Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Jawaban


__ADS_3

Kinara sangat bahagia mendengar berita tentang kehamilan menantunya. Dia meminta sepupu Devan untuk berbelanja ke pasar. Pagi itu dia masak banyak, dan berbagi dengan tetangga sekitar. Pukul 7 pagi keluarga Yang ada di Yogya sudah berkumpul di rumah Kinara, mereka menunggu berita kebahagiaan yang tadi pagi disampaikan Devan via panggilan telepon.


"Assalamualaikum." Devan tampak sedang menggandeng tangan Aleta berada di depan pintu rumah.


"Wa Alaikum salam," sahut mereka, dan Kinara langsung berdiri menyambut Aleta.


"Ayo kenalkan ini semua keluarga kalian."


Devan dan Aleta menangkupkan tangan di depan dada, memberikan salam kepada mereka.


"Kakek sehat." Aleta menyapa kakek suaminya yang sedang duduk di kursi.


"Alhamdulillah sehat nak, bagaimana dengan kamu dan Devan. Sehat juga kan?"


"Iya kek, berkat do.a kakek dan keluarga semua. Kami juga diberikan nikmat sehat."


"Syukurlah kalau begitu."


Aleta menyalami dan mencium tangannya, diikuti dengan Devan. Devan yang tidak terbiasa dengan suasana seperti itu hanya diam, dan duduk di kursi.


"Sayang, ayo gabung duduk di bawah. Kita kan masih muda, tidak sopan. Tante Kinanthi saja ikut duduk di bawah." Aleta mengajak Devan duduk bergabung dengan mereka, tetapi Devan menggelengkan kepala.


"Biarlah Aleta, Devan tidak terbiasa dengan suasana seperti ini. Lama kelamaan nanti sedikit demi sedikit dia akan belajar." sahut Mama Kinara.


Aleta kemudian bergabung dengan keluarganya yang duduk di bawah.


"Ada acara apa ma, sepertinya banyak masakan di atas meja?" tanya Devan.


"Syukuran Kecil-kecilan nak, tadi bagi-bagi makanan ke tetangga sekitar. Bersyukur mama mau punya cucu."


Devan agak terkejut dengan respon dari Keluarga mamanya. Bagaimana mereka mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan padanya. Hal ini belum pernah dilihat dalam keluarganya di Bandung.


"Sudah berapa bulan usia kehamilannya Aleta?" tanya saudara sepupunya.


"Tadi kata dokter sekitar 11 Minggu, kebetulan tadi kita cek dulu di RS sebelum berangkat kesini." kata Aleta sambil tersenyum, dan tanpa sadar dia mengelus perutnya.


"Lho sudah mau empat bulan. Budhe..., berarti nanti pas usia hamil mbak Aleta empat bulan, budhe mengadakan acara syukuran lagi ya."


"Inshaa Allah Rini, doakan Budhe banyak rejeki ya. Sehingga bisa mengadakan syukuran lagi, terus nanti juga pas usia kehamilan tujuh bulanan." sahut Kinara menjawab pertanyaan keponakannya.


"Mama..., sebenarnya Devan ada yang mau dibicarakan dengan mama. Boleh?" Devan meminta waktu Kinara untuk bicara berdua.


"Ayo kita ke kamar mama saja, disini terlalu ramai."

__ADS_1


Kinara dan Devan kemudian melewati mereka dan masuk ke dalam kamar Kinara.


"Ada apa nak, apa yang mau kamu bicarakan dengan mama?"


"Begini ma, Devan hanya mau tanya bagaimana kabar mama dengan papa? Papa pernah kesini kan ma."


Kinara terdiam sejenak, kemudian memandang putranya.


"Nak..., meskipun mama dulu waktu meninggalkan kamu dan papa, status mama masih istri dari papamu. Tetapi itu sudah tiga puluh tahun lebih nak, bagi mama kami sudah bercerai. Mama tidak bisa untuk saat ini, datang kemudian mengaku kalau mama adalah istri mas Atma."


" Kenapa mama tidak bicarakan hal itu dengan papa. Kasihan papa, meskipun tinggal dan hidup bersama dengan Tante Rengganis, tapi Devan tahu mereka hanya suami istri status dalam buku nikah. Rolland adik Devan, terlahir karena kecelakaan ma."


"Terus apa yang kamu inginkan dari kami nak. Mama sudah tua saat ini, usia juga sudah 53 tahun. Tinggal di kota ini sampai akhir hayat sepertinya menjadi keinginan mama saat ini."


"Devan ingin mama saat ini bersatu dengan papa. Dan semoga sebelum cucu mama lahir, keinginan Devan sudah bisa terwujud. Sehingga anak Devan memiliki kakek dan nenek yang lengkap."


Kinara tersenyum kemudian memeluk Devan.


"Apalagi yang mau kamu tanyakan sama mama nak."


"Sebenarnya hari ini, Devan dan Aleta mau mengajak mama ke Solo ma. Yah, daripada mama disini juga hidup sendiri kan?"


"Nanti mamah menyusul kesana sendiri saja Van. Biar nanti diantarkan Anwar. Kamu tahu kan, saat ini di rumah sedang banyak keluarga datang."


"Makanlah dulu dengan Aleta. "


"Tadi kami sudah sarapan di hotel. Kami langsung berangkat saja."


"Yah, baiklah kalau itu memang maumu."


Kinara dan Devan kembali keluar kamar.


"Mohon maaf, kami tidak bisa disini sampai siang. Banyak kegiatan yang harus kita selesaikan di Solo. Jadi kami mohon pamit." Devan meminta pamit pada keluarga.


"Lho, tidak menginap dulu disini ya. Ya sudah hati-hati di jalan ya nak." sahut Kinanthi.


Setelah berpamitan dengan semua, Devan dan Aleta kemudian balik ke Solo.


*************************


Rolland mengajak Jenny makan siang di luar kantor. Setelah memberi tahu kakek Cokro, mereka pergi berdua menuju rumah makan.


"Jenn..., apakah kamu tahu untuk apa aku mengajakmu keluar makan siang bareng."

__ADS_1


Jenny yang sedang mengaduk minumannya, menghentikan aktivitasnya kemudian melihat ke arah Rolland. Dia menggeleng.


"Aku hanya ingin menyampaikan pada kamu Jenn, bahwa aku serius menjalin hubungan kedekatan denganmu. Tetapi sebenarnya, aku belum siap membuat sebuah komitmen."


"Tetapi kakek memintaku untuk segera melamar kepada keluargamu. Yah, bagaimana lagi Jenn. Kamu juga tahu kan bagaimana suasana keluarga ku saat ini."


Jenny mengisap minuman menggunakan straw, kemudian mengambil French fries dan memasukkan ke mulutnya.


"Aku tahu Lland. Tapi aku juga ingin, orang yang akan membuat komitmen denganku berasal dari keinginannya sendiri, bukan karena paksaan dari siapapun. Meskipun juga ada sih, seperti Aleta yang akhirnya bahagia dengan Devan."


"Tapi aku tidak akan bisa sabar seperti Aleta."


Mereka sama-sama terdiam.


"Tapi aku ingin mencobanya Jenn, tapi semua aku kembalikan padamu. Kalau kamu mau, aku akan segera menyampaikan pada papa dan kakek. Dan nanti kita berdua akan mencari mama Rengganis, karena bagaimanapun dia adalah mama kandungku."


Jenny agak terkejut dengan perkataan Rolland, kemudian dia kembali memandang wajah Rolland.


"Rolland, pernikahan itu bukan mainan. Bukan masalah mau mencoba atau tidak."


Rolland tersenyum. Kemudian dia memegang tangan Jenny.


"Asalkan kamu bersedia Jenn, aku yakin kamu akan menemaniku mengisi hari-hari kita berdua. Kita akan wujudkan bersama sebuah keluarga sebenarnya."


Jenny tidak menjawab perkataan Rolland, dia hanya menatap matanya. Rolland tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Mau ya Jenn. Apa yang kamu inginkan dari hubungan ini. Please, tolong aku ya Jenn."


Setelah beberapa saat, akhirnya Jenny menganggukkan kepala. Rolland menciumi tangan Jenny, dan dari raut mukanya terlihat bahwa dia sangat bahagia.


"Tapi kamu harus melamarku sama keluargaku juga. Tidak hanya denganku."


"Apapun akan aku lakukan untukmu Jenn. Nanti aku akan sampaikan pada kakek, dan juga pada papa."


**********************


Author Punya Novel Baru


Kunjungi ya dengan judul"


PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura


Pada dikunjungi ya, terima kasih

__ADS_1


__ADS_2