Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kebersamaan


__ADS_3

Dengan penuh rasa capai Aleta dan Tata akhirnya sampai di rumah. Karena sudah mau menjelang malam, Tata langsung pamitan pulang ke rumah. Aleta meminta pak Asep untuk mengantarkan Tata.


"Assalamualaikum," Aleta mengucapkan salam masuk ke rumah. Tapi tidak ada yang menjawab.


Aleta langsung masuk ke dalam rumah, dan melihat ke ruang keluarga juga tidak ada orang satupun. Akhirnya Aleta menuju ke dapur,. dan terlihat Bini Puji sedang memasak di dapur.


"Masak apa Bi hari ini." Aleta mengucapkan salam pada Bibi Puji.


"Sudah datang Non, maaf ya Bibi tidak mendengar." sahut Bi Puji.


"Tidak apa-apa Bi , makanya Aleta langsung menuju dapur. Tadi salam tidak ada yang menjawab."


"Iya, ini mau masak apa. Bibi bingung Non. Bibi baru bikin ayam ungkep, nanti tinggal digoreng saja."


"Oh begitu. Bibi ada sayuran apa di kulkas. Atau Aleta saja yang buat sayur hari ini."


"Jangan Non, nanti Non kecapaian. Bibi saja tidak apa-apa." Bi Puji menolak tawaran Aleta.


"Halah tidak apa-apa Bi, Aleta hanya mau masak untuk Aleta dan mas Devan saja. Punya santan tidak Bi."


"Ada Non, Bibi taruh di chiller."


Tanpa beranjak ganti baju dulu di kamar, Aleta langsung meracik sayur lodeh, kemudian dengan cekatan memasaknya. Bi Puji sampai terheran melihat cara memasak Aleta karena masaknya lumayan cepat. Tidak membutuhkan waktu 30 menit, sayur lodeh buatannya sudah siap disajikan.


"Bi Puji, nanti kalau tidak habis tolong jangan dibuang ya sisanya. Besok pagi minta tolong dipanasi, mau Aleta pakai untuk sarapan."


"Baik Non, nanti Bibi minta boleh Non. Sepertinya beda dengan bikinan Bibi." kata Bi Puji agak malu.


"Siapa yang mau, silakan tidak apa-apa Bi cuma sayuran saja kok. Kalau ada ikan asin Aleta minta tolong digorengkan ya Bi, sama ayam ungkep digoreng kan cocok jadinya. Aku mandi dulu Bi," Aleta kemudian bergegas ke kamar untuk mandi sore.


"Baik Non, bibi gorengkan." kata Bibi Puji langsung eksekusi keinginan Aleta.


Sesampainya di kamar, Aleta langsung masuk kamar mandi, kemudian melakukan mandi sore. Tidak lama, Aleta sudah keluar dari kamar mandi, kemudian dengan berbalut handuk langsung keluar.


Tanpa melihat Aleta tiba-tiba menubruk Devan di depanan walk in Closed.


"Aduh." teriak Aleta sambil mengusap keningnya yang membentur punggung suaminya.

__ADS_1


"Makanya kalau jalan itu lihat-lihat sayang, lha untungnya mas Devan yang di sini. Coba kalau orang lain." kata Devan sambil membalikkan badannya dan mengusap lembut kening Aleta.


"Mas baru nyadar ini, kok tumben istri mas berani sekali hanya pakai handuk berdiri si depan mas?" komentar Devan sambil mengamati Aleta dari atas sampai bawah.


"Aah malu, sana mas Devan ke kamar mandi. lagian kan tadi memang tidak ada orang di rumah ini. Hanya Aleta sama Bibi Puji di dapur." seru Aleta membela diri sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Ha.. ha..., makanya besok-besok kalau masuk kamar mandi, pastikan pintu kamar dikunci dulu dari dalam." kata Devan sambil memeluk istrinya, kemudian memberikan kecupan di kening.


"Iya .iya.., habis tadi gerah habis masak bantuan bibi." sahut Aleta.


Karena hampir Maghrib, dan Devan tidak tega mengganggu istrinya yang sudah selesai mandi, akhirnya dia segera ganti ke kamar mandi.


***************


Tiga puluh menit setelah sholat Maghrib semua orang yang ada di rumah keluarga Cokrodirjan, berkumpul di meja makan. Bibi Puji menyajikan sayur lodeh dan lauk sesuai pesanan dari Aleta, kemudian membuat sambal dan lalapan.


Aleta menyendokkan nasi untuk suaminya dan kakek Cokro.


"Kakek mau sayur apa," tanya Aleta pada Cokro.


"Aleta kek yang masak. Soalnya agak bosan, tadi sepulang main sama Tata terus gangguin Bibi Puji di dapur. Aleta buat sayur lodeh kek," jawab Aleta malu.


"Kakek pakai sayur buatanmu saja Aleta."


"Mas Devan juga ya." kata Devan.


Aleta menuangkan sayur ke piring untuk kakeknya, kemudian baru ke piring suaminya. Melihat menantunya menyajikan menu untuk suaminya, Atmaja menengok ke arah Rengganis. Akhirnya Rengganis malam ini juga berbaik hati mengambilkan nasi untuk Atmaja.


"Enak sayang, sudah lama mas Devan tidak makan sayur ini." kata Devan memuji masakan istrinya.


"Halah kamu itu baru tahu, atau pura-pura tidak tahu Van. Dari dulu di Klaten, istrimu ini kalau masak pokoknya nomor satu rasanya." Cokro berbicara membela Aleta.


"Iya kek, kan selama ini Aleta jarang masak. Baru kali ini masak lagi, sudah besok kita pulang ke apartemen sayang. Biar disana tiap hari kamu masakin mas Devan."


"Sudah mas, kek, masakan sayur lodeh masak malah dipakai bahan keributan ya. Makannya diteruskan yuk, kasihan papa dan mama jadi terganggu makan malamnya." Aleta mencoba menghentikan keributan suami dan kakeknya.


"Ini besok kalau Rolland juga sudah menikah, keributan di ruang ini kayaknya akan bertambah lagi nih." Rolland ikut berbicara.

__ADS_1


"Tidak bakalan si Jenny berani protes kalau ada aku." sahut Devan.


"Kan tinggal Rolland bilang, tidak perlu takut sama semua anggota keluarga." seru Rolland.


"Coba saja , kita lihat nanti apakah Jenny setuju."


"Kok malah gantian Mas Devan dengan Rolland yang bertengkar." protes Aleta.


"He..he..he.., maaf ya kakek, kakak ipar."


Ruang makan yang biasanya sepi, malam itu tampak ramai penuh dengan canda. Sayur lodeh buatan Aleta, yang rencana paginya masih mau dipakai Aleta untuk sarapan, ternyata jadinya habis di malam itu juga.


"Kakek, malam ini ada acara apa? Mau pada keluar, atau ada tamu yang datang ke rumah?" tanya Aleta tiba-tiba.


Rengganis merasa gelisah dengan pertanyaan Aleta, tapi yang lainnya merasa santai.


"Kakek di rumah saja Aleta, tidak ada yang keluar malam ini. Dan kakek pastikan tidak ada tamu malam ini." Cokro menjawab pertanyaan Aleta.


"Alhamdulillah, berarti malam ini kita kumpul bareng ya kek. Besok malam Aleta harus segera balik ke Sukoharjo, Senin harus mulai kerja magang lagi." kata Aleta, dan Devan menatap istrinya.


Devan merasa kaget, Aleta memutuskan sesuatu tanpa terlebih dahulu minta konfirmasi padanya.


"Bukannya Aleta sudah ijin sama pimpinan tempat magang kan," tanya Cokro pelan berusaha menetralisir suasana, karena melihat ekspresi cucu laki-lakinya.


"Iya, sudah ijin kek. Meskipun Aleta ijin, kekurangan hari nanti Aleta harus menggantikan. Sama saja menurut Aleta, mending sekarang diselesaikan daripada mengganti di lain waktu." kata Aleta menjelaskan.


"Tapi sudah ijin terlebih dahulu belum dengan suamimu," Cokro memberi kode dengan dagunya diarahkan pada Devan.


"Ups..., belum sih kek." Aleta langsung menaruh kedua tangannya pada tubuh Devan yang duduk di sampingnya.


"Boleh kan mas Devan. Daripada Aleta bengong juga disini, kalau Tata datang paling cuma diajak muter-muter. Kan mendingan Aleta selesaikan magang, terus kita bisa kumpul bersama." lanjut Aleta lagi.


"Sekarang waktunya makan sayang, dibereskan dulu semua. Baru kita bicara." sahut Devan sambil menahan rasa jengkelnya.


Rolland tertawa kecil melihat kakaknya menahan diri pada istri kecilnya. Aleta kemudian menyelesaikan makan malamnya.


********************

__ADS_1


__ADS_2