
Pagi hari Aleta terbangun, dia menyingkirkan tangan suaminya yang masih melingkar di pinggangnya. Perlahan dia segera beranjak dari tempat tidur. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, dia keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Cynthia.., kamu sudah bangun sayang?" Aleta melihat Cynthia sedang melihat televisi sendirian di ruang tamu.
"Sudah Aunty.., mau tidur lagi ga bisa. Cynthia kangen mama.., apakah boleh Cynthia peluk aunty?"
Mendengar perkataan Cynthia, hati Aleta menjadi memelas. Dia langsung berjalan menghampiri gadis ABG itu, kemudian memeluknya dengan erat. Dia mengelus rambut Cynthia, dan mencium kepalanya.
"Mau bantu aunty menyiapkan sarapan, karena anak-anak biasa menanyakan sarapan jika mereka bangun?" tanya Aleta pada Cynthia.
"Mau aunty.., ajari Cynthia masak ya? Biar kalau Cynthia jadi kuliah di luar negeri, bisa membuat sarapan sendiri." gadis itu langsung berubah menjadi ceria kembali.
Aleta merangkul Cynthia, dan mengajaknya ke dapur.
"Kita mau masak apa Aunty?"
"Nasi goreng saja ya, yang cepat dan mudah. Lagian nasi putih sisa semalam, masih sisa banyak. Aunty siapkan bumbunya, Cynthia keluarkan sea food ya dari chiller. Udang dan cumi saja yang dikeluarkan." Aleta memandu Cynthia.
Gadis itu segera melaksanakan perintah dari Aleta, kemudian dia langsung mencuci udang dan cumi yang sudah dibersihkan tinggal siap untuk memasak.
"Cynthia beneran nih, jadi mau ambil school di luar negeri?" Aleta memancing niat Cynthia untuk studi di LN.
"Iya aunty.., Cynthia ingin lanjut di luar saja. Sekalian ga lihatin mama dan papa ribut. Mama itu terkadang keterlaluan Aunty, bilangin ya. aunty! Kalau papa kasih tahu, mesti jadinya ribut besar. Suka sebel sama mama jadinya." tanpa sadar Cynthia curhat tentang keluarganya.
"Jadi karena faktor itu ya, Cynthia ingin meninggalkan keluarga?? Sudah dipikirkan benar-benar, jika kita butuh sesuatu tidak secepat kita akan bisa memperolehnya. Pertama karena jarak, kedua juga karena persyaratan yang harus kita penuhi untuk dapat menuju kesana." dengan pelan, Aleta membuka wawasan Cynthia.
"Cynthia juga ingin berlatih mandiri Aunty, kata Inneke kakaknya jadi orang hebat setelah pulang dari Amerika. Dia juga sekolah disana." Cynthia menceritakan kakak teman sekelasnya.
"Boleh aunty bicara sayang??" tanya Aleta hati-hati.
Cynthia melihat ke arah Aleta, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aunty setuju kalau Cynthia ingin melanjutkan studi ke luar negeri, tapi jangan sekarang. Tunggulah setelah Cynthia lulus dulu dari High School. Untuk High School, Cynthia bisa menyelesaikan di kota ini, sambil menunggu Cynthia lebih dewasa dikit. Sekalian nunggu kakak-kakakmu juga. Axel terutama, dia ingin menemui seseorang di Jerman, dan jika jadi.., juga akan melanjutkan studi disana."
"Benarkah aunty??? Wah..., Cynthia juga mau studi disana, bisa bareng kak Axel dong."
"Tapi nanti setelah lulus High School, tidak High School ambilnya disana. Sekarang waktu luangnya diisi dengan mempersiapkan bahasa Jerman, karena tidak mungkin kan akan menggunakan bahasa Indonesia atau full English disana." Aleta pelan-pelan menyadarkan Cynthia, sambil membuat nasi goreng.
Dengan penuh perhatian, Cynthia mendengarkan arahan Aleta sambil memperhatikannya yang sedang menggoreng nasi.
"Akhirnya jadi juga nasi gorengnya sayang. Sekarang Cynthia bantuin Aunty ya, ambilkan tepung di toples atas rak ya. Aunty mau buat udang dan cumi goreng tepung, untuk teman makan nasi goreng." sambil menuangkan nasi goreng di piring saji, Aleta meminta Cynthia membantunya lagi...
"Siap aunty... jadi pingin tinggal bareng aunty. Ada yang ngajarin masak, dan ada yang ngarahin Cynthia juga." celetuk Cynthia.
__ADS_1
"Beneran nih, aunty jadi punya teman perempuan nih di rumah. Ya udah, kalau Cynthia pas bored di rumah, menginap saja di rumah." Aleta menawarkan.
"Okay aunty.., nanti Cynthia bicara sama papa. Aunty bantuin juga ya, untuk bicara dengan papa."
**************
Jam 10 pagi semua sudah bangun dan berkumpul di depan televisi. Mereka memegang piring di tangan masing-masing.
"Momm.., ini nasi goreng sea food ya?? Kok gak ada telur dadarnya?? Tapi enak sih." seru Arend.
"Ya tentu enak dong, Cynthia tahu.. yang bantuin Aunty masak." sahut Cynthia tidak mau kalah.
"Iyakah??? Beneran kamu bisa masak??" tanya Rolland tidak percaya apa.yang dikatakan putrinya.
"Ha..ha..ha.., uncle saja tidak percaya Cyn.. Apalagi kita. Ha..ha..ha.." teriak Arend meledek Cynthia.
.
"Iya.., paling Cynthia lihatin doang." sahut Arick.
"Aunty..., bantuin Cynthia dong!!! Masak pada tidak percaya, kalau Cynthia yang bantuin Aunty masak." teriak Cynthia memanggil Aleta. Saat ini Aleta sedang mempersiapkan baju ganti untuk Devan yang sedang mandi.
"Ada apa Cynthia?? Digodain ya sama kakak-kakakmu?? Ini tadi Cynthia yang bantuan Mommy masak, enak kan." Aleta keluar dari dalam kamar, kemudian menetralisir suasana.
"Momm..., nasi gorengnya Axel habiskan ya? Habis enak banget." seru Axel dari meja makan.
"Iya.., Mommy sama Daddy makan nasi putih saja. Tadi juga sudah buat sayur untuk lauknya."
Aleta merasa bahagia, sudah sejak lama saat kakek Cokro meninggalkan dunia, mereka tidak pernah kumpul-kumpul bareng. Dia yang terbiasa hidup sejak kecil di panti asuhan jadi teringat saat mereka melakukan apa-apa dengan ramai-ramai. Tiba-tiba dia jadi merindukan suasana seperti dulu.
"Ada apa Momm..., kok melamun?" sapaan Devan membuyarkan lamunan Aleta.
"Iya Dadd.., kangen kumpul-kumpul lagi seperti dulu. Papa dan mama pasti akan bahagia ya, jika mereka berdua ikut bergabung disini." kata Aleta menjawab pertanyaan Devan.
"Kan mereka saat ini sedang pulang ke Jogja, mau ziarah ke tempat kakek." sahut Devan sambil menarik istrinya ke dapur.
"Oh iya.., Mommy lupa."
Aleta mengambilkan nasi putih, dan lauk serta sayur untuk suaminya. Tidak lupa satu gelas air putih juga sudah Aleta siapkan.
"Masih ada nasi kak?? Masih lapar aku, jarang makan menu rumahan soalnya." tiba-tiba Rolland ikut bergabung ke meja makan.
"Ada nasi putih, kalau nasi gorengnya sudah ludes. Kalau mau, kakak ambilkan sekalian." sahut Aleta.
__ADS_1
Rolland segera mengulurkan piring kepada kakak iparnya, dan Aleta segera menyiapkan nasi putih untuk Rolland.
"Dadd.., sepertinya lebih asyik dan lebih akrab ya kalau kita tinggal disini." kata Aleta.
Devan melihat ke mata istrinya sebentar.
"Iya..., Daddy tahu rumah keluarga sangat dan terlalu besar untuk kita. Tapi bagaimanapun, kita tetap harus menjaga dan merawatnya. Mungkin ke depan kita atur." Devan mengomentari perkataan istrinya.
"Maksud Daddy??"
"Yah.., dalam. satu Minggu kan ada 7 hari. Kita bisa membagi waktu kita untuk tinggal di kedua rumah. Atau gantian sama kamu Rolland, kita gantian menempati."
"Teganya kamu kak,..aku cuma dengan Cynthia diminta tinggal di rumah itu berdua."
***********
Bantu Author Yukkk!!!
Author lagi ikut Nulis karya lomba.
Baca juga ya, dan jangan lupa LIKE
Judul.
Sang Petarung
Mamah AllRey pengarangnya
Revenge: Terlahir Kembali
Misi Kepenulisan
__ADS_1
******