
Satu persatu keluarga kakek Cokro sudah mulai berdatangan. Mereka jarang berkumpul satu dengan yang lain karena kesibukan masing-masing. Hanya dengan acara seperti ini, mereka baru bisa meluangkan waktu untuk bersilaturahmi.
" Atmaja..., dimana putramu Devan dan istrinya, dari tadi mereka belum kelihatan?" tanya Bambang kakak Rengganis atau pakdhenya Devan.
"Biasa pengantin baru mas, kayak kita tidak pernah muda saja. Mana mau baru nikah, langsung tinggal bersama. dengan keluarga besar. Baru seru-serunya kan." jawab Atmaja.
"Pa.., tidak perlu pura-pura dengan mas Bambang. Dia pakdhenya Devan, dia perlu tahu yang sebenarnya." sahut Rengganis ketus.
"Siapa yang pura-pura ma, papa bicara yang sebenarnya kan." Atmaja menyanggah perkataan istrinya.
"Ada apa ini yang sebenarnya, apa yang kalian tutupi." tanya Bambang curiga.
'Tidak ada apa-apa mas, sebentar lagi pasti mereka akan datang," Atmaja tetap menutupi pernikahan perjodohan putra pertamanya.
"Devan menikahi gadis kampung mas, yang tidak jelas asal-usulnya. Anis tidak tahu mas, punya masalah apa bapak denganku, sampai tega mengorbankan putraku menikahi gadis yatim piatu yang kita tidak tahu bibit, bobot dan bebetnya." akhirnya Rengganis membeberkan perjodohan Devan dan Aleta.
"Bicara apa kamu Anis, mereka adalah pasangan suami istri yang telah menikah. Tidak bisakah sedikit hatimu, kamu buka untuk menantumu." Atmaja mulai kehilangan kesabaran.
"Atmaja..., jangan berani kamu membentak adikku di depanku." ancam Bambang pada Atmaja.
Mereka akhirnya terdiam. Tiba-tiba ada mobil memasuki halaman dan berhenti untuk memarkirkan di samping mobil-mobil lainnya. Seorang gadis cantik dengan pakaian sedikit terbuka turun dari dalam mobil. Tidak sedikit tamu-tamu yang berdecak kagum akan penampilannya.
"Itukah istri Devan, amboy cantiknya." seru Aditya sepupu Devan dari Rengganis.
"Hush... tutup mulutmu. Kedengaran Devan bisa habis kamu dihajarnya." celetuk Tata sepupu Devan lainnya.
Keluarga yang hadir di tempat kakek Cokro berdecak kagum melihat kedatangan gadis cantik dengan pakaian sedikit terbuka. Dandanannya berkelas dengan outfit bernilai milyaran rupiah.
"Maurin..., untuk apa kamu kesini, ini bukan acara untuk umum. Tapi ini acara keluarga kami."tegur Rolland sinis tiba-tiba kepada gadis yang baru datang, yang ternyata bernama Maurin.
"Aku tidak akan datang kesini kalau Tante Rengganis tidak memintaku untuk datang."
__ADS_1
"Lagian tidak perlu bersikap sinis padaku Rolland, tinggal menunggu waktu , aku akan menyingkirkan gadis kampung itu dari sisi Devan.". jawab Maurin yang langsung meninggalkan Rolland dan masuk ke dalam untuk mencari Rengganis.
"Wauww...yang Tante tunggu dari tadi akhirnya datang. Maurin..., tambah cantik saja kamu nak." seru Rengganis menyambut kedatangan Maurin sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan.
"Iya Tante..., tadi Maurin harus antar mama ke bandara dulu. Mendadak mama harus pergi ke Singapura, jadi Maurin sendirian kesini." kata Maurin manja.
"Devannya mana Tante, Maurin sudah lama tidak ketemu." tanya Maurin sambil celingak-celinguk mencari Devan.
"Devan tidur di apartemen sayang, tunggulah sebentar lagi paling dia datang. Tahu sendiri kan, jalan Bandung ke Lembang itu kalau hari libur macetnya minta ampun." jawab Rengganis dengan ramahnya.
Atmaja papa Devan hanya melihat dengan kesal melihat taktik licik Rengganis dan Maurin. Kakek Cokro yang melihat mereka dari ruang keluarga, kemudian berjalan mendekati putranya.
"Atma.., kendalikan istrimu atau aku akan mengusir sundal itu dari rumah ini." Kakek Cokro dengan tegas memberi peringatan pada putranya.
"Iya pa, Atma akan mengawasinya."
*****
Sebuah mobil Rolls Royce Wraith tampak memasuki halaman.
"Paling kakek mengundang keluarga untuk memperkenalkan kamu." jawab Devan pelan.
"Aleta takut mas, keluarga mas Devan tidak mau menerimaku. Aleta kan gadis kampung yang tidak memiliki apa-apa." kata Aleta penuh kekhawatiran.
"Tenanglah Aleta, kamu adalah istriku yang sudah sah kunikahi. Kalau kamu takut, kamu bisa terus berada di sekitarku. Jangan jauh-jauh dariku."
Aleta menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Aleta..., aku harap hari ini tingkatkan rasa kepercayaan dirimu. Jangan terus terkungkung dalam pikiran karena kamu tidak memiliki apa-apa, kamu membiarkan orang lain bisa menindasmu seenaknya. Tunjukkan bahwa kamu adalah istri Devan Atmaja Baskara." kata Devan berusaha membangkitkan rasa percaya diri istrinya.
Devan juga merasa tidak mengenal dirinya lagi. Meskipun pada awal perjodohan dia berusaha menghindar dan menolaknya, tapi sejak tadi malam Devan sudah memutuskan untuk mempertahankan istrinya dalam keadaan apapun.
__ADS_1
Devan membuka pintu mobil untuk Aleta, kemudian memegang tangannya dan kembali menutup pintu mobil. Dengan penuh perlindungan, Devan menggandeng tangan Aleta dan membawakan memasuki rumah keluarga.
Tamu-tamu keluarga di rumah kakek Cokro, tidak mempercayai penglihatan mereka. Devan yang terkenal angkuh dan kasar, hari ini bisa bersikap manis dengan seorang gadis kecil. Seorang gadis kecil seperti anak SMA dengan penampilan imut dan segar, kontras dengan Devan seorang laki-laki dewasa' dengan wajah dan penampilan yang matang. Tetapi mereka berdua terlihat sangat serasi.
"Siapa gadis kecil itu,"
"Ehm...ehmm... kenapa tidak cerita ya kalau Devan dan Rolland punya saudara imut begitu." seru Aditya.
Para tamu terpana melihat penampilan Aleta sesuai usianya. Penampilannya segar, dan tidak membuat orang bosan untuk memperhatikannya terus. Kekaguman mereka akan kecantikan Maurin seketika hilang dari pikiran mereka.
"Kakak ipar..., wow... jantungku luka berdarah-darah pagi ini melihat Beauty and the beast." sambut Rolland melihat kedatangan Aleta dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Aleta.
Tiba-tiba lengan itu dipukul Devan dengan keras.
"Aduh sakit kak Devan, kenapa kakak memukulku." gerutu Rolland.
"Jangan berani-berani pegang istri orang sembarangan," ancam Devan sambil merengkuh bahu Aleta dengan protektif melindunginya.
Atmaja dan kakek Cokro tersentuh melihat besarnya perhatian Devan pada istrinya. Meskipun pernikahan ini karena perjodohan kakek Cokro, tetapi pemandangan pagi ini menepis asumsi jika pernikahan ini karena suatu keterpaksaan. Terlebih kakek Cokro yang tampak terkesima dengan penampilan baru cucu menantunya. Aleta yang terbiasa berpenampilan lugu, tanpa polesan apapun, dengan pakaian seadanya, hari ini tampak jauh berkilau dan bersinar. Image gadis yatim piatu dengan segala keterbatasan, hilang seketika dari ingatannya.
Aleta dengan senyum cerianya dengan ramah menyapa tamu-tamu keluarga dengan menangkupkan tangannya di depan dada. Kemudian Aleta mendatangi kakek Cokro dan Atmaja.
"Assalamualaikum kakek, maaf Aleta terlambat." sapa Aleta sambil mencium kedua tangan kakek Cokro.
"Tidak ada kata terlambat, bagaimana istirahatmu di apartemen Devan. Bedebah ini tidak menindasmu kan," tanya kakek Cokro penuh selidik sambil mengelus kepala Aleta.
"Kek, Devan yang cucu kakek. Masak cucu sendiri tidak disambut malah dikatain bedebah," protes Devan pada kakek Cokro.
"Ha ..ha .ha..., baru kali ini seorang Devan bisa merajuk." Kakek Cokro tertawa sambil memeluk keduanya.
Semua orang kaget melihat kakek Cokro pagi ini. Laki-laki tua yang setiap hari terlihat garang, pagi ini bisa tertawa lepas di depan para tamu keluarga. Atmaja ikut tertawa bahagia, ternyata menantu pilihan bapaknya tidak seperti yang dipikirkan Rengganis istrinya. Tapi di sudut ruangan keluarga, tampak tatapan sengit dan marah melihat interaksi di depannya.
__ADS_1
"Batu hitam tetaplah batu, mau digosok dengan sekuat tenaga tidak akan bisa berubah menjadi berlian."
******