Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kalut


__ADS_3

Di dalam kamar, Aleta yang tadinya bersifat lembut dan mesra menyelamatkan muka suaminya berubah 180 derajat. Dia hanya diam duduk di kursi depan meja rias tanpa terucap sepatah katapun. Senyum yang tadi masih sempat dia berikan untuk keluarganya, saat ini berganti dengan tatapan tanpa makna. Antara sedih, marah sedikitpun tidak terlihat di raut wajahnya. Bahkan setitik mendung di matanya juga tidak terlihat.


Merasa serba salah Devan mendekati Aleta, kemudian memeluknya dari belakang.


"Aleta..., bicaralah, marahlah, atau apapun. Kamu pukul mas pun, aku tidak akan melawan. Lakukan sepuas hati jika bisa melegakan hatimu." kata Devan serba salah.


Berkali-kali Devan mencium pucuk kepala Aleta, tapi Aleta seperti raga tanpa nyawa. Aleta merasa ilfill membayangkan tubuh Devan menyatu dengan tubuh Maurin pada saat mereka berada di tempat yang sama. Rasa sesak yang menggumpal di dadanya, seakan menyumbat isi kepalanya.


Melihat tidak ada sedikitpun respon dari Aleta, Devan memegang pinggang Aleta dengan kedua tangannya, kemudian perlahan mengajaknya untuk berdiri. Perlahan dia memutar badan Aleta dengan posisi berhadapan dengannya, kemudian Devan memeluk tubuh erat istrinya yang masih diam tanpa ekspresi.


"Sayang..., bicaralah. Percayalah padaku sayang. Tidak terjadi apa-apa antara mas dengan Maurin. Apalagi sepanjang hari dan malam waktu Di Ubud, kamulah yang selalu berada di sisiku. Tidak ada Maurin atau siapapun." ucap Devan bingung bagaimana harus membuat Aleta mau bicara.


Dia sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba Maurin datang membawa hasil laboratorium dan menuduhnya telah membuatnya hamil.


Mendengar Devan menyebut nama Maurin, Aleta merasa jijik dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Devan, tapi dengan erat Devan tetap bertahan untuk memeluknya. Dengan penuh kelembutan Yudha memberikan ciuman lembut ke seluruh bagian tubuh Aleta. Meskipun beberapa anggota tubuh Aleta merespon secara alami, tapi bayangan tubuh suaminya menyatu dengan Maurin membuat respon itu kembali pudar melemah.


"Sayang... mas Devan mau kamu saat ini. Apakah mas Devan boleh..." tanya Devan berbisik di telinga Aleta.


Aleta ingin menolak dan mendorong tubuh Devan, tapi kesadarannya sebagai wanita beristri yang tidak boleh menolak suami seakan menyentaknya. Perlahan dia mengikuti arus suaminya meskipun tubuhnya merasakan mati rasa.


Setelah beberapa saat, Devan merasakan kepuasan dan akhirnya dia tertidur dengan nyaman. Melihat suaminya tertidur, Aleta perlahan bangun dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Dengan terisak menahan nyeri di dalam hati, perlahan dia menyabuni seluruh badannya. Berkali-kali dia berusaha menuangkan sabun di tangannya. Kemudian dia kembali menggosokkan ke tubuhnya dengan harapan bisa menghilangkan jejak Maurin yang terasa menempel di tubuh suaminya. Dalam kekalutan tiba-tiba dia mengambil keputusan.


Segera Aleta mengakhiri ritual mandinya, kemudian dengan hati-hati dia mengenakan pakaian, dan membungkus semua pakaian yang ada di walk in Closed. Setelah itu Aleta membuka ponselnya, kemudian masuk ke aplikasi penyewaan mobil. Dengan cepat, dia melakukan register untuk mendapatkan akun. Setelah melakukan aktivasi akun di email, Aleta berselancar mencari mobil sewaan yang bisa mengantarkannya saat itu juga ke Sukoharjo. Tidak berapa lama, di mendapatkan messege via chat di aplikasi WhatsApp.


"Selamat malam, dengan Tra*c* Transport, apakah benar saat ini anda mencari mobil sewaan." operator dengan cepat merespon order via aplikasi yang dikirimkan Aleta.

__ADS_1


"Ya, tolong dijemput saya sesuai titik lokasi yang ada di aplikasi." jawab Aleta cepat.


"Ok, tapi untuk menunjukan keseriusan, mohon ditransferkan biaya sewa sebesar Rp. 3.500.000. Karena sering terjadi order fiktif di malam hari."


"Siap, akan segera saya lakukan transfer via mobile banking. Mohon kerjasamanya untuk segera ke lokasi." kata Dev segera mengirimkan uang via aplikasi mobile banking.


Setelah terkirim, Aleta mengirimkan bukti resi pada operator.


"Mohon ditunggu, mobil sedang meluncur ke titik lokasi."


Aleta segera memasukkan ponsel ke backpack, kemudian dia bersiap untuk meninggalkan suaminya. Sebelum membuka pintu, Aleta menengok sebentar dan memandang wajah suaminya yang sedang tertidur pulas.


"Maafkan Aleta mas Devan, Aleta belum bisa memaafkan kalian. Aleta membutuhkan waktu untuk sendiri beberapa waktu. Kalau mas Devan memang Jodohku, kita pasti akan dipersatukan lagi" bisiknya lirih. Tanpa terasa air mata bergulir di pipinya.


"Bi Puji belum tidur, dan sepertinya pak Karyo masih membantu Bi Puji membersihkan peralatan dapur. Semoga tidak ada yang melihatku keluar dari rumah ini." Aleta berpikir sendiri.


Setelah berhasil membuka pintu, dengan mengendap-endap Aleta akhirnya bisa sampai di jalan 'depan rumah. Tidak sampai menunggu lama, mobil sewaan yang akan mengantarkan ke Sukoharjo berhenti di depannya.


"Selamat malam, dengan kak Aleta ya." sapa driver dengan ramah.


"Malam, iya pak. Kita langsung jalan saja, Kira-kira jam berapa kita akan sampai di Sukoharjo ya pak " tanya Aleta.


"Sudah saya perkirakan dengan mampir di rest area, kita akan sampai di lokasi sekitar jam 05.00 pagi kak." driver menjelaskan perkiraan waktu perjalanan sambil menjalankan mobilnya.


"Baik pak, tolong jangan ngebut ya mengemudinya. Saya tidak sedang dikejar waktu, dan mohon maaf saya tidak dapat menemani ngobrol." kata Aleta.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kak, selamat malam."


"Malam," jawab Aleta kemudian dia mulai memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba Aleta teringat sesuatu, kemudian dia membuka matanya dan segera mencari ponselnya.


"Aku tidak boleh pulang ke Klaten ke tempat ibu, tetapi aku juga tidak boleh pulang ke rumah yang dibeli mas Devan untukku." Aleta berpikir mencari tempat transit untuknya pagi ini.


"Corry," nama yang pertama kali muncul di benaknya. Kemudian dia menengok jam di pergelangan tangannya.


"Jam 11.30, semoga Cory belum tidur." pikirnya kemudian dia melakukan panggilan ke nomor teman kuliahnya.


Setelah dua kali panggilan, akhirnya Cory menerima panggilannya.


"Assalamualaikum Aleta, tumben jam segini masih terjaga dan ingat untuk menghubungiku." sapa Cory dari seberang telepon.


"Wa Alaikum salam Corry. Tolong jangan banyak tanya dulu ya." Aleta menjawab dengan suara bergetar.


Mendengar suara sahabatnya yang serak gemetar, Corry akhirnya terdiam.


"Ijinkan aku besok pagi transit di kost mu ya. Kira-kira jam 5 pagi aku akan sampai disana. Besok siang, baru kamu temani aku untuk mencari kamar kost untukku." kata Aleta.


"Ya girl, kamar kost ku selalu terbuka untukmu. See you girl..., take care." kata Corry tanpa banyak pertanyaan.


Dia sangat mengerti bagaimana sifat dari sahabatnya. Pada saatnya dia akan menceritakan sendiri apa yang terjadi jika dia sudah bisa mengendalikan perasaannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2