
Devan langsung mengarahkan mobil menuju apartemen, sedangkan Aleta hanya melihatnya dengan diam-diam. Tahu jika istrinya meliriknya, sambil tersenyum tangan Devan yang sebelah kiri menggenggam tangan istrinya.
"Kan tadi pagi Daddy sudah bilang, jika Mommy longgar siang ke perusahaan terus kita *** after lunch." bisik Devan, yang disambut dengan muka merah istrinya.
"Kok sekarang tujuan apartemen bukan perusahaan?" protes Aleta.
"Yah.., sekalian nengok apartemen dong. Masak selalu dibersihkan, tetapi tidak pernah kita huni." sahut Devan sambil tersenyum smirk, dan kaki kanannya menginjak pedal gas.
Tidak berapa lama, mobil sudah memasuki basement apartemen. Devan memarkirkan mobil di dekat pintu masuk lift, agar tidak butuh waktu lama untuk berjalan. Mereka bergandengan tangan masuk ke lift, dan tidak sampai dua menit, lift sudah berhenti.
"Dadd.., pesen snack dulu gih?? Nanti kalau sudah di dalam, jadinya malas keluar."
"Kan sudah ada camilan lezat di depan Daddy??" bisik Devan dengan tatapan mesum. Melihat bibir istrinya sudah mulai cemberut, sambil membuka akses pintu masuk ...
"Jangan khawatir, Daddy sudah siapkan semuanya. Kita mau langsung menginap disini satu minggu pun, cukup bahan makanan dan snack untuk kita bertahan hidup." lanjut Devan.
Aleta heran begitu masuk ke dalam. Dia merasa sudah sebulan lebih tidak pernah menyambangi apartemen karena kesibukan mengurus rumah, ternyata apartemen dalam keadaan bersih. Bahkan cat tembok juga sudah diganti, dan terlihat di meja makan berjejer toples penuh dengan berbagai camilan. Merasa penasaran, dia langsung membuka pintu kulkas, ternyata apa yang tadi disampaikan suaminya benar adanya. Beraneka macam sayuran, daging, ikan tersedia di dalamnya.
"Dadd.., kapan Daddy belanja isi barang-barang kebutuhan harian? Kok tidak ajak Mommy?" tanya Aleta penasaran.
"Bukan Daddy yang belanja sayang, orang kantor diminta Rolland untuk mengisi kulkas. Juga baru dua minggu lalu, ada tukang yang melakukan renovasi kecil disini. Gimana..., warna catnya?? Kamu suka?" Devan sudah merangkul tubuh Aleta dari belakang, dagunya dia letakkan di pundak istrinya.
"Suka banget Daddy..., ini kan warna favorit Aleta. Jadi Aleta pingin menginap disini terus."
"Aakh.. shsh..Dadd.." terdengar erangan manja dari bibir Mommy si twins. Tangan Devan sudah berpindah keatas dua gumpalan daging kembar di dada istrinya, dengan lidahnya bermain-main di belakang telinga istrinya.
__ADS_1
"Mumpung kita hanya berdua sayang..., kita puaskan hari kita. Sudah hampir dua minggu, Daddy tidak pernah diberi jatah sama Mommy." ucap Devan.
"Aaahhh.. Dadd.., kan Aleta baru lih..at.. aahhh... shshssh..." pekik manja rintihan istrinya, tidak membuat laki-laki yang usianya sudah hampir 50 tahun itu berhenti, tetapi malah seperti zat aphrosidiak yang membuatnya tidak berhenti membuat istrinya menggelinjang hebat.
Tidak menunggu lama, baju Aleta sudah berserakan di lantai dapur, dan dengan kasar Devan juga melepas baju yang dia kenakan. Dua manusia beda jenis kelamin sudah dalam keadaan telanjang saling berpelukan, mereka melepaskan semua tanpa ada yang mengganggu.
"Berteriaklah sayang.., teriakkan namaku! Tidak akan ada yang mendengar teriakanmu disini. Kamu hanya milikku Aleta.." ucap Devan dengan penuh gai..rah. Mulutnya tidak henti mengeksplorasi tubuh istrinya, dan seperti kehilangan tenaganya Aleta bertumpu di tubuh suaminya. Keduanya tanpa henti saling melakukan penyatuan di kedua inti mereka, dan pelepasan demi pelepasan mereka alami bersama.
Seperti pasangan pengantin baru, keduanya menghabiskan waktu sampai malam datang tidak terasa. Di dapur, sofa ruang tamu, di kamar, bahkan kamar mandi menjadi tempat mereka saling melepaskan kerinduan. Ponsel yang memang sengaja dimatikan oleh Devan, tidak mengganggu aktivitas mereka.
******************
"Uncle Rolland..., Daddy kok belum pulang sampai jam segini? Tadi Uncle ada jumpa tidak di kantor." melihat kedatangan Rolland, Arick langsung mencegatnya dengan pertanyaan tentang Daddy dan Mommy nya.
"Tadi pagi ada ngobrol dengan Uncle, tapi siang sampai Uncle datang kemari, Daddy belum balik tuh ke kantor. Malahan tadi Uncle kira, Daddy ada di rumah." Rolland menjawab pertanyaan Arick sambil berjalan menuju ruang keluarga. Dia tersenyum melihat putrinya Cynthia sedang bermain komputer dengan Axel di meja tengah.
"Oh sama Mommy Aleta juga perginya. Jika itu mah, tidak usah dicari. Kan bisa ditelpon?"
"Itu Uncle masalahnya, ponsel Mommy and Daddy tidak aktif semuanya. Sudah berpuluh-puluh kali kami mencoba melakukan panggilan, tapi tidak aktif. Chat juga baru centang satu." semakin panik dan khawatir, Arick menceritakan pada Rolland.
Mendengar cerita Arick, Rolland hanya tersenyum. Dia sudah menyangka, saat ini kakak dan kakak iparnya sedang berada dimana.
"Besok Sabtu Off kan kalian semua??" tiba-tiba Rolland malah bertanya yang tidak terkait dengan kekhawatiran Arick.
"Off Uncle,.. tapi kok tidak bantu kami cari Mommy and Daddy." Arick penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Sudah malam ini, kita ramai-ramai tidur di apartemen. Uncle yakin, saat ini Mommy and Daddy ada disana. Sekarang siapkan baju kalian semua, kita berangkat ke apartemen." Rolland memang sebenarnya akan mengajak Cynthia malam ini menginap di rumah keluarga Cokrodirjan, tetapi mendengar cerita dari Arick, dia berpikir untuk ramai-ramai pergi ke apartemen.
"Asyik... let.s go!!" Arick langsung ke kamar mengambil beberapa baju dan memasukkannya ke back pack. Kemudian membawanya ke ruang tengah.
"Banyak sekali baju yang kamu bawa Rick.., memang di apartemen tidak ada baju-bajumu??" tanya Rolland heran.
"Tidak ada uncle.., Mommy tidak pernah mengajak kami kesana. Ini sekalian untuk Arick tinggalkan disana, siapa tahu kapan-kapan ingin menginap disana lagi." mendengar jawaban Arick, Rolland hanya tersenyum. Dia berpikir mau mengacaukan honeymoon kedua kakaknya.
"I.m ready..." teriak Axel dan Arend.
"Terus baju Cynthia pa?? Cynthia mau ikut kakak." tanya Cynthia dengan tatapan memohon.
"Di mobil, sudah papa siapkan. Papa juga ingin ikut menginap disana, ramai-ramai kita kacaukan apartemen Uncle Devan." jawab Rolland sambil menyentil hidung putrinya.
"Ayo semua berangkat, Uncle yang akan sopiri. Tidak perlu ajak pak Asep, biar dia bisa istirahat." lanjut Rolland yang langsung berdiri keluar rumah.
Keempat anak itu segera mengikuti Rolland keluar rumah, dan langsung menuju mobil SUV yang terparkir di halaman.
"Mau kemana Tuan Rolland, perlu pak Asep tidak?" terlihat pak Asep berlari menghampiri mereka.
"Pak Asep di rumah saja. Jaga dan awasi rumah ya! Kami malam ini mau menginap di apartemen, jadi rumah kosong." jawab Rolland sambil naik di kursi kemudi.
"Oh begitu..., baik Tuan. Pak Asep akan di rumah saja."
Perlahan Rolland mengemudikan mobil dan keluar dari halaman rumah keluarga Cokrodirjan.
__ADS_1
*********************