Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Datangnya


__ADS_3

Sudah satu minggu Aleta tinggal terpisah dengan suaminya. Kedatangan teman-temannya setiap selesai kuliah untuk membantu pendampingan belajar adik-adik panti, betul-betul sangat membantunya untuk mengisi kesibukan dan rasa kesepian tinggal sendiri. Setiap selesai sekolah, adik-adik panti akan dijemput oleh Ijonk. dan sesudah Ashar, mereka akan dipulangkan kembali.


Hari ini Jum,at sore, Aleta sudah berada di bandara Adisutjipto Yogyakarta karena menunggu boarding pesawat ATR yang akan membawanya pulang ke Bandung. Dia sengaja ingin memberikan kejutan pada suaminya, sehingga dia tidak memberi tahu tentang kepulangan ke Bandung.


Setelah menempuh 45 menit perjalanan, Aleta mendarat di bandara Hussein Sastranegara pada pukul 16.00. Dengan menggunakan taksi, Aleta langsung pulang menuju apartemen.


"Turun lobby atau dimana non." tanya pengemudi taksi.


"Depan Circle * saja pak." jawab Aleta. Dia bermaksud mencari camilan untuk teman nonton televisi sambil menunggu Devan pulang.


"Baik non, sebentar lagi sampai." kata pengemudi, dan tidak sampai lima menit taksi sudah berhenti di minimarket yang memiliki jam buka selama 24 jam.


"Terima kasih pak." kata Aleta sambil membuka pintu taksi.


Begitu turun dari taksi, Aleta segera bergegas masuk ke minimarket untuk mencari barang-barang yang diinginkannya.


*tela, **tato, **ppytos dan makanan ringan sejenis mendominasi keranjang belanja nya sampai penuh. Kemudian Aleta meletakkan keranjang belanjanya di meja cashier.


"Total semuanya ada Rp. 327 ribu kak," kata cashier setelah selesai melakukan penghitungan daftar belanjaan.


"Sebentar mbak," jawab Aleta kemudian mengambil dompet dari tas Selempang yang dia kenakan.


Tapi tiba-tiba


"Pakai ini saja mbak, kasihan di belakang banyak yang antri," terdengar suara laki-laki yang mirip suara Irvan sedang menyodorkan kartu berlogo Visa.


Aleta kemudian melongok ke arah sumber suara, dan di belakangnya sudah berdiri Irvan dengan senyum manisnya.


"Hai Irvan..., kok bisa sampai sini." seru Aleta.


"Iya nih, nungguin kamu." kata Irvan menggoda Aleta, kemudian menekan PIN di mesin EDC.


"Duduk di situ dulu yuk, lama kita ga ngobrol." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Aleta kemudian duduk di depan minimarket yang dilengkapi dengan tempat untuk kongkow-kongkow.


"Darimana Van kok nyasar sampai sini." kata Aleta dengan ceria. Hampir satu bulan Aleta belum pernah bertemu dengan Irvan lagi, sejak mereka pergi ke sebuah kafe di kawasan Dago.


"Biasa keliling-keliling cari ide dan objek. Siapa tahu nemu uang di jalan, dan ternyata bukan uang yang kutemukan tapi malah ketemu berlian." kata Irvan bermaksud menggoda Aleta.


"Trus gimana ini aku bayarnya. Aku transfer ya, minta nomor rekeningnya donk." kata Aleta sambil menunjuk barang belanjaannya.


"Halah.., kayak barang senilai sepuluh juta saja. Sudah dibawa saja, atau aku akan marah." sahut Irvan.


"Ok deh terima kasih entrepreneur muda." kata Aleta menggoda balik Irvan.


Akhirnya Aleta dan Irvan ngobrol di depan minimarket hampir dua jam, dan hari sudah menjelang petang.


"Udah hampir malam nih Van, aku pulang dulu ya. Tidak baik Maghrib kita masih ada di luar rumah." kata Aleta bermaksud untuk balik ke rumah.


"Oke, tapi tinggalmu di apartemen itu kan. Aku antar ya, tidak baik hampir Maghrib cewek jalan sendirian." ucap Irvan membalikkan perkataan Aleta.


"Boleh, tapi sampai lobby saja ya. Tidak enak perempuan sama laki-laki bukan muhrim keluar Maghrib-maghrib." sahut Aleta sambil tertawa dan diikuti tertawanya Irvan.


Akhirnya Aleta dan Irvan berjalan berdua menyeberang jalan menuju apartemen. Irvan membawakan dua kantong belanjaan Aleta. Setelah sampai lobby, Aleta menghentikan langkah Irvan.


"Stop.., cukup sampai disini saja antarnya Irvan." kata Aleta menyetop Irvan.


"Baiklah tuan putri, pangeran hanya bisa mengantar tuan putri sampai disini saja." kata Irvan bercanda, sambil menyerahkan belanjaan Aleta.


"Terima kasih Irvan.., bye.."


"You are welcome." jawab Irvan sambil melangkah keluar apartemen. Setelah melihat Irvan keluar dari lobby, Aleta menuju pintu lift untuk menuju kamarnya.


*******


"Helen..., pulanglah. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Hubungan kita sudah aku anggap berakhir, sejak kamu meninggalkan aku bertahun-tahun yang lalu." Devan berkata dengan tegas pada wanita yang dia panggil sebagai Helen.

__ADS_1


Helen adalah nama panggilan dari Helena, seorang wanita yang berasal dari masa lalu Devan. Kepergian Helena meninggalkannya untuk pergi ke luar negeri tanpa pamit, betul-betul memberikan pukulan telak bagi Devan.


"Aku tidak akan pergi Devan. Kita saling mencintai, kita saling membutuhkan, dan kita saling melengkapi satu sama lain." ucap Helena dengan penuh percaya diri.


Perlahan Helena beringsut ke arah tubuh Devan, kemudian tangannya membelai wajah Devan dengan jari- jari lentiknya. Tapi tiba-tiba Devan langsung menyentakkan tangannya, kemudian berdiri dan meninggalkannya.


"Jangan menyentuhku sembarangan Helen, saat ini aku adalah seorang pria yang sudah beristri." seru Devan dengan nada tinggi.


"Ayo Devan..., kita seperti dulu lagi. Kamu hanya marah sesaat saja, aku benar-benar rindu padamu." kata Helena dengan semakin merangsek ke tubuh Devan.


Dia ikut berdiri dan menempelkan tubuhnya di tubuh Devan. Perlahan Helena meraih telapak tangan Devan, kemudian bermaksud untuk diletakkan di dadanya. Helena betul-betul merindukan sentuhan dari laki-laki itu. Tetapi tiba-tiba sebuah tangan mungil menghempaskan tangan Helena. Dengan posesif, dia menarik tubuh Devan kemudian mendekapnya dengan erat.


Devan merasa terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari Aleta, tapi kemudian dia tersenyum bahagia.


"Siapa kamu, lancang sekali kamu berani menyentuh tanganku." teriak Helena dengan nada marah.


"Kamu tidak memiliki hak untuk menyentuh suamiku. Dia bukan muhrimmu."jawab Aleta dengan nada santai, padahal hatinya bicara lain yaitu ingin mengulek habis suaminya.


"Suami?? Lelucon apa lagi ini. Devan.. jelaskan padaku." lagi-lagi Helena bicara dengan nada tinggi.


Helena bergerak ke depan ingin mengambil lagi Devan. Tetapi tiba-tiba Aleta kembali memberikan satu kejutan bagi Helena dan juga Devan sendiri. Dengan sangat lembut dan manis, Aleta berjinjit, dan satu tangan meraih tengkuk Devan kemudian menurunkannya. Dan, tanpa butuh waktu bibir Aleta tiba-tiba langsung ******* bibir suaminya dengan sangat lembut.


Merasa mendapatkan angin segar, Devan membuka mulutnya sedikit, dan akhirnya ciuman panas dan lama hadir di depan wajah Helena. Ciuman yang pertama diinisiasi oleh Aleta, berbalik menjadi Devan yang mengeksplorasi mulut Aleta Setelah keduanya hampir kehabisan bernafas, baru Devan melepaskan.


"Dasar ***** kamu," teriak Helena kembali dan bermaksud untuk menjambak rambut Aleta.


"Berani kamu menyentuh sekuku jariku saja, kamu akan menyesal telah bertemu denganku." seru Devan protektif terhadap istrinya.


"Mas ..aku pacarmu mas" teriak Helena.


Mendengar perkataan Helena, Aleta menjadi lebih bernafsu untuk memukul balik wanita itu.Dia melakukannya dengan semakin mesra.


Helena menjadi merasa tercekik tenggorokannya, dan dengan ekspresi marah, Helena bergegas meninggalkan ruangan.

__ADS_1


*****


__ADS_2