
Malam harinya Atmaja mengirim pesan melalui WhatsApp pada Devan, yang menginformasikan alamat rumah teman dekat Kinara. Devan kemudian mengirimkan alamat itu pada anak buahnya, untuk mencari tahu posisi lokasi. Bangun tidur Devan menelpon Rolland, memberi informasi jika hari ini dia kemungkinan besar akan terlambat, bahkan bisa dimungkinkan tidak datang ke perusahaan.
"Sudah dapat lokasi persisnya mas, kalau sudah ada kita kesana pagi ini." kata Aleta pada suaminya.
"Iya, tadi Subuh dikirim sama anak buahku. Aleta sudah siap, kalau sudah sekarang kita berangkat saja. Mumpung masih pagi."
Aleta dan Devan akhirnya segera berangkat untuk mencari teman mama Kinara. Setelah mengemudi selama 1,5 jam, akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah sederhana, tetapi sangat asri dan bersih. Devan menghentikan mobilnya di halaman rumah, dan dia tampak gugup pada saat akan keluar dari mobil. Aleta menggenggam tangan suaminya, kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala.
Aleta menggandeng tangan suaminya, kemudian segera menuju pintu masuk. Aleta menekan bel pintu. Setelah menunggu beberapa saat, pintu dibuka oleh seorang wanita yang berusia 25 tahunan.
"Selamat pagi, apakah benar disini rumah ibu Yayuk." Aleta menyapa sambil tersenyum.
"Iya benar, tapi kalian siapa ya. Untuk apa mencari mama saya." ucap wanita itu.
"Kalau kami menyebut nama, mungkin Tante Yayuk tidak akan tahu siapa kami. Tetapi hari ini kami sangat membutuhkan informasi dari Tante," sahut Aleta.
"Mari kalian masuk dulu. Silakan duduk, saya akan menanyakannya pada mama terlebih dahulu, karena beliau sedang mandi."
"Terima kasih mbak." Aleta kemudian menarik tangan Devan, dan mengajaknya duduk di dalam rumah.
Tidak lama wanita tadi keluar dengan membawa nampan berisi teh panas dan camilan. Kemudian dia menghidangkan diatas meja.
"Silakan diminum sambil menunggu mama. Kebetulan mama mau menemui kalian." kata Arini.
"Terima kasih mbak. Kenalkan saya Aleta, dan ini mas Devan suami saya." kata Aleta sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan.
"Saya Arini, panggil Ari saja." wanita itu menerima uluran tangan Aleta.
Sedangkan Devan hanya menangkupkan tangannya di depan dada. Untuk menghargai Arini, Aleta mengajak Devan untuk minum teh yang sudah dibuat.
__ADS_1
"Ayo mas diminum, mumpung masih panas."
Devan mengikuti Aleta, dia ikut minum seteguk kemudian meletakkan kembali cangkir di atas meja. Arini tersenyum melihatnya. Setelah mereka mengobrol 10 menitan, ibu Yayuk keluar menemui mereka. Wanita berusia 50 an tahun, dengan penampilan sederhana tetapi segar.
"Selamat pagi ibu, saya Aleta dan ini suami saya mas Devan."
Aleta kembali mengenalkan diri mereka pada teman dekat mamanya. Yayuk tersenyum dan menyalami mereka berdua. Arini kemudian meninggalkan mereka untuk berbicara.
"Tante..., kami kesini ingin menanyakan seseorang di masa lalu. Kami harap Tante berkenan untuk memberikan kami sedikit jalan untuk mengurai kekeliruan di masa silam." Aleta mulai ke arah tujuan kedatangan mereka.
Tante Yayuk memperhatikan mereka berdua.
"Ini suami saya adalah putra dari mama Kinara, seorang yang pernah kenal dekat dengan Tante Yayuk. Kami baru mendapatkan cerita kemarin pagi, dan tadi malam mendapatkan informasi tentang Tante. Kami langsung kesini pagi ini."
"Usia mas Devan sudah 32 tahun Tante, beri kami kesempatan untuk berbakti pada mama kami. Jika memang mama sudah tiada, apakah Tante bisa memberikan informasi dimana makamnya."
Aleta bertanya pada Tante Yayuk sambil menggenggam tangan Devan. Sedangkan Devan sebenarnya tidak sabar dengan kesabaran yang diberikan oleh istrinya.
"Nak Aleta, nak Devan. Maaf ya, Tante tidak bisa bercerita apa-apa. Tapi Tante hanya mau memberikan alamat di kota Yogya, silakan kalian berdua mendatangi mereka."
"Akan jadi rejeki kalian, jika mereka mau menerima niat kalian. Tapi jika mereka masih ingin menutup diri, tergantung dari upaya kalian. Atmaja papa nak Devan juga pernah berkali-kali menemui Tante, tapi Tante tetap memegang teguh janji. Tapi sekarang yang ada di hadapan Tante, adalah putra Kinara." kata Yayuk kemudian mengambil kertas dan pena, dan menuliskan sebuah alamat.
Yayuk memberikan kertas tersebut pada Aleta.
"Ambillah nak, temani suamimu kemanapun. Kinara sangat beruntung, putra laki-lakinya sangat gagah dan tampan." kata Yayuk sambil tersenyum.
"Terima kasih Tante. Kami sangat berbahagia, karena keterbukaan Tante yang mau menerima kami. Mungkin kami tidak bisa lama disini Tant, kami harus segera menyusun langkah lanjutan. Jadi, kami langsung undur diri." sahut Aleta yang sekalian berpamitan.
Devan dan Aleta langsung berdiri dan memohonkan diri. Mereka bersalaman, kemudian Aleta dan Devan langsung keluar dari rumah.
__ADS_1
*********************
"Kita pulang dulu ke apartemen, atau mas Devan mau ke perusahaan, Aleta temani kali ini mas." tanya Aleta memecah keheningan.
Dari tadi suaminya hanya diam, dan Aleta yang banyak mengambil porsi pembicaraan. Devan menoleh sebentar menatap Aleta, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Karena posisi mereka saat ini sedang berada di dalam mobil dan Devan sedang mengemudi.
"Bagaimana kalau kita langsung ke Yogyakarta, mas ingin segera mengunjungi alamat yang diberikan Tante Yayuk tadi." akhirnya Devan menjawab pertanyaan Aleta.
"Kita mau naik apa mas, pesawat pribadi, kereta atau pakai mobil." tanya Aleta.
"Pakai mobil ini saja, mas langsung ambil arah menuju Yogyakarta."
"Mas Devan kuatkah? Bandung ke Yogyakarta itu jauh mas. Atau Aleta hubungi pak Asep untuk membawa kita mas." Aleta agak khawatir mengingat kondisi perasaan suaminya.
"Tidak perlu, yang penting ada kamu disamping mas Devan. Jangan tinggalkan mas ya Aleta." ucap Devan tiba-tiba.
"Tidak mas, Aleta juga tidak memiliki siapapun kecuali keluarga di panti asuhan Rejeki. Hanya mas Devan tempat Aleta bersandar saat ini. Aleta juga pesan, mas Devan jangan pernah meninggalkan Aleta ya." saut Aleta kemudian meletakkan kepalanya di bahu kiri Devan.
Devan menginjak rem sebentar, kemudian memberikan kecupan di kening istrinya.
"Kita berangkat ke Yogyakarta sekarang ya, kita jalan pelan saja. Jika mas lelah, nanti kita Istirahat dulu." kata Devan.
"Bismillahirrahmanirrahim, ayo mas kita berangkat. Semoga kita mendapatkan hasil yang baik. Ijin mas, Aleta memberi tahu kakek Cokro dan Rolland ya. Kasihan kalau mereka bingung mencari kita." Aleta menatap Devan.
Devan menganggukkan kepala, kemudian Aleta mengirimkan pesan melalui WhatsApp pada Rolland, dan kemudian melakukan panggilan pada kakek Cokro. Mendengar janji Aleta, Devan merasa diperhatikan dan bahagia. Sementara istrinya berkomunikasi dengan kakek dan adiknya, Devan kembali menjalankan mobil ke arah Yogyakarta.
"Aleta perlu memberi tahu papa tidak mas, karena Aleta agak khawatir juga dengan perasaan papa saat ini." tanya Aleta.
"Tidak perlu, nanti setelah kita berhasil bertemu dengan keluarga mama. Kita baru memberi tahukan pada papa." sahut Devan.
__ADS_1
"Baiklah." kata Aleta
********************