
Dengan kesal Maurin menendang pintu sesampainya di rumah. Lastri yang tidak mengetahui apa-apa berjalan mendatangi Maurin, kemudian bertanya padanya.
"Kamu kenapa lagi Maurin? Apa janjimu kemarin pada mama, waktu ingin pulang ke kota ini? Kamu janji tidak akan membuat onar atau keributan, itu juga yang kamu pamitkan sama suamimu."
"Maurin jengkel ma, tadi habis ketemu dengan Axel di sekolahnya. Sudah banyak duit yang Maurin keluarkan untuk mendapatkan informasi keberadaan anak itu, tetapi menoleh pada Maurin saja tidak mau. Malah meninggalkan Mmaurin sendiri."
"Jadi kamu mendatangi Axel? Tidak memberi tahu atau mengajak mama, bisa-bisa anak itu sudah melupakan kita Maurin? Dimana dia sekarang, tadi mama mencari kabar ternyata papamu sudah lama meninggal, sejak Axel kita tinggalkan. Bagaimanapun kita harus ziarah ke makamnya nak, meskipun mama sudah bercerai dengan papamu, tetapi beliau adalah papamu dan pernah menjadi suami mama."
"Axel ternyata diasuh oleh Aleta dan Devan ma. Maurin juga tidak tahu, kenapa bisa mereka berdua yang mengasuh putra Maurin?"
"Kita harus bersabar dulu Maurin, jangan grusa-grusu! Langkah yang paling baik adalah besok siang kita datang ke perusahaan papamu, sebagai putri kandungnya, seharusnya perusahaan papamu itu jatuh ke tanganmu. Dengan adanya Axel di tangan Devan, apa mungkin jika perusahaan papa dikelola oleh keluarga Cokro."
Maurin diam, dia masih kesal dengan sikap Axel putranya tadi. Sama sekali anak itu tidak menghormatinya, bahkan tidap menganggapnya ada. Meskipun dia tidak pernah mengakui bahwa Axel adalah putranya, tetapi sebelumnya dia juga merasa telah memperlakukan Axel dengan baik. Gadis itu menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Apa kamu mau makan dulu, tadi mama sudah masak lauk kesukaanmu?"
"Nanti saja ma, Maurin belum lapar. Bagaimana ma, agar Axel jatuh ke tangan kita lagi? Maurin tidak rela jika anak itu berada di keluarga Devan, gara-gara laki-laki itu, Maurin harus kehilangan segalanya." gadis itu mulai terisak.
"Maurin..., usiamu sudah bertambah nak. Kamu juga sudah memiliki seorang suami yang selalu menyayangimu. Almarhum papamu benar, kita harus bisa melupakan itu semua. Jika kamu ingin mendapatkan Axel, untuk mengakui dan memperjelas semua, mama akan dukung kamu. Tapi jangan untuk balas dendam, mama sudah capai seperti seorang buronan yang berpindah kesana kemari."
"Terus apa yang mama maui? Mama sudah tidak mau mendukung Maurin, putri mama satu-satunya? Dan sekarang, Axel putra Maurin satu-satunya yang sudah Maurin lahirkan, malah menolakku."
Lastri mendekat ke putrinya dan memeluknya erat. Sebagai seorang ibu, dia merasa salah sudah mendidik putri satu-satunya. Keegoisan di masa lalu menjadikan dia dan suaminya harus berpisah, bahkan suaminya mengirim akta perceraian. Kesalahan terbesar adalah meninggalkan Axel cucu satu-satunya dengan mantan suaminya.
"Mama.., jangan tinggalkan Maurin ma! Temani Maurin sampai kapanpun!"
"Iya nak.., tenanglah dulu! Kamu harus istirahat, dan minum obat penenang yang diberikan dokter. Nanti akan kita pikirkan jalan terbaik, agar Axel bisa kembali kepada kita. Juga perusahaan papamu bisa menjadi milikmu semuanya."
*******************
__ADS_1
"Ada apa Rico, Ridwan? Tidak biasanya kalian berdua datang ke kantorku? Apa ada masalah dengan perusahaan?" Devan bertanya pada kedua putra angkat kakeknya Axel.Tanpa membuat janji terlebih dahulu, mereka berdua menemui Devan di perusahaannya.
"Sepertinya kami harus melaporkan pada pak Devan, kerena tidak mungkin kami mengabarkan via panggilan telpon." sahut Rico.
"Iya pak, tadi pagi tim security perusahaan bersitegang dengan 2 orang yang berusaha menyelidiki perusahaan. Kemudian mereka kami tengkap, dan setelah kita interogasi ternyata mereka orang-orang suruhan Bu Lastri dan Bu Maurin. Mantan istri dan putri almarhum."
Devan diam sejenak tampak berpikir, kemudian..
"Apa yang mereka maui? Apakah mereka mau meminta hak kepemilikan perusahaan itu?"
"Sepertinya iya pak, yang kami khawatirkan besok mereka pasti akan datang ke perusahaan. Apa yang harus kami lakukan pak?"
"Abaikan saja kedatangan mereka! Perusahaan itu haknya Axel, kalian tidak perlu takut. Hubungi lawyer yang kemarin mengurus pembagian warisan dari kakeknya Axel. Mereka juga tidak pernah mengakui Axel sebagai putra mereka, bahkan di akta kelahairan, Axel diakui sebagai putra dari neneknya. Berarti status Axel sekarang adalah putra laki-laki dari almarhum, dan memang haknya kan untuk mendapatkan warisan?'
"Ya, ada yang mau ditanyakan lagi? Dan ingat, semua keputusan yang kamu ambil terkait perusahaan, harus atas persetujuan dariku."
"Iya pak Devan, kami masih ingat akan hal tersebut. Karena sudah mendapatkan jalan, kamu berdua pamit dulu pak, segera kami langsung mampir ke kantor lawyer."
"Ya, hati-hati!"
Sepeninggal mereka berdua, Devan langsung menghubungi istrinya via panggilan telpon.
"Assalamu alaikum, iya Dadd?"
"Dimana anak-anak Momm?"
"Sedang mengerjakan homework. Tumben jam segini telpon, apa ada yang penting?"
"Ketatkan pengawasan Axel ma, atau coba anaknya diajak bicara! Ada laporan masuk ke Daddy, Maurin dan mamanya mengirimkan orang ke perusahaan kakeknya Axel. Karena Maurin putrinya, mumgkin dia akan mengambil alih perusahaan."
__ADS_1
"Iya Dadd, nanti coba Mommy ajak bicara Axel nya. Tadi Mommy agak curiga saja, karena sepulang sekolah, seperti ada sesuatu yang mengganggunya."
"Baik terima kasih, dan hari ini kemungkinan Daddy akan pulang malam. Karena akan bicara sama Rico dan Ridwan, juga lawyer."
"Ya, hati-hati Daddy!"
********************
Setelah selesai menerima panggilan telpon dari suaminya, Aleta masuk menengok ketiga putranya. Aleta tersenyum, ketiganya sedang sibuk di depan layar komputer masing-masing.
"Lagi pada ngapain ini?" tanya Aleta. Ketiga putranya menengok ke arah Mommynya, yang langsung duduk di belakang mereka.
"Buat program Momm, Arend lagi coding sepertinya." jawab Arick cepat.
"Axel.., bagaimana Education Game nya? Sudah selesai belum, jadi Mommy bukan yang pertama kali trial?"
"Masih finishing Momm, tapi sepertinya agak tertunda sedikit. Axel sedang tidak bisa konsentrasi." Axel menjawab sambil menundukkan wajahnya.
"Ada apa sayang, Axel punya masalah? Boleh Mommy tahu apa masalahnya, siapa tahu bisa membantu memberikan jalan keluar?" tanya Aleta lembut, sambil menghampiri Axel.
"Tapi Axel takut dan khawatir Momm.., nanti Mommy Aleta dan Daddy Devan akan meminta Axel keluar dari rumah ini. Axel tidak mau Momm, Axel mau tetap disini selamanya, hanya keluarga ini yang tulus memberi Axel kehangatan keluarga yang sebenarnya."
"Axel putra Mommy Aleta dan Daddy Devan juga sayang, kami semua menyayangi Axel. Tidak akan ada yang mengusir Axel dari rumah ini, nanti kita cari jalan keluarnya jika ada masalah. Ayo istirahat dulu, nanti jika sudah tenang, ceritakan semua pada Mommy!"
Aleta memeluk erat Axel di tubuhnya, tangannya dengan penuh kasih sayang mengelus punggung anak laki-laki itu. Arend dan Arick saling berpandangan, mereka menghentikan aktivitasnya di layar komputer.
*********************
__ADS_1