
Hari pertama magang, Aleta diantarkan Ijonk menuju tempat kerja di Solo Techno. Sebenarnya, Devan masih berada di kota ini, untuk mendampinginya selama penyelesaian kuliah yang bisa diselesaikan dalam satu semester. Tetapi dikarenakan hari ini ada video conference dengan mitra bisnis dari Thailand, terkait rencana ekspansi perusahaan ke negara tersebut, Devan tidak dapat meninggalkan acara tersebut. Mengenakan rok midi di bawah lutut dengan atasan kemeja putih, dipadu dengan sneaker warna putih, Aleta terlihat seperti anak ABG usia belasan tahun. Pekerjaan di belakang meja yang berkutat dengan pemrograman, web design tidak menuntutnya harus mengenakan pakaian formal.
"Selamat pagi mbak Tutik," Aleta menyapa dengan ramah petugas front line yang pagi ini sedang mendapatkan giliran jaga.
"Pagi dik, ceria sekali pagi ini. Berangkat sama siapa, sama omnya yang kemarin bukan," Tutik balik bertanya pada Aleta. Sampai sekarang Tutik masih mengira jika Devan adalah pamannya Aleta.
"Diantar sama driver mbak, Aku masuk duluan ya mbak," kata Aleta sambil tersenyum, kemudian meninggalkan Tutik.
Aleta langsung masuk ke human resource development untuk menanyakan penempatannya selama mengikuti kegiatan magang di perusahaan tersebut.
"Tok..tok...tok..." Aleta mengetuk pintu ruangan HRD selama tiga kali.
"Masuk," terdengar jawaban dari dalam ruangan yang mengijinkan Aleta masuk.
Aleta mendorong pintu, dan di belakang meja setengah biro sedang duduk seorang wanita berusia 25 an tahun sedang fokus di depan laptop. Menyadari kehadiran orang lain, wanita itu mengalihkan pandangan ke arah Aleta dan dengan senyum manis mempersilakan Aleta duduk.
"Silakan duduk," wanita itu yang dilihat dari name tag di mejanya bernama Susan menyilakan duduk.
"Terima kasih," jawab Aleta sambil menarik kursi kemudian duduk di depan Susan.
"Ada yang bisa saya bantu," tanya Susan ramah.
"Perkenalkan nama saya Aleta mbak, saya pernah berkomunikasi dengan mbak Susan via panggilan telpon, dan beberapa kali mengirimkan pesan via whatsapps." Aleta mulai mengenalkan dirinya.
"Begini mbak, Jum.at kemarin saya sudah menemui pak Raditya, dan hari ini saya diminta untukĀ memulai kegiatan magang saya." Aleta menyampaikan maksud kedatangannya pada Susan.
Susan memandang Aleta, kemudian tersenyum melihat penampilan Aleta.
__ADS_1
"Oh mbak Aleta ya. Jum.at siang pak Raditya sudah menyampaikannya juga pada saya, dan beliau sudah mengatur pekerjaan untuk mbak Aleta. Beliau juga meminta untuk minggu ini, sementara mbak Aleta ditugaskan membantu beliau menyiapkan event. Jadi untuk sementara mbak Aleta, kita tempatkan satu ruangan dengan pak Raditya." Susan menjelaskan penempatan minggu ini Aleta.
"Terima kasih penjelasannya mbak Susan, dimanapun penempatannya saya tidak mempermasalahkan mbak. Saya akan berusaha mengikuti ketetapan yang telah dibuat oleh perusahaan," kata Aleta dengan senyum manisnya.
"Syukurlah, kamu sangat mudah diajak untuk bekerja sama. Mari aku antar sekalian ke tempat dudukmu," Susan beranjak dari tempat duduk, kemudian menggandeng tangan Aleta.
Susan seorang wanita yang humble, dan cepat akrab dengan orang lain. Meskipun dia pegawai lama, dan sudah memiliki posisi ternyata dia tetap bersikap ramah pada siapapun. Bahkan pada pegawai magang. Aleta mengikuti langkah Susan. Di depan pintu ruangan Raditya, Susan mengintip ke dalam ruangan tapi tidak menemukan seorangpun di dalam.
"Aleta, karena pak Raditya belum datang hari ini, sementara kamu duduk di meja sini ya. Hari ini kamu mulai menjalani magang dengan menjadi asisten pribadi pak Raditya." Susan menunjuk kursi dan meja di depan ruangan Raditya.
"Okay, terima kasih mbak Susan, apakah saya sudah diperbolehkan untuk duduk di meja tersebut," tanya Aleta.
"Ya tentu boleh donk. Silakan gunakan PC tersebut untuk membuat draft pekerjaan yang diberikan pak Raditya nantinya. Aku tinggal dulu ya, masih banyak file yang belum aku review." Susan pamit pada Aleta.
"Baik, terima kasih mbak Susan," Aleta mengucapkan terima kasih pada Susan.
*********
Sesampainya di ruangan, terlihat Susan senyum-senyum sendiri. Dia kembali duduk di kursi kebesarannya, kemudian mengambil ponsel, dan mulai melakukan panggilan pada Raditya.
"Tut...Tut...Tut...," terdengar nada memanggil, dan setelah tiga kali nada dering Raditya menerima panggilan tersebut.
"Selamat pagi, ada apa Susan. Aku baru menghadiri undangan dari Disnakertrans, terkait uji publik peraturan tenaga kontrak dan tenaga paruh waktu." Raditya mengucapkan salam pada saudara sepupunya yaitu Susan.
"Hmm..Hmmm..., aku hanya mau memberikan apresiasi padamu guys.Kali ini akui matamu jeli dan awas Dit." Susan mulai menggoda Raditya.
"Maksudnya." sahut Raditya bingung.
__ADS_1
"Itu si Aleta.Cewek yang kamu terima magang hari ini. Betul-betul bernas dan berkualitas. Anaknya baik, sopan, pokoknya bisa jadi calon saudara iparku deh. Kwkk..kwkkk." sahut Susan yang tanpa henti terus menggodanya.
"Hadeh Susan. Aku pikir ada informasi penting, sampai aku ijin keluar ruangan untuk mengangkat panggilanmu. Ternyata hanya ngajak ngerumpi." protes Raditya sampai tanpa sadar menepuk jidatnya satu kali.
"Kwk...kwk..., sorry Dit, habis tenggorokanku dah gatal pingin ngomong dari tadi. Tak lihatin kamunya belum datang-datang, ya udah aku telpon saja." kata Susan sambil terkikik.
"By the way.., Kamu tempatkan dimana dia hari ini." tanya Raditya.
"Halah Dit..., katanya tadi ditelpon bilangnya aku mengganggu. Lha sekarang malah gantian dirimu yang kepo." gantian Susan jual mahal.
"Ayolah San..., apa sulitnya sih membantu saudara sendiri. Makan siang hari ini aku yang traktir deh." Raditya mulai merayu Susan.
"Informasi akan diberikan jika traktir makan siang, dan balik kantor bawa camilan untuk upeti." Susan mulai melakukan tawaran.
"Okay okay, aku menyerah. Aku turuti keinginan kamu hari ini. Dimana kamu tempatkan gadis itu. Dasar matre" gerutu Raditya.
"Ha..ha .ha.. rejeki anak Sholeh hari ini. Matur tengkyuuu Raditya, sepupuku yang paling baik se Indonesia Raya." seru Susan berterima kasih.
"Ini anak ditanya malah kemana-mana. Dimana Susan, kamu tempatkan Aleta" kara Raditya mulai kesal.
"Jangan khawatir. Sesuai titah Paduka Raja Raditya ... Aleta sudah saya posisikan sebagai asisten pribadi Paduka. Saat ini tempat duduknya ada di depan pintumi. Dia menggeser Rahman.' jawab Susan sambil tertawa-tawa.
"Really??? Good job my nephew..., baru sekarang kamu pintar menterjemahkan instruksi ku. Secepatnya aku akan sampai kantor kembali Susan. Bye ...," Raditya tampak senang kemudian menutup panggilan secara sepihak.
Kemudian dia kembali masuk ke tempat acara menemui asisten kepala Dinas untuk ijin kembali lebih dahulu.
*********
__ADS_1