
Pagi hari Aleta mencari kesibukan dengan mencoba memasak makanan kesukaannya di dapur. Setelah satu jam berkutat di dapur, sudah tersaji di meja makan sayur lodeh, ikan sepat kering, kerupuk udang dan ayam goreng.
"Hhmm..., nikmat sekali aroma masakannya sayang. Mas sudah tidak sabar ingin mencicipinya." kata Devan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Aleta.
Aleta tidak mengindahkan keberadaan suaminya, dia lanjut mencuci peralatan masak dan membersihkan dapur.
"Sudah, tinggalkan semuanya. Nanti biar bibi Puji kesini membersihkan semuanya." Devan tetap berusaha mengajak Aleta bicara. Dari bangun tidur sampai sekarang, belum sepatah katapun Aleta mengajaknya bicara.
Aleta tetap diam dan melanjutkan bersih-bersih dapur. Merasa mati gaya, Devan mengambil tindakan nekat. Tiba-tiba Devan memeluk erat tubuh Aleta dari belakang, kemudian meletakkan bibirnya di leher istrinya. Sesekali Devan menghembuskan nafas di leher istrinya, kemudian meniup daun telinganya.
"Ah.., lepaskan mas. Geli." ucap Aleta. Akhirnya Devan berhasil membuat istrinya berbicara. Devan muncul ide untuk iseng untuk mengerjai istrinya. Tanpa menjawab, Devan menggeser bibirnya ke belakang telinganya Aleta, kemudian menggigit pelan telinga istrinya.
"Sudah ., sudah mas, hentikan... Aleta lapar." ucap Aleta polos. Dengan gemas akhirnya Devan melepaskan istrinya.
"Siapkan mas sarapan juga ya, mas ingin makan masakanmu." kata Devan.
"Ya mas, tunggu sebentar. Mas mau dibuatkan minum apa." tanya Aleta yang akhirnya kembali melayani suaminya.
"Teh manis panas saja, sama sepertimu." sahut Devan.
Aleta kemudian menyiapkan teh manis panas, dan menata peralatan makan untuk suaminya.
"Kenapa tidak memberi tahu mas kalau kamu balik ke Bandung," tanya Devan pelan.
"Kalau Aleta memberi tahu, Aleta tidak akan menangkap basah seorang suami yang sedang diraba-raba wanita lain." jawab Aleta ketus.
Devan tersenyum gemas melihat kepolosan dan sikap imut istrinya. Dia merasa bangga dan bahagia melihat istrinya memiliki rasa cemburu terhadapnya.
"Kamu cemburu pada mas," tanya Devan menggoda istrinya.
"Tidak, Aleta juga bisa cari laki-laki lain. Aleta masih muda, mas Devan sudah tua. Kegenitan." kata Aleta asal ngomong.
"Yang benar, memang kamu berani ninggalin mas Devan. Biar dikata mas tua, tapi stamina mas mengalahkan yang muda sayang." kata Devan semakin bernafsu menggoda istrinya.
"Kenapa tidak berani. Aleta juga punya teman. Muda, sebelas dua belas sama om Ariel. Tahu kemaren, Aleta masuk apartemen disuguhkan pemandangan orang saling meraba, mending Aleta pergi bareng Irvan." kata Aleta keceplosan bicara.
"Irvan..., temanmu yang cungkring pemasok material di butik Joni?" tanya Devan dengan pandangan tajam ke arah Aleta.
__ADS_1
"Iya, memang kenapa mas. Dia lebih cocok sama Aleta, tidak suka nyakitin hati, baik lagi." kata Aleta memuji-muji Irvan.
Devan tiba-tiba merasa emosinya naik, tapi Aleta tidak berhenti bercerita tentang Irvan.
"Aleta, mas tidak suka jika kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu." tiba-tiba Devan berbicara dengan nada tinggi.
Aleta tersentak, kemudian memandang wajah suaminya.
"Apa salah Irvan mas, Dia selalu bersikap sopan dan sangat menghargai Aleta. Tidak pernah sekalipun Irvan melecehkan Aleta"
"Ingat Aleta, kamu itu wanita yang sudah bersuami. Ada batasan-batasan seorang istri yang tidak boleh kamu langgar." kata Devan.
"Terus Aleta mau nanya mas, adakah batasan seorang suami, apakah hanya berlaku bagi istri." Aleta memberanikan diri untuk balik bertanya pada suaminya.
"Apakah selamanya Aleta harus diam, melihat suaminya membawa wanita lain ke dalam rumah, di saat istrinya tidak ada di rumah?"
"Apakah suami diperbolehkan tubuhnya diraba-raba oleh wanita lain?"
"Sedangkan ada larangan, ada batasan bagi seorang istri. Di kota ini Aleta baru memiliki satu teman. Irvan selalu bersikap sopan, tidak pernah seujung kuku Irvan berusaha melecehkan Aleta. Apakah itu juga batasan dan larangan untuk Aleta." Aleta mengungkapkan suruh kekesalan dan isi hatinya kepada Devan.
Devan sangat terkejut dengan reaksi Aleta. Akhirnya Devan mengambil nafas, kemudian mendekati Aleta dan merengkuh tubuh mungil istrinya.
"Maafkan mas sayang, mas keterlaluan hari ini." perlahan Devan mengusap air mata Aleta.
"Mas cemburu, mas tidak bisa menyaksikan istri mas bersama laki-laki lain." katanya lagi
Aleta semakin terisak-isak di dada Devan.
"Wanita kemaren itu namanya Helena. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada kakek atau kepada Rolland tentang Helena."
"Kemarin dia tiba-tiba datang ke apartemen ini saat mas ada di kantor. Karena khawatir dia membuat kekacauan di lobby, mas membawanya masuk ke apartemen ini. Percayalah sayang, tidak terjadi apa-apa antara mas dengan Helena."
Devan menceritakan semua tentang Helena kepada Aleta. Bagaimana Helena pernah meninggalkannya, hingga membuat Devan membenci semua wanita dalam hidupnya. Sampai akhirnya kakek Cokro memaksanya untuk menikahi Aleta dengan perjodohan yang sudah diatur.
"Kamu percaya sama mas," tanya Devan lembut sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Aleta.
Devan dengan lembut mencium kening Aleta, kemudian mata Aleta satu persatu.
__ADS_1
"Percayalah Aleta, hati mas saat ini hanya untukmu. Mari kita belajar bersama, belajar kita saling melengkapi dan saling melindungi. Kamu mau kan sayang." tanya Devan pada istri mungilnya.
Aleta menatap mata Devan, dan melihat ada kesungguhan di matanya. Kemudian Aleta mengangguk pelan.
"Terima kasih sayang. Ayo ambilkan nasi, mas lapar mau sarapan." kata Devan mengakhiri pembicaraan.
Dengan cekatan Aleta menyiapkan makanan di piring suaminya. Kemudian mereka melanjutkan makan bersama dalam diam.
*******
"Selamat siang Aleta, jalan yukk." bunyi chat dari Tata lewat aplikasi WhatsApp.
"Siang, kok tahu aku ada di Bandung." tanya Aleta balik bertanya.
"Iya, tadi Devan kasih tahu kalau kamu sendirian di apartemen." sahut Tata.
"Berarti boleh ya aku keluar."
"Aneh kamu. Kalau suamimu menghubungi aku, berarti ya dibolehkan. Artinya suamimu percaya padaku." kata Tata.
"Tapi jalan kemana kita." tanya Aleta.
"Temani aku ke Jalan Riau ya. Aku mau cari baju di factory outlet. Murah murah lho, reject dikit ga pa pa, yang penting Oro barangnya. He..he..," kata Tata
"Ok deh, jemput aku di apartemen, atau kita ketemuan disana. Ntar aku naik ojek online." akhirnya Aleta setuju jalan berdua dengan Tata.
"Aku jemput saja. Bisa dibunuh aku sama Devan, kalau membiarkan istrinya yang cantik jalan sendiri naik Ojol. Suamimu itu posesifnya kebangetan tahu."
"Oke deh, sekarang kan. Aku siap-siap dulu ya."
"Yap, tunggu 15 menit aku sampai ke tempatmu. Bye Aleta." Tata mengakhiri chat nya.
"Bye Tata."
Akhirnya Aleta hari ini pergi jalan dengan Tata ke komplek factory outlet di Jln Riau.
*******
__ADS_1