Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Haris


__ADS_3

Setelah melepaskan pakaian pengantin, Aleta tetap bertahan di kamar belum mau keluar. Dia bingung bagaimana akan bersikap dengan suami, orang asing yang tiba-tiba harus tinggal dan menjalani hidup dalam satu kamar. Sedangkan Devan tetap bersikap masa bodo tanpa mempedulikan status yang baru saja dia dapatkan.


Kakek Cokro sementara membiarkan cucunya untuk menyesuaikan diri secara bertahap.


"Kak Devan...., kapan itu-itunya, istrinya dimanjakan donk," Rolland menggoda Devan yang sedang duduk menyelonjorkan kaki di atas ranjang yang biasa ditempati kakek Cokro.


"Diam atau aku bungkam mulutmu," kata Devan marah.


"Rugi donk, istri cantik dianggurin. Kenapa juga kakek kemaren tidak memilih aku untuk menikah dengan Aleta. Padahal usiaku juga sudah 27 tahun, lagian lebih cocok aku yang mendampingi Aleta daripada kakak yang keriputnya sudah mulai muncul." Rolland tetap tidak mau berhenti meledek kakaknya.


Devan tidak menggubris perkataan adiknya, malahan berdiri dan berjalan keluar untuk mencari angin. Melihat kakeknya sedang duduk di atas lincak, Devan menghampiri dan mendudukkan pantatnya di samping kakeknya.


"Anak tidak tahu diuntung, mana istrimu?" tanya kakek Cokro marah.


"Tidak tahu kek. Dia punya mata, punya kaki, mana bisa aku menahannya." jawab Devan asal.


"Jaga mulutmu, kamu suami berarti kamu imam. Apa yang dilakukan istrimu, ada dimana kamu harus tahu. Kamu harus menjaganya."


"Kek..., Devan sudah memenuhi keinginan kakek. Sekarang apa lagi yang kakek inginkan dari Devan."


"Segera berkemas, kakek sudah siapkan salah satu kamar terbaik di kota ini untuk kamu dan Aleta berdua nanti malam."


"Kenapa kita tidak sekalian balik pulang ke Bandung saja kek."


"Hush...ikuti adat istiadat sini. Besok sore kita baru pulang ke Bandung."


"Sekarang cari istrimu, daripada pusing melihatmu keluar masuk, lebih baik kalian kakek kurung di hotel biar segera memberiku buyut."


Tiba-tiba ada laki-laki muda yang berjalan ke arah mereka.


"Assalamualaikum, pak mau ketemu Aleta ada." tanya laki-laki muda di hadapan mereka.


Kakek Cokro memperhatikan laki-laki yang sedang berdiri di depannya.


"Bersih, sopan, dan sepertinya anak baik-baik." Kakek Cokro membatin sendiri.


"Assalamualaikum pak, Aleta nya ada." laki-laki itu mengulang salamnya.


"Wa Alaikum salam, ada." jawab kakek Cokro singkat. Sedangkan Devan masih masa bodo meskipun ada laki-laki yang sedang mencari istrinya.


"Apakah bisa minta tolong untuk dipanggilkan pak, saya Haris ingin bertemu sebentar."


"Tunggu sebentar." jawab kakek Cokro sambil beranjak masuk rumah untuk memanggil Aleta.

__ADS_1


Haris tetap berdiri di tempat, semula dia tidak mempercayai berita yang beredar jika Aleta wanita yang disukainya hari ini melangsungkan pernikahan. Tetapi begitu melihat sisa-sisa pesta yang belum dibersihkan, mau tidak mau dia harus menelan rasa kecewanya. Dengan kebesaran hati, Haris tetap menemui Aleta untuk mengucapkan selamat.


*****


"Tok... tok... tok...," kakek Cokro mengetuk pelan kamar Aleta.


"Sebentar," terdengar suara Aleta dari dalam.kamar.


Aleta membuka pintu kamar dan terlihat kakek Cokro di depan kamarnya.


"Kakek, ada apa kek." tanya Aleta


"Baru tidur cucuku, kakek mengganggu ya." kata kakek Cokro.


"Tidak kek, ngerjakan tugas pengganti kuliah. Hari ini harusnya Aleta ada jadwal kuliah kek, tapi karena acara tadi jadinya Aleta harus bolos."


"Semester berapa sekarang,"


"Semester empat kek, do.anya ya kek agar bisa lulus tepat waktu. Aleta ambil vokasi Diploma Terapan kek, kemarin maksudnya biar cepat selesai terus bekerja dan membantu ibu." kata Aleta.


"Banyak cara untuk membantu ibu nak. Ayuk sekarang Aleta keluar dulu, temani dan layani suamimu."


"Nanti ya kek, kan Aleta masih banyak tugas."


Aleta hanya tersenyum sambil tersipu. Aleta kemudian menutup pintu kamar dan berjalan ke teras.


"Kak Haris, kok tidak kasih kabar kalau mau kesini." sapa Aleta ramah begitu melihat Haris.


Senyumnya langsung merekah melihat teman baiknya datang berkunjung. Ekspresi Aleta yang cerah tidak luput dari perhatian Devan. Meskipun terlihat sedang memejamkan mata sambil bersandar di tembok, Devan tidak sedang tidur.


"Sama laki-laki lain saja dia ceria, ganjen, penuh senyuman, giliran bicara denganku mulutnya sepedas cabe." batin Devan tentang Aleta.


"Kak Haris..., duduk yuk," Aleta mempersilakan Haris duduk di kursi yang ada di sudut teras.


Haris mengikuti Aleta dari belakang, kemudian duduk di kursi samping Aleta.


"Berarti benar ya, tadi pagi kamu sudah melakukan ijab qobul Aleta." tanya Haris.


Di matanya tampak terbersit rasa kecewa.


"Iya kak, maaf Aleta tidak sempat mengundang kak Haris. Semuanya terjadi serba mendadak."


"Aleta dipaksa menikah atau karena kerelaan Aleta sendiri." tanya Haris.

__ADS_1


"Atas kerelaan Aleta kak, lihat Aleta bahagia." kata Aleta sambil menyuguhkan senyum manis di depan Haris.


Tetapi Haris bisa melihat ada sebersit kesedihan di mata bening yang selalu di rindukannya.


"Boleh aku tahu mana suamimu." kata Haris tiba-tiba.


"Deg," Aleta tidak menyangka kalau Haris akan menanyakan tentang suaminya.


"Ehm...ehmm..," Aleta tidak mampu menjawab pertanyaan Haris.


"Aku akan lega Aleta, aku akan ikhlas Aleta, jika memang laki-laki yang kamu nikahi hari ini adalah laki-laki yang memang akan selalu menjagamu, melindungimu. Dan yang pasti akan terus memastikan kebahagiaanmu." ucap Haris dengan nada agak tinggi.


Aleta tersentak dengan ucapan Haris, dia hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani untuk mengenalkan Devan kepadanya.


"Mana Aleta, beranikah kamu mengenalkannya padaku," Haris terus mendesak Aleta.


"Aku suaminya Aleta, adik mau mengenal saya." tiba-tiba ada suara khas bariton menjawab pertanyaan Haris.


Aleta mendongakkan wajahnya, dan terkejut melihat kehadiran Devan di sampingnya. Devan kemudian duduk di pegangan kursi yang diduduki Aleta, dan meletakkan tangan kanannya di bahu sebelah kanan Aleta. Jika diamati, Devan sedang merangkul pundak istrinya.


Haris juga kaget ada laki-laki tinggi besar berwajah tegas mengaku sebagai suami Aleta. Dengan matanya, Haris menanyakan kebenarannya pada Aleta.


"Iya kak Haris, kenalkan ini mas Devan suamiku." kata Aleta manis memperkenalkan suaminya.


"Mas, lembut sekali terdengar di telingaku." hati Devan tiba-tiba berdetak kencang mendengar panggilan mas dari Aleta untuk istrinya.


"Kok sebelumnya saya tidak pernah mendengar tentang anda. Aneh, tiba-tiba bisa menjadi suami dari Aleta." kata Haris tetap tidak bisa menghilangkan kecurigaan kalau pernikahan ini karena paksaan.


"Iya kak, kami ta'aruf. Ingat kata ustadz kita di Masjid Multazam dulu waktu kita pengajian bareng. Jika cocok disarankan untuk segera menikah, jangan menunda pernikahan dengan pacaran." jawab Aleta membantah kecurigaan Haris.


"Dik Haris..., mohon maaf istri saya kecapaian dari tadi pagi berdiri menyalami tamu. Kami sebentar lagi juga mau berangkat untuk berbulan madu, jadi kami mau bersiap-siap. Bisakah lain waktu dik Haris berkunjung kesini lagi." ucap Devan mengusir Haris secara halus.


Wajah Aleta merah padam mendengar ucapan Devan. Tetapi Haris merasa disadarkan akan posisinya hari ini, kemudian dia segera minta pamit.


"Oh iya, maafkan saya. Aleta, kakak pulang dulu ya. Lain waktu kita kabar-kabar lagi."


"Assalamualaikum."


"Wa Alaikum salam,"


"Hati-hati kak Haris."


******

__ADS_1


__ADS_2