
Sudah lewat satu bulan dari acara family gathering keluarga Cokro di pulau Bali. Aleta kembali fokus mengikuti perkuliahan dengan sistem hybrid learning, dan dia sangat paham akan konsekuensinya. Dosen pengampu mata kuliah tidak akan memberikan nilai maksimal untuk mata kuliahnya yang ditempuh dengan sistem hybrid learning. Sebenarnya Aleta masih memiliki harapan dan keinginan besar untuk mengikuti kuliah secara offline.Tapi larangan suaminya menjadikan dia harus memendam keinginannya.
"Mas..., bulan depan Aleta akan menempuh ujian akhir semester, sekaligus sebagai faktor penentu IPK Aleta." kata Aleta pada Devan di malam hari.
"Hmm.. terus." respon Devan mendengarkan istrinya bicara.
"Kok cuman hmmmmm.... jawabnya. Malas ga jadi." kata Aleta jengkel dengan respon suaminya.
Aleta langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Devan sambil memeluk guling. Melihat istri mungilnya ngambek, Devan tersenyum kemudian membalikkan tubuh Aleta, dan meletakkan kepalanya Dev di atas dadanya. Tangannya memainkan rambut Aleta.
"Iya sekarang mas fokus mendengarkan permaisuri ku bicara. Terus maunya apa." kata Devan.
"Maunya Aleta ikut ujian secara offline, Aleta mau balik sementara untuk ujian." kata Aleta semangat.
"Boleh ya mas," kata Aleta sambil membalikkan badannya, kemudian menatap mata Devan dengan sorot mata penuh permohonan.
Aleta bahkan tidak menyadari posisinya saat ini, dia sedang berada di atas tubuh Devan. Mata Devan langsung menyipit, dan lama-lama menjadi redup. Gerakan tubuh Aleta di atas badannya seperti menggelitik hasrat kelelakiannya, sedangkan yang bergerak tidak menyadari akan bahaya dari tindakannya.
Devan hanya melihat wajah istrinya tanpa mampu berbicara. Perlahan Devan mengangkat wajahnya, dan menggigit kecil dengan gemas ke ujung telinga Aleta. Aleta seperti tersentak, badannya serasa tersetrum aliran listrik. Dia ingin menolak, tapi tubuhnya menginginkannya. Keduanya terdiam, hanya bibir dan tangan keduanya yang bicara, saling mengisi dan menumpangi.
Setelah beberapa saat berlalu, dengan mata redup, Devan menatap mata Aleta. Yang merasa ditatap menganggukkan kepala, dan akhirnya keduanya saling membenamkan diri semakin ke dalam. Kelelahan keduanya menghadirkan sebuah kepuasan dan jalinan ikatan batin yang semakin erat.
"Mari kita mandi dulu, baru nanti kita lanjutkan bicaranya." bisik Devan.melihat Aleta kelelahan dan bersembunyi di balik selimutnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Aleta, Devan langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Dengan perasaan bangga dan hormat, keduanya saling memandikan, berbagi sabun bersama, dan berakhir dengan handuk yang melingkari tubuh mereka.
*****
"Bagaimana mas jawaban dari permintaan Aleta." Aleta kembali mengingatkan Devan akan pertanyaannya tadi. Saat ini mereka sudah mengenakan pakaian tidur, dan siap untuk tidur.
"Mas, tidak ingin kamu merepotkan Bu Rosna lagi, karena kamu sekarang adalah tanggung jawab mas." kata Devan menjelaskan.
"Lha terus aku harus bagaimana mas, lagian kan tidak lama waktunya. Cuman dua Minggu, itu juga jadwalnya ujiannya tidak tiap hari ada." kata Aleta berusaha untuk menjelaskan.
"Kalau tidak tiap hari, berarti kamu bisa berangkat ujian dari sini. Tinggal kamu pilih mau pakai pesawat komersial, kereta api, jet pribadi atau antar jemput mobil." kata Devan tanpa berpikir.
__ADS_1
"Mas Devan, sadarlah mas. Waktuku akan banyak terbuang di jalan mas."
Devan diam tidak menanggapi.
"Tapi ya ga pa pa, kalau memang mas Devan menginginkan aku kelelahan dalam perjalanan. Toh kalau aku sakit, tidak ada yang menangisiku. Aku kan sudah tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini." kata Aleta kemudian menutup tubuhnya dengan selimut dan langsung memejamkan mata.
Devan tersenyum melihat sikap kekanak-kanakan dari istrinya yang tidak berubah-ubah. Kemudian dia ikut masuk ke dalam selimut, dan memeluk erat istrinya dari belakang.
"Tidurlah, jangan banyak berpikir. Nanti mas perintahkan orang untuk cari guest house disana untuk kamu tempati selama menyelesaikan kuliah disana." kata Devan pelan.
"Benarkah mas, terima kasih sayang." Aleta langsung membalikkan badannya kemudian mencium lembut bibir suaminya.
"Kembali tidur, kalau tidak mau harimau ku yang sudah terkurung bangun dan menerkammu." sahut Devan dengan mata terpejam.
Mendengar peringatan dari Devan, Aleta langsung kembali membalikkan badannya dan perlahan ikut memejamkan matanya.
Obrolan dengan hasil yang sukses bagi pasangan suami istri memang obrolan di atas tempat tidur.
******
"Kak...., jadi balik kampung ya untuk melanjutkan kuliah." tanya Rolland, saat ini mereka sedang berada di rumah keluarga Cokro.
"Yah..kota. Kapan kak kesananya, nanti Rolland ikut mengantarkan ya. Bosen di kota ini terus, sumpek.... macetnya tidak pernah berkurang."
"Kok tahu, aku mau lanjut kuliah lagi. Mas Devan ya yang cerita."
"He...he... cuman nguping sih tadi. Mas Devan minta tolong Jenny untuk Carikan guest House di sana. Ga tahunya dibatalkan, padahal sudah dikirim uang down payment sama Jenny." cerita Rolland hasil dia menguping.
"Wah ..kok ga jadi..," kata Aleta dengan raut wajah yang langsung bersedih.
"Iya, dibatalkan karena sudah dapat rumah disana. Jadinya kakak ipar dibelikan rumah baru, tidak jadi disewakan guest house."
"Really..., " seru Aleta dengan mata berbinar.
"Itu hasil menguping terakhir sih, ga tahu juga kalau dibatalkan lagi. He .he..." sahut Rolland.
__ADS_1
"Wah... Rolland PHP.." protes Aleta.
"Lha bukan aku donk yang PHP, mas Devan tuch.."
"Hai.. ada apa ini,.tidak baik ngomongin orang di belakang." tiba-tiba Cokro sudah berada di belakang mereka.
"Kakek..," seru Aleta dan Rolland bersamaan.
"Kapan kamu jadinya berangkat ke kota Klaten, atau mana itu tempat kuliahmu," tanya Cokro.
"Tempat kuliah Aleta letaknya di perbatasan antara Klaten dan Surakarta kek. Masuknya daerah Sukoharjo." sahut Aleta.
"Yah.., dimana lagi itu."
"Kakek sudah tahu ya. Kalau dibolehkan mas Devan, Aleta pingin secepatnya kek, sebelum ujian mulai. Ujiannya masih bulan depan, jadi pinginnya Minggu ini Aleta sudah di sana." kata Aleta.
"Devan sudah memberi tahu kakek beberapa waktu yang lalu. Karena kasihan melihatmu ekstra keras berjuang, memahami materi kuliah tanpa pendampingan dari dosen."
"Rumah untuk tempat tinggalmu juga sudah disiapkan Devan. Tapi, secepatnya kalau kuliah sudah selesai, kamu harus segera kembali ke kota ini." perintah Cokro pada cucu menantunya.
"Ya, kek.. Inshaa Allah, Aleta janji secepatnya akan kembali kesini." kata Aleta dengan hati bahagia.
"Ayo..kalian berdua, sekarang temani kakek makan. Bibi sudah masak urap sama nila goreng." kata Cokro mengajak mereka makan bersama.
"Baik kek, kebetulan Aleta juga belum makan dari tadi siang."
"Jangan suka menunda-nunda makan, bisa kena sakit lambung." kata Rolland.
"Habis ga selera, makan selalu sendirian."
"Makanya sekarang makan yang banyak, biar agak gemukan. Sekarang kita makan bertiga." sahut kakek Cokro.
Bibi Puji terlihat sedang menyiapkan peralatan makan di meja makan.
"Aleta bantu Bi, bibi ke belakang saja membereskan yang lainnya." kata Aleta mengambil alih pekerjaan bibi Puji.
__ADS_1
"Baik non, terima kasih."
********