Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Hak Waris


__ADS_3

Dengan tatapan sengit, Maurin memindai meeting room dimana saat ini mereka berada. Ruangan yang cukup untuk memuat 20 orang, yang hanya dilengkapi dengan meja dan kursi rapat serta fasilitas LCD Projector. Tidak lama Maurin dan Lastri menunggu, Rico dan Ridwan yang didampingi pengacara segera masuk ke dalam ruangan.


"Selamat pagi Bu Lastri, mbak Maurin.. selamat datang kembali ke perusahaan ini." Rico menyapa mereka. Kemudian mereka bertiga segera duduk.


"Ya..," jawab Maurin singkat sambil sedikit mengangkat sudut mulut sedikit ke atas.


"Pagi Bu Lastri." Anggoro yang sudah lama mengenal wanita itu sejak menjadi lawyer pak Broto juga menyapa mantan istri kliennya.


"Pagi juga pak Anggoro. Syukurlah masih ada yang mengenali kami ini siapa." jawab Lastri dengan nada sarkasme.


Mendengar ucapan Lastri, Anggoro hanya tersenyum. Untung seorang petugas pantry masuk membawakan minuman dan Snack dalam meal box warna coklat.


"Mari kita minum dulu sebentar, mumpung masih panas airnya, dan Snack ringan untuk mengisi perut kita." Ridwan menawarkan minuman dan Snack yang baru saja disajikan.


Mereka kemudian mengambil minuman kemudian meminumnya, dan tanpa membuka meal box..


"Mohon maaf saya tidak akan lama berada disini, mungkin langsung saja saya akan membicarakan tentang hak waris papa saya. Karena saya satu-satunya putri dari almarhum papa Broto, jadi seharusnya perusahaan papa ini jatuh ke tangan saya." tanpa basa-basi, Maurin langsung mengutarakan niatnya datang kesini.


"Warisan? Warisan yang mana yang sedang dimaksud mbak Maurin? Secara individu, saya tahu jika mbak Maurin adalah putri pak Broto, tetapi secara legalitas bukti-bukti, almarhum sudah melimpahkan semua hak waris pada cucunya mas Axel.'" tanya Anggoro.


Mendengar itu, wajah Lastri dan Maurin langsung memerah. Emosi menguasai mereka, terutama Maurin.


"Jangan pura-pura bertindak bodoh kamu Anggoro, ya warisan untuk Maurin lah. Kamu sendiri tahu kan, jika Maurin satu-satunya putri Broto."


"Maaf Bu Lastri, mungkin tadi di awal saya sudah menyampaikan jika dalam surat warisan sedikitpun tidak ada nama mbak Maurin sebagai salah satu penerima waris. Yang ada hanya Axel, itupun jika sudah berusia 17 tahun. Pegangan saya adalah hitam diatas putih, bukan asumsi yang kita bangun sendiri."

__ADS_1


"Terus siapa ini Rico dan Ridwan, kenapa bisa menjalankan perusahaan? Harusnya aku yang lebih berhak daripada mereka berdua." Maurin menunjuk Rico dan Ridwan.


Kedua anak angkat pak Broto sudah menduga sebelumnya jika putri almarhum akan menyerangnya, sehingga mereka sudah hanya diam dan menyerahkan semuanya pada lawyer.


"Mereka berdua adalah putra angkat almarhum pak Broto, dan jelas tertulis dalam surat wasiat, jika mereka ditunjuk langsung oleh almarhum untuk menjalankan operasional perusahaan. Tetapi keputusan tertinggi bukan di tangan mereka, ada satu orang lagi yang ditunjuk."


"Bisa saja, surat wasiat itu adalah akal-akalan kalian untuk menguasai harta papa. Apalagi untuk jaman sekarang, apa-apa dengan mudah untuk dipalsukan." Maurin tidak mau mendengarkan perkataan Anggoro.


"Terserah dengan pemikiran mbak Maurin dan Bu Lastri, tetapi kami hanya melakukan semuanya berdasarkan surat yang ditulis langsung oleh almarhum. Atau silakan tunggu usia Axel 17 tahun, dia yang memiliki hak atas perusahaan ini." tidak mau banyak bicara, Anggoro menyerahkan semua pada mereka.


"Dan ini, copy dari surat wasiat pak Broto. Sebagai keluarga terdekat, saya yakin jika Bu Lastri yang meskipun sudah status janda cerai, dan mbak Maurin putrinya akan mengenali tulisan tangan Bapak." imbuhnya lagi, sambil menyerahkan scan copy surat wasiat.


Maurin berpandangan dengan mamanya kemudian mengambil dan mempelajari surat wasiat. Muka mereka berdua merah menahan emosi setelah selesai membacanya. Dengan jelas nama Maurin disebut dalam surat, jika sudah tidak diakui sebagai putrinya. Perusahaan dikelola Rico dan Ridwan sampai usia Axel 17 tahun.


"Itu benar tanda tangan almarhum papamu Maurin..," bisik Lastri pada putrinya.


"Maurin.., kita pulang dulu. Dan kita akan cari jalan keluarnya, nanti kita akan konsultasi dulu ke LBH." ajak Lastri, sambil membantu putrinya berdiri.


"Tunggu saja, aku akan menuntut kalian..," tiba-tiba Maurin langsung berteriak, kemudian keluar sambil menarik tangan mamanya.


***********


Seperginya Maurin dan Lastri, Rico dan Ridwan mengajak Anggoro menemui Devan di kantornya. Devan menerima mereka di ruang kerjanya.


"Jangan lengah, aku yakin Maurin akan mencari cara agar bisa mendapatkan warisan pak Broto! Tapi terserah dengan Axel juga sih. Meskipun usianya belum 17 tahun, sebenarnya dia sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak." Devan memberi arahan pada Rico dan Ridwan.

__ADS_1


Selesai bicara, Devan mengangkat tangannya memanggil OB untuk membuatkan minuman. Kemudian fokus kembali melihat ke tiga orang yang duduk di depannya.


"Iya pak Devan ..., kami juga ga enak hati dengan Mbak Maurin. Tapi gimana lagi, jika kami serahkan perusahaan ke beliau, kami takut mengkhianati amanah almarhum." Rico menanggapi Devan.


Devan mengambil nafas panjang, kemudian kembali berbicara...


"Kalian itu diberikan amanah untuk mengembangkan perusahaan, sampai saatnya Axel cukup layak untuk menjalankan perusahaan sendiri. Jangan mudah tergoda atau merasa kasian pada orang yang hatinya sudah mati. Tidakkah kalian memikirkan masa depan anak itu."


"Iya mas Rico.., mas Ridwan karena tangan kalian juga, perusahaan pak Broto masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Jika kita sudah mati-mati istilahnya, untuk kita mempertahankan perusahaan sampai sejauh ini. Tetapi pada akhirnya, kalau sampai dipegang mbak Maurin, kita akan merasa berdosa dengan almarhum." Anggoro lawyer yang sudah mendampingi pak Broto semasa hidupnya, ikut berbicara.


OB meletakkan cangkir kopi di depan mereka masing-masing.


"Minumlah dulu!" Devan meminta mereka untuk minum.


"Iya pak Devan.., pak Anggoro. Memang sangat berat beban moral saya dengan putri Bapak. Tapi khususnya saya berjanji, akan memberikan hak kepemilikan pada Axel secepatnya. Untuk saat ini, saya akan berjuang untuk mempertahankan perusahaan dari siapapun." setelah minum satu tegukan, Rico menyuarakan janjinya.


"Okay.., sekarang gimana pendapatmu Anggoro?"


"Kita tetap harus mempersiapkan diri pak. Kita diuntungkan dengan adanya surat yang ditulis pak Broto sendiri, yang sudah tidak menganggap lagi Maurin sebagai anaknya." kata Anggoro.


"Ya, tapi dalam hukum Islam anak itu juga perlu mendapatkan warisan, meskipun dia membangkang pada orang tuanya." Ridwan ikut menengahi.


"Penyebab perselisihan itu karena pak Broto tidak terima dan sudah tidak bisa memberi tahu putrinya. Maurin sudah menelantarkan anaknya sendiri, dan oleh pak Broto semua warisan diberikan untuk cucunya, yang notabene juga putra dari Maurin. Sekarang kita harus mengumpulkan bukti jika Axel memang terlahir dari Maurin." Anggoro berpendapat lagi.


"Untuk masalah terakhir, kami sudah memiliki. Axel sendiri yang mendapat bukti-bukti dimana dia dilahirkan di RS yang ada di Singapura."

__ADS_1


************


__ADS_2