
Tahun berganti tahun, tidak terasa sudah 10 tahun berlalu. Ketiga anak laki-laki di rumah keluarga Cokro di usianya yang belum ada 15 tahun, sudah menghasilkan uang sendiri dengan keahlian yang mereka miliki. Ketiga anak laki-laki itu berkolaborasi menjadi IT Designer yang sangat handal, dan berbagai prestasi dihasilkan dari kompetisi Coding, bahasa pemograman, sampai keahlian membuat robot mereka kuasai.
"Hello.., apakah kamu lupa padaku Axel?" Axel yang sedang menunggu kedua saudaranya keluar kelas, didatangi seorang wanita yang mengenakan kaca mata hitam.
Axel hanya melihat wanita itu sekilas, tetapi dia tidak menjawabnya dan menganggap wanita iseng yang mengajaknya bicara. Dia kembali fokus pada Ipad yang ada di tangannya. Saat ini dia sedang menciptakan education game yang akan dia tawarkan di Play Store. Merasa dicuekin, wanita itu melepas kaca matanya, kemudian duduk di samping Axel. Pesan dari Aleta selalu diingat oleh Axel, berhati-hati dengan orang asing yang pura-pura baik terhadap kita.
"Kita tidak pernah saling kenal, silakan pergi dari samping saya! Mohon maaf saya sedang sibuk Nyonya." Axel dengan tegas meminta wanita itu pergi dari sampingnya.
"Ini tempat umum Axel, tidak ada larangan bagi siapapun untuk duduk disini. Apalagi kita yang masih dihubungkan dengan darah yang mengalir di tubuh kita. Benarkah kamu sudah melupakan aku Axel?"
"Tidak perlu untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang telah membuang dan tidak mengakui kita di masa lalu. Jangan ganggu hidupku lagi, kita tidak pernah ada dalam satu hubungan darah! Hubungan itu terputus saat Nyonya meninggalkan dan tidak mengakui saya. Permisi." Axel langsung meninggalkan wanita itu sendiri, dia langsung menuju mobil yang sudah menjemput mereka di parkiran.
Axel sebenarnya mengingat bahwa wanita yang mendekatinya adalah Maurin, wanita yang sudah melahirkannya di dunia ini, tetapi tidak pernah mengakui dan menganggapnya sebagai seorang anak.
"Axel..., tunggu! I am your aunt..Maurin." teriak Maurin memanggil Axel, dan dalam keadaan seperti ini, Maurin tidak mengaku bahwa dia adalah ibu dari Axel, dia malah mengaku sebagai Tanntenya.
Tanpa menoleh pada Maurin, Axel langsung menuju mobil yang sudah dibuka oleh pak Asep, saat tahu Axel sudha menuju ke parkiran.
"Tuan Arend dan Arick masih belum keluar ya Tuan Axel?" tanya pak Asep.
"Belum pak Asep, mereka masih ikut tes penjajagan untuk ikut kompetisi Olimpiade Robotic di Jepang. Jadi, kira-kira masih satu jam lagi mereka paling cepat baru keluar ruang."
"Ini Tuan Axel mau menunggu mereka keluar, atau pak Asep antarkan pulang dulu?"
"Menunggu saja pak Asep, ini Axel juga masih membuat education game."
"Baik Tuan. Pendingin mobil sudah saya nyalakan Tuan. Pak Asep di luar mobil saja ya, menunggu Tuan Arend dan Arick."
Axel menyibukkan dirinya dengan Ipad nya, dan tampak Maurin berdiri di kejauhan memandang mobil yang dia naiki. Tetapi Maurin tidak berani menghampiri putranya, karena ada pak Asep disitu. Dia khawatir jika Sopir itu akan melapor pada Devan.
__ADS_1
Tidak sampai satu jam, Arend dan Arick sudah sampai di halaman parkir.
"Pak Asep..., ada lihat Axel? Tadi dia janji, mau menunggu kita di food court, tapi kita cari kesana Axel tidak ada." tanya Arend.
"Tuan Axel sudah di dalam mobil Tuan, katanya sedang membuat game apa tadi, Bapak lupa."
"Okay.., berarti kita langsung pulang pak Asep. Arick sudah kangen sama Mommy, kira-kira kita dimasakkan apa ya sama Mommy hari ini?"
"Baik Tuan..,"
*********************
"Pasti baik dong Momm, tadi Arick sama Arend ikut tes penjajagan Mom, prepare Olimpiade Robotic di Jepang nanti." sahut Arend.
"Iyakah? Bagaimana hasilnya, bisa?"
"Of Course.. Mom. Tuh nilai sempurna 100 diraih Arend. Ga tahu.., padahal Arick merasa bisa lho, ternyata poin Arick cuma 98. Kalah lagi deh sama Arend."
"Nilai diatas 91 - 100 itu sama-sama masuk di Excellent sayang. Sesama saudara itu harus saling support, tidak ada kalah menang. AYo ingat pesan Mommy!" Aleta menasehati ketiga putranya.
"Axel.., activity apa yang kamu lakukan hari ini sayang? Pasti tidak kalah dong dengan mereka." untuk menjaga agar Axel tidak merasa kurang perhatian, Aleta gantian menanyakan pada Axel.
"Axel tidak ikut Olimpiade Momm.., ini Axel baru create Education Game. Nanti Mommy pertama kali ya yang main, terus nanti Axel diberi masukan untuk finishing."
__ADS_1
"Pasti sayang, ayo sekarang semua ganti baju dulu, dan cuci kaki dan tangan. Mommy tunggu di meja makan.!" Aleta tidak pernah mengganti kalimat yang selalu sama dia ucapkan setiap mereka pulang. Dan ketiga anak itu tidak pernah memprotes, sebaliknya mereka akan mentaati ajakan Aleta.
Aleta menuangkan nasi pada 3 piring untuk ketiga anaknya, dan meskipun Axel bukan anaknya, tetapi Aleta sedikitpun tidak pernah mengurangi kasih sayang untuknya. Apa yang dia berikan untuk kedua putranya, hal yang sama akan dia berikan untuk Axel. Aleta menyadari banyak yang hilang dari masa kecil anak itu, bahkan sampai sebesar ini Axel belum mendapatkan pengakuan dari Mommy kandungnya.
"Mommy masak apa siang ini?" tanya Arick sambil mencomot tempe goreng dari piring saji.
"Tuh.., Mommy masak sop ayam kampung, ada perkedel sama tempe untuk pelengkapnya. Arick pingin makan apa hari ini, nanti biar Mommy siapkan!"
"Arick makan masakan Mommy saja. Tapi Arick pingin makan Cireng Momm.., boleh ya?"
"Boleh, sekarang nikmati dulu rejeki di hadapan kalian. Kalian bertiga ini sudah besar-besar lho, gimana latihan setir mobilnya, sudah pada bisa belum?"
"Sudah Momm. Tuh Axel paling lancar setirnya, kata pak Asep sih. Kapan Momm.., kita sudah boleh bawa mobil sendiri? Soalnya sering pada diledekin teman-teman, katanya anak Mommy gitu."
"Lha memang mereka tidak dilahirkan dari Mommy nya, dari batu apa? Apakah Arick malu jika dibilang anak Mommy?" tanya Aleta sambil tersenyum.
"Ya tidaklah, Mommy Aleta kan memang Mommy paling jempol di dunia. Iya gak Xel?"
"Iya Momm..., buktinya meskipun Mommy tidak melahirkan Axel, tapi Mommy bisa menyayangi Axel persis seperti anak kandung sendiri. Terima kasih Momm..," kata Axel yang langsung berkaca-kaca matanya.
Arend menyikut Arick untuk out of topic, sedangkan Aleta langsung memeluk Axel untuk menenangkannya.
"Kalian bertiga ini semua putra-putra Mommy, semua anak kandung Mommy. Ayo dilanjutkan makannya semuanya, mommy juga jadi lapar nih."
Aleta langsung mengambil piring dan makan bersama ketiga putranya, Bi Puji dari dapur hanya tersenyum melihat cara Aleta mendidik ketiganya dengan kasih sayang.
***********************
__ADS_1