
Axel menceritakan apa yang dia sampaikan pada Oma dan Mamanya pada Aleta dan Devan, dan mereka sama sekali tidak menyalahkan apa yang telah diminta Axel. Bagaimanapun mereka juda menyadari jika darah lebih kental daripada air.
"Axel.., apapun keputusan yang kamu ambil, kami Mommy and Daddy akan selalu mendukungmu. Bahkan jika semua perusahaan, Axel berikan pada Maurin pun, kami berdua masih mampu untuk membantu menyelesaikan studimu. Bahkan di luar negeri, janganlah kamu berpikir tentang materi sayang." Aleta terus berusaha menenangkan hati Axel.
"Ya Momm..., Axel yakin akan hal tersebut. Tetapi mengingat bagaimana mereka dengan almarhum Opa, membuat Axel sedikitpun tidak rela jika perusahaan opa dikelola oleh mama Maurin." sahut Axel.
"Terserah apa yang akan kamu ambil Axel. Jangan lupakan kami, kamu tidak sendiri di dunia ini. Kamu masih punya Daddy, Mommy, Arend dan Arick, Uncle Rolland dan keluarganya. Dan ada satu lagi kejutan yang akan Daddy berikan pada kamu, tetapi kamu harus janji dulu untuk bisa menyiapkan hatimu." tiba-tiba Devan menyampaikan sesuatu.
Aleta mengerenyitkan keningnya, dia menatap suaminya, demikian juga Axel.
"Apa yang Daddy bicarakan?? Kejutan apa yang akan Daddy sampaikan?" Aleta bertanya pada suaminya. Axel dengan penuh tanda tanya menatap pada Devan.
"Apakah kamu siap Axel?? Dan Daddy tidak mau, jika informasi ini Daddy buka, malahan kamu tidak bisa mengendalikan emosimu. Semua ini terjadi karena sudah takdir Tuhan, tidak perlu mencari kesalahan siapapun." Devan terus berbicara, yang menimbulkan rasa ingin tahu pada istrinya dan Axel.
Axel mengambil nafas perlahan, kemudian mengeluarkannya kembali.
"Iya Dadd..., Axel janji akan siap." dengan mantap Axel berjanji akan siap menerima kenyataan sepahit apapun.
Devan memberikan satu amplop coklat besar, amplop yang sering digunakan untuk menempatkan berkas lamaran pekerjaannpada Axel. Axel terlihat gugup, kemudian mengambil dan membuka amplop dengan perlahan. Sebelum menarik isinya keluar, Axel kembali memandang Mommy and Daddy, dan terlihat Aleta dan Devan menganggukkan kepala.
Saat Axel mengeluarkan isi dalam amplop besar tersebut, pertama kali adalah sebuah foto seorang laki-laki bule dengan wajah hampir sama persis dengan Axel.
"Daddy..., tell Axel! Who is this man?" dengan pandangan ingin tahu, Axel bertanya pada Devan.
__ADS_1
"Yes Axel.., he is your father." dengan pelan Devan menjawab dan mengangguk. Dengan pandangan tak percaya, tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk mata anak laki-laki itu. Demikian juga dengan Aleta, naluri keibuannya langsung muncul. Dengan segera, dia merangkul Axel dan menempatkan kepala anak laki-laki itu di pundaknya.
"Lihatlah lebih lanjut Axel..! Orang-orang yang Daddy tugaskan ke Ubud, sudah menemukan siapa papamu. Dan beberapa kali Daddy juga sudah sempat berkomunikasi dengannya, jika kamu bersedia untuk bertemu dengannya, maka papamu akan merasa senang untuk kembali mengunjungi Indonesia." Devan menjawab tanda tanya istri dan Axel.
"Kamu kuat Axel sayang??? Jika kamu kuat, lihatlah lagi semua berkas! Ada Mommy disini." Aleta menguatkan anak laki-laki itu.
"Tapi jika kamu tidak bisa menguasai hati dan emosimu, sudah hentikan saja dulu! Suatu saat jika Axel sudah memiliki kekuatan itu, baru kamu lihat lagi semuanya!" dengan bijak dan suara pelan, Aleta berbicara sama Axel.
Tiba-tiba tangan Devan diangkat dan telapak tangannya memberi isyarat untuk berhenti. Aleta menoleh, ternyata kedua putranya dan Cynthia sudah akan kembali ke kursi mereka. Tetapi untuk menghargai Axel, Devan meminta mereka untuk berhenti dan tidak kesitu dulu.
"Sebagai seorang laki-laki Axel, papamu tidak salah. Kemungkinan besar Daddy pun akan melakukan hal yang sama jika kita sedang berada di bawah pengaruh obat. Jadi, saat ini butuh kebesaran hatimu untuk memaafkan semua, atau menganggap semuanya tidak ada. Jika kamu bersedia menerima papamu dengan tulus, dalam waktu dekat papamu akan menuju Bandung. Tetapi, jika kamu tidak bisa memaafkan kesalahan papamu, maka lupakanlah dia! Kita putus semuanya sampai disini!" panjang lebar, Devan menasehati Axel sebagai sesama laki-laki. Aleta hanya menjadi pendengar dan penenang Axel.
Setelah mendengarkan nasehat Devan, Axel langsung mengeluarkan semua arsip yang sudah didapatkan orang-orang suruhan Devan. Tampak Axel sangat antusias membuka informasi tentang papanya, yang ternyata berasal dari negara dimana dia ingin melanjutkan studi disana. Papanya berasal dari Jerman...
******************
"Xel..., kenapa wajahmu tiba-tiba terlihat ceria. What happend??" tanya Arick yang mengamati perubahan wajah Axel. Axel menengok Arick sambil tersenyum, kemudian kembali menikmati menu makan siangnya.
"Arick kepo..." sahut Cynthia. Tetapi malah dibalas dengan pelototan mata Arick.
"Ayo makan dulu..., baru nanti nanyai Axel nya. Mommy yakin, jika berita bahagia pasti Axel akan bercerita pada kalian. Tapi biasanya tipe Axel itu, dia akan menyembunyikannya jika itu berita kurang baik. Iya ga Axel?" seperti biasa, Aleta akan menjadi penengah jika terjadi miss komunikasi diantara mereka.
__ADS_1
"Okay Momm..., we trust Mommy!" sahut Arick yang langsung kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Oh ya.., Daddy lupa beri tahu kalian. Habis dari sini, kalian langsung pulang ke rumah sama pak Asep. Mommy ikut bareng Daddy, ada hal yang harus Daddy selesaikan dengan Mommy." tiba-tiba tanpa bertanya pada Aleta, Devan langsung bicara pada anak-anak. Tetapi untuk menghargai Daddy di mata ketiga putra dan satu keponakannya, Aleta hanya diam tidak menyanggah. Dia tetap melanjutkan makan siangnya.
"Wah Uncle curang.., masak Cynthia nanti seperti berada di sarang penyamun, jika tidak ada Aunty?" Cynthia memprotes pernyataan Devan.
"Kan ada pak Asep.., Cynthia. Kamu pindah duduk di kursi depan yang tadi diduduki Aunty.. lagian kakak-kakakmu kan duduk di belakang." jawab Devan.
"Ide bagus Dadd..., seperti ibu negara yang sedang mendampingi kepala negara bepergian." komentar Arick cepat.
"Terus siapa yang jadi Kepala Negaranya Rick?" sahut Arend.
"Ya pak Aseplah.., masak Axel. Kesenangan dong Cynthia nya. Ha..ha..ha.., setuju Arend, Axel." seru Arick sambil melakukan tos dengan Arend dan Axel.
Aleta hanya tersenyum melihat ketiga putranya menggoda Cynthia. Sedangkan gadis kecil itu ngambek dengan memonyongkan bibir ke depan.
"Cyn.. bibirmu bisa diikat pakai karet tahu...jika kamu monyong-monyongkan seperti itu." teriak Arick. Cynthia langsung memukul punggung Arick.
"Sudah..sudah, ayo kita segera pulang. Cynthia..., kalau begitu kamu duduk di kursi tengah saja bareng Arend seperti tadi. Arick biar duduk di depan samping pak Asep. Gimana setuju?? Aunty akan menemani Uncle dulu." akhirnya Aleta turun tangan menyelesaikan pertengkaran kecil diantara anak dan saudara sepupunya itu.
****************
__ADS_1