
Brandon dan Stella berada di kota Bandung selama satu minggu, dan setelah melakukan diskusi dengan keluarga Devan akhirnya Brandon menyetujui rencana Axel untuk melanjutkan studi di USA. Bahkan untuk living cost selama Axel kuliah, Brandon bersedia untuk menanggungnya.
"Terimakasih Devan .., Aleta... atas hospitality yang kalian berdua berikan pada kami selama berada di kota ini. Juga tidak akan pernah saya lupakan, jasa baik sudah merawat dan membesarkan Axel sampai sejauh ini. Aku tidak akan melupakan hal ini sampai kapanpun." sesaat sebelum berpamitan untuk kembali ke Jerman, Brandon mengucapkan terima kasih pada Devan dan Aleta.
"You're welcome.., Brandon.., Stella. Careful, don't forget us!" Aleta menjawab perkataan Brandon.
"Kita saudara Brandon..., aku tidak akan melarang Axel. Kapanpun dia mau, dia bisa mengunjungi kamu kembali di Jerman. Begitu juga denganmu.., kamu bebas untuk menemui Axel." ucap Devan memperkuat pernyataan istrinya.
Brandon langsung menghampiri Devan, kemudian menjabat tangannya dan berpelukan serta menempelkan pipinya ke kanan dan kiri. Setelah itu, menjabat tangan Aleta.
"Okay..., ayo Axel. Let.s go!" tanpa basa-basi Brandon langsung mengajak Axel untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Momm.., Dadd... Axel berangkat ke Bandara Soekarno Hatta ya. Seperti biasa, Arend dan Arick menemani." Axel juga berpamitan, diikuti Arend dan Arick di belakangnya.
"Bye Momm..., Dadd." ucap Arend dan Arick.
Aleta dan Devan ikut mengantarkan keberangkatan mereka sampai di pintu mobil, mereka melambaikan tangan dan melihat mobil sampai keluar dari halaman rumah.
"Daddy langsung berangkat ke perusahaan atau ada rencana lain?" tanya Aleta pada suaminya.
Devan merangkul istrinya, dan dengan senyum Smirk..
"Daddy akan memintamu untuk membayar ganti rugi." bisik Devan di telinga Aleta.
"Ganti rugi apaan?" dengan muka polos, Aleta bertanya pada suaminya.
"Ganti rugi, karena sudah satu Minggu kamu memberikan perhatian pada papanya Axel. Sudah menyiapkan makan, mengajaknya ngobrol, memberikan nasehat.. dan semuanya." dengan enteng Devan mengatakan keriugian yang dia rasakan.
__ADS_1
"Daddy ga salah bicara?? Ya sudah kewajiban kitalah, kita ini harus menerima tamu dengan baik. Juga harus memuliakannya, dan ide yang muncul pertama kali untuk meminta Brandon dan Stella menginap di rumah ini siapa? Daddy kan yang menyampaikan." Aleta memprotes perkataan suaminya.
"Aku tidak mau tahu sayang. Sekarang kamu harus memberi ganti rugi pada suamimu ini." Devan tidak mau kalah. Semakin erat Devan merengkuh istrinya, dan segera membawanya masuk ke dalam kamar.
"Daddy ga berangkat ke perusahaan memangnya?" tanya Aleta, karena mendapat serangan ekstrim dari Devan sesampainya di dalam kamar.
Devan tidak menjawab, malah langsung menutup mulut istrinya dengan menempelkan bibirnya ke atas bibir Aleta. Dengan bernafsu seperti ada tegangan tinggi, tanpa menghiraukan protes istrinya, Devan langsung mengekplorasi ke dalam.
"Hmmpfft.." karena kehabisan nafas, Aleta mendorong pelan dada Devan
"Kenapa.., sudah tidak tahan kah?" bisik Devan menggoda Aleta, setelah melepaskan pagutan di bibir istrinya.
Merasa malu, Aleta memukul lembut pundak suaminya, dan tanpa meminta persetujuan Aleta, laki-laki itu langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang.
"Srett.. krekk." dengan tidak sabar, Devan menarik atasan yang dikenakan istrinya sampai sobek. Dia terlalu malas untuk pelan-pelan melepaskan kancing baju yang dikenakan Aleta.
Akhirnya pagi itu, setelah semua penghuni rumah meninggalkan rumah, di kamar dua manusia menghabiskan pagi sampai siang saling menghirup dan menikmati aroma yang ada
Beberapa Minggu kemudian, ketiga putra Devan dan Aleta sudah menyelesaikan urusan sekolah. Semua bukti tanda kelulusan sudah mereka peroleh. Mereka jadi untuk melanjutkan studi di Harvard College, dan hari ini mereka sudah mendapatkan jadwal penerbangan ke USA pada pukul 13.00 siang. Setelah beberapa kali diskusi, akhirnya Aleta memutuskan untuk mendampingi ketiga putranya di USA, dan ijin bisa tinggal sudah mereka peroleh. Dengan berat hati, Devan memberinya ijin, dan akan menjalin kerjasama dengan beberapa pengusaha di negara tersebut agar bisa membuka cabang di sana.
Pagi ini mereka bersiap untuk segera berangkat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta dengan menggunakan pesawat Cathay Pasific. Dari Jakarta, akan mengalami transit di Dubai, dan langsung menuju ke New York.
"Arend..., Arick.., Axel sudah dipersiapkan semuanya nak?" dengan teliti Aleta menanyakan perlengkapan pada ketiga putranya.
"Sudah Momm..., beberapa hard file legalisir juga sudah kami bawa. Soft file selain kita simpan di flashdisk, kita juga sudah menyimpannya di Google Drive. Jadi jika sewaktu-waktu kita membutuhkannya, kita tinggal download saja." Arend menjawab pertanyaan Mommy nya.
"Untuk perlengkapan perjalanan, passport dan visa masing-masing ya yang pegang. Karena seperti biasanya, kalau kita sudah sampai di Bandara tujuan, petugas imigrasi akan melakukan pengecekan." kembali Aleta mengingatkan.
__ADS_1
"Siap Momm..., dari kemarin kita sudah menyiapkannya." sahut Axel.
"Pakaian bawa secukupnya saja. Berat bawaan bagasinya, cukup untuk ganti tiga hari pertama saja. Setelah kita mukim disana selama tiga hari, baru nanti kita akan membelinya disana."
Setelah melakukan pengecekan perlengkapan yang harus dibawa pada ketiga putranya, Aleta masuk ke kamar. Dia melihat suaminya yang sudah selesai berkata.
"Sudah siap Dadd.., jangan lupa Coat panjang. Mengingat perjalanan kita lebih dari satu hari satu malam, kita baru akan sampai di New York. Jadi jangan lupa baju hangatnya." Aleta mengingatkan suaminya untuk mengenakan Coat panjang.
"Mommy santai saja..., kan kita pergi berdua. Lagian Daddy sudah mengambil kelas Eksekutif, jadi tidak akan ada yang mengganggu kita di perjalanan nanti. Kalau Daddy kedinginan, kan ada Mommy yang akan memberi kehangatan pada Daddy." sahut Devan sambil melirik istrinya dengan tatapan menggoda.
"Ah gombal. Daddy mah sukanya begitu.Ini Mommy serius Dadd, jangan bercanda ah." ucap Aleta agak jengkel dengan respon suaminya.
"Swear Mommy cantik, yang kalau ngambek cantiknya juga tambah 180 derajat. Daddy sudah memasukkan pada tas kabin, jadi kalau kedinginan selain peluk Mommy, kita tinggal mengeluarkannya." kata Evan sambil mencuri ciuman di pipi istrinya.
Dengan muka memerah, Aleta memukul pelan suaminya. Kemudian dia segera mengambil tas tangan dan juga tas kabin dan menariknya keluar dari kamar. Devan dengan senang mengikuti istrinya dari belakang.
"Semuanya sudah siap, ayo cek sekali lagi siapa tahu ada yang masih tertinggal." Devan langsung mengingatkan ketiga putranya yang sudah bersiap untuk berangkat menuju ke Bandara.
"Inshaa Allah sudah semua Dadd. Kita juga sudah siap. Semua bagasi juga sudah dimasukkan pak Asep ke mobil. Kita tinggal berangkat." sahut Arend
Axel segera mengambil tas kabin yang dibawa Aleta, kemudian mereka berlima segera keluar dari pintu rumah dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Langsung Bandara ya pak Asep!" ucap Devan pada pak Asep.
"Siap Tuan."
Akhirnya keluarga Devan, sudah memantau hati sementara akan berhijrah ke USA, sembari menunggu putra-putranya studi disana. Dengan tatapan berlinang, Aleta melihat rumah keluarga Cokrodirjan yang semakin tidak kelihatan, karena mobil sudah jauh berjalan.
__ADS_1
*********
TAMAT