Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Chapter 153 Harvard


__ADS_3

Devan menghempaskan diri di sofa ruang tamu apartemen tempat mereka tinggal di USA. Selama tinggal di Amerika Serikat, mereka berhasil mendapatkan satu unit kamar dengan fasilitas tiga kamar tidur di John Harvard Apartments yang beralamat di 1 Langdon St, Cambridge, MA 02138, Amerika Serikat. Melihat suaminya tampak kecapaian, Aleta datang menghampiri sambil membawakan satu cangkir hot tea.


"Minumlah dulu Dadd...!" dengan suara pelan, Aleta memberikan cangkir beserta cawan pada suaminya. Dengan penuh kasih Devan menatap mata istrinya.


"Terima kasih Momm.., agak penat hari ini. Ada empat perusahaan yang berhasil Daddy temui, dan hanya dua yang mau kita ajak kerjasama untuk mengembangkan usaha kita disini. Kendala yang mereka sampaikan biasanya ada kemalasan untuk pengurusan UU perdagangan dan urusan pajak. Karena negara kita masih masuk kategori negara berkembang, sedangkan negara ini termasuk negara maju." Devan meraih tangan Aleta, kemudian memberinya ciuman singkat. Aleta tersenyum, perlahan perempuan muda itu menggeser tempat duduknya, kemudian memberi pijatan di kepala suaminya.


"Memang kita masih harus bersabar Daddy.. Sudah luar biasa lho.., baru beberapa hari kita disini, tapi sudah ada lima perusahaan yang akan merintis usaha dengan perusahaan kita di Bandung. Apalagi perusahaan kita di Indonesia juga masih selalu mengalami surplus, bahkan laporan terakhir yang dikirimkan Rolland terdapat peningkatan dari capaian surplus pada tahun ini." Aleta memang selalu bisa menenangkan dan membuat damai di hati suaminya. Devan yang terbiasa hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk urusan kerja di perusahaan, sedikit agak power syndrome dengan berkurangnya rutinitas dari aktivitasnya sehari-hari. Untungnya sebagai seorang istri, Aleta dengan mudah merubah mood dari Devan.


"Iya juga sih Momm.., hanya hari ini Daddy merasa capai karena jalan kaki. Mungkin kita harus segera membeli mobil untuk mobilisasi kita disini. Kita harus segera menambah satu unit mobil, karena kalau mobil sudah dibawa anak-anak ke kampus, kita harus mengalah untuk mereka." Devan mengatakan pada Aleta untuk menambah mobil untuk mobilisasi mereka disini.


"Titah dari suami Aleta pasti Mommy akan langsung menyetujuinya Dadd.." ucap Aleta menggoda Devan. Keduanya tertawa bersama..., kemudian melanjutkan dengan berbincang membicarakan ketiga putranya.


*********


Setelah ketiga putra Devan dan Aleta kembali dari kampus, Devan segera mengajak mereka untuk berjalan-jalan sambil menikmati sore di sekitar apartemen. Mereka terbiasa melakukan kegiatan secara bersama-sama saat berada di Cambridge..., untuk menjalin kedekatan emosional antar anggota keluarga. Untuk mengurangi rasa dingin karena suhu udara berkisar di 0 derajat, Aleta mengenakan mantel di bawah lutut dan sepatu boots kulit tampak menghiasi kakinya.


"Mommy..., kita ke Harvard Square ya..! Ada yang mau Arend beli disana." Arend mengajak Aleta untuk mampir berbelanja. Aleta tersenyum, karena menyambung pembicaraannya dengan Devan tadi siang, jika mereka akan menambah satu unit mobil untuk mobilitas. Di Harvard Square.., mereka sekalian akan mengunjungi show room untuk memilih mobil SUV sesuai yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Baik.., kita akan langsung menuju Harvard Square.., bukankah demikian Dadd..?" Aleta ganti bertanya pada suaminya. Devan tersenyum dan menganggukkan kepala.


Sepanjang jalan, kelima orang itu menghabiskan waktu dengan membicarakan banyak hal.  Mereka berbicara tentang teman-teman sekolah, kurikulum yang diterapkan, sampai membicarakan dosen yang mengampu mata kuliah.


"Kalian ini semua, jika sudah berkumpul jadi satu. Tidak melihat sedang ada dimana, pasti langsung ngerumpi deh." sambil tersenyum, Devan berbicara dengan mereka.


"Ha.., ha.., ha... benar juga Dadd. Untungnya saja kita bicara pakai bahasa Indonesia, jadi orang-orang tidak begitu mengetahui apa yang kita bicarakan." Axel menimpali.


"Daddy.... tunggu Arick sebentar ya!! Axel.., temani yuk!" sambil menggandeng tangan Axel, Arick berlari ke sebuah kedai minuman.


"I ordered five cups of hot chocolate..." Arick memesan lima gelas coklat panas. Tidak menunggu lama, penjual membuatkan minuman tersebut dan memberikan pada Arick dan Axel. Dengan masing-masing membawa paper cups di tangan, Arick dan Axel segera kembali ke tempat Daddy dan Mommy-nya. Mereka menyerahkan coklat panas ke masing-masing.


"Ayo semuanya cari tempat duduk. Ingat aturan di keluarga kita, dimanapun kita makan atau minum harus kita lakukan sambil duduk. Jangan lakukan sambil berdiri..." Aleta tidak segan-segan mengingatkan keluarganya. Berada di negeri orang, bukan berarti mereka harus melupakan hal-hal penting di keluarga mereka.


"Okay Mom.." ketiga anak laki-laki muda itu menuruti perkataan Mommy-nya.


"Habis ini.., kita akan jalan kemana lagi Momm?" Axel tiba-tiba menanyakan tujuan mereka selanjutnya.

__ADS_1


"Kemana ya...?? Sepertinya Daddy akan mengajak kita ke show room mobil deh?" Aleta melirik pada suaminya. Devan hanya senyum-senyum, ketiga anak laki-laki itu saling berpandangan.


"Benarkah Dadd.. yang dimaksud Mommy?? Asyik sekali kalau Daddy nambah mobil lagi, jadinya kita bertiga ga perlu berpikir rumit kalau mau ke kampus." ucap Arend. Sambil tersenyum, Aleta melihat ke arah Arend.


"Maksudmu apa nak?" tanya Aleta lembut.


"Terkadang Momm..., pas kita bertiga mau jalan dengan membawa mobil itu, terkadang kami mikir di jalan. Ini mobil kita bawa, Mommy sama Daddy mau pakai tidak ya?? Jadinya sering Momm.., jika ada kegiatan kampus luar kota, jika tidak begitu penting kita cancel ga ikut." Arend akhirnya berkata jujur pada Mommy dan Daddy-nya.


"Ya sudah.., segera dihabiskan minumannya. Kita akan segera menuju ke show room mobil, silakan mau nambah berapa mobil. Daddy akan bayar semuanya." ucap Devan akhirnya.


"Ha.., ha., ha... , wah Daddy jadi ngeledek nih. Satu aja deh Dadd.., khawatirnya jika semua bawa mobil sendiri-sendiri, kita malah jarang kumpul dan pergi bareng nantinya." Axel tidak menyetujui usulan Devan. Kedua saudaranya juga menganggukkan kepala, menyetujui pernyataan laki-laki itu.


"Okay.., kita nambah satu saja ya tipe SUV. Sudah kan minumnya?? Jika sudah, kita menuju ke show room mobil di ujung jalan sana." melihat paper cup mereka sudah pada kosong, Devan segera merangkul Aleta, dan membawanya kembali berjalan.


Ketiga putra laki-laki mereka mengikuti di belakang. Meskipun Axel bukan putra mereka, tetapi Devan dan Aleta selalu memperlakukan anak laki-laki setara dengan apa yang mereka lakukan pada Arick dan Arend. Tidak ada sedikitpun yang mereka bedakan. Axel juga merasa bersyukur, dan menganggap Devan dan Aleta seperti orang tua kandungnya.


Di depan show room mobil mewah, mereka segera masuk ke dalam. Dua orang pramuniaga segera mendatangi mereka berlima.

__ADS_1


********


__ADS_2