
Setelah mengatur pernafasan dan merapikan pakaiannya, perlahan Aleta mengetuk pintu yang tertempel name tag Raditya.
"Masuk," terdengar jawaban singkat dengan suara berat dari dalam ruangan.
Aleta mendorong pintu, dan dia melihat seorang laki-laki muda berpenampilan bersih duduk di belakang meja kerja setengah biro.
"Selamat pagi, saya Aleta ijin menghadap." Aleta mengucapkan salam.
"Pagi, duduklah dulu disini. Saya akan menyelesaikan bacaan saya dulu." kata Raditya tanpa menengok Aleta.
Aleta duduk di kursi depan Raditya. Dia menundukkan pandangannya sambil menunggu Raditya selesai dengan aktivitasnya. Akhirnya setelah 10 menitan, Raditya baru mengangkat kepala dan melihat gadis yang duduk di depannya.
"Busyet...., cantik nian." tanpa sadar Raditya berpikir sendiri tentang gadis yang saat ini sedang duduk di hadapannya.
Jiwa petualang laki-laki mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Raditya berusaha menguasai dirinya, dan dengan tersenyum kecut dia kembali bersikap profesional.
"Dengan siapa tadi, mbak Aleta ya." tanya Raditya pura-pura berpikir mengingat nama gadis di depannya.
"Iya Bapak, saya Aleta. Kemarin saya sudah mengatur janji untuk menjumpai Bapak hari ini." Aleta menjawab pertanyaan Raditya sambil mengangkat wajahnya. Kedua mata akhirnya bertemu.
"Sialan..., matanya bening banget. Kenapa malah aku yang jadi grogi menghadapinya." batin Raditya.
"Iya, tadi bagian Humas juga sudah mengingatkan aku. Untuk panggilan jangan panggil Bapak, karena saya memperlakukan semua karyawan saya sebagai mitra kerja. Apalagi anda disini sebagai karyawan magang. Cukup sebut saya Radit." kata Yudha pada Dev yang menolak dipanggil Bapak.
"Tapi mohon maaf Bapak, saya tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua dengan namanya langsung. Mohon dimaafkan saya tidak bisa Bapak." Dev juga menolak untuk memanggil langsung ke namanya.
"Yah terserah kamu, yang penting jangan Bapak. Mau Mister boleh, atau mas juga boleh." sahut Raditya.
"Baiklah, bagaimana kalau saya memanggil bapak dengan sebutan Kakak saja. Kak Radit lebih terdengar akrab dan ada hormat disitu." kata Aleta.
"Yap, that.s right. Okay kita langsung saja ya. Aku sudah pelajari CV yang kamu kirimkan, dan dosen pembimbingmu juga banyak memberikan masukan tentangmu." Radit memulai perbincangan tentang magang.
"Berarti artinya saya diterima kan kak untuk belajar disini." sahut Aleta.
__ADS_1
"Kalau aku tidak menerimamu, apa pagi ini kamu bisa duduk di ruangan ini," Radit tersenyum sambil memandang Aleta.
"Terima kasih kak,"
"Tidak usah terlalu formal, terus kapan kamu akan mulai joint sama tim disini. Sekarang." tanya Radit .
"Mulai hari Senin ya kak, karena saya belum siap-siap dan memberi tahu keluaga dulu," Aleta minta waktu magang diundur.
"Baiklah, senyamannya kamu saja. Ini, kalau ada kesulitan kamu bisa WhatsApp atau telpon aku langsung. Tidak perlu sungkan." Radit menyerahkan card name pada Aleta.
Aleta menerimanya dan memasukkan ke dalam dompetnya. Semua yang dilakukan Aleta diamati Radit sambil senyum-senyum.
"Kata dosennya dia yatim piatu, tapi apa yang dia pakai hari ini semuanya barang branded. Gayanya, senyum, keceriaannya sama sekali tidak mencerminkan kalau dia orang susah." Raditya bermain dengan pikirannya sendiri.
"Kak, sepertinya sudah cukup. Aleta ijin pamit dulu ya. Senin jam 07.30, saya pastikan sudah berada di kantor ini." kata Aleta pamit.
"Okay, hati-hati dan selamat bergabung sebagai partner kerja tim kita Aleta." sahut Raditya ramah dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Aleta.
*******
Setelah menyelesaikan semua urusan studi Aleta, Devan langsung meminta Ijonk membawa mereka pulang ke rumah. Melihat mood Aleta pagi ini yang sepertinya cerah, menjadi booster bagi Devan ikut merasakan kebahagiaan.
Saat mobil memasuki halaman rumah di perbatasan kabupaten Klaten dan Sukoharjo, senyum Aleta kembali merekah. Terlihat kakek Cokro yang sedang berada di taman depan, membantu pak Karyo membersihkan rumput dan tanaman liar lainnya.
"Kakek..," teriak Aleta memanggil Cokro sambil berjalan menghampirinya. Seperti biasanya, Aleta berusaha mencium tangan Cokro. Tapi Cokro menarik tangannya.
"Bagaimana kabarmu nak, tangan kakek kotor tadi bersihin rumput. Ayo kita masuk ke dalam saja." kata Cokro yang bahagia bisa melihat Aleta kembali ke rumah.
Setelah mencuci tangan dan kaki di kran yang ada di taman, Cokro merangkul Aleta dan membawanya ke dalam. Mereka kemudian berhenti di ruang keluarga, dan duduk di sofa depan televisi.
Mendengar kegaduhan, Rolland yang sedang berkoordinasi dengan pegawai secara online menghentikan aktivitasnya sejenak. Setelah tahu bahwa kakak iparnya sudah kembali, Rolland ijin untuk leave dari meeting, dan bergabung dengan keluarganya di ruang keluarga.
"Kakak ipar...., kakak sudah pulang" seru Rolland memanggil Aleta, kemudian ikut duduk di sofa di samping Cokro.
__ADS_1
Cokro tersenyum hangat menyadari bagaimana Aleta sudah menyatu dengan keluarganya, dan dia bertekad ingin menyelidiki apa yang disembunyikan Rengganis di belakangnya. Tanpa alasan jelas, Rengganis selalu menolak kehadiran Aleta dalam hidup Devan. Padahal Rengganis tahu sendiri trauma psikologis yang pernah diidap Devan, karena dua kali ditinggalkan oleh dua wanita yang sangat berarti bagi Devan.
"Kemana saja kak, besok lagi kalau kesini ajak Rolland dong. Disini tuch rasanya adem, tenang jauh dari hiruk pikuk kesibukan." kata Rolland yang tidak berhenti bicara dari tadi begitu ketemu kakak iparnya.
"Biasa Rolland, baru ngurus kuliah magang. Kan semester ini Aleta harus magang, dan nyelesaikan Tugas Akhir. Doakan Aleta lancar studinya ya Kakek, Rolland."
"Kok tidak minta doa sama mas," kata Devan.
"Aleta yakin, tanpa diminta pun, mas Devan pasti sudah mendoakan Aleta kan." ucap Aleta sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Devan. Devan mengusap kening istrinya dan mempermainkan anak rambutnya.
Suasana tiba-tiba terdiam. Cokro terlihat penuh haru melihat bagaimana Devan sangat membutuhkan keberadaan Aleta.
"Aleta..., Devan... ada yang mau kakek sampaikan pada kalian." kata Cokro tiba-tiba.
Aleta, Devan dan Rolland memandang kakek Cokro.
"Sebenarnya kakek tahu kebohongan yang dilakukan Maurin pada Devan. Dan itu semua karena keterlibatan mama Devan yaitu Rengganis menantuku."
Cokro kemudian menceritakan kejadian pada malam family gathering waktu di Bali. Bagaimana Cokro dan Bibi Puji berusaha untuk menggagalkan niat licik Rengganis dan Maurin. Tangan Devan tampak mengepal erat menunjukkan urat-urat biru di lengannya. Menyadari emosi suaminya, Aleta memegang tangan Devan kemudian memberikan kecupan pada kepalan tangan itu.
"Tapi, kalau bukti yang kakek punya dibuka saat ini. Aku yakin Maurin dan Rengganis akan menyusun rencana lain." kata Cokro mengakhiri ceritanya.
"Tujuan mama itu sebenarnya apa sih." kata Rolland sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia sebagai anaknya, bahkan tidak percaya ada seorang ibu yang demikian kejam berusaha menjerumuskan putranya sendiri.
"Itulah yang pelan-pelan harus kita selidiki. Kita tunggu Maurin melahirkan, kemudian kita kerjasama dengan pihak rumah sakit dimana Maurin melahirkan untuk melakukan test DNA. Nanti kita buka rekaman video malam kejadian Maurin tidur sama bule gembel dengan hasil DNA."
Cokro menyampaikan strateginya untuk mengakhiri kelicikan Maurin dan Rengganis.
"Sekarang ajak Aleta istirahat dulu Van, kakek lega sudah menceritakan pada kalian."
Setelah mengetahui duduk permasalahan sebenarnya, Aleta tertunduk malu. Memahami apa yang dirasakan istrinya, Devan langsung mengajak Aleta untuk istirahat di dalam kamar.
********
__ADS_1