
Setelah selesai mendapat tanda penerimaan dan persetujuan dari dosen pendamping selama studi di perguruan tinggi yang ada di USA, Devan mengundang orang dari Biro perjalanan untuk mengurus pembuatan visa tinggal di negara tersebut. Mereka akhirnya menyepakati Harvard University sebagai tempat untuk melanjutkan studi dengan mengambil jurusan Administration Business untuk Arick, Arend mengambil Technology, sedangkan Axel mengambil Hukum. Devan dan Aleta sekalian dibuatkan Visa, karena untuk sementara Aleta akan mendampingi ketiga putranya disana. Setelah mereka bisa menyesuaikan diri, Aleta baru akan kembali ke Indonesia.
"Axel.., besok pagi dengan pak Asep jangan lupa ke bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Ingat papamu akan berkunjung kesini untuk menemui kamu." Devan mengingatkan Axel jika papa biologisnya akan datang ke Bandung.
"Iya Dadd.., papa juga sudah kirim chatt dan email sama Axel. Arend dan Arick akan menemani Axel besok. Jam 06 pagi kita berangkat dari sini." Axel mengkonfirmasi pemberitahuan Devan.
"Siapa Dadd.. yang akan berkunjung kesini?" Aleta muncul dari arah dapur membawa minuman dan kudapan untuk mereka. Dia meletakkan nampan diatas meja, di belakangnya Cynthia membawa cangkir kosong.
"Itu papanya Axel akan berkunjung kesini. Kan Daddy sudah pernah cerita kan sama Mommy. Besok anak-anak mau menjemput di bandara Soekarno Hatta disopiri pak Asep." Devan menerima cangkir yang sudah diisi teh panas dari tangan Aleta.
"Wah asyik dong. Cynthia boleh ikut tidak?" Cynthia tidak mau ketinggalan.
"Mobilnya kesempitan sayang.., kan jarak jauh. Lagian juga belum tahu kan papanya Axel bawa teman atau tidak kesininya. Besok juga Cynthia sekolah." Aleta menjawab Cynthia.
Karena belum ada kesepakatan bersama antara Rolland dan Jenny, Chyntia memang untuk sementara ikut tinggal di rumah keluarga Cokrodirjan. Pemikiran Devan dan Aleta, khawatir mempengaruhi pola tumbuh kembangnya jika menyaksikan keributan antara papa dan mamanya.
"Yaahhh.., okay deh. Cynthia jadi anak sekolahan saja besok."
Devan tersenyum kemudian mengacak-acak rambut keponakannya itu.
"Oh iya Axel.., besok papamu tidur dimana?? Hotel atau di rumah ini, disini saja Axel. Kan ramai-ramai sekalian aku ngelancarin bahasa Inggris." Cynthia bertanya pada Axel.
"Diminta tidur disini saja Axel, kan banyak kamar tamu kosong tuh di dekat kolam renang. Lagian, agar lebih mengakrabkan kamu sama papamu. Coba kalau tidur di hotel, apa Axel akan ikut tidur dengannya dan keluar dari rumah?" Aleta menyarankan.
"Coba besok Axel sampaikan pada papa Momm. Axel belum kepikiran bertanya sih. Tapi kalau papa ingin menginap di hotel, Axel kalau malam tetap akan pulang ke rumah kok Momm. Jadi Mommy tidak perlu mengkhawatirkan Axel." jawab Axel.
__ADS_1
"Iya sayang.., Mommy percaya sama Axel. By the way... kemana Arend sama Arick.. kok dari tadi Mommy ga lihat mereka?" tiba-tiba Aleta teringat si twins.
"Daddy tadi belum bilang ya sama Mommy. Mereka ikut futsal di lapangan ujung desa sana, tadi pamitan sama Daddy. Sorry Daddy lupa kasih tahu." Devan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sebagai isyarat permintaan maaf.
"Uncle kebanyakan makan brutu aunty, kata mama kalau kebanyakan Brutu katanya jadi pelupa. He..he..he.." celetuk Chyntia.
"Iya tuh Chyn.. Kok kamu tumben ga ikut main futsal Xel?"
"Lagi malas Momm..., capai tadi pagi sudah ikut basket sama teman-teman. Lagian besok kan harus bangun pagi, siap-siap jemput papa di bandara."
Mereka berempat mengobrol di ruang keluarga sampai menjelang Maghrib.
***********************
Triple A menunggu kedatangan papa Axel di lounge eksekutif yang ada di bandara. Dengan koneksinya, Devan sudah mengatur penjemputan mobil lounge sampai di tangga pesawat untuk menjemput papanya Axel. Dia harus menjaga nama baik keluarga Cokro dengan memuliakan tamu jauh.
"Ambil disana tuh, dekat microwave. Sekalian nitip.. bawain mendoan sama bakwan. Aku laper, tadi pagi ga sempat sarapan." jawab Arend.
"Memang kamu doang yang tidak sarapan? Kita semua ga ada yang sarapan tahu. Lihat tuh si Arick.., dia antri nasi goreng tuh." Axel menunjuk Arick yang berdiri antri untuk ambil nasi goreng. Arend menoleh ke arah Arick, kemudian membuat kode untuk mengambilkannya juga. Arick memonyongkan mulutnya. Axel segera meninggalkan Arend yang masih duduk sambil minum es cendol.
Tidak berapa lama, Arick datang membawa 3 piring nasi goreng. Setelah meletakkannya di meja, kemudian dia duduk di samping Arend.
"Busyet.., masak di lounge mau ambil nasi goreng saja antri." keluh Arick.
"Terang dong... ini kan jam kritis, orang yang mau terbang butuh ngisi perut dulu. Kalau ga mau antri, ikut nih ambilnya es cendol. Sueger dan pastinya tidak antri."
__ADS_1
"Kamu saja yang seleranya aneh. Pagi hari harusnya minum yang pans-panas, kamu malah ambil es cendol. Nikmati saja sendiri, jangan ajak orang lain sengsara."
"Ha..ha..ha.., ga pa pa yang penting beda." Arend kemudian mengambil nasi goreng di atas meja, dan kebetulan Axel juga datang membawa piring kecil berisi gorengan penuh.
"Uhuy.. cocok nih. Makan nasi goreng, lauknya juga gorengan." sahut Arick sambil mencomot tahu isi dari atas piring.
Beberapa orang yang nongkrong disitu melihati mereka bertiga sambil berbisik-bisik. Tiga laki-laki muda dengan wajah tampan berkumpul dalam satu meja, dan seperti orang kelaparan tidak henti terus mengunyah. Apalagi hal ini terjadi di pagi hari, saat orang baru mau menunggu penerbangan.
Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat dari Jerman tujuan Jakarta sudah mendarat. Arick menghentikan kunyahannya, kemudian menyenggol Axel.
"Xel.., kamu dengar tuh. Pesawat papamu sudah landing. Siap-siap kita!" kata Arick mencoba mengingatkan Axel.
"Halah sabar dulu. Kita disini, belum juga tangga untuk turun dari pesawat di pasang. Tunggu saja.., 30 menit paling papanya Axel baru nyampe disini. Belum nanti orang yang ngurus bagasi papanya Axel." dengan tenang Arend terlihat santai.
"Benar juga ya. Xel.., gimana perasaanmu? Deg-degan ya, mau ketemu papa biologismu." tanya Arick.
Axel menghirup nafas, kemudian mengeluarkannya.
"Iya Rick.., tapi sedikit saja deg-degannya. Meskipun ada papa biologis Axel, Daddy Devan tetap papa luar biasa untuk Axel." jawab Axel sambil mengangkat dua jempol tangannya.
"Pasti dong, kan papa biologis kita." sahut Arend sambil terus mengunyah.
"Iya..iya.., percaya aku Rend. Mommy Aleta juga mama paling hebat di dunia ini."
Tiba-tiba di pintu masuk lounge, terlihat ada laki-laki berperawakan bule dengan penampilan mirip Axel masuk dengan menggandeng seorang anak gadis. Axel langsung terpaku menatapnya, sampai Arend menyenggol bahunya.
__ADS_1
***************