Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Rencana Awal Rengganis


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar gembira tentang Maurin yang disangkanya hamil anak Devan, Rengganis segera melakukan panggilan kepada Devan. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi kebahagiaan di wajahnya, sedari tadi bibirnya dihiasi dengan senyuman.


"Selamat siang, iya ma ada apa," jawab Devan menyapa Rengganis.


"Siang Van. Hari ini kamu di Bandung saja kan tidak kemana-mana. Habis Magrib, sempatkan datang ke rumah keluarga. Ada hal penting yang mau Mama sampaikan kepada semua anggota keluarga besar." kata Rengganis tanpa basa-basi.


"Ya ma, nanti Devan sempatkan kalau tidak ada agenda penting dan mendadak."


"Kamu harus datang Devan, tidak boleh tidak. Cancel semua acaramu, acara nanti malam jauh lebih penting dari apapun." sahut Rengganis dengan nada sedikit tinggi.


"Iya ..iya..ma, ada lagi yang mau disampaikan. Kalau tidak, Devan akhiri ya ma. Banyak dokumen yang harus Devan review." kata Devan cenderung mengalah jika berbicara dengan Rengganis.


"Iya, sampai jumpa nanti malam."


Rengganis mengakhiri panggilan telepon. Selain melakukan panggilan kepada Devan, Rengganis juga menghubungi anggota keluarga yang lain untuk berkumpul. Dia akan menyiapkan acara syukuran kecil-kecilan bagi kehamilan Maurin.


******


Sementara itu di rumah keluarga Cokrodirjan, Cokro sedang makan sendirian di meja makan. Terlihat Puji ART yang sudah lama mengabdi di keluarga ini, menyiapkan keperluannya.


"Tuan Besar, untuk acara nanti malam apakah perlu kita persiapkan menu jamuan khusus Tuan," tanya Puji hati-hati pada Cokro.


"Jangan tanya itu padaku Ji. Kamu tanya sama yang punya acara, karena aku punya firasat akan ada hal yang kurang baik yang akan disampaikan nanti." sahut Cokro dengan muka kurang senang.


Sampai saat ini, Cokro belum bisa menerima dan memaafkan Rengganis yang pernah mengkhianati anak laki-lakinya. Upaya apapun yang dilakukan Rengganis tidak pernah bisa mengetuk hatinya. Memang benar seperti apa yang diomongkan banyak orang. Jika laki-laki yang melakukan kesalahan pengkhianatan, hal itu dikatakan biasa. Tapi jika seorang wanita ketahuan berkhianat pada suaminya, maka hujatan tidak akan pernah reda dan berakhir.


"Iya Tuan, nanti Puji tanya sama Nyonya Rengganis. Kira-kira berita besar apa ya Tuan, kok sampai semua keluarga dikumpulkan?" Puji penasaran bertanya pada Cokro.


"Kita tunggu saja Ji. Ingat kamu tetap waspada nanti malam, dan fokus pada Aleta. Aku tidak mau, cucu menantuku itu kenapa-kenapa." ucap Cokro sambil mengunyah makanannya.


"Baik Tuan. Nanti Puji juga akan minta bantuan security agar ikut keluar masuk pura-pura membantu saya."


"Ya bagus." kata Cokro singkat.


Puji kemudian kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan masak.


********

__ADS_1


Sementara itu di pojok kantin Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Tata duduk sendirian di depan laptop yang sedang menampilkan aplikasi Adobe Illustrator. Di samping laptop, terlihat satu piring kecil dimsum dan milk shake vanilla. Dari tadi dia tampak sibuk sendirian membuat sketsa dengan pen tab.


"Tata..., puter-puter aku cariin, ternyata ketemu disini." seru Rio mengagetkan Tata. Rio menepuk bahu Tata dari belakang. Tata menoleh ke arah Rio yang hari ini mengenakan kemeja baru yang dibelinya pada waktu mereka jalan di Komplek Jln. Riau.


"Ah...kamu Rio bikin kaget saja. Cie..cie.. baju baru nih ye...," Tata meledek Rio yang saat ini mengenakan kemeja yang dibeli bersamanya kemaren.


"Iya donk, bagus kan. Pas sama badanku. Siapa dulu dong yang milih." sahut Rio senyum-senyum.


"Emang siapa yang milih. Lupa tuh."


"He .he..he.., cukup aku saja yang tahu dalam hati." jawab Rio. Dia kemudian mengambil kursi dan duduk di depan Tata.


"Heh ..siapa suruh duduk di situ, aku butuh fokus nih. Mau konsentrasi ngerjain tugas animasi," kata Tata memprotes Rio.


"Halah.., kecil... ntar aku bantuin." sahut Rio sambil memberi kode pelayan kantin untuk datang.


"Iya mas, mau pesan apa." tanya pelayan kantin.


"Vietnam Drip 1; banana grill 1 ya. Kamu mau pesen apa Ta."


"Itu saja dulu mbak. GPL ya, ga pakai lama."


"Siap mas."


Rio mencomot dimsum yang sudah dipotong-potong dari piring Tata. Tiba-tiba Tata memukul tangan Rio dengan menggunakan sumpit.


"Aduh ..., kamu kok kejam Ta, tega ya menganiaya aku." kata Rio dengan ekspresi pura-pura kesakitan.


"Halah lebay... ga lucu. Lagian siapa suruh main comot makanan orang" sahut Tata tersenyum geli.


"Iya, ntar gantian kamu boleh ambil pesananku. Ta .., btw...boleh nih aku nanya sesuatu." kata Rio dengan muka serius.


"Apaan, aku dah curiga nih dari tadi. Tampangnu dari tadi sudah menandakan tampang Kepo." sahut Tata.


"He .he..., ya ga pa pa. Namanya juga usaha, baru mau ikhtiar." Rio cengengesan sambil mengusap hidungnya yang tidak gatal.


"Ikhtiar apaan, awas kalau modus." tanya Tata cepat.

__ADS_1


"Itu Ta, he..he..." katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Ta..., boleh ya aku dikenalkan, dan diberi informasi lebih tentang saudaramu. Itu Aleta yang kemarin kita jalan bareng." katanya lagi sambil cengar-cengir.


Tata hampir tersedak mendengar perkataan Rio.


"Kamu mau membunuhku Rio." kata Tata dengan mata melotot. Dia kemudian fokus memperhatikan Rio.


"Lho memangnya kenapa Ta, aku salah kah," tanya Rio dengan tampang bloon.


Tata mengambil nafas kemudian meneguk milik shake dari gelasnya.


"Rio oon..., Aleta itu sudah menikah, kamu sudah terlambat datang kepadanya." kata Tata geli.


Rio sedikit kaget, mengetahui Aleta yang sudah dua malam mengisi lamunannya itu sudah menikah. Tapi dia tetap tidak peduli.


"Tidak apa-apa Ta. Biar dia dengan pernikahannya, aku dengan caraku kenal lebih dekat dengan Aleta. Yah.. siapa tahu kita jodoh." sahut Rio senyum-senyum.


"Jodoh...? Bangun bro.. ini siang bolong. Makanya kalau tidur itu baca doa. Jadi mimpinya yang wajar." seru Tata meledek Rio.


"Memang salah Ta, aku tidak masalah meskipun dia sudah menikah. Siapa tahu kita bisa dekat, Ingat Ta... Janda Semakin di depan." ucap Rio.


"Sudah hentikan bicara ngelantur Rio. Aleta itu istri sepupuku, bisa mati berdiri aku ditembak dia."


"Tidak perlu takut Ta. Aku akan maju sendiri, aku janji deh tidak akan melibatkan kamu. Aku cukup dapat informasi, dimana alamat dan nomor ponselnya." kata Rio semakin ngelantur.


"Rio...cukup. Jangan libatkan aku. Kamu tidak tahu bagaimana sepupuku. Dia posesifnya minta ampun." kata Tata mulai kesal dengan pembicaraan Rio.


"Aku serius Ta, aku tidak main-main. Tidak tahu kenapa Ta, dari kita ketemuan kemarin sampai sekarang, wajah Aleta dengan senyum manisnya selalu muncul." sahut Rio sambil tersenyum sendiri membayangkan Aleta.


"Terserah kamu saja Rio. Kamu mau dengan usahamu atau apapun. Sedikitpun aku tidak akan memberikan informasi tentang istri sepupuku." seru Tata dengan nada kesal.


"Ya sudah Ta, kalau kamu tidak mau memberikan informasi. Aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri." akhirnya Rio mengalah.


Tata kembali fokus pada kerjaannya awal, kemudian Rio ikutan mengeluarkan laptopnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2