Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kenyataan


__ADS_3

Aleta menyiapkan nasi goreng dan telur dadar untuk mereka sarapan di pagi hari. Dua gelas teh manis panas juga sudah dihidangkan di atas meja makan. Setelah semuanya siap, dia masuk kamar dan melihat suaminya sudah siap untuk berangkat.


"Berangkat pagi mas, Aleta sudah buat nasi goreng pagi ini. Sarapan pagi dulu ya." ucap Aleta.


Devan menghampiri istrinya, kemudian membawanya kembali keluar kamar.


"Aleta..., mau ikut mas pagi ini, atau nanti siang minta pak Asep mengantar ke perusahaan." katanya dengan penuh kasih sayang.


"Kayaknya Aleta di apartemen saja mas, lagi malas mau pergi. Paling nanti buka laptop saja, mau komunikasi dengan kak Radit. Siapa tahu kegiatan magang bisa dilakukan secara online."


Devan terdiam mendengar jawaban istrinya, kemudian mereka duduk di meja makan. Aleta mengambilkan piring dan mengisi nasi goreng serta telur untuk sarapan Devan. Kemudian mereka mulai menikmati sarapan bersama.


"Mas Devan, hari ini mau pulang ke rumah keluarga tidak?" tanya Aleta.


"Mas ikut Aleta saja. Kalau Aleta mau kesana, nanti tunggu mas pulang kerja, atau berangkat duluan dengan Asep kesana. Nanti mas, menyusul saja." kata Devan sambil menyesap teh.


"Kok ikut sih. Aleta hari ini rasanya malas kemana-mana mas. Rencana hanya buka laptop terus tidur, rasanya lelah banget."


"Ya sudah, berarti kita hari ini di apartemen saja. Kakek juga mau ke perusahaan hari ini, katanya ada yang mau disampaikan pada Devan. Semalam waktu kita di mall, kakek kasih tahu."


"Iya mas, lebih baik Aleta di rumah kan. Kalau ada Aleta disana, kakek mesti ada yang beliau tutup untuk disampaikan ke mas." kata Aleta sambil memberesi piring kotor tempat makan mereka.


"Mas langsung berangkat ya. Pintu dikunci dari dalam kalau istirahat."


Aleta mengantarkan Devan sampai di depan pintu.


"Sudah, tidak perlu mengantar sampai bawah. Sampai disini saja. Assalamualaikum." Devan memberikan kecupan di kening Aleta.


.


"Wa Alaikum salam, Hati-hati di jalan mas." Aleta mencium tangan suaminya.

__ADS_1


Setelah Devan memasuki lift, Aleta segera kembali masuk ke dalam, kemudian mengunci pintu. Dia langsung membuka laptop, dan melakukan pengecekan email.


Ternyata banyak email masuk dari teman-temannya, ada Ferdinand, Sasa, dan dari Raditya. Setelah membalas email, Aleta kemudian mengirim pesan pada Raditya via aplikasi WhatsApp web.


"Selamat pagi kak Radit. Aleta mohon maaf ya kak, belum bisa balik ke Solo. Masih ada hal yang harus diselesaikan di Bandung." Aleta menulis chat dengan Raditya.


"Yah, sebenarnya kalau ijin kelamaan sih. Kakak tidak enak dengan karyawan lain Aleta. Tapi ini kakak lampirkan beberapa pekerjaan yang dapat kamu kerjakan secara online ya. Jadi meskipun kamu berada di kota lain, kamu masih kakak hitung masuk kerja." tanpa diduga, Raditya langsung merespon chat Aleta.


"Benar kak Radit? Alhamdulillah, iya kak. Aleta setuju. Kakak bisa kirim via chat di WhatsApp atau kirim via media sosial yang lain. Akan segera Aleta selesaikan."


"Iya, kakak kirim via email saja. Deadline nanti siang, sanggup ya."


"Siap laksanakan kak Radit, Inshaa Allah Aleta langsung kerjakan. Kebetulan Aleta juga pas sendirian di apartemen, jadi siap untuk kerja online."


Raditya menjawab dengan emoticon thumb. Aleta kemudian masuk lagi ke email, dan ternyata Raditya sudah bergerak cepat. Email kerjaan sudah dikirim ke Aleta.


***********************


Devan menemui Cokro di ruang kerjanya, dan sudah berpesan pada sekretaris agar tidak ada gangguan dari siapapun. Bahkan Rolland juga tidak diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam.


Cokro mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskan keluar.


"Devan..., kakek harap apa yang akan kakek sampaikan siang ini tidak akan merubah sikapmu. Kakek juga baru mengetahui hal ini kemarin sore." ucap Cokro pelan sambil menatap cucunya.


"Iya kek, Devan akan berusaha." Devan menjawab perkataan kakeknya.


"Kemarin sore, papamu baru mengaku pada Kakek. Sebenarnya Rengganis, hanyalah mama asuhmu, bukan mama yang melahirkan kamu."


Devan agak terkejut dengan ucapan kakeknya, tetapi dengan cepat dia merubah sikapnya. Dengan serius, Devan memperhatikan kakeknya berbicara.


"Mama kandungmu bernama Kinara, dan dia meninggal pada waktu melahirkan kamu. Untuk berada dimana kuburnya, kakek tidak tahu. Kamu bisa menanyakan sendiri pada papamu nanti Devan."

__ADS_1


"Rolland itu sebenarnya dia berbeda ibu yang melahirkan. Adikmu Rolland itu putra dari Rengganis dan papamu. Untuk cerita lebih jelasnya, kamu bisa menanyakan sendiri pada Atmaja." lanjut Cokro. Wajahnya tampak lebih tua dari biasanya.


Devan dan Cokro sama-sama terdiam, keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tapi mengingat usia kakeknya, Devan berpikir tentang dampak terhadap kesehatannya.


"Sekarang mama Rengganis dimana kek, Devan ingin menemuinya." akhirnya Devan membuka pembicaraan.


"Kata Atmaja, Rengganis sudah meninggalkan rumah tadi malam. Hari ini dia juga sudah mengajukan gugatan cerai pada papamu. Kakek sendiri bingung harus bercerita dari mana Devan."


Cokro kemudian mengambil ponselnya, dan membuka galeri foto, kemudian menunjuk foto perselingkuhan Rengganis dengan Jatmiko. Devan menerima ponsel dari kakeknya, kemudian melihat beberapa foto dan rekaman videonya.


"Ternyata karena perlakuan Atmaja padanya, akhirnya Rengganis menjalin hubungan dengan laki-laki dari masa lalunya. Dan ternyata Atmaja juga sudah mengetahuinya sejak lama." ucap Cokro yang tampak lelah.


Melihat kelelahan kakeknya siang ini, Devan kemudian menahan kakeknya untuk tidak menceritakan semua. Dia akan berusaha mencari tahu sendiri.


"Kakek..., sekarang Devan antar kakek pulang ke rumah ya. Kakek istirahat, dengan cepat Devan akan mendapatkan semua informasi. Kakek tidak perlu menceritakan semua pada Devan." sahut Devan yang langsung berdiri, kemudian menghampiri Cokro.


Cokro memandang cucunya. Kedua tangan cucu pertamanya memegang pundaknya, dan menganggukkan kepala.


"Ayo kek, kita pulang. Devan sudah 32 tahun kek, Devan siap menghadapi semuanya." Devan merangkul kakeknya kemudian membawanya keluar dari ruang kerja.


Diluar ruangan, ternyata Rolland melihat mereka. Kemudian dia bergegas menghampiri mereka.


"Lho ada kakek di kantor ya hari ini. Kok tadi pagi tidak bilang sama Rolland kek, jadi Roland bisa menjemput." Rolland menyapa mereka.


"Iya lland, ini kakek cuma mampir saja. Tadi ada janji ketemu sama kolega, terua sekalian minta diantarkan ke sini." sahut Cokro yang masih menutup kebenaran dari Rolland.


Devan memberi kode pada Rolland lewat matanya untuk tidak mengejar pertanyaan dengan kakek. Untungnya Rolland memahaminya.


"Ya sudah, Rolland masih ada aktivitas lain. Kakek dengan kak Devan dulu ya." kata Rolland tersenyum kemudian pamitan dengan kakeknya.


"Iya, silakan lanjutkan aktivitasmu nak. Kakek akan istirahat di rumah, ini mau diantar kakakmu."

__ADS_1


Akhirnya Devan dan Cokro ditinggal Rolland, kemudian keduanya langsung turun menggunakan lift khusus Direksi.


************************


__ADS_2