Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Urusan yang Tua


__ADS_3

"Ridwan... kita temui sama-sama! Lawyer sedang menuju kesini, apakah kamu sudah siapkan bukti-bukti untuk memperkuat argumen kita di depan putri papa? Sebenarnya jujur Rid.., jika tidak mempertahankan amanah dari almarhum papa, aku malas berurusan dengan masalah seperti ini. Aku paham siapa posisi kita di keluarga papa, kita hanya anak terlantar yang diangkat derajat oleh papa." Rico mengarahkan Ridwan adik angkatnya, yang sama-sama diambil dan diangkat menjadi anak oleh kakeknya Axel.


"Iya kak... Hal itu juga yang aku khawatirkan jika nanti mbak Maurin akan menggugat. Tapi bagaimanapun hak Axel harus kita selamatkan dari keserakahan mama dan neneknya. Apalagi posisi papa meninggal sudah bercerai dengan Bu Lastri. Jadi sudah tidak ada hak apapun untuk bu Lastri, untuk mbak Maurin karena papa sudah tidak mengakuinya, maka haknya jatuh ke putranya Axel." Ridwan berkomentar.


Keduanya diam sejenak, dan tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruangan kantor Rico.


"Masuk!" jawab Rico tegas.


"Tuan.., ada yang ngotot untuk bertemu dengan Tuan. Dua orang perempuan, tadi mengaku yang masih muda sebagai putrinya almarhum pak Broto. Saat ini mereka tetap kita minta untuk menunggu di lobby." setelah mendorong pintu dan masuk, tampak petugas lobby melapor pada Rico dan Ridwan.


"Benar.., sampaikan jika kami masih ada meeting. Mereka diarahkan untuk menunggu, jika membuat keributan.. panggil security untuk mengamankan mereka." tegas Rico.


"Baik Tuan.., segera kami sampaikan."


Sepeninggalan petugas lobby, Ridwan dengan muka khawatir mendekat pada Rico.


"Kak.., kapan kita akan menemui mereka?"


"Beri informasi pada Tuan Devan dulu, kita keluar jika lawyer sudah datang. Karena kita juga belum tahu bagaimana bu Lastri dan mbak Maurin."


"Baik kak, coba saya hubungi Tuan Devan."


Ridwan mengambil ponsel dari tas kecilnya, kemudian menghubungkan dengan nomor ponsel Devan, dan tidak lama Devan mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa Rid, tumben jam segini menghubungiku? Ada masalah di perusahaan??" tanya Devan.


"Maaf Tuan saya mengganggu, mau kasih informasi. Bu Lastri dan mbak Maurin saat ini sedang kita minta untuk menunggu di lobby. Tadi kak Rico minta, kita menunggu kedatangan lawyer dulu, baru kita temui sama-sama." Ridwan segera memberitahu tujuan melakukan panggilan.


"Benar itu ide Rico. Aku tidak bisa datang sekarang, tapi asistenku aku minta segera meluncur kesana. Jika ada apa-apa, kalian bisa komunikasi pada asistenku."


"Baik Tuan, hanya mau memberi informasi hal tersebut Tuan."

__ADS_1


"Ya, habis ini saya telponnya lawyer, untuk memberi pesan-pesan untuk dasar agumentasi dengan Bu Lastri dan anaknya."


"Bagaimana tanggapan Tuan Devan Rid?" tanya Rico setelah melihat Ridwan mengakhiri panggilannya.


"Setuju dengan saran kak Rico, dan Tuan Ridwan juga akan menghubungi lawyer untuk memberinya pesan-pesan."


"Baguslah.."


Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, lawyer  kepercayaan pak Broto yang bernama Anggorosudah datang ke depan pintu ruang kerja Rico.


"Bagaimana pak Rico, pak Ridwan? Kita langsung ke meeting room? Di lobby tadi saya sempat berbicara sebentar dengan mbak Maurin dan Bu Lastri." tanya Anggoro.


"Pak Anggoro sudah siap bukti-bukti fisiknya? Jika sudah kita langsung kesana."


"Sudah pak, mari. Saya sudah siapkan semuanya!"


Mereka bertiga segera masuk ke meeting room, dan Ridwan berpesan pada sekretaris untuk mengundang mantan istri Pak Broto dan putrinya.


 


 


 


 


Axel tampak berjalan dengan gelisah, karena dia merasa ada dua orang naik sepeda motor seperti mengikuti mobil mereka sampai ke sekolah. Tetapi dia tidak memberi tahu Arend dan Arick, dan sampai mereka turun dari mobil, Axel masih merasa dua orang itu menguntit mereka.


"Kamu kenapa Xel.., sepertinya kamu pucat? Sakit ya.., jika sakit mumpung pak Asep belum jauh, kamu pulang saja!" tanya Arend saat melihat muka Axel yang tampak pucat dan gelisah,


"Aku baik-baik saja Rend.., hanya masih sedikit mengantuk saja. Semalam bicara dengan mommy sampai lumayan malam. Ayo kita segera masuk saja!" Axel mencoba menghindari kecurigaan kedua saudaranya itu.

__ADS_1


"Benar.., kamu baik saja Xel? Ayo kita duduk dulu disana, toh kita masuk masih ada 30 menit lagi!" Arick yang kurang percaya dengan omongan Axel mengajak mereka duduk dulu di kursi tunggu yang ada di selasar sekolah.


Mereka bertiga berjalan berdampingan, dan beberapa gadis yang berpapasan mereka senyum-senyum, mencoba menyapa mereka. Tetapi sesuai julukan ketiganya di sekolah ini adalah COOL MAN, mereka mengabaikan tatapan ketertarikan dari lawan jenisnya.


"Axel.., jujur pada kami! Ceritakan, sampai kapan kamu akan berbohong pada kami?" setelah mereka duduk, Arick langsung mengintrogasi Axel.


Arend dan Arick mereka duduk mengapit Axel. Axel tampak gelagapan..., kemudian menoleh ke arah mereka berdua.


"Jujur Rend.., Rick.., aku gelisah dan takut." ucap Axel pelan sambil menundukkan kepala.


"Apa yang kamu takutkan? Bukannya Mommy and Daddy tidak pernah membedakan kita? Bahkan terkadang aku saja iri sama kamu, karena sering terutama Mommy lebih sering komunikasi dengan kamu daripada sama kami."


"Iya Rick.., aku tidak khawatir dengan Mommy and Daddy. Tapi aku takut dengan orang-orang yang ada pada masa lalu aku. Kalian lihat tidak, itu ada dua orang di depan pintu gerbang? Dari tadi mereka naik motor mengikuti mobil kita."


"Itukah yang pakai jaket jeans, dan satunya sedang merokok di pinggir jalan?" tanya Arend.


"Benar Rend.., aku takut mereka itu orang-orang suruhan dari mama dan oma aku. Karena kemarin sepulang sekolah, sebenarnya aunty Maurin datang menemuiku disini. Tapi karena aku panik dan ketakutan, aku langsung masuk ke mobil, kemudian menunggu kalian di dalam mobil."


"Really??? Kenapa kamu tidak cerita pada kami kemarin? Jika kamu saat itu cerita, aku dan Arend bisa menemani kamu, kita tanya pada your aunty.. apa maunya mendatangi kamu."


"Semalam aku juga sudah cerita sama Mommy.., karena tujuan mereka tidak hanya mencari aku. Tetapi rupanya, mereka mau menuntut hak atas perusahaan almarhum Opa."


"Axel..., biarkan itu semua menjadi urusan Mommy and Daddy. Kamu hanya perlu sekolah dengan baik, dan jika saatnya tiba, aku yakin perusahaan Opa Broto akan menjadi milikmu. Sekarang kosongkan pikiran, kita sekolah dulu hari ini. Biarkan yang tua ketemu dengan yang tua..!" Arend mengajak Axel dan Arick untuk segera masuk kelas.


"Terima kasih Arend.., terima kasih Arick. Kalian sudah rela dan ikhlas berbagi semuanya denganku." Axel memeluk Arend dan Arick.


Kemudian mereka bertiga segera berdiri, dan berjalan ke kelas mereka masing-masing. Devan dan Aleta memang menemui pihak pengelola sekolah, untuk memisahkan kelas mereka bertiga. Karena mereka menginginkan, ketiga putranya dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan wajar di sekolah.


 


**************************

__ADS_1


__ADS_2