
Kesibukan Devan di luar negeri menjadi bertambah, karena begitu ada dua perusahaan yang menyetujui sebagai distributor produk perusahaan Devan di Indoensia, diterima oleh pasar Amerika, beberapa perusahaan lain mengajukan permohonan untuk menjadi distributor dan agen di beberapa daerah. Untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya, Devan mempekerjakan mahasiswa Indonesia yang studi di Amerika dan membutuhkan uang saku tambahan. Aleta juga memaksa untuk membantu menangani beberapa pekerjaan online, untuk mengisi waktunya yang banyak luang.
"Daddy... untuk negara bagian Alaska dan Arizona sudah cukup ditangani oleh dua perusahaan saja Dadd.. PT. Introbast sepertinya memiliki kapabilitas untuk menghandle produk-produk kita disana. Purchasing order dan invoice sudah Mommy persiapkan, tinggal send ke mereka." Aleta melaporkan progress masuknya banyak pesanan atas produk mereka.
Strategi untuk menambahkan etnik corner sebagai point of interest dari desain produk mereka, ternyata dapat menjadi daya tarik yang menyedot perhatian warga negara asing. Beberapa produk yang banyak melibatkan sisi etnik dari keragaman budaya Indonesia, ternyata sukses mendapatkan order dari orang-orang Amerika.
"Good job Momm... Rolland sudah dikasih tahu belum..? Jika belum nanti Daddy calling Rolland, agar mengkoordinir perusahaan untuk mempercepat proses produk yang kita order dari sini, tetapi juga jangan sampai memperlambat orderan dari konsumen kita di beberapa negara lainnya." sambil melihat ke layar gadget di tangannya, Devan menanggapi perkataan istrinya.
"Sudah Dadd.. sepertinya dua minggu lagi, Rolland akan ke negara ini, untuk mengantar Chyntia. Tanpa sepengetahuan kita, ternyata gadis itu sudah apply ke Harvard University ambil Management, dan dinyatakan lolos, bahkan sudah interview secara online beberapa saat lalu.." sahut Aleta.
"Mmmm.. bakalan rame tempat kita nanti Momm.. Anak-anak sudah tahu belum, jika Uncle sama adiknya mau datang kesini.." Devan meletakkan gadget kemudian berdiri memasang kertas HVS di printer, untuk mencetak file yang sudah selesai di reviewnya.
"Sepertinya sudah Dadd.. seperti tidak tahu saja, bagaimana centilnya Chyntia sama Axel. Pasti anak-anak juga yang memandunya, sampai memilih jurusan yang cocok untuk gadis itu." lanjut Aleta. Perempuan itu kemudian berdiri dan meninggalkan suaminya sendiri. Mereka memang belum memiliki show room yang memajang produk yang dihasilkan perusahaan mereka, karena mereka merasa belum membutuhkannya. Untuk display, mereka baru menggunakan media sosial dan website resmi untuk memajang catalog produk mereka. Sedangkan untuk perkantoran, mereka menggunakan sebagian ruang dari apartemen mereka.
Aleta menuju ke arah dapur, kemudian mengambil air dan menjerangnya di atas kompor induksi. Untuk me refresh pikiran, Aleta berpikir jika satu cangkir teh panas akan dapat kembali mencairkan pikirannya. Melihat masih ada persediaan beberapa potong roti tawar di dalam nakas yang ada di depannya, perempuan itu berpikiran untuk membuat sandwich.
Tidak lama kemudian, dengan cekatan Aleta sudah memasukkan sayuran, daging asap ke dalam beberapa lembar roti tawar. Untuk menambah selera makan, Aleta memanggang sandwich yang sudah siap itu di atas microwave. Beberapa saat kemudian, bau harum sandwich panggang memenuhi ruangan, dan dari kursi tempat kerjanya, Devan tersenyum dan menghirup aroma makanan itu dengan nafas panjang.
"Hmmm.. delicius.. sandwich kah momm..." melihat istrinya datang membawa nampan, Devan berdiri untuk mengambil alih nampan tersebut, kemudian meletakkan di mejanya.
__ADS_1
"Ternyata enak momm... buat office bergabung dengan rumah. Jika lapar, tidak jauh untuk menuju ke pantry.." Devan memuji masakan istrinya. Laki-laki itu langsung mengambil beberapa potong sandwich, kemudian mulai memotong dengan pisau makan, dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Aleta tersenyum melihat antusias suaminya menikmati makanan sajiannya itu. Meskipun banyak restaurant mewah di Cambridge, Massachusetts, menu masakan Aleta masih menjadi favorit keluarga Devan. Arick, Arend, maupun Axel juga sangat menyukai dan menjadikan makanan favorit semua masakan yang disiapkan oleh Mommy mereka.
*********
Arick dan Arend mengintip Axel dari belakang, karena sejak tadi anak laki-laki itu asyik memandangi gadget di tangannya, dan cenderung mengabaikan keberadaan dua twins itu. Kedua putra Devan dan Aleta itu tersenyum sambil berpandangan mata, melihat siapa yang sedang diajak chatting oleh Axel. Tampaknya saking fokusnya dengan orang yang diajak chatting, Axel sampai tidak memperhatikan jika kedua anak kembar itu sedang berada di belakangnya.
"Uhuk.. fokus sekali guys jika baru chattingan sama cewek.. Hmmm... siapakah dia guys.. cewek yang beruntung mendapatkan chatting dari si bule.." celetukan Arick membuat Axel terkejut. Anak muda itu segera menutup gadget di tangannya, kemudian menoleh ke belakang dengan wajah memerah.
"Hadeh.. kalian berdua mengagetkan Axel saja.. Ada apa Rick.., Rend... ada sesuatu yang penting kah..?" masih dengan wajah menahan malu, Axel bertanya pada dua anak muda itu.
"Jangan salah paham deh.. ini Chyntia sudah ambil tiket penerbangan mau nyusul kita ke Cambridge, diantar sama Uncle Rolland. Dari tadi, aku ngebalas chatt yang dikirim gadis itu, jangan curiga aku chatt sama gadis lain deh.." dengan wajah merah padam, Axel berusaha menutupi apa yang dilakukannya.
Arend dan Arick tersenyum, kemudian merangkul laki-laki muda itu dari belakang. Terlihat dari belakang, ketiga anak muda itu sedang berpelukan. Aleta dan Devan yang sedang menengok ke ruang tengah, tempat mereka biasa berkumpul tersenyum menyaksikan kedekatan anak laki-laki itu. Perlahan pasangan suami istri itu berjalan mendatangi ketiga anak laki-laki itu.
"Anak-anak Mommy.. bagaimana dengan studi kalian nak..?" sambil duduk di sofa, Aleta bertanya pada ketiga anak laki-laki itu.
Melihat kedatangan Mommy nya, ketiga anak laki-laki itu serentak menoleh ke belakang, mereka kemudian berlari menghampiri perempuan itu kemudian memeluknya. Devan geleng-geleng kepala, karena sedikitpun kedatangannya tidak diperhatikan oleh anak-anaknya. Makanya laki-laki itu hanya bisa tersenyum kecut..
__ADS_1
"Uhukk.. apakah Daddy yang tinggi besar ini dianggap tidak ada ya, kenapa putra Daddy hanya merespon kedatangan Mommy saja nih.." Devan pura-pura ngambek.
Ketiga anak laki-laki itu seperti anak kecil, mereka serempak menoleh ke tempat Daddy nya berdiri, kemudian mereka berlari dan gantian memeluk laki-laki itu. Devan merentangkan kedua tangannya, dan ketiganya segera masuk ke dalam rentangan tangan laki-laki itu.
"Baru pada sibuk ngapain ini tadi.." Devan membawa ketiga anak laki-laki itu untuk kembali duduk ke sofa disamping Aleta.
"Godain Axel Dadd.. Momm.. habis chattingan dengan Chyntia tidak bilang-bilang ke kita.." sahut Arick, disambut dengan wajah Axel yang kembali memerah.
"Hush.. wajar dong.. kan Chyntia minggu depan sama Uncle Rolland akan datang ke Cambridge..." sahut Aleta membela Axel. Anak laki-laki itu tersenyum dan merasa mendapat pembelaan dari Mommy nya.
*******
PENGUMUMAN
Author punya novel baru lagi nih. Saksikan keseruannya, novel Horor tapi asyik, tidak tampak ke hororannya
AMBISI DAN SIHIR
Baca ya, like, dan comment
__ADS_1
********