
Beberapa anak buah Bambang berangkat ke Klaten menggunakan mobil, untuk melakukan pengamatan situasi dan menunggu kelengahan dari Cokro. Mereka sudah berkoordinasi dengan agen penyedia
jasa preman yang ada di kota tersebut, untuk menimbulkan kekacauan sebagai
peringatan atas kesombongan dari Cokro. Setelah 8 jam perjalanan, mereka sudah
sampai di kota Klaten dan langsung menuju bekas gudang penyimpanan tembakau
untuk menemui agen penyedia preman yang dipimpin oleh Poleng.
Setelah mereka memarkirkan mobil di jalan kecil pinggir areal persawahan, mereka segera melewati pematang sawah untuk menuju gudang tembakau. Pemimpin rombongan dari Bandung yang bernama Usep
tampak sedang melakukan panggilan pada Poleng.
"Kami langsung menuju lokasi, dan saat ini sudah sampai. Siapkan 4 porsi makanan untuk kamisegera." Usep memerintah Poleng untuk menyediakan makanan untuk mereka. Hal ini dapat dimaklumi, karena selama beberapa jam menempuh perjalanan, mereka tidak memiliki waktu untuk sekedar berhenti di rest area.
Setelah panggilan Usep pada Poleng, dari dalam bangunan gudang tembakau tampak seseorang yang keluar dan
menghadang mereka di pinggir pematang sawah untuk menyambut kedatangan mereka.
Orang tersebut kemudian membawa rombongan Usep langsung masuk ke dalam gudang,
dan mempersilakan mereka untuk istirahat.
"Saya Gendhon anak buah Boss Poleng. Saat ini, Boss Poleng sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sambil
menunggu sarapan yang sedang kami pesan mungkin Bang Usep dan teman-teman bisa
istirahat terlebih dahulu." Gendhon menawarkan mereka untuk istirahat.
Tanpa menjawab ucapan Gendhon, Usep dan rombongan langsung merebahkan tubuh mereka di tempat seadanya, dantidak lama sudah terdengar dengkuran keras keluar dariu mulut mereka.
30 menit kemudian Gendhon membangunkan Usep karena makanan yang dipesan untuk mereka sudah datang.
"Bang Usep..., bangun..., makanan sudah siap." kata Gendhon.
Mungkin karena sudah lama mereka hidup di jalanan, respon mereka terhadap suara sepertinya sudah terlatih.
__ADS_1
Begitu mendengar suara Gendhon, Usep langsung bangun dan langsung memukul
tiga rekannya agar ikutan bangun.
" Kalian semua tidak ikut makan," Usep menanyakan pada Gendhon dan teman-temannya karena nasi yang
disediakan untuk mereka hanya sejumlah tiga bungkus.
"Silakan dinikmati Bang, kebetulan kami sudah makan dari tadi," jawab Gendhon sambil mengeluarkan
asap dari mulutnya yang sedang merokok Tingwe (melinting sendiri secara
manual).
"Biasanya Poleng tinggal dimana, apakah ini markas kalian." tanya Usep.
" Boss Poleng tinggal lumayan jauh dari sini. Sedangkan gudang ini, hanya sebagai base camp sementara.Karena misi kali ini agak rumit, maka untuk menghindarkan kecurigaan dari banyak orang, maka kami menggunakan gudang ini sementara sebagai base camp."
Bertepatan dengan mereka menghabiskan makanannya, Poleng terlihat memasuki bangunan gudang tua yang
"Untuk lokasi Panti Asuhan Rejeki berada kurang lebih enam kilometer dari tempat ini. Dan hasil pencarian
kami sudah menemukan lokasi tempat dimana kita bisa menemui Aleta. Dia saat ini
sedang kost di daerah Baki Sukoharjo, dan sepertinya dia sedang mengikuti
kegiatan kuliah magang di Solo techno. Target sama-sama mudah untuk kita
kendalikan. Apakah kalian akan tetap menggunakan ibu Panti Asuhan sebagai
target operasi, ataukan kita langsung mengunci ke TO utama yang Aleta
sendiri." Poleng memberikan laporan pengamatannya.
Usep terlihat berpikir sejenak.
"Kalau kita gunakan ibu asuh panti sebagai TO, akan mudah untuk meruntuhkan psikhologis dari Aleta. Aku yakin jika dia tidak akan memiliki keberanian, untuk menggunakan orang yang telah merawat dan mengasuhnya sedari kecil, menjadi korban dengan sendiri yang sebenarnya menjadi TO utama." kata Usep menyampaikan hasil analisisnya.
__ADS_1
Baiklah kita mengikut plan yang sudah dipikirkan. Tapi kita harus lebih hati-hati untuk menangkapnya, karena secara tata letak, panti itu berada di tengah kawasan pedesaan, dan dengan jumlah penduduk yang relatif banyak." sahut Poleng.
"Gendhon..., kamu bawa satu teman sore ini kamu amati lagi aktivitas sehari-hari dari Ibu panti agar
mempermudah langkah kita. karena kalau kita membawanya pada saat dia ada di dalam lingkungan panti, aku yakin akan banyak hambatan yang menghalangi kita." kata Poleng langsung memerintahkan pada Gendhon untuk menyiapkan penguncian TO.
"Siap Boss, aku akan mengajak Wawan untuk melakukan pengintaian dan mengunci target sore ini." Gendhon langsung menyanggupi perintah Poleng.
Kedua kelompok preman itu akhirnya memutuskan untuk bekerjasama, dan mereka menyusun rencana dan strategi untuk mengunci target utama penangkapan yaitu Aleta untuk melemahkan Cokro.
**********************************
Bambang tersenyum puas mendapatkan laporan jika anak buahnya yang dia kirim ke Klaten, sudah bertemu dan menyusun strategi bersama-sama untuk mengunci dan menangkap Target Operasi. Setelah itu, dia melakukan panggilan telepon pada adiknya Rengganis.
"Bagaimana ada apa mas. Jangan lama-lama ya karena posisiku saat ini ada di rumah keluarga Cokrodirjan."
Rengganis memberi jeda dalam perkataannya untuk mengambil nafas dan menghembuskannya kembali.
"Kamu tahu sendiri kan mas, jika tembok dalam rumah ini seakan-akan memiliki mata dan telinga. Apa yang aku rencanakan, apa yang ingin aku lakukan, laki-laki tua dan laki-laki lemah itu pasti akan mengetahuinya." Rengganis tanpa sadar menyampaikan keluhan pada kakaknya.
"Jangan khawatir adikku, sabarlah untuk sementara waktu lagi. Kita lihat dalam waktu kurang dari dua bulan, aku yakin keadaan akan berbalik pada keberuntungan kita." Bambang berusaha menghibur Rengganis adik perempuan satu-satunya.Karena keegoisan orang tua mereka terdahulu, mereka harus menyerahkan Rengganis sebagai menantu di keluarga Cokro.
"Baik mas, aku akan sangat bersabar agar dapat menikmati kekayaan yang tidak akan dapat kita habiskan selama tujuh turunan." sahut Rengganis.
Bambang tersenyum karena merasakan mood adiknya sudah mulai muncul kembali.
"Bagaimana kabarmu dengan laki-laki mantan yang kamu tinggalkan untuk menikah dengan Atmaja dulu." tanya Bambang tiba-tiba.
Mengingat kembali Wajah kekasih masa lalunya, yang sampai saat ini selalu memenuhi kebutuhan hasrat alaminya, yang tidak dia dapatkan kepuasan melalui Atmaja, menjadikan mood Rengganis menjadi semakin bagus.
"Rengganis akan meninggalkan Atmaja mas, saat aku sudah mendapatkan bagian dari hakku sebagai seorang istri. Tidak ada lagi yang dapat aku harapkan dari laki-laki penakut berjiwa kerdil seperti Atmaja. Seorang laki-laki yang selalu bersembunyi di ketiak bapaknya." kata Rengganis dengan emosional.
"Baiklah adikku, saat ini giliran aku untuk menyerang keutuhan keluarga Cokro, tetap standby untuk menunggu giliranmu untuk membalas dendam dan membawa pergi kekayaan keluarga itu," kata Bambang sambil tersenyum sinis menakutkan.
Kakak dan adik yang memiliki kesamaan sebagai pendendam itu akhirnya mengakhiri panggilan telepon mereka. Bambang kemudian membuat pengaturan anak buahnya yang lain, untuk melakukan pengawasan pada semua anggota keluarga Cokro untuk memotret kelengahan mereka.
********************************************
__ADS_1