
Mendengar tertawa keras kedua putranya, Aleta membuka pintu ruangan kerja dengan penuh tanda tanya. Tidak biasanya mereka berdua tertawa sampai sekeras itu, Aleta langsung menuju ke ruang keluarga.
"Ya Allah Arend.., Arick.. tertawanya sampai bikin Mommy mau jantungan. Waduh.., waduh..., ternyata ada putri cantik yang pulang ya, makanya dari tadi kok terdengar riuh dari ruang kerja." sapa Aleta setelah melihat ada Cynthia sedang bercanda dengan Arend dan Arick.
Gadis ABG itu langsung berdiri menghampiri aunty nya kemudian mencium tangan dan melakukan cipika cipiki.
"Aunty..., Cynthia kangen sama aunty." ucap Cynthia sambil memeluk erat Aleta.
"Bilangnya saja kangen.., tapi kesininya satu bulan sekali saja tak tentu. Bohong itu Momm.." seru Arick yang diiyakan sama Arend.
"Bener aunty.., kak Arick sama kak Arend jahat, dari tadi ledekin Cynthia mulu. Besok lagi Cynthia ga mau kesini lagi kalau begini mah." Cynthia mengadu ke Aleta.
Aleta tersenyum kemudian melepaskan pelukan gadis itu, kemudian mengajaknya duduk di sofa.
"Cynthia.., karena kamu jarang kesini makanya kakak-kakakmu godain kamu. Coba deh, maksimal satu minggu sekali, Cynthia main kesini, pasti mereka akan baik." Aleta mencoba menengahi.
"Tidak pengaruh Momm.., karena bagi Cynthia yang paling baik di rumah ini hanya Axel. Tadi dia bilang jika Axel itu ganteng, Mommy setuju tidak, jika Cynthia sama Axel jadian??" seru Arick.
"Kalian ini sudah pada usia berapa sih? Masak baru saja Mommy tinggal di ruang kerja sebentar, Mommy sudah tidak memperhatikan tumbuh kembang putra-putra Mommy. Jadian gimana maksudnya, pacaran atau cinta-cintaan?"
"Huek... makanya jangan usil." sahut Cynthia sambil menjulurkan lidahnya keluar.
"Cynthia itu usianya baru 10,5 tahun sayang..., kemarin saat di Elementary School hanya 4 tahun karena ikut kelas akselerasi. Jadi tidak bagus.., masak sudah bicarakan cinta-cintaan. Iya kan sayang, adik kalian ini hanya bongsor saja badannya." Aleta menasehati mereka sambil tersenyum.
"Terima kasih aunty..," Cynthia kembali memeluk Aleta, sambil kembali menjulurkan lidah pada kedua kakak sepupunya.
"Cynthia..., sudah menengok opa buyut belum tadi? Jika belum, ayo ditengok dulu opa di kamar!" Aleta menyuruh Cynthia menengok kakek Cokro. Karena dengan usianya yang sudah lebih dari 80 tahun, saat ini Cokro sering merasa kelelahan.
"Oh iya lupa.., maaf Aunty! Cynthia ke kamar opa buyut dulu." gadis ABG itu langsung berdiri dan menuju kamar kakek Cokro. Kedua kakaknya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik sepupunya itu.
Tidak berapa lama, Cynthia sudah kembali keluar kamar dengan sikap panik.
"Aunty..aunty..., opa kok diam saja ya?? Cynthia sudah panggil-panggil tetapi tidak menjawab, matanya tetap terpejam." ucap Cynthia sambil mengadu pada Aleta.
__ADS_1
"Iyakah?? Arend.., Arick.., coba kalian lihat dulu ke kamar gih! Mommy mau matikan dulu komputer di ruang kerja." Aleta meminta kedua putranya untuk menengok kakek Cokro, dia segera menuju ruang kerja untuk mematikan komputer. Tetapi baru saja Aleta hendak menekan shut down pada layar komputer, terdengar teriakan Arend yang berlari mendatanginya di ruang kerja.
"Mommy..., Arick sudah telpon hospital. Sepertinya opa buyut pingsan Momm." mendengar teriakan Arend, Aleta langsung bergegas dan segera mendatangi kamar Cokro. Terlihat Cynthia sudah menangis, sedangkan Arick sedang melakukan panggilan telpon.
Sesampainya di samping ranjang kakek Cokro, Aleta berusaha menahan perasaannya. Dia harus menunjukkan pada putra-putranya bahwa dia adalah Mommy yang kuat. Saat Aleta memegang tangan kakek Cokro, dia hanya merasa dingin, kemudian berusaha mencari nadi di pergelangan tangannya. Dengan mengerenyitkan keningnya, Aleta seperti merasakan sesuatu. Tetapi dia tetap diam tidak memberi tahu perasaannya pada putra-putranya.
"Arend..., call Daddy, Opa Atma, and Uncle Rolland! Minta semuanya segera pulang ke rumah!" Aleta segera berdiri menyelimuti kakek Cokro.
"Arick.., sudah berhasil belum call rumah sakit?" tanya Aleta.
"Sudah dalam perjalanan ke rumah Momm. Ini Arick juga sudah telpon Axel untuk segera sampai rumah."
*****************
"Kak..., sudah bicara belum dengan kakak ipar tentang permasalahan Cynthia??" Rolland kembali bertanya pada Devan.
"Oh iya.., maafkan kakak Lland! Kakak lupa, nanti malam segera aku sampaikan pada kakak iparmu."
"Hari ini Cynthia kalau jadi juga pergi ke rumah Cokrodirdjan. Tadi pagi waktu aku mau berangkat, anaknya sempat minta pamit." sahut Rolland.
"Ya semoga saja, dia sudah sampai disana. Juga dia sudah bicara sendiri sama Aunty nya."
Tiba-tiba ponsel keduanya berdering bersamaan. Dengan cepat karena panggilan dari putranya, Devan langsung menerima panggilan tersebut, demikian juga dengan Rolland karena Cynthia juga melakukan panggilan.
"Ya ada apa Arick sayang?? Tumben telpon Daddy?" sapa Devan.
"Daddy segera pulang ya! Opa Dadd.. sepertinya pingsan di kamar. tapi barusan Arick sudah pesanan layanan rumah sakit, dan sekarang sedang menuju ke rumah."
__ADS_1
"Baik, daddy dengan uncle Rolland langsung berangkat pulang. Jaga Mommy..., jangan sampai Mommy panik, okay!! Oh ya.. opa Atma sudah dihubungi belum?"
"Sudah Dadd.., bye." Arick langsung mengakhiri panggilan telpon. Tanpa kata, Devan segera menarik Rolland dan membawanya keluar dari ruangan dan langsung menuju ke basement. Rolland yang juga sudah mendapatkan kabar dari Cynthia tentang kondisi kakek Cokro, tanpa banyak bicara langsung mengikuti kakaknya.
"Aku saja yang bawa mobilnya, kakak duduk saja." Rolland langsung merampas kunci mobil dari tangan kakaknya, kemudian langsung menekan gas mobil.
**************
Di rumah Cokrodirdjan
Axel dan Atmaja datang hampir bersamaan ke rumah. Atmaja merangkul Axel dan mereka langsung menuju kamar kakek Cokro..., dan melihat dokter sedang melakukan pemeriksaan. Kedua cucunya langsung menghampiri dan memeluk opanya dengan erat. Di sudut ruangan, Cynthia menangis terisak.
"Dimana Mommy???" tanya Axel cepat karena tidak melihat Aleta disitu.
"Dapur." jawab Arend singkat. Axel langsung keluar dari kamar kakek dan mencari Mommy Aleta di dapur. Dia melihat Mommy nya yang berbicara dengan Bibi Puji, dan sedang mengarahkan dengan mata memerah. Sesekali tangannya mengusap air mata yang mengalir ke pipinya.
"Mom, don't be sad!!" Axel langsung memeluk Aleta, dan Aleta yang dari tadi mencoba menahan agar air mata tidak tumpah, menangis tersedu di dada Axel.
"Mommy istirahat dulu ya. Bibi.., minta tolong satu gelas air putih!" Axel memberikan air putih dari Bibi Puji pada Aleta. Setelah meminumnya beberapa teguk, Aleta mengusap air matanya.
"Mom.., is the great-grandfather dead?" tanya Axel serius.
Aleta sudah tidak mampu bicara, dia hanya mengganggukkan kepalanya.
"Hanya perasaan Mommy sayang, semoga hasil diagnosis Dokter berbicara lain." ucap Aleta pelan. Mendengar itu, Axel kembali memeluk erat orang yang sudah dia anggap sebagai mamanya sendiri itu.
__ADS_1
*******************