Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Pembelaan


__ADS_3

Melihat mata bening istrinya mengerjap kebingungan, Devan menghampiri dan duduk di bagian atas ranjang.


"Sudah bangun istriku sayang." dengan manis Devan menyapa Aleta.


"Aku laper," jawab Aleta dengan polosnya.


"Mandilah terlebih dahulu, nanti kita keluar untuk mencari makan." sahut Devan lembut.


Aleta berusaha bangun dari tidurnya, dan baru ingat bahwa tubuhnya tidak mengenakan sehelai benangpun. Selain itu dia kaget, melihat bagian depan tubuhnya dari leher sampai perut penuh dengan tanda merah ulah nakal suaminya.


"Awwwww, mas Devan jahat, nakal." katanya sambil memukuli suaminya.


Devan tidak melawan, sebaliknya dia malah terpukau matanya tidak berkedip, karena baru kali ini dalam keadaan waras dia baru menyadari istrinya yang mungil memiliki tubuh yang bagus. Perutnya tipis tidak ada lemak yang mampir, kakinya ramping dan jenjang, dan semua yang menempel di badannya memiliki ukuran yang pas. Jakun Devan mulai naik turun, dia menikmati pukulan istrinya yang menampilkan pemandangan yang membuat nafas laki-laki menjadi kembang kempis.


Beberapa saat Aleta sadar pada tatapan mata suaminya mengarah kemana.


"Mesummmm, ini matanya kemana-mana." seru Aleta sambil melempar bantal ke muka suaminya.


"Ha..ha..ha." Devan tertawa lebar melihat keimutan istrinya. Dia sendiri merasa kaget, sudah lama dia tidak pernah menikmati tertawa lebar.


"Pergi keluar kamar, Aleta mau ke kamar mandi." kata Aleta mengusir Devan keluar kamar.


"Kenapa malu? Malu sama siapa sayang. Setiap jengkal tubuhmu, mas sudah hafal luar dalam." sahut Devan menggoda Aleta.


"Ahhhh, pergi," teriak Aleta sambil menutup wajahnya.


Dia masih merasa risi harus berjalan ke kamar mandi tanpa pakaian, meski Devan adalah suaminya.suaminya. Dia melirik bajunya yang teronggok di depan meja.


"Mas Devan jahat..., itu bajunya Aleta baru makai satu kali. Sekarang untuk lap saja sudah tidak bisa."


Devan semakin gemas melihat tingkah lucu istri mungilnya, dalam keadaan seperti ini masih bisa memikirkan pakaiannya yang sudah sobek.


"Tenang sayang, itu di atas sofa sudah banyak dikirim gantinya sama Joni." kata Devan sambil menunjuk tiga paper bag di atas sofa.


Aleta tetap cemberut memanyunkan bibirnya. Devan sudah tidak kuat melihat istrinya yang tampak semakin imut dan menggemaskan di matanya. Dia langsung beranjak dari ranjangnya, kemudian tanpa diduga dia langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Awww..aw.. lepaskan." teriak Aleta sambil memukul kembali suaminya, tapi tidak dipedulikan oleh Devan.


Tanpa ada yang tahu dan apa sebabnya, seketika pasangan suami istri itu tidak terdengar suaranya lagi. Suasana menjadi hening, hanya suara nafas yang saling mengejar terdengar dari dalam kamar mandi.


*****


Devan menggandeng tangan istrinya menyusuri halaman hotel, kemudian masuk ke Tr**s Mall untuk mencari makan. Sebenarnya Devan akan memesan makanan melalui room service, karena kasihan melihat istri mungilnya kecapaian. Tapi Aleta ngotot ingin makan di luar, sehingga mereka sekarang berada di tempat ini.

__ADS_1


"Mas...., Aleta pingin makan nasi goreng sapi ***Aria." kata Aleta sambil menunjuk restoran fast food yang dominan penggunaan warna ungu kemerahan.


"Ya, tapi ga boleh sering-sering makan makanan fast food. kurang sehat." sahut Devan tapi tetap menurut keinginan istrinya.


Aleta langsung menuju kasir untuk order makanan.


"Nasi goreng sapi 1, samosa 1, orange Juice 1," kata Aleta pada petugas kasir.


"Mas Devan mau pesen apa." tanya Aleta.


"Disamakan saja, mas bingung mau makan apa." jawab Devan bingung, karena baru pertama kalinya makan di tempat seperti ini.


"Mbak jadinya semua dua dua ya."


"Ya kak, semuanya jadi 180.000."


Aleta mengambil dompet dari dalan tasnya,. tapi Devan sudah lebih dulu mengulurkan Kartu debit kepada cashier.


" Di tap saja mbak tidak perlu pakai pin." kata Devan


"Ya bapak."


Aleta mengajak Devan duduk di pinggir kaca pembatas, karena dari situ bisa melihat orang yang lalu lalang di luarnya.


"Kamu sering makan di ***Aria." tanya Devan.


"Oh Ferdi pacarmu yang dulu itu ya, yang kamu sampai nangis nangis waktu mau nikah sama aku." ledek Devan.


Tiba-tiba Aleta terdiam, dan langsung membayangkan wajah Ferdinand. Laki-laki yang sudah banyak membantunya selama kuliah, dan sudah mendapatkan ciuman pertamanya. Hatinya menjadi sedih teringat saudara-saudaranya di panti asuhan Rejeki, Bu Rosna, dan teman-teman kuliahnya.


Menyadari perubahan raut muka istrinya, Devan sedikit menyesal telah menggoda Aleta. Devan memegang tangan Aleta kemudian menciumnya dengan lembut.


"Kenapa bersedih, maafkan mas Devan ya. Ingat cowok itu lagi." tanya Devan.


Aleta menggelengkan kepala.


"Kangen ibu, kangen adik-adik, juga kangen teman-teman kuliah." jawab Aleta dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah itu pesanannya sudah datang. Nanti cantiknya istriku jadi hilang. Mas janji, kalau pas libur nanti kita ke Katen menengok mereka."


Aleta tetap diam tidak menjawab. Pramusaji meletakan pesanan mereka di atas meja.


"Pesanannya sudah lengkap ya kak. Selamat menikmati."

__ADS_1


Aleta menyeruput orange Juice. Kemudian kembali terdiam. Devan dengan sabar mencoba mengendalikan dirinya. Kemudian dia menyendok nasi goreng dan menyuapkan pada Aleta.


"Ayuk buka mulutnya, mas suapi. Tadi bilang katanya kelaparan." kata Devan sambil tersenyum.


Aleta membuka mulutnya, dan jadinya makan dengan disuapi Devan. Tanpa sadar nasi di piring Devan sudah bersih.


"Wah ternyata istriku kalau lagi ngambek, makannya jadi banyak. Mas sampai tidak disisakan sedikitpun."


Aleta tersadar kemudian melihat piring Devan yang sudah bersih tanpa nasi, dan melihat nasi di piringnya masih penuh.


"Maaf, kalau begitu mas Devan makan nasiku aja." kata Aleta malu.


"Maunya sama, disuapin juga." sahut Devan dengan suara dibuat seperti suara anak kecil.


"He.he..he.., mas Devan lucu. Ya sudah sekarang Aleta mau suapi bayi gede dulu." kata Aleta tersenyum kembali.


Devan sangat senang, melihat senyum ceria sudah kembali terbit di wajah istrinya.


"Ayuk mas buka mulutnya. Hak...," kata Aleta persis seperti menyuapi adik-adik kecilnya sewaktu di panti.


Devan mengikuti perintah Aleta, yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Pasangan suami istri baru itu begitu menikmati kebersamaan mereka dengan hal-hal sederhana. Devan yang jarang memiliki waktu untuk bersantai, betul-betul menikmati hal kecil dengan istrinya saat ini.


"Aduh mesranya, membuat hati para jomblowati jadi iri saja." tiba-tiba terdengar suara perempuan di samping mereka.


Devan dan Aleta menoleh bersamaan ke arah sumber suara, dan terlihat Maurin yang sedang berdiri dengan menenteng banyak barang belanjaan.


"Eh ada mbak Maurin, mborong ya mbak." sapa Aleta.


"Mbak,?? Sejak kapan aku jadi mbakmu." sahut Maurin ketus


Devan hanya terdiam tidak menanggapi Maurin, dia malah tetap santai minum orange Juice.


"Sekarang sudah pinter ya gadis desa, terbiasa disuapi cowok, sekarang dipraktikkan menyuapi kak Devan."


"Iya donk, itu namanya pintar menyerap ilmu yang diajarkan." komentar Aleta santai.


"Apa mau aku buka kedokmu di depan Kak Devan, biar tahu istrinya seperti apa kalau ditinggal kerja." kata Maurin dengan nada yang mulai tinggi.


"Maurin, cepat tinggalkan kami. Berisik, atau aku panggil security." tiba-tiba Devan berbicara membela istrinya.


"Kak Devan... jangan mau ditipu oleh gadis dengan penampilan sok polos ini. Dia selingkuh dengan cowok lain kak. Maurin ada nyimpan fotonya."


"Sudah sana menyingkir dari hadapanku. Mau nunjukin foto blur diatas pohon, sudah tahu. Kalau mau jadi paparazi, profesional dikit." kata Devan kemudian merangkul Aleta dan membawanya pergi dari situ.

__ADS_1


Maurin ternganga kaget, karena Devan sudah tahu apa yang akan digunakan untuk memanasi hubungan mereka. Yang ternyata tidak mempan.


******


__ADS_2