
Maurin sangat berhati-hati menjaga kehamilannya dan merawat dirinya dengan baik. Sementara itu, Lastri calon nenek terus mendesak Rengganis untuk segera melamar secara resmi Maurin untuk Devan.
"Bagaimana kami harus menghadapi pandangan masyarakat jeng, tolong jeng Rengganis juga memperhatikan perasaan kami. Bahkan papanya Maurin, sedikitpun tidak mau memperjuangkan anaknya." kata Lastri di suatu sore pada Rengganis.
"Aku juga sudah berusaha Jeng, tapi anakku sangat keras kepala. Bahkan secara sepihak dia memutuskan untuk tinggal di Jawa Tengah mendampingi istrinya yang sedang menyelesaikan studinya di sana." Rengganis menjawab sambil sesekali menyesap minumannya melalui straw.
"Sedangkan Atmaja menginginkan hasil test DNA untuk meyakinkan jika bayi dalam kandungan Maurin adalah betul-betul cucunya. Mengingat banyak anggota keluarga lainnya, merasa tidak melihat Devan bersama Maurin pada malam itu." lanjutnya lagi.
"****...., kita ini sama-sama perempuan jeng. Dan kita sama-sama tahu bagaimana resiko yang akan dihadapi janin, jika test DNA dipaksakan pada saat masih dalam kandungan. Resiko keguguran akan sangat tinggi." Lastri mulai terpancing emosi, karena keluarga Devan seperti sengaja mengulur waktu untuk membuat komitmen untuk putrinya.
"Yah, mau gimana lagi Jeng. Atau bagaimana kalau menggunakan ideku. Untuk sementara menjaga penghakiman dari masyarakat, dan sambil menunggu proses kelahiran bayi bagaimana jika untuk sementara Maurin kita ungsikan." Rengganis mencoba menawarkan satu usulan.
"Aku ada properti yang tidak digunakan di Singapura . Untuk sementara Maurin kita tempatkan disana, sambil menunggu kelahiran cucuku." sambungnya lagi.
Lastri terdiam sebentar mencoba memaknai perkataan teman sosialitanya itu. Dia seperti sudah tidak memiliki jalan lain untuk memaksa keluarga Devan agar mau menerima putrinya.
Rengganis pun juga merasakan hal yang sama, kesalahan fatalnya di masa lalu dimana dia ketahuan selingkuh dengan pria lain, menjadikan statusnya di keluarga Cokro tersingkir. Perselingkuhannya terjadi karena sebagai bentuk balas dendam karena perlakuan Atmaja padanya.
"Bagaimana jeng dengan usulku terakhir," tanya Rengganis lembut.
"Nanti aku akan bicara dulu dengan papanya Maurin jeng. Meskipun dia tidak peduli, tapi sebagai papanya Maurin aku wajib member tahunya. Selain itu, aku juga harus menanyakannya pada Maurin." Lastri berpikir mungkin pilihan itu jadi solusi terbaik saat ini.
"Jangan khawatir jeng Lastri, propertiku di Singapura itu atas namaku sendiri. Kalian bebas untuk menggunakannya, kalau cucuku lahir aku akan membalik nama atas namanya. Itu sebagai hadiah atas kehadirannya di dunia." Rengganis mencoba meyakinkan Lastri.
"Yah Jeng, aku akan meyakinkan Maurin agar mau sementara tinggal disana. Mungkin aku akan menemaninya sampai cucuku lahir, apalagi teknologi medis disana masih lebih maju daripada disini."
Akhirnya pembicaraan sore hari antara dua orang ibu membuahkan hasil kesepakatan antara keduanya. Rengganis segera berpamitan pada Lastri, dengan alasan harus segera berada di rumah sebelum adzan Maghrib.
__ADS_1
*********
Rengganis membelokkan mobilnya ke arah lain menjauh dari kawasan Lembang, dan mengarahkan mobil yang dia kemudikan sendiri ke daerah Dago. Di sebuah bangunan bergaya mediteranian, Rengganis menghentikan mobilnya.
Melihat sebuah mobil ***ota Camry berhenti di car port, seorang wanita setengah baya segera membukakan pintu rumah untuk Rengganis. Terlihat jika Rengganis sudah sangat akrab dengan tempat ini.
"Selamat sore Nyonya Anis," sapa perempuan setengah baya tersebut.
"Sore Nah, mas Jatmiko ada," Rengganis menanyakan laki-laki bernama Jatmiko pada Onah asisten rumah tangga di rumah tersebut.
"Ada Nyonya, dari tadi siang Pak Jatmiko berada di ruang belajar. Beliau belum turun dari tadi, Onah tidak berani menganggu." jawab Onah.
"Siapkan teh manis panas dan kudapan.Aku akan mengantarkan ke ruangan mas Jatmiko." Rengganis memberi perintah kemudian menduduki kursi di meja makan, menunggu Onah menyiapkan pesanannya.
"Baik Nyonya tunggu sebentar." Onah segera menyiapkan teh panas dan pisang goreng yang sudah dia goreng beberapa saat yang lalu.
Setelah mengetuk pintu tiga kali, Rengganis langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia melihat seorang laki-laki seusianya yang bernama Jatmiko sedang tertidur dengan kepala diletakkan di atas meja belajar. Dengan tersenyum Rengganis meletakkan nampan kemudian menghampiri Jatmiko.
Sejenak Rengganis memandang wajah laki-laki yang mengisi hatinya sejak masih SMP itu dengan penuh kerinduan. Karena paksaan orang tuanya waktu itu, dia terpaksa harus mau dinikahkan dengan Atmaja.
"Mas Miko..., kenapa istirahat disini." Rengganis mencoba membangunkan Jatmiko yang dia panggil dengan Miko. Dia memeluk Miko dari belakang, dan memberikan ciuman di pipinya untuk membangunkannya.
"Hmm.. hmm, kamu masih mengingatku Anis," tanya Jatmiko yang mulai membuka matanya dan melihat wajah kekasih masa lalunya berada tidak jauh dari wajahnya.
Rengganis tersenyum tidak menjawab perkataan Jatmiko. Sebaliknya Rengganis memberikan jawaban dengan memasukkan tangannya ke balik baju Jatmiko, dan bergerilya menelusuri bagian atas tubuh Jatmiko. Dengan cekatan jari-jarinya membuka kancing kemeja Jatmiko satu persatu.
"Kamu masih tetap sama Anis, kamu akan mencariku jika kamu membutuhkan ****. Apa laki-laki sialan tidak mampu mencukupi kebutuhanmu." kata Jatmiko yang kemudian berdiri dan mengimbangi permainan yang diberikan wanita yang sudah tidak muda lagi itu.
__ADS_1
Tanpa banyak kata, akhirnya pasangan laki-laki dan perempuan tanpa ikatan pernikahan itu sudah tumpang tindih diatas sofa yang terletak di sudut ruang belajar.
"Kamu masih tetap memberikan rasa yang sama mas Miko," ucap Rengganis setelah mereka selesai melakukan hubungan dan kepuasan terlarang.
"Hm..Hm.. kamu saja yang bodoh lebih memilih laki-laki penakut itu daripada aku." kata Jatmiko sambil meneguk teh yang tidak lagi panas.
Rengganis membiarkan Jatmiko menikmati teh dan kudapannya, sementara dia mengirimkan pesan ke suaminya via aplikasi WhatsApp untuk memberi tahu jika dia pulang telat. Setelah beberapa saat..
"Kamu ada masalah apa mas, kata Onah dari siang kamu belum keluar dari ruangan ini." tanya Rengganis.
Jatmiko tersenyum kecut, dan memandang wanita di depannya. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi Rengganis sangat bagus dalam menjaga tubuhnya. Beberapa bagian tubuhnya masih terlihat mulus dan kencang.
"Iya aku lagi bingung memikirkan perusahaanku Nis. Perusahaanku dalam ancaman kebangkrutan saat ini. Aku membutuhkan dana untuk menutup utang jangka pendek perusahaan, padahal cash perusahaan sudah menipis" kata Jatmiko tertunduk lesu.
"Berapa nominal uang yang kamu butuhkan mas, Anis masih memiliki tabungan dan beberapa asset produktif. Kamu bisa menggunakannya terlebih dulu." Rengganis menawarkan bantuan finansial pada Jatmiko.
Jatmiko menatap mata Rengganis, dan Rengganis menganggukkan kepala dengan tersenyum.
"Saat ini aku butuh dana 15 milliar dalam bentuk cash money, untuk membayar utang dagang jangka pendek pada importir yang harus segera mas bayar. Beberapa bulan lalu aku mengambil fasilitas letter of credit di Mayban*," Jatmiko menceritakan permasalahannya pada Rengganis.
Rengganis membuka tas tangannya kemudian mengambil bollpoint tinta biru dan buku cek dari dalam. Dia menuliskan nominal 16 milliar langsung dalam lembaran cek, dan setelah menanda tanganinya dia menyerahkan cek itu pada Jatmiko.
Jatmiko melihat ke arah cek tersebut, dan sepertinya enggan untuk menerima. Tetapi Rengganis memaksanya untuk menerimanya.
"Terimalah mas, ini uang Rengganis bukan uang keluarga. Setelah aku bisa menguasai sebagian harta keluarga, kita bisa menggunakannya lebih banyak lagi." ucap Rengganis.
Jatmiko akhirnya menerima cek tersebut dan memberikan ciuman dalam di bibir wanita setengah baya itu. Malam semakin larut, dan jam sepuluh malam Rengganis baru meninggalkan rumah Jatmiko dengan dikawal Jatmiko dengan mobil di belakangnya.
__ADS_1
*********