
Devan menikmati kebahagiaan yang dia rasa sesungguhnya selama hidupnya ini, dimana dia bisa berkumpul dengan istrinya dan ditemani si kembar buah hatinya. Rumah di Sukoharjo yang terasa sepi, saat ini menjadi ramai, karena memiliki banyak penghuni. Kadang tangisan, tertawaan dari si kembar menjadi penghias rumah mereka.
"Mas Devan, tadi ada ditelpon sama Rolland tidak?" tanya Aleta pada suaminya.
Saat ini mereka sedang berada di kamar si kembar. Aleta baru selesai menidurkan mereka berdua, dan Devan setelah mandi kemudian mengikuti Aleta ke kamar itu.
"Tidak, kenapa. Apa kamu ditelpon sama Rolland?"
"Iya mas, tadi Rolland minta pertimbangan sama Aleta. Dia bilang, jika dia sudah berpikir masak-masak, dan dia sudah merasa mantap jika dia akan menikahi Jenny. Aleta hanya menyarankan sih, Rolland Aleta minta untuk menghubungi dan meminta pertimbangan pada mas Devan juga."
Devan tersenyum, kemudian menarik tangan istrinya. Dia menghadiahkan kecupan di kening Aleta.
"Ayo pindah kita ngobrolnya, mas lapar. Lagian kalau kita bicara di kamar ini, malah bisa-bisa si kembar menghukumku. Nanti malam, aku bisa tidur sendiri."
Aleta tersenyum, akhirnya mereka pindah bicara ke meja makan. Devan kemudian duduk, dan Aleta menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Mas, mau masakan tadi sore atau Aleta masakin lagi. Kalau menu sore, tadi kita makan sama capcay sama ayam goreng mentega. Mas mau makan apa?"
"Menu yang sama saja. Tapi, siapa yang masak? Bibi atau kamu?"
"Jangan khawatir mas, Aleta sendiri yang masak. Tadi Bibi hanya membantu menyiapkan bumbunya saja."
Aleta mengambil piring dan menuangkan nasi ke piring suaminya. Kemudian menyiapkan lauk, dan memindahkan toples kerupuk ke depan suaminya.
"Mau dibuatkan teh panas atau cukup air putih saja mas?"
"Air putih dingin saja. tadi sebelum pulang kantor. tadi sudah minum teh panas karena ada tamu datang."
Aleta mengambilkan air putih di gelas dan meletakkan di sisi kanan piring suaminya. Kemudian dia juga menuangkan untuk dirinya sendiri.
"Rolland itu sudah mau 26 tahun, harusnya dia itu sudah bisa berpikir sendiri. Mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk dirinya."
"Mas Devan tidak boleh begitu. Rolland masih mengajak kita untuk membicarakan hal penting bagi hidupnya ke depan, berarti dia masih menganggap kalau kita ini ada mas, Kita ini penting bagi Rolland. Tidak seperti kita dulu ya mas, kita berdua harus disatukan oleh kakek Cokro."
__ADS_1
Aleta geli mengingat masa lalunya, bahkan saaat itu, sedikitpun dia tidak memiliki keberanian untuk menolak perintah kakek Cokro dan Bu Rosna. Tiba-tiba Aleta memerah pipinya, dia malu mengingat kegilaannya dengan Ferdinand waktu itu.
"Lho, ini yang mau nikah Rolland sama Jenny, kenapa yang pipinya memerah malah istriku?" ternyata meskipun makan, Devan mengamati raut wajah istrinya.
"he..he..he.., geli mas ingat jaman dulu. Bagaimana perasaan Aleta saat itu, waktu diminta kakek Cokro untuk menikah dengan mas Devan. Orangnya tidak punya senyum, dan selalu tegang terus, ngeri pokoknya."
"Bukannya selalu tegangnya juga berlaku sampai sekarang kan sayang?" Devan menggoda Aleta.
"Ah mas Devan pikirannya mesum."
"Lho kan yang duluan bilang selalu tegang kan istri mas Devan yang cantik ini. Kok jadi malah menyalahkan mas sih."
"Iya, iya..., Aleta keliru bicara. Tapi memang betul-betul lucu ya mas, pertemuan kita. Pacaran kita lakukan setelah kita menikah."
Devan meminum air putih sampai habis dari gelasnya. Aleta membereskan perlengkapan makan dan menaruhnya di tempat cuci piring.
"Kita langsung ke kamar saja yok."
"Sudahlah ayo, kita ngobrolnya di kamar saja." Devan langsung menarik tangan istrinya dan mereka langsuh masuk ke dalam kamar.
****************************************************
Devan menghubungi Rolland, dan menanyakan tentang rencana yang akan dilakukan pada Jenny. Dia menyarankan, hal utama yang harus Rolland lakukan adalah, bersama Jenny harus menemui mama Rengganis, dan minta ijin padanya untuk menikah. Devan juga memberi tahu Rolland, jika saat ini mama Rengganis tinggal di Cileungsi rumah mereka dulu, dan sudah menikah lagi.
"Darimana kak Devan tahu tentang mama Rengganis, bukankah kakak ada di Sukoharjo?" Rolland bingung kenapa kakaknya tahu dimana mamanya, sedangkan dia yang putranya malah tidak tahu.
"Rolland..., bagaimanapun mama Rengganis adalah mama kita berdua. Dari kecil mama Rengganis yang merawat mas Devan, dia juga menyayangi kakak sama seperti menyayangimu Rolland. Kita itu sama, tidak ada yang beda."
__ADS_1
Rolland terdiam, hal yang dia khawatirkan saat kakaknya menemukan mama kandungnya adalah dia akan melupakan mamanya. Ternyata pikirannya sudah keliru saat itu, dan dia baru tahu jika tidak ada yang berubah dari kakaknya.
"Terima kasih ya kak Devan."
"Terima kasih untuk apa bocah, besok lagi jika ada apa-apa hubungi kakak terlebih dahulu, kakak iparmu saat ini sudah capai direpotkan oleh Arend dan Arick."
"Iya, iya kak. Rolland jadi pingin ke Sukoharjo, jadi kangen nih sama dua ponakan lucu. Arend dan Arick. Bagaimana kak keduanya sehat kan?"
"Sehat dong. Kan disini yang menemani dan merawat mereka kan banyak. Sudah kembali ke topik, kapan rencananya kamu akan melamar Jenny secara resmi?"
"Kapan ya kak, menurut kakak baiknya kapan ya kak?"
"Ini yang mau menikah itu siapa? Kamu atau kakak?"
"Lah, masak tanya seperti itu saja tidak boleh. Kalau Rolland sih, ingin segera saja, nanti Rolland mau bicara dulu sama papa dan kakek. Sepertinya minggu depan lebih bagus ya kak. Atau biar kita bisa kita kumpul bareng, apa Rolland mengadakan acaranya di rumah Sukoharjo saja ya. Biar ada kakak ipar juga."
"Hal itu kamu rembug sama Jenny ya, yang punya hajat itu pihak perempuan bukan pihak laki-laki. Yang utama sekarang, kamu bicara dulu sama papa dan kakek, Jika mereka sudah setuju, beritahu mama Rengganis. Baru kamu berembug sama Jenny."
"Iya, ini rumah sudah mulai sepi kak. Papa bulan madu terus sama mama Kinar. Kakek kalau sudah di rumah, langsung masuk dalam kamar. Masak Rolland mau bicara sama Bi Puji."
"Jangan ganggu papa, kamu harus maklum. Semoga mereka berdua sudah tidak bisa punya bayi lagi ya. Kalau mereka punya bayi lagi, kamu bayangin tidak, nanti kita akan manggil apa ke dia?"
'Ha..ha..ha.., sumpah kak Devan lucu deh. Memangnya masih bisa kak, mama Kinar dan papa punya momongan lagi. Terus nanti Arend dan Arick manggil dia Om. Ha..ha...ha..,"
"Sudah, sudah. Kita malah ngomongin orang tua. Dosa. Sudah besok pagi pas sarapan abreng, ajak bicara kakek dan papa." Devan langsung mengakhiri panggilan telponnya.
******************************************
__ADS_1