Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Madu


__ADS_3

Devan memasuki meeting room, dan melihat Rico, Ridwan serta Anggoro sudah berada di dalam ruangan. Di depan mereka sudah tersedia kopi panas dan meal box. Setelah menyalami ketiganya, Devan langsung duduk di samping Anggoro.


"Sudah lama datangnya?" sapa Devan sambil tersenyum ramah.


"Sekitar 15 menit kita sudah berada di ruangan ini." Anggoro menjawab sapaan Devan.


"Ayo segera diminum dan dinikmari snack seadanya." Devan meminta mereka minum, dan mereka langsung menyesap kopi, kemudian meletakkannya kembali diatas meja.


"Tuan Devan.., kita mau melaporkan perkembangan terakhir dari kiriman somasi dari mbak Maurin. Tadi pak Anggoro menyampaikan jika pengacara mbak Maurin sudah menghubungi, katanya mereka mencabut tuntutan atas warisan almarhum pak Broto." Rico mengawali pertemuan mereka dengan melaporkan hasil komunikasi pengacara Maurin dengan Anggoro.


"Yah syukurlah kalau begitu. Berarti itu rejekinya Axel.., kasihan jika dalam usia segitu masih harus direpotkan dengan urusan pengadilan. Benar Angg.., laporan Rico?" Devan meminta Anggoro berbicara sendiri.


"Benar pak Devan.., tadi mereka saya minta untuk menyampaikan secara tertulis pencabutan somasi mereka. Dan tadi dalam perjalanan menuju kesini, sudah diemailkan surat pencabutannya, dan mereka juga sudah melakukan pencabutan berkas di pengadilan." Anggoro menyampaikan sendiri hasil komunikasinya.


"Sama ada yang mau kami sampaikan Tuan Devan, pak Anggoro. Saya dan Ridwan sudah berembug berdua, mengenai kelanjutan operasional perusahaan." kata Rico.


"Ya..., ada apa dengan kelanjutan operasional?? Ada rencana mau ekspansikah?" tanya Devan.


"Bukan itu Tuan Devan. Kami merasa mendapatkan beban moral yang sangat berlebih dengan memegang jabatan tertinggi di perusahaan. Kami berdua ingin menyerahkan kepemimpinan tertinggi di perusahaan pada Axel. Toh.., dia juga hampir 17 tahun, dan kami lihat dia juga jauh lebih dewasa." Ridwan menambahi perkataan Rico.


"Kalian itu sadar tidak bicara seperti itu?? Ingat apa yang tertulis dalam surat wasiat, dan meskipun dalam surat wasiat saat usia Axel 17 tahun, operasional perusahaan diserahkan ke tangannya, aku tidak akan mengijinkan. Tahun besok Axel akan melanjutkan studi di Jerman, sampai dia kembali ke negara ini lagi, kegiatan operasional perusahaan tetap menjadi tanggung jawab kalian berdua. Camkan itu!" Devan menegaskan kembali isi yang tertulis dalam surat wasiat.


"Terus sampai kapan Tuan kami harus bertanggung jawab?? Kami tetap akan berada di perusahaan, kami tidak akan meninggalkannya. Cuma melihat pandangan orang tentang kami, seperti orang-orang berpikir jika kami ini memanfaatkan aji mumpung." ucap Rico.

__ADS_1


"Jangan bantah saya, keputusan sudah bulat! Jika kalian mendengar ada yang membicarakan hal tersebut, cepat laporkan pada saya. Akan kami tindak secepatnya."


"Iya mas Rico.., mas Ridwan. Kalian berdua tidak bisa menolak apa yang sudah dituliskan dalam surat wasiat. Apa kalian berdua lebih rela jika operasional perusahaan kita serahkan pada mbak Maurin, sekalian jika mau menghancurkan perusahaan peninggalan almarhum pak Broto." Anggoro menambahkan.


Rico dan Ridwan saling berpandangan kemudian terdiam.


"Ke depan saya tidak mau lagi mendengar hal seperti ini. Bicarakan pada Axel langsung, jika usia anak itu sudah genap 17 tahun. Sepertinya sudah cukup perbincangan kita, saya harus segera pulang ke rumah. Silakan kalian tetap disini jika masih merasa nyaman duduk disini." Devan mengakhiri perbincangan.


"Iya pak.. saya juga ada janji untuk menemui client yang lain. Saya juga langsung ijin pulang pak." Anggoro juga langsung berpamitan pada Devan.


Rico dan Ridwan ikut berdiri, kemudian menjabat tangan Devan dan langsung meninggalkan ruangan itu.


*****************


"Ya Allah Dadd.., bikin kaget saja. Kok tumben jam segini sudah sampai rumah??" Aleta langsung save kerjaannya, kemudian berdiri dan membalikkan badannya. Tetapi Devan langsung dengan erat memeluknya dan bibir suaminya sudah menyergap bibirnya dengan cepat.


Mereka saling memagut dan menyesap manis bibir masing-masing untuk beberapa saat, dan saat meraka akan kehabisan nafas, baru Devan melepaskan pagutannya.


"Daddy kangen dengan Mommy.., makanya tadi ada tamu langsung tak suruh pulang. Ayo Momm.., mumpung anak-anak belum pulang kan?" bisik Devan di telinga Aleta sambil menatapnya mesum.


"Ingat umur Dadd.., kita sudah tidak muda lagi." Aleta mengingatkan suaminya.


"Usia itu hanya angka sayang, tetapi kebutuhan untuk dipuaskan dan memuaskan harus tetap terpenuhi." ucap Devan sambil melirik dengan mesum ke arah Aleta

__ADS_1


Pipi Aleta langsung memerah mendengar perkataan suaminya. Devan segera menarik istrinya dan membawa ke pelukannya. Sambil mengangkat pinggul istrinya, dia mengarahkan Aleta ke tembok kamar.


Bibirnya langsung kembali menyergap bibir, kemudian bergeser ke telinga dan perlahan turun ke leher Aleta. Meskipun usia Devan hampir berada di angka 50 tahun, tetapi karena olahraga dan pola menu makanan sehat yang dia konsumsi, semakin membentuk tubuhnya menjadi six pack.


"Aaahhh.., sshh.., Dadd.., kita masih berada di ruang ker..ja." bisik Aleta sambil mengeluarkan de..sahan manja, yang terasa seksi di telinga Devan.


"Kita akan melakukannya disini Momm.., keluarkan de..sahanmu sayang. Panggil namaku." Devan semakin menggila, tangannya dengan lincah melucuti kancing pakaian yang dikenakan istrinya. Tanpa menunggu lama, tubuh Aleta sudah tidak ada satu lembar benangpun.


Tubuh Aleta menggelinjang hebat, bahkan dia sudah tidak mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa lemas, dan tanpa melepaskan tubuh Aleta, Devan menggeser tubuh mereka ke arah pintu, kemudian mengunci pintu secara perlahan.


Kaki Devan menarik kursi kemudian dia duduk di atasnya, dan dia memangku istrinya dengan posisi menghadapnya. Kedua kaki Aleta berada di kanan kiri pinggang Devan, dan mereka menjadi semakin kehilangan kendali. Kedua squisy kembar dan kenyal yang ada di dada Aleta, menjadi pelampiasan Devan untuk memainkannya. Dengan cekatan, Aleta gantian melucuti pakaian yang dikenakan Devan.


"Daddy sangat suka menyentuhmu sayang. Tubuhmu semakin hari semakin kencang." tanpa henti, Devan memberikan pujian pada istrinya. Isapan, remasan selalu dia berikan saat bibirnya menemukan pijakan di setiap jengkal tubuh istrinya.


Seperti ada kekuatan yang mendorongnya, Aleta memperlakukan suaminya, sama seperti apa yang dilakukan Devan terhadapnya. Bibirnya yang mungil juga menari di tubuh suaminya..


"Uuuh... sshh.., aah.. terus Momm." mulut Devan sudah meracau tak terkendali. Penyatuan keduanya seperti madu yang selalu ingin dia nikmati setiap harinya.


"Give me.. kiss Mark..Momm." bisikan seksi dan serak keluar dari mulut Devan.


Tanpa menunggu ulangan perintah, Aleta melakukan apa yang diperintahkan Devan, dan secara perlahan dia menyatukan inti mereka dengan posisi woman on top.


********

__ADS_1


__ADS_2