
Setelah mengantarkan Aleta pergi ke tempat magang, Devan langsung menuju Polresta Kabupaten Klaten untuk follow up kasus penculikan. Beberapa pengawal yang dikirim Cokro dari Bandung, beberapa sudah berada disana.
"Bagaimana pak, ada informasi lanjutan." tanya Devan pada Kapolres.
"Pemimpin preman yang sudah melakukan penculikan baru dalam pengejaran, tapi sudah kita ketahui markasnya. Anak dan istrinya sementara sudah kita amankan untuk memancing agar Poleng bersedia menyerahkan dirinya." kata Kapolres.
"Terus apa langkah lanjutan sebelum pemimpin itu diketemukan," Devan terus mengejar gerak cepat dari jajaran kepolisian.
"Karena orang-orang yang kita ketemukan semalam di perbukitan Botak, aku yakin mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya seorang anak buah yang diminta untuk menjaga tawanan." lanjut Devan.
Kapolres dan anak buahnya terdiam sejenak.
"Pak Devan, tenanglah dulu. Saya tahu jika perempuan yang diculik adalah istri dari Bapak. Tapi ada tata cara penyelidikan kasus dari kepolisian yang mungkin akan susah dipahami oleh warga masyarakat sipil. Saya akan ikut menjamin, bahwa tidak sampai lima hari, kasus ini akan terungkap semuanya." Kapolres Kabupaten Klaten akhirnya meyakinkan Devan.
"Saya harap untuk proses lanjutan, pak Devan tinggal menerima hasil akhir. Untuk koordinasi dari pihak korban, pak Devan bisa mewakilkan pada pihak lain. Mungkin cukup dari bapak-bapak yang ini.'" lanjut Kapolres sambil menunjuk orang-orang yang dikirim Cokro.
"Siap pak." jawab tiga orang dari Bandung. Sedangkan Devan diam tidak menjawab, setelah beberapa saat.
"Saya ingin mendengar informasi nanti sore sudah ada progress tentang otak penculikan istriku. Jika tidak ada, saya akan naik ke Polda, bahkan jika perlu sampai ke Mabes Polri." ucap Devan sambil berjalan keluar dari Polresta.
Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam saling berpandangan. Sedangkan Kapolres sendiri hanya mengambil nafas tidak terpancing untuk mengambil tindakan akan sikap tidak sopan yang ditunjukkan Devan. Dia masih teringat pesan dari pusat untuk tidak bermain-main dengan kasus ini.
Devan segera keluar dari Polresta kemudian memutuskan untuk kembali ke Sukoharjo. Dia hari ini masih harus mengirimkan berbagai berkas untuk operasional perusahaan, tetapi karena kasus penculikan istrinya, dia tidak bisa meninggalkan Aleta sendirian.
****************
Aleta sejak datang dari pagi sampai siang hari, tidak melangkah keluar dari tempatnya bekerja. Bahkan untuk sholat dhuhur, yang biasa dia lakukan di musholla, kali ini dia lakukan di belakang meja kerjanya.
"Aleta..., keluar yok makan siang." Tutik seperti biasanya datang mengajak makan siang bersama.
__ADS_1
"Maaf Tutik.., hari ini kebetulan aku bawa bekal. Jadi aku tidak bisa keluar." sahut Aleta sambil menunjukkan bekal makan siangnya.
"Atau kalau mbak Tutik mau, bisa nih bekalku kita makan berdua. Kebetulan aku dibawain lumayan banyak sama ART." Aleta menawarkan pada Tutik untuk makan bersama.
"Wah ga ah.., aku makan sendirian saja diluar. Udah ya, aku keluar dulu." Tutik tersenyum kemudian menolak tawaran dari Aleta, sekalian dia pamit untuk mencari makan di luar.
"Okay..., okay.., hati-hati ya mbak Tutik." sahut Aleta.
Kemudian Aleta berniat akan membuka bekalnya, tapi tiba-tiba Raditya susah membuka pintu di depannya.
"Aleta..., ayok masuk ruanganku sebentar, ada yang akan aku klarifikasi padamu." Raditya meminta Aleta untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Eh..., tapi kamu bawa apa hari ini. Bolehkah kakak minta," tiba-tiba Raditya matanya menatap ke arah bekal yang dibawa Aleta
"Bekal makan siang kak. Kalau kakak mau, sekalian saja Aleta bawa." sahut Aleta sambil memberesi bekalnya dan sekalian dia bawa ke dalam ruangan Raditya.
"Duduklah dulu, sekalian kita menunggu Susan." Raditya ternyata juga mengajak Susan untuk klarifikasi bersama.
"Ayok kita makan siang bareng." Susan langsung mengajak makan siang.
Aleta langsung membuka penutup kotak bekal makan siangnya, ternyata hari ini dia disiapkan nasi merah sama Bibi.
"Wah kamu hari ini bawa bekal Aleta. Sepertinya lebih menarik menumu daripada menu yang aku bawa." komentar Susan melihat bekal yang dibawa Aleta.
"Kalau ibu mau, boleh kok Ibu ambil menu ini. Saya juga tidak bakalan habis." sahut Aleta sambil tersenyum.
"Lah kan tadi aku yang minta, untuk kamu bawa bekal makan siangnya kesini Aleta, kok jadinya Susan yang kamu tawari." protes Raditya.
"He...he..he.., saya sendiri juga tidak tahu dibekali apa sama Bibi. Ini banyak kok, kalau mau dinikmati bertiga juga cukup sepertinya." Aleta menawarkan.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga makan nasi merah bekal Aleta, dan menu yang dibawa Susan tidak jadi dikonsumsi. Setelah mereka selesai makan siang, akhirnya mereka baru mencoba melakukan klarifikasi.
"Aleta..., mohon maaf ya. Bukan berarti kami berdua mencoba menghakimi, tapi kami hanya ingin melakukan klarifikasi. Sehingga kalau ada informasi, kami bisa menengahinya." Susan memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Aleta tersenyum kemudian mengangguk, dan menatap mata Susan.
"Begini Aleta, kira-kira dua hari yang lalu, aku melihat kamu dijemput oleh laki-laki yang kira-kira cocok sebagai om untuk ukuran gadis seusiamu. Dan yang menjadikan aku kaget, sepertinya kalian berdua memiliki hubungan yang relatif dekat." Susan melanjutkan lagi perkataannya.
Aleta tersenyum mendengar perkataan dari Susan, tapi dia masih menunggu ucapan dari Raditya.
"Tadi kebetulan hari ini aku lebih dahulu datang darimu Aleta. Dua security melapor padaku, kemarin sore katanya diminta sama laki-laki yang mungkin yang dimaksud Susan tadi, untuk melakukan pengecekan kamera CCTV. Daripada kami menduga-duga apa sebenarnya yang terjadi padamu, maka lebih kami konfirmasi hari ini padamu." akhirnya Raditya ikut membuat pernyataan.
"Bu Susan, kak Radit..., sebelumnya Aleta mohon dimaafkan. Karena Aleta magang disini, tapi menimbulkan banyak masalah baru." kata Aleta mengawali perkataan.
"Laki-laki yang dimaksud Bu Susan atau kedua security itu suami saya. Mohon maaf karena Aleta tidak jujur dari awal. Terkait kemaren sore suami saya sampai minta melihat rekaman CCTV, karena kemarin sekitar jam 15.00 saya memang sedang diculik." katanya lagi.
Mendengar perkataan tentang suami saya, Raditya agak tertegun tetapi syukurlah dia bisa mengendalikan dirinya kembali. Susan sempat melirik ke arah Raditya, tapi melihat dia dengan cepat menyesuaikan diri, menjadikan hatinya merasa tenang.
"Berdasarkan nomor plat mobil dari rekaman CCTV, akhirnya suami Aleta bekerja sama dengan kepolisian Sukoharjo dan Klaten, tadi malam bisa membebaskan Aleta dan ibu." Aleta masih melanjutkan ceritanya.
"Siapa dan untuk apa penculikan itu dilakukan," tanya Raditya.
"Suami Aleta tidak mau, kalau saya terlibat dalam urusan itu. Sekarang permasalahan ini ditangani oleh pihak kepolisian dan orang-orang suami saya. Bahkan untuk penyampaian keterangan, saya juga tidak dibolehkan untuk hadir di lokasi." kata Aleta tertunduk.
"Sudahlah yang penting kamu baik-baik saja Aleta. Maafkan kami ya, kami pikir kamu menyembunyikan sesuatu yang negatif di tempat ini. Kami cukupkan sekian, besok lagi kalau ada apa-apa, ceritakan pada kami." sahut Susan.
"Terima kasih Bu Susan." ucap Aleta.
Raditya tidak mampu menyampaikan perkataan begitu mendengar perkataan dari Aleta. Dia hanya mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Susan.
__ADS_1
*************