
Sesampainya di mobil, Devan tidak sabar berusaha untuk lebih dekat dengan Aleta. Berpisah dengan istri mungilnya hampir satu hari menjadikannya tersiksa, apalagi selama di kota ini, Devan melakukan semua aktivitas pekerjaannya secara online. Menyadari ketergantungan suaminya akan sentuhan, Aleta membiarkan saat tangan Devan sudah bergerilya menjarah kemana-mana, karena dalam kondisi seperti ini penolakan tidak akan berlaku pada suaminya. Di sudut hati kecil, Aleta juga menginginkan kekasaran dan kelembutan Devan yang dengan gila saat memperlakukannya secara intim. Melihat gelagat Tuannya, Ijonk langsung memasang penyekat kursi bagian depan dengan bagian belakang. Belajar dari pengalaman saat ini Ijonk sudah mempersiapkan tameng dengan baik, segera dia memasang headphone di telinganya.
Melihat ekspresi penerimaan istrinya yang seperti ikut menikmati permainan, Devan menjadi lebih berani. Dia bahkan seperti lupa akan posisinya saat ini, dan tidak menyadari jika mereka sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Perlahan satu tangannya memutar tombol di bawah kursi, kemudian menurunkan sandaran kursi. Sedangkan satu tangannya dengan lincah bergerilya menjelajah setiap sudut bagian dari area terlarang Aleta. Bagian dalam pakaian atas Aleta sudah menghambur kemana-mana, dan keputusan untuk mengenakan rok midi hari ini ternyata membawa keleluasaan bagi Devan untuk melancarkan aksinya. Dengan gemas, Devan mengangkat Aleta dan mendudukan di pangkuannya. Tiba-tiba Ijonk menginjak rem secara mendadak, dan berdampak pada kelancaran aktivitas pada kursi belakang. Setelah mereka hampir mendekati rumah tinggal, aksi mereka berakhir dengan senyuman malu di bibir Aleta dan senyum kepuasan di bibir Devan. Aleta segera membenahi pakaiannya kembali yang saat ini sudah menjadi kusut, dan penuh kasih Devan membantu mengusap keringat yang mengalir di kening istrinya.
"Sayang, ini baru warming up. Kita akan tuntaskan lagi di rumah ya," bisik Devan mesum di telinga Aleta. Aleta memelototi Devan, kemudian menunjuk tissue yang hampir memenuhi tempat sampah di dalam mobil. Hampir satu box tissue dihabiskan Devan untuk membersihkan cairannya.
"Khan barusan quickie, mas maunya yang Long," bisik Devan yang terus menggoga istrinya. Melihat pipi istrinya yang merah merona menahan malu, seperti menjadi hiburan tersendiri dan pelepas kepenatan untuk Devan.
Begitu mobil yang dikemudikan Ijonk berhenti di halaman rumah, Devan segera membuka pintu dan keluar terlebih dahulu. Tanpa aba-aba peringatan, tiba-tiba Devan mengangkat tubuh Aleta dengan bridal style dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah. Aleta yang tidak siap, berteriak kaget tapi akhirnya dia menyandarkan kepala di dada suaminya. Ijonk menggelengkan kepala melihat kelakuan mesum pasangan suami istri itu. Melihat Ijonk dengan tampilan wajah sengsara jika habis mengantarkan pasangan suami istri itu, pak Karyo merasa prihatin dan kemudian berjalan menghampiri Ijonk.
"Kenapa Jonk...., dapat jackpot adegan dewasa lagi." bisik pak Karyo menggoda Ijonk sambil menutup mulut untuk menahan tawa.
"Suka ya lihat teman sengsara. Kalau seperti ini terus-terusan, bisa-bisa aku segera minta nikah pak." Ijonk berkeluh kesah pada pak Karyo.
"Ha....ha...ha..., maaf Jonk, kali ini aku tidak dapat menahan tawaku, Lha kalau kamu mau minta nikah itu, calon istrinya sudah ada belum. Atau kenapa kamu tidak mendekati Puji saja, kan hemat tidak perlu kontrak rumah bisa tinggal disini berdua." sahut pak Karyo tertawa keras melihat ekspresi kesengsaraan Ijonk.
"Atau gini saja Jonk. Kapan-kapan gantian Bapak yang mengantar jemput Non Aleta. Kan pak Karyo punya tandem pelampiasan kalau lagi pingin itu, Kan pak karyo ada istri di rumah, lha kalau kamu, ha..ha..ha..," pak Karyo tanpa henti terus membully Ijonk.
Karena sebel Ijonk meninggalkan pak Karyo sendirian. Meskipun dia sengsara, Ijonk sering mendapatkan tip besar dari Devan karena menjaga dan mengawasi istrinya.
__ADS_1
************
Sesampainya di kamar, Devan tidak melepaskan Aleta. Meskipun sudah mendapatkan kepuasan di dalam mobil tetapi prinsip satu takkan cukup, sudah mendarah daging di pikiran Devan. Dalam sekejap dua tubuh yang sudah tidak memiliki rasa malu itu, dilihat dari pakaian mereka yang sudah teronggok di lantai, saling membelit dan menjalin menjadi satu. Mereka dengan bebas mengekspresikan apa yang mereka rasakan tanpa takut terdengar oleh siapapun. Kamar kedap suara yang sengaja disiapkan Devan menjadi daya dukung eksplorasi mereka pada petualangan di wilayah masing-masing. Rintihan, *******, teriakan dengan bumbu aroma keringat mengalir menjadi pemanis suasana di ruangan itu. Setelah sekian waktu berlalu, dua orang itu akhirnya terkapar kelelahan.
"Ayo mas mandikan sayang, kamu lelah ya," tanya Devan lembut pada Aleta karena melihatnya kelelahan. Dia sudah menyiapkan air hangat di bath up dan meneteskan aroma theraphy untuk berendam istrinya.
Aleta tidak menjawab tapi hanya menganggukkan kepala dengan lemah. Tanpa menunggu lama Devan kemudian mengangkat Aleta, dan membawanya ke kamar mandi. Perlahan dan hati-hati, Devan memasukkan tubuh istrinya ke dalam bath up. Seperti khawatir dan takut akan keganasan Devan lagi, Aleta memberikan isyarat pada suaminya untuk keluar dari kamar mandi.
"Iya..iya..., mas akan keluar dulu dari sini, Mas juga sudah mandi, relaxkan badan dan pikiran, mas akan menyiapkan baju gantimu." kata Devan sambil melangkah keluar dari kamar mandi.
Merasakan kenyamanan air hangat bercampur aroma theraphy, tanpa sadar Aleta tertidur di dalamnya. Menunggu beberapa saat istrinya tidak keluar-keluar dari kamar mandi, Devan kembali masuk ke kamar mandi. Melihat istri mungilnya tertidur, Devan menyunggingkan senyuman, kemudian dengan pelan dia menarik handuk, membalutkannya di tubuh Aleta. Dengan hati-hati Devan mengangkat tubuh Aleta untuk membaringkannya di atas bed. Penuh rasa sayang, dengan telaten Devan mengeringkan tetesan air di setiap jengkal tubuh Aleta. Setelah selesai, Devan memakaikan piyama di tubuh Aleta dan menyelimutinya.
**********
Tini sudah selesai menyiapkan makanan di meja makan. Dia bergegas menuju kamar Tuan dan Nyonya Mudanya untuk memberi tahu kalau pesanan mereka sudah disiapkan.
"Tok...tok...tok.." Tini mengetuk pintu kamar Devan dan Aleta.
__ADS_1
Dengan mata mengantuk Aleta berjalan menuju pintu, kemudian membukanya sedikit karena suaminya masih tidur.
"Ada apa Tini," tanya Aleta sambil menguap.
"Tadi sebelum pergi Tuan Devan berpesan untuk disiapkan makanan Non, sekarang pesanan Tuan sudah ada di meja makan." sahut Tini.
"Yah, nanti kalau mas Devan sudah bangun kami akan makan Tin. Sekarang tolong jangan ganggu kami dulu ya. Kami mau tidur dulu." kata Aleta sedikit kesal.
"Ya non, maaf mengganggu tidurnya, Tadi saya pikir Tuan dan Non hanya mengobrol di dalam."
Aleta mengisyaratkan pada Tini untuk segera meninggalkan pintu kamarnya, kemudian dia menutupnya lagi dan kembali melanjutkan tidurnya.
Melihat kepolosan Tini, Ijonk tertawa terbahak-bahak. Tini melirik Ijonk kemudian melemparnya dengan lap dapur.
**************************
__ADS_1