
Karena Aleta sudah melebihi bulan dalam kegiatan magangnya, akhirnya dia mengajukan pengunduran diri. Raditya dan Susan agak terkejut karena keputusan diambil oleh Aleta terkesan mendadak. Padahal dalam rutinitas magang sehari-hari mereka merasa tidak memberikan pekerjaan yang berat pada Aleta. Bahkan, saat dia tidak bisa datang ke kantor, pengerjaan secara virtual juga mereka bolehkan.
"Apakah kamu sudah berpikir matang untuk mengundurkan diri dari sini Aleta." tanya Raditya di dalam ruangannya.
"Iya kak, mohon maaf ya jika kepulauan ini Aleta ambil secara mendadak." Aleta menjawab sambil memberikan senyuman.
"Alasannya apa Aleta? Apakah kamu merasa kalau kami terlalu berat dalam memberimu tugas." kata Susan.
"Tidak Ibu, Aleta sebenarnya senang bekerja disini. Apalagi kak Radit selama ini banyak membantu dan mempermudah Aleta dalam pengerjaan tugas-tugas."
"Tetapi yang utama adalah alasan keluarga. Suami saya kebetulan membuka cabang perusahaan baru di Sukoharjo, dan sekarang berpindah kesini sekaligus untuk menemani saya. Alasan yang kedua, adalah saya saat ini sedang hamil Bu Susan, dan baru ketahuan kemarin pagi."
"Hamil?" tanya Susan yang langsung menatap perut Aleta.
Aleta menganggukkan kepalanya.
"Iya Bu, dan ternyata sudah hampir 3 bulan usia kehamilan saya. Jadi untuk sementara saya hanya akan menyelesaikan urusan karya tulis untuk tugas akhir kuliah dan fokus merawat hamil saya."
Raditya tersenyum kemudian mengulum tangan pada Aleta.
"Selamat Aleta, kalau untuk alasan yang kedua itu. Aku tidak akan melarangmu keluar dari sini."
Aleta menerima jabat tangan dari Raditya, dan Susan yang kemudian juga mengikuti jejak Raditya.
"Terima kasih kak Radit, Bu Susan. Jadi Aleta besok pagi sudah tidak masuk lagi ya."
"Iya, selamat ya Aleta. Maaf ya kalau tadi saya sempat untuk melarangmu mengundurkan diri." kata Susan sambil tersenyum.
"Ya kak sama-sama. Terima kasih sekali atas bantuan kak Radit dan Bu Susan selama Aleta magang disini. Aleta jadi tahu bagaimana bekerja yang sebenarnya, dan banyak mendapatkan teman baru disini."
"Iya sama-sama Aleta. Kerjamu selama disini bagus kok, kamu malah ikut membantu teman-teman lainnya dalam menyelesaikan setiap ada masalah."
"Tapi nanti kami masih bisa chat via WhatsApp kan. Siapa tahu kami.butuh masukan darimu terkait pekerjaan."
"Siap pokoknya kak Radit. Solo Techno pokoknya selalu ada di hati Aleta. Kalau begitu saya ijin permisi dulu ya kak, Bu Susan. Masih banyak yang harus saya benahi dulu."
__ADS_1
"Iya, hati-hati. Salam untuk suamimu ya Aleta. Kenapa selama ini kamu tidak cerita kalau suamimu adalah Tuan Devan." sahut Raditya.
"Memang Bapak tahu suami saya?" tanya Aleta heran.
"Siapa sih yang tidak tahu suamimu di kampusku dulu. Beliau pernah kami hadirkan sebagai role model untuk young entrepreneur."
"Owalah jadi pak Devan itu suamimu Aleta. Sama juga, aku juga nitip salam dong."
"Terima kasih. Nanti malam Inshaa Allah Aleta akan sampaikan."
Aleta akhirnya keluar dari ruangan kerja Raditya, kemudian dia membereskan pekerjaan dan menata perlengkapan pribadinya. Beberapa perlengkapan pribadinya akan dia tawarkan pada teman-temannya, siapa tahu ada yang berkenan.
Setelah selesai beres-beres, dia masih duduk di kursinya. Meskipun dia sudah diijinkan keluar, tetapi dia tetap menunggu jam kerja di hari itu berakhir. Beberapa teman sudah dia kirim pesan via WhatsApp kalau besok pagi dia sudah tidak datang ke perusahaan itu lagi.
*********************
Mengira jika Istrinya membawa banyak barang, Devan tidak menunggu Aleta di mobil. Dia masuk langsung ke perusahaan dan minta ijin sama receptionis untuk menemui Aleta di kursinya. Tutik yang dari awal mengagumi Devan, langsung mengijinkannya untuk masuk menemui istrinya.
"Sayang, sudah selesai?" Devan menyapa Aleta, dan sontak mengagetkan istrinya.
"Lho kok boleh masuk sampai sini mas, memang diijinkan sama Tutik."
"Mana yang perlu mas bawa barangnya?"
"Tidak ada mas, semua barang-barang Pribadi Aleta, sudah Aleta berikan sama teman yang lain." jawab Aleta sambil berjalan menghampiri suaminya.
"Good job istriku. Ternyata istriku memang begini." Devan mengacungkan dua jempol tangannya pada Aleta.
Baru saja keduanya akan melangkah keluar dari ruangan, terdengar suara Bu Susan memanggilnya.
"Aleta.., sudah mau pulang?"
Aleta dan Devan berhenti kemudian menunggu kedatangannya. Melihat pria yang berdiri di samping Aleta, Susan menutup mukanya.
"Pak Devan.., ini suamimu ya Aleta?" Susan langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak Devan berjabat tangan.
__ADS_1
Devan melihat ke arah istrinya, dan setelah Aleta menganggukkan kepala, Devan baru menerima uluran tangan dari Susan. Susan basa-basi mengajak bicara pada Devan, kemudian memanggil Raditya sepupunya.
Mereka berbicara sebentar di sofa depan receptionis, dan teman-teman Aleta baru tahu jika suami Aleta bukan orang sembarangan. Mereka yang suka menyuruh Aleta jadi tidak enak hati. Tetapi Aleta tetap tersenyum pada mereka, tidak pernah mempersalahkan perlakuan yang telah dia terima.
Kemudian Susan dan Raditya mengantarkan mereka sampai di depan pintu lobby. Aleta melambaikan tangannya sebagai isyarat perpisahan.
"Bagaimana kabar putraku di dalam rahim Mommy?" Devan mengelus pelan perut Aleta
Aleta tersenyum kemudian ikut memegang tangan suaminya.
"Hari ini sebelum kita pulang ke rumah, istriku ingin makan apa?"
"Hah.., pinginnya sampai rumah. Kemudian Aleta mandi kemudian membaringkan tubuh di atas bed."
"Terus istriku ngidam apa dong. Katanya kalau trimester pertama kehamilan kebanyakan pada ngidam minta macam-macam."
"Mas.., mas, kalau Aleta ngidham dari awal sebelum ketahuan hamil, pasti minta macam-macam kan?"
"Iya juga ya, berarti putraku besok menjadi ampuh dong. Dari hamil saja tidak menyusahkan mama dan papanya."
"Aamiin, bukan ampuh mas tapi Soleh kalau cowok dan Soleha kalau cewek."
"Iya, iya..., mas Devan keliru ngomong. Beneran ini, kita langsung pulang ke rumah?" sekali lagi Devan menanyakan tujuan pada Aleta.
"Iya sayang Aleta." sahut Aleta sambil mendaratkan sebuah ciuman di pipi suaminya.
Devan terkejut, kemudian dia mencium bibir istrinya dengan sangat bernafsu.
"Mas, ..., sudah dong. Ini di jalan tahu. Bisa diintip orang dari luar. Ayo segera dijalankan mobilnya."
"Tenang istri mas yang cantik. Kaca mobil mas, aman dan bebas dari intipan orang-orang yang berniat usil."
"Terserah apa kata mas saja lah. Yang penting Aleta ingin segera sampai rumah, kemudian mandi dan akhirnya tidur. Titik."
"Siap."
__ADS_1
Devan kemudian langsung menjalankan mobilnya, dengan arah langsung pulang ke rumah. Bagi dia saat ini, perintah dari Aleta merupakan titah yang harus dia jalankan. Aleta melirik ke arah suaminya, dia tersenyum gembira melihat tanpa protes Devan menjalankan apa yang sudah dia katakan.
*********************