
Merasa tidak ada manfaatnya melakukan perlawanan, Aleta pasrah pada sikap dan perilaku Devan. Saat ini bagi dia, menutup mulut adalah cara yang paling baik yang dapat dilakukannya saat ini. Meskipun dia tidak habis pikir dengan kelakuan tiba-tiba dari Devan, tapi mendiamkannya mungkin bisa menenangkan perasaannya. Bahkan pakaian yang dia kenakan saat ini sudah tidak berbentuk, terdapat robekan pada baju atasnya yang memperlihatkan kulit mulusnya.
Masih dengan nafas terengah-engah menahan emosi, Devan duduk di sisi kanan Aleta, dengan tangan yang memegang erat pinggangnya. Pada sisi kemudi, Ijonk merapatkan kedua kakinya dan tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya berharap mobil yang dia bawa bisa terbang dengan sendirinya, dan cepat sampai di tujuan.
Setelah mengatur nafas dan emosinya, Devan perlahan memejamkan matanya. Tangannya masih memegang erat pinggang istrinya, seakan ada perasaan takut kehilangan dan ditinggalkan. Perlahan Devan membuka matanya dan melirik Aleta, dan dia tersadar dengan sikap kasarnya barusan. Tubuh bagian atas Aleta terekspos mulus karena robekan pada bagian dada sampai pangkal lengannya. Dia berpikir tidak mungkin akan membawa pulang istrinya dalam keadaan yang mengenaskan. Apalagi Rolland dan kakeknya masih ada di rumah.
"Ijonk...., hentikan mobil di hotel Novot** depan kanan jalan. Ambilkan kamar atas namaku," tiba-tiba Devan memberikan instruksi pada Ijonk.
"Baik Tuan," jawab Ijonk singkat.
Sementara itu, Aleta hanya bisa pasrah dan melirik suaminya yang terdiam di sampingnya. Dia pasrah untuk menerima nasibnya hari ini.
Setelah beberapa saat, Ijonk menghentikan mobil di depan lobby hotel, dan langsung keluar dari mobil untuk book room atas nama Tuannya. 10 menit kemudian, Ijonk kembali masuk ke dalam mobil. Dia membuka kembali partisi yang menyekat kursi depan dan kursi tengah.
"Ini Tuan acces card untuk lift dan room,, kamar ada di lantai empat" Ijonk menyerahkan acces card tanpa berani memandang situasi pada kursi belakang.
"Buka pintu mobil untukku." Devan memerintah Ijonk kembali.
Tanpa menunggu pengulangan perintah, Ijonk membuka pintu mobil Tuannya. Begitu pintu terbuka, Devan turun kemudian menarik Aleta dan menggendongnya dengan gaya bridal style memasuki hotel.
Tanpa diminta, Ijonk mengikuti Devan kemudian menitipkan mobil pada petugas valet hotel. Dengan sigap, Ijonk mengambil acces card dari tangan Devan, kemudian berjalan di Depannya untuk membukakan pintu lift.
__ADS_1
Beberapa orang di lobby hotel, tersenyum dan berbisik-bisik melihat mereka. Tetapi melihat tatapan dingin dan keras berisi peringatan, mereka akhirnya terdiam. Aleta menyembunyikan wajahnya di dada Devan menahan malu. Tetapi dia merasa, tiba-tiba mukanya memanas, dan muncul keinginan menghirup aroma unik yang terasa akrab dan membuatnya tenang. Tanpa sadar dia menggosok-gosokkan hidungnya untuk mengendus dan meraup aroma khas maskulin dari dada suaminya.
"Kamu sampai depan pintu kamar saja Ijonk. Kemudian ambil beberapa pakaian di outlet batik Sogan yang ada di lobby atas namaku. Minta bantuan pada receptionis hotel yang perempuan untuk membantumu." Devan memberi perintah lanjutan pada Ijonk.
"Baik Tuan."
Nafas Devan tiba-tiba memburu dengan mata serasa berkabut, merasakan gerakan dan endusan Aleta di bagian sensitif yang ada di dadanya. Seketika tubuh bagian bawahnya serasa ingin melompat keluar dari sarangnya. Untungnya pintu lift segera terbuka. Bergegas Ijonk mencari kamar sesuai nomor yang tertera di acces card, dan setelah menemukannya segera membukakan pintu untuk memberikan akses jalan bagi Tuannya yang sedang menggendong istrinya.
"Tuan, saya langsung turun untuk mencarikan pesanan Tuan," kata Ijonk pamit tidak berani melirik mereka. Tanpa menunggu jawaban, Ijonk sudah kabur melarikan diri dari situasi panas tersebut.
*******
Perlahan Devan membaringkan tubuh Aleta di atas king size bed hotel. Tangannya terasa kebas sesaat, tapi sedikitpun tidak dia pedulikan. Dia hanya memiliki keinginan untuk memiliki dan memasuki istrinya saat ini.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tidak menunggu waktu lama pakaian keduanya sudah teronggok di lantai kamar. Tubuh pasangan suami istri itu saling membelit, saling terjalin, dan saling meraup aroma masing-masing untuk memenuhi dahaganya. Bagian inti masing-masing saling bertemu untuk mencari kepuasan.
"Sayang..., jangan tinggalkan mas lagi," terdengar rintihan sakit Devan saat mereka melakukan penyatuan bersama. Rasa marah, kesal dan emosi terasa menguap ikut terlepaskan bersamaan dengan pelepasan hangat Devan di rahim istrinya.
********
"Maafkan sikap kasar mas tadi ya sayang," ucap Devan lembut sambil memainkan rambut istrinya.
__ADS_1
Saat ini Aleta berbaring kelelahan dengan kepala di atas dada suaminya. Setelah mereka menyatu bersama di atas bed, mereka berlanjut dengan ritual mandi bersama. Seakan telah terpisah untuk beberapa tahun lamanya, ritual mandi mereka berakhir kembali dengan penyatuan tubuh mereka.
"Aleta juga minta maaf mas, atas sikap kekanak-kanakan Aleta. Tanpa meminta penjelasan apapun, Aleta pergi meninggalkan mas sendiri." ucap Aleta tulus.
"Kita pulang ya hari ini, kakek dan Rolland ikut repot mencari keberadaanmu." kata Devan lembut.
"Jangan khawatir, kakek punya bukti kuat yang menunjukkan kalau mas tidak bersalah. Bukannya malam itu di Ubud, semalaman kita bergulat di atas sofa, ranjang, bahkan di kamar mandi. Bagaimana bisa mas tiba-tiba ada di kamar Maurin, padahal ada 100 meteran jarak kamar kita dengannya." Devan mengingatkan kembali kejadian malam saat mereka berada di Bali.
Mendengar pengingat yang disampaikan suaminya, pipi Aleta merona menahan malu.
"Mas, jangan diulang-ulang lagi kalimatnya. Aleta malu mas," bisik Aleta.
"Ha .ha...ha..., kamu malu sayang mengingat malam romantis kita? Saat ini saja kamu tidak mengenakan apapun berbaring di atas dada mas kamu tidak merasa malu." kata Devan sambil tertawa menggoda istrinya.
"Aahhhh, hentikan mas," seru Aleta dengan muka memerah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tapi mas suka sayang, tanpa lelah kamu selalu mengimbangi dan memuaskan keinginan mas kapanpun."
"Sudah masss, kuping Aleta jadi panas," teriak Aleta sambil menutup kedua telinganya dengan menggunakan jari telunjuknya.
Melihat keimutan istrinya, Devan menjadi lebih bersemangat menggodanya dan tanpa bisa dicegah uap lahar panas kembali menyerbu di bagian inti Devan. Perlahan Devan memindahkan kepala Aleta di atas bantal, kemudian menempatkan badannya di atas tubuh Aleta. Tanpa penolakan sedikitpun, Bibir Devan kembali melakukan eksplorasi dan berpetualang di setiap jengkal bagian tubuh istrinya. Suasana panas di luar hotel, seakan menyerbu masuk berpindah ke dalam kamar.
__ADS_1
********