magang disana." jawab Aleta sambil memotong pancake dan memasukkan ke mulut sedikit demi sedikit.


"Apa kamu tidak berpikir untuk memilih lokasi magang di Bandung. Bukankah dulu kamu pernah bilang sama mas, kalau akan melaksanakan kegiatan magang di Bandung." tanya Devan hati-hati khawatir menyinggung perasaan istrinya.


Dia mengambil tissue dan dengan hati-hati membersihkan lelehan sirup maple di bibir Aleta.


"Maaf mas Devan. Sepertinya untuk magang, Aleta merasa nyaman di kota ini saja. Aleta belum siap dengan hiruk pikuk dan mobilitas kota Bandung. Apalagi Aleta tidak hafal dengan jalanan disana. Nanti kalau Aleta jalan, ditemani teman laki-laki, yang ada mas Devan malah mengamuk." sahut Aleta polos tanpa bermaksud menyindir suaminya.


"He..he..he.., maafkan mas ya. Mas Devan sering seperti anak kecil jika melihat kamu jalan sama laki-laki lain. Itu karena mas sangat menyayangimu Dev." kata Devan meyakinkan istrinya. Dia tertawa melihat ekspresi lucu istrinya.


"Drtt...drtt...," ponsel Devan bergetar, dan terlihat di screen muncul nama Ijonk.


"Ya, bagaimana Jonk." tanya Devan tanpa sedikitpun basa basi.


"Ini Tuan, Ijonk sudah menunggu di bawah. Nanti kalau Tuan akan berangkat, Ijonk di WhatsApp saja ya Tuan. Ijonk akan langsung meluncur." kata Ijonk menginformasikan kedatangannya.


"Iya," jawab Devan cepat kemudian tanpa salam langsung mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.


"Masih mau makan lagi, kalau tidak Ijonk sudah standby di bawah menunggu kita." kata Devan.


" Sudah kenyang, yuk jalan biar tidak kesiangan kesananya." Aleta membersihkan mulutnya dengan tissue kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Devan memegang bahu Aleta sambil berjalan meninggalkan tempat sarapan pagi.


"Mas berencana kembali ke Bandung kapan," tanya Aleta sambil mereka menuju ke kamar.


"Kenapa sayang, tidak suka ya kalau mas Devan ada disini menemani kamu." kata Devan.

__ADS_1


"Kok mas bilangnya begitu, maksudnya biar Aleta bisa mengatur waktu lebih awal kalau tahu kapan mas akan pergi." Aleta menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Kalau mas Devan pindah kesini, kira-kira Aleta bahagia tidak." Devan balik bertanya.


"Maksudnya bagaimana mas. Mas pindah kerja disini? Ya senanglah, asal jangan kayak anak kecil saja sukanya cemburu dan ngamukan." sahut Aleta yang tanpa sadar curcol sama suaminya.


"Ha...ha..ha..., iya mas Devan janji deh. Soalnya cemburu dan ngamuk itu datangnya tiba-tiba tidak dapat direncanakan lebih awal. Tahu-tahu muncul begitu saja." Devan membela dirinya sendiri.


*******


Setelah menghubungi contact person Solo Techno, dan membuat janji temu dengan pimpinan sekaligus pemilik usaha, Aleta dengan dikawal Devan datang ke lokasi magang. Sebenarnya dia berencana akan ke lokasi magang sendiri, dan hanya minta ditungguin Ijonk di mobil. Tapi sedikitpun Devan tidak mengijinkannya untuk pergi sendiri.


"Lho kok kamu hafal jalan menuju Solo Techno Jonk." tanya Aleta pada Ijonk yang langsung paham jalan tercepat menuju tujuan.


"Kamu belum tahu ya sayang, kalau Ijonk itu eks Driver Ojol. Makanya dia hafal jalanan dimanapun." sahut Devan santai.


"Kok Tuan begitu sih, malu ya ketahuan sama Non Aleta kalau kemarin sudah stalking Aleta. Hi...hi..hi..," sahut Ijonk sambil menutup mulutnya.


"Boleh dikasih tahu tidak Tuan," tanya Ijonk sambil cekikikan.


"Whaww sudah pada main rahasia-rahasiaan ya, awas kamu Jonk. Tidak jujur, bulan ini gajimu aku potong." kata Aleta dengan nada mengandung ancaman.


"Jangan non. Mau jujur takut sama Tuan non," seru Ijonk.


"Lebih takut sama aku atau sama Tuan Devan." kata Aleta menegaskan.


Akhirnya karena tidak tahan didesak Aleta, Ijonk membocorkan kelakuan Devan kemarin yang sampai menemui dosen pembimbing dan mengikutinya sampai berakhir di Rumah makan Timlo **stro.


"Ya Allah... mas Devan. Jadi sampai dosen pembimbing Aleta juga sudah tahu kalau Aleta sudah menikah." teriak Aleta.


Devan hanya senyum-senyum kemudian merengkuh bahu Aleta dan mendekatkannya ke arahnya.


"Tuan.., mohon jangan seperti kemarin ya Tuan. Ijonk jadi tidak konsentrasi nyetirnya, berasa gimana gitu badan Ijonk." kata Ijonk dengan polosnya.

__ADS_1


"Memang kamu mendengar apa Ijonk," tanya Devan yang membuat telinga Aleta langsung memerah.


"Sudah.. sudah.. out of Topic.., kalau masih ngomongin masalah kemarin, Aleta turun sini nih." kata Aleta mengancam mereka.


Akhirnya mereka tidak lagi membicarakan permasalahan kemaren. Setelah 10 menit perjalanan, mereka sampai di tujuan.


"Mas Devan tunggu disini ya." kata Aleta pada Devan.


"Tidak, mas mau ikut turun. Mau lihat layak tidak perusahaan yang kamu pilih untuk magang." kata Devan yang langsung turun membukakan pintu mobil untuk Aleta.


"Mas..., tapi janji tidak boleh bikin kisruh di dalam. Perusahaan ini baru start up, wajar kalau belum layak dari performa nya. Tapi potensi berkembangnya besar." kata Aleta.


Akhirnya Aleta masuk ke lobby diikuti Devan di belakangnya. Aleta langsung menuju petugas receptionis yang sedang berjaga di front line.


"Mas, tunggu disini saja ya. ga enak kalau sampai ke dalam harus ditemani sama mas." kata Aleta dengan tatapan memohon.


Akhirnya Devan mengalah, dan duduk di kursi depan receptionis. Untuk mengisi kesibukan, Devan melihat-lihat pergerakan harga saham perusahaannya melalui layar ponselnya.


"Permisi mbak selamat pagi." sapa Aleta ramah pada petugas receptions yang bernama Tutik.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu." tanya Tutik ramah, sambil matanya melirik Devan yang sedang asyik dengan ponselnya


"Saya Aleta yang tadi pagi menghubungi kesini untuk janji temu dengan pak Raditya terkait permohonan magang saya." kata Aleta sopan.


"O mbak Aleta, tadi sudah ditanyakan sama beliau. Beliau sudah menunggu di dalam. Mbak langsung lurus, nanti ruangannya di sebelah kanan lorong." Tutik menunjukkan arah menuju ruangan Raditya.


"Terima kasih mbak Tutik, saya langsung ke dalam ya ketemu dengan pak Raditya." pamit Aleta sopan.


"Berani kan sendiri, masak kesini saja harus ditemani sama om nya." kata Tutik senyum-senyum sambil melirik Devan.


Aleta hanya tersenyum menanggapi perkataan Tutik, tidak lama dia sudah menghilang dari pandangannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2