
Untuk menghindari ajakan Raditya makan siang bersama, jam 12.00, Aleta sudah menuju mushola untuk mengerjakan sholat Dhuhur. Selesai sholat, Tutik mengajak keluar untuk makan siang bersama. Tanpa mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja, Aleta menyetujui ajakan Tutik untuk keluar bareng.
"Makan siang yukk Aleta," ajak Tutik.
"Dimana, cari sekitar sini saja ya. Aku ga bawa kendaraan soalnya." Aleta menyetujui ajakan Tutik untuk keluar makan siang bersama.
"Okay, langsungan saja ya."
Tutik dan Aleta bergegas keluar kantor untuk makan siang di sekitar Manahan. Setelah jalan kaki kurang lebih 100 meter\, akhirnya mereka sampai di warung ***ormal Solo.
"Nasi Kulit sambal domba 1, es jeruk 1," kata Aleta.
"Aku samaan juga," sahut Tutik.
"Baik, tunggu sebentar kakak," waitress beranjak pergi untuk menyiapkan pesanan keduanya.
"Aleta..., gimana kerja dekat pak Raditya. Enak, atau banyak gak enaknya," tiba-tiba Tutik kepo.
Aleta tersenyum mendengar kepoan Tutik.
"Gimana ya aku bilangnya. Enak sih, tapi ga enaknya itu kalau apa-apa maunya minta barengan." kata Aleta.
"Lha kalo itu sih, enak banget namanya. Siapa sih, gadis di Solo Techno yang tidak ngarepin pak Raditya. Sudah muda, wajah ok, pemilik perusahaan lagi." sahut Tutik.
"Tapi kenapa kamu malah bilangnya ga enak. Coba saja, aku bisa tukeran sama kamu. Hm...hm.., pasti hidupku akan bahagia banget," lanjut Tutik lagi.
"Bagiku ga enak sih, masak harusnya kerjakan aktivitas atau program-program kantor. Aku kadang malah diajakin makan siang bareng di dalam ruang kerjanya. Setiap tugas atau aktivitas perintahnya aku kerjakan, ga pernah ada feedback lagi. Bosen tahu," Aleta menyampaikan ketidak cocokannya dengan gaya kerja dari Raditya.
"Ya disikapi saja kalau pak Raditya puas dengan hasil kerjaanmu. Jarang lho ada kerjaan tanpa feedback dari atasan langsung. Aku dulu pernah tiga kali diberi tugas beliau, eh... lebih dari enam kali feedbacknya. Malah akhirnya aku dapat pindah tempat di bagian front line." Tutik menceritakan pengalamannya mendapatkan tugas dari Raditya.
Mendengar ocehan Tutik, Aleta hanya tersenyum tidak ikut menanggapinya. Tiba-tiba waitress datang mengantarkan pesanan mereka, dan meletakkannya di atas meja.
"Sudah semua ya kak," kata waitress.
"Iya, makasih mbak," jawab Aleta, langsung mengambil nasi dan minumannya.
Kedua gadis itu langsung menikmati makan siang bareng, dan mereka bisa tetap fokus makan tanpa ada gangguan dari manapun. Keduanya memutuskan makan siang dengan meninggalkan ponsel di meja kerja masing-masing. Setelah 10 menit berlalu, akhirnya mereka menyelesaikan makan siang barengnya.
"Kita balik kantor jam berapa," tanya Tutik.
"Bentaran ya, nanti pukul 12.45 kita berangkat dari sini saja. Paling di kantor juga sudah pada sepi, pada keluar makan siang." kata Aleta sambil menyesap es jeruk dengan sedotan.
"Aleta..., om-om yang pernah mengantarmu ke kantor waktu sebelum magang itu siapa," tiba-tiba Tutik menanyakan sesuatu.
"Om-om?" tanya balik Aleta.
__ADS_1
"Biar om-om tapi ok banget sih. Yang waktu hari Jum'at minggu lalu mengantarmu ke kantor." Tutik menjelaskannya.
"Owalah mas Devan kah. Hm..hmm..., dia suamiku Tut," kata Aleta sambil tertunduk malu.
"Apa? Uhuk..uhuk..., suamimu," Tutik sampai terbatuk-batuk merespon ucapan Aleta. Aleta langsung memijat punggung Tutik.
"Iya, mas Devan suamiku Tut, kenapa?"
"Sorry Aleta. Tidak apa-apa." jawab Tutik singkat kemudian menyesap minuman dari gelasnya langsung.
"Kemarin aku pikir kamu bawa sugar daddy ke kantor. Sorry ya Aleta...please," lanjut Tutik lagi.
"Tidak apa-apa Tut. Wajar kalau pikiran orang seperti itu kalau melihatku dengan mas Devan. Tapi kami menikah Tut, swear," kata Aleta sambil mengangkat dua jarinya ke atas.
"Iya.., iya..., aku percaya Aleta. Dan suamimu itu sepertinya sangat menyayangimu, dari kamu masuk sampai keluar lagi, tatapannya hanya fokus padamu."
Aleta tersenyum, dan saat dia melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 12.45, akhirnya dia mengajak Tutik untuk kembali ke kantor.
"Okay, yukk kita ke kasir dulu," sahut Tutik.
Aleta langsung berdiri kemudian melangkah ke kasir, dan memberikan 2 lembar uang ratusan ribu rupiah.
"Sudah, aku saja yang bayar." sahut Aleta pada Tutik.
"Makasih," ucap Tutik.
**************************************
Aleta langsung duduk di kursi kerjanya setelah datang dari makan siang bersama Tutik. Tiba-tiba Susan keluar dari ruangan Raditya.
"Dari mana kamu Aleta," tanya Susan.
__ADS_1
"Makan siang bu, bersama mbak Tutik bagian front line," sahut Aleta ramah.
"Ponselmu ada dimana, kok kami panggil-panggil tidak diangkat, kita chat juga tidak dibalas," Susan bertanya terkait panggilan telepon yang dia lakukan.
"Maaf bu, saya dan Tutik tidak membawa ponsel. Ponsel saya tinggal di dalam tas," sahut Aleta sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Besok lagi ponsel itu dibawa kemana-mana. Kebetulan kali ini tidak begitu penting, kalau ada penugasan penting, kamunya tidak bisa dihubungi, terus bagaimana,"
"Iya Bu Susan, mohon dimaafkan," kata Aleta sambil menangkupkan dua tangannya di depan dada.
Susan tidak menjawab, langsung pergi meninggalkan Aleta sendirian. Aleta kemudian membuka ponselnya, dan terlihat ada 5 miss call dari Raditya, dan 3 miss call dari Susan. Untuk menghilangkan kesan tidak baik Boss nya, Aleta menaruh ponselnya kemudian berdiri dan mengetuk pintu ruangan Raditya.
"Tok..., tok..., tok...,"
"Masuk," terdengar jawaban singkat dari dalam ruangan Raditya.
Aleta mendorong pintu ruangan Raditya kemudian masuk ke dalam.
"Maaf kak Radit, tadi Aleta tidak membawa ponsel. Jadi tidak tahu kalau ada miss call dari Kak Radit dan Bu Susan," Aleta meminta maaf pada Raditya atas kealpaannya tidak membawa ponsel.
"Duduklah dulu," Raditya mempersilakan Aleta duduk didepannya.
Aleta langsung duduk di depan Raditya.
"Tidak apa-apa, tadi kakak mau ajak kamu makan siang bareng. Tapi ternyata kamunya tidak ada, kakak telpon berkali-kali juga tudak diangkat, Susan juga begitu." kata Raditya.
"Maaf ya kak, tadi kebetulan Aleta pergi makan siang bareng Tutik, setelah selesai sholat di mushola. Ponsel Aleta tinggal di dalam tas. Mungkin ada kerjaan baru yang harus Aleta selesaikan siang ini kak." tanya Aleta.
"Kamu bantuin kakak untuk review beberapa draft poster yang dibuat oleh tim lain. Pilih tiga terbaik ya, soft file sudah aku kirim ke emailmu beberapa menit yang lalu."
"Baik kak, Aleta kembali ke meja kerja dulu ya."
"Tidak perlu, kamu bisa lakukan review disini. Itu ada laptop menganggur, kamu pakai itu saja dulu." sahut Raditya sambil menunjuk laptop di atas filling cabinet.
Tanpa banyak protes, Aleta segera mengambil laptop kemudian membukanya di atas sofa. Setelah beberapa menit, Aleta fokus pada soft file poster yang dikirimkan Raditya ke emailnya. Raditya diam-diam memperhatikan keseriusan Aleta dalam menekuni apa yang telah diperintahkannya. Memperhatikan komposisi warna, tulisan, dan image yang digunakan akhirnya Aleta memilih tiga poster menurutnya, kemudian memberi tahu tiga poster pilihannya pada Raditya. Diskusi kecil terjadi di antara mereka berdua, dan akhirnya pilihan Aleta menjadi pilihan Raditya juga.
*******************************************************
__ADS_1