
Devan dengan penuh kekhawatiran langsung meminta kepolisian kabupaten Sukoharjo melakukan pengusutan tuntas kasus penculikan istrinya. Beberapa orang pengawal keluarga Cokro langsung dikirim dari Bandung untuk ikut menyelidiki permasalahan tersebut. Belum lagi kabar dari panti asuhan Rejeki yang memberikan informasi jika Bu Rosna juga ikut menghilang.
Berbekal nomor plat mobil Van, sangat mudah bagi pihak kepolisian untuk menyelidiki status kepemilikan. Dalam situasi seperti ini, Devan mendapatkan panggilan telepon dari Cokro.
"Devan...., sekarang kamu dimana," tanya Cokro yang mengkhawatirkan keadaan Devan.
"Di rumah kek, sambil menunggu koordinasi dengan pihak kepolisian." untungnya Devan dalam keadaan stabil menghadapi permasalahan penculikan ini.
"Sabarlah, beberapa orang-orang kakek dalam perjalanan menuju kesana. Jangan lakukan sesuatu yang dapat merugikan posisi kita."
"Kakek curiga kalau Aleta hanya pengalihan isu sementara. Target utamanya tetap aku. Kakek tidak bisa datang ke Sukoharjo dulu, masih ada yang perlu kakek bereskan disini." lanjut Cokro lagi.
"Iya kek, kakek tidak perlu mengkhawatirkan Devan. Kebetulan nomor plat mobil yang digunakan untuk menculik Aleta sudah ada di tangan kepolisian." sahut Devan.
"Malam ini Devan dan beberapa polisi dari Solo dan Klaten akan menyusuri hasil track record dari pantauan CCTV jalanan. Karena Aleta dan Bu Rosna tidak pernah melakukan kesalahan dengan pihak luar, jadi tidak mungkin penculikan terkait dengan lingkungan mereka sendiri." lanjutnya lagi.
"Baik, kita harus hati-hati dimanapun kita berada." sahut Cokro.
"Rolland juga baru disibukkan dengan pekerjaan perusahaan, jadi cukup kamu yang mengurus penculikan Aleta dan Bu Rosna disana. Kakek juga mengurusi bagian lain yang disini."
"Baik kek, panggilan telepon Devan akhiri dulu kek. Karena sepertinya ada tamu di luar rumah." Devan langsung mengakhiri panggilan telepon. Mendengar ada orang mengobrol di luar rumah, akhirnya Devan segera keluar rumah.
Dia melihat ada empat polisi sedang mengobrol di teras rumahnya, kemudian dia menghampirinya.
"Selamat malam pak Devan," sapa polisi.
"Ya, apakah ada perkembangan baru," tanya Devan to the point.
"Laporan terakhir, mobil Van tersebut saat ini ada di sekitar perbukitan Botak di daerah Klaten. Kita sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian kabupaten Klaten, mereka sangat terbuka untuk melakukan pengejaran dan penangkapan." salah satu polisi melaporkan hasil pelacakan hari ini.
"Kalau begitu ayo kita berangkat, harus menunggu apa lagi." sahut Devan tidak sabar.
"Baik, mari pak. Pak Devan bawa mobil sendiri atau bareng sama kita." tanya polisi.
__ADS_1
"Sendiri saja pak."
"Baiklah kalau begitu. Bapak ikuti kami di belakang saja. Dari pihak kepolisian Klaten menunggu di jalan, segera kami kirim kabar kesana."
Rombongan kepolisian dari Sukoharjo berempat berada dalam satu mobil, kemudian Devan dan Ijonk mengikuti di belakangnya.
*****************
Setelah tiga puluh menit perjalanan, di pertigaan dekat stasiun Klaten, satu buah mobil polisi sudah menunggu dan langsung bergabung dalam perjalanan menuju perbukitan Botak.
Satu polisi dari Sukoharjo bergabung dengan mobil polisi dari Klaten, untuk menyatukan arahan dan koordinasi penangkapan pelaku penculikan. Kemudian mereka masuk ke selatan, dan setelah memasuki area perbukitan Botak saatmereka berhenti untuk melakukan koordinasi lanjutan.
Dua mobil dibagi untuk memblokade dua arah ke timur dan ke barat, sedangkan satu mobil diarahkan langsung menuju lokasi gudang. Mobil yang dibawa Ijonk dikendarai oleh salah satu polisi berpakaian preman, dan Ijonk pindah di kursi belakang. Setelah sampai di gudang, mobil berhenti, dan terlihat gudang hanya dijaga oleh dua orang saja.
"Mau ketemu siapa," tanya salah satu penjaga gudang.
"Mau ketemu kalian. Berapa orang kalian disini," tanya polisi yang mulai turun dari dalam mobil.
"Aku tidak terima tamu. Ayo kalian segera pergi dari sini. Nanti jika teman-temanku tahu kalian kesini, kalian bisa tahu rasa." penjaga sudah mulai curiga dengan kedatangan mereka.
"Kerja dengan kalian. Memang kalian itu siapa. Ha...ha..ha..," sahut penjaga dengan tertawa.
"Iya ayo pergilah. Teman-temanku sedang menuju kesini. Kalian bisa celaka kalau teman-temanku sampai menemukan kalian." kata penjaga satunya.
"Aku mencari dua perempuan, siapa tahu kalian ada melihatnya." tanya polisi.
Kedua penjaga itu saling berpandangan, kemudian
"Tidak ada perempuan manapun disini. Hanya ada kami berdua di gudang ini, silakan kalian segera pergi dari sini." kata penjaga dengan suara tinggi.
Melihat polisi lama dalam menangani kedua penjaga, akhirnya semua orang yang berada di dalam mobil Devan segera keluar mobil. Mereka kemudian berjalan menghampiri kedua penjaga itu.
"Berapa kamu dibayar untuk menjaga gudang ini. Bekerjalah padaku, akan kulipatkan bayaranmu." tiba-tiba Devan sudah keluar dan bertanya pada kedua penjaga.
__ADS_1
Kedua penjaga itu menoleh ke arah Devan. Laki-laki itu tanpa senyum menatap pada mereka.
"Mau tidak kalian bekerja padaku. Kalau mau sekarang turuti perintahku. Buka pintu gudang itu." kata Devan sambil membuka dompetnya. Dia menarik semua uang kertas yang ada di dalam dompetnya.
"Kalau kalian mau, ini uang DP bayaran dari perintahku, setelah aku mendapatkan apa yang aku mau. Aku akan membayar kembali." lanjutnya lagi.
"Kalian kerja dalam satu bulan apa kalian mendapatkan uang sebanyak itu. Kalian menyekap perempuan baik-baik, apakah kalian tidak ingat pada ibu kalian." polisi ikut memprovokasi kedua penjaga itu.
"Tapi begitu aku melepaskan kedua perempuan itu, aku akan dihajar oleh Boss Poleng dan teman-teman kami juga." penjaga itu masih bertahan pada pendiriannya.
"Itu kami yang akan atur. Sekarang cepat buka pintu itu, nanti kalian berdua ikut dalam permainan kami." kata polisi itu.
Kedua laki-laki itu saling bertatapan, dan akhirnya mereka menganggukkan kepala. Kemudian mereka mengambil uang dari tangan Devan, kemudian berjalan menuju pintu masuk gudang. Salah satu penjaga membuka pintu gudang, kemudian Devan langsung berlari masuk ke dalam gudang yang hanya disinari oleh cahaya temaram.
"Aleta.., kamukah itu." kata Devan pada seorang yang menyandarkan kepalanya di atas meja.
Mendengar ada yang menyebut namanya, Aleta langsung menengok ke arah sumber suara.
"Mas Devan.., ini aku Aleta dan Ibu mas." kata Aleta dengan suara tinggi. Dia langsung berdiri dan memegangi Bu Rosna.
Devan langsung berlari ke arah mereka berdua, dan melihat Aleta di depannya dia langsung memeluknya erat.
"Aleta.., maafkan mas sayang. Mas Devan sangat telat datang kesini."
Melihat Devan yang hanya mempedulikannya tanpa melihat sekitar, Aleta menjadi tidak enak dengan Bu Rosna. Dia kemudian melepaskan pelukan Devan di tubuhnya.
"Mas Devan, ini ada ibu mas." kata Aleta mengingatkan Devan kembali.
"Ibu." kata Devan sambil menyalami dan mencium tangan Bu Rosna.
"Sudah ayo semua keluar dulu dari sini." seru polisi.
Mendengar seruan dari polisi, Devan baru teringat kembali posisi mereka. Akhirnya dia segera mengajak Aleta dan Bu Rosna keluar dari gudang.
__ADS_1
******************