
Dokter menyampaikan hasil pemeriksaan dan dinyatakan Kakek Cokro sudah tiada. Kesedihan meliputi seluruh anggota keluarga, dan besok paginya pemakaman langsung dilaksanakan. Aleta sebagai satu-satunya anggota keluarga perempuan yang dituakan di rumah Cokrodirjan sampai tidak mampu berbicara, terlalu banyak kenangan yang ada.
"Momm.., kuat tidak?? Jenazah akan segera diberangkatkan ke pemakaman. Jika kuat, Mommy bersama mama Kinar, karena Daddy dan anak-anak akan mengangkat jenazah kakek." dengan lembut Devan berkata pada istrinya.
Aleta memandang suaminya dengan tatapan datar, kemudian menganggukkan kepala. Setelah itu Devan mencium kening istrinya, mama Kinar merangkul Aleta kemudian mengajak menantunya itu memasuki mobil yang membawa mereka ke tempat pemakaman. Devan, Rolland, Atmaja serta anak-anak termasuk Axel sebagian ikut bersama mobil jenazah.
"Sabar ya sayang.., doakan agar kakek tenang, semua ibadah diterima Tuhan. Semua kesalahan diampuni Tuhan." dengan sabar mama Kinar menasehati Aleta.
Dalam diam mobil perlahan menuju TPU, dan sekitar 15 menit perjalanan akhirnya mereka memasuki tempat parkir TPU. Begitu turun dari mobil Aleta melihat mama Rengganis dan suaminya sudah berdiri menyambutnya di makam.
"Aleta sayang..., mama ikut berduka cita atas meninggalnya pak Cokro, semoga Husnul khatimah ya." Rengganis memeluk tubuh gadis itu, dan dengan penuh kasih yang tulus mengusap air mata Aleta dengan tulus.
"Terimakasih mama, Aleta mohon dimaafkan semua kesalahan kakek!" ucap Aleta lirih.
"Tentu sayang..," kata Rengganis sambil tersenyum. Aleta menyalami suami mama Rengganis yang baru, kemudian mereka bersama-sama mendekati liang kubur.
Tidak berapa lama setelah jenazah dikuburkan, beberapa pelayat sudah meninggalkan lokasi pemakaman. Keluarga inti masih duduk memanjatkan doa untuk almarhum. Axel dan Arend mendampingi Aleta, dan yang lainnya duduk di sekitar makam kakek Cokro.
"Selamat jalan kakek, terima kasih untuk semua yang sudah kakek berikan untuk Aleta. Inshaa Allah surga untuk tempat kakek beristirahat. Aamiin." ucap doa Aleta dalam hati.
Perlahan Aleta menata bunga diatas nisan, kemudian Devan membangunkan istrinya dan mengajaknya pulang.
************
Setelah meninggalnya kakek Cokro, diadakan doa sampai tiga hari yang selalu penuh dihadiri para karyawan perusahaan dan keluarga. Rumah juga terlihat ramai, karena selama tiga hari tiga malam, semua anggota keluarga berkumpul di rumah. Mereka sengaja mengambil cuti berduka, dan memilih menghabiskan waktu untuk berkumpul di rumah keluarga Cokrodirjan.
"Bibi..., apa putusan yang Bibi bicarakan sudah tidak dapat diundur lagi?" Aleta bertanya pada Bibi Puji, yang didampingi putranya meminta ijin untuk berhenti mengabdi di keluarga Cokro.
__ADS_1
Setelah secara singkat kemarin sudah menyampaikan, saat ini mereka yang sudah siap berangkat kembali meminta pamit secara resmi.
"Mohon maaf Non Aleta..., Bibi masih berada di rumah ini Karena almarhum. Bibi pernah berjanji untuk setia pada almarhum, sekarang usia Bibi juga sudah diatas 60 tahun. Bibi harus istirahat Non." dengan suara pelan Bibi Puji menjawab pertanyaan Aleta.
"Jika Aleta minta agar Bibi tetap disini untuk menemani kami, sebagai anggota keluarga. Berkenan kah Bi?"
"Nyonya.., ibu akan kami bawa ke Pontianak nyonya. Cucu-cucunya sangat membutuhkan pendampingan dari neneknya. Ibu juga sudah tua, maka kesempatan saya sebagai anak pertamanya untuk merawat beliau." anak Bibi Puji menjawab.
"Ya sudahlah, Momm, toh kita tidak akan putus silaturahmi. Kapanpun jika Mommy, anak-anak merindukan Bibi.. kita bisa terbang ke Pontianak untuk bertemu dengan Bibi." Devan langsung mengiyakan.
"Terimakasih Tuan Devan.. Bibi dan keluarga juga mengucapkan banyak terima kasih untuk keluarga ini. Dua Anak saya sudah disekolahkan sampai lulus kuliah oleh almarhum, kami tidak akan dapat membalas semua jasa baik keluarga ini."
Aleta memeluk erat Bibi Puji, kemudian melepaskan kembali. Karena keburu mengejar jadwal penerbangan, kemudian putra Bibi Puji segera mengajak ibunya meninggalkan rumah itu.
**************
"Dadd..., Axel ada ajak Daddy bicara tidak?? Mommy merasa ada yang berubah di diri anak itu." saat menemani suaminya sarapan, Aleta membuka pembicaraan.
"Maksud Mommy?? Yah.., memang semenjak kakek tidak ada, syukurnya kantor juga tidak ada permasalahan, dan keluarga sedarah Axel juga tidak melakukan apapun. Terakhir Rico dan Ridwan pernah menyampaikan, katanya Bu Lastri dan Maurin akan mengajukan tuntutan akan hak waris." Devan mengakhiri makan paginya.
"Tetapi sampai sekarang tidak ada apapun, somasi atau hanya sekedar surat pemberitahuan dari lawyer juga tidak ada." lanjut Devan lagi
"Mommy kok agak curiga ya Dadd. Mungkinkah itu semua karena Axel?"
Devan memandang istrinya dengan perasaan ingin tahu. Kemudian sambil meraih tangan istrinya..
"Maksud Mommy.., Axel yang memaksa mereka menghentikan semua?"
__ADS_1
Aleta menganggukkan kepala.
"Momm..., Axel itu lebih dekat ke Mommy daripada Daddy. Cobalah jika melihat anak itu sedang longgar atau punya waktu kosong, ajak dia bicara. Daddy yakin, anak itu tidak akan menutupi apapun dari Mommy." Devan kemudian berdiri.
"Sudah mau berangkat?" tanya Aleta yang juga mengikuti suaminya berdiri.
"Ya.., nanti jika siang Mommy ada waktu longgar, datanglah ke perusahaan. Kita lunch bareng, tidak perlu memasak!" Devan merangkul istrinya dan membawanya ke kamar.
Aleta mengangguk, dan mengikuti suaminya.
Dengan cekatan Aleta membantu menyiapkan perlengkapan suaminya.
"Dadd..., Mommy mau bersih-bersih kamar dulu. Daddy ke depan sendiri ya!" ucap Aleta setelah apa yang mau dibawa Devan sudah beres.
"Siap, tapi jangan lupa..." senyum-senyum Devan menunggu Aleta.
Dengan muka tersipu Aleta menghampiri Devan, dan tangan Devan langsung memegang punggungnya kemudian mendorong ke depan pelan. Tidak menunggu waktu lama, bibir Devan sudah menutup bibir Aleta untuk waktu yang lama. Setelah mereka hampir kehabisan nafas, baru Devan melepaskannya. Dengan penuh kasih, Devan mengusap bibir istrinya yang mulai menebal.
"Daddy jadi malas berangkat ke kantor sayang...," bisik Devan di telinga Aleta, yang membuat tubuh wanita itu menjadi merinding.
"Ingat tanggung jawab sayang ..., ribuan orang bergantung dengan perusahaan! Jangan hancurkan harapan mereka!" Aleta mendorong tubuh suaminya, karena jika tidak diakhiri akhirnya suaminya akan membolos tidak masuk kantor.
Tapi yang namanya laki-laki, merasa dilarang malah semakin muncul ulah usilnya. Devan langsung menarik tangan istrinya kemudian memeluknya erat, tangan kanan mulai usil tiba-tiba sudah berada di balik baju atasan Aleta.
"A..ah..," tanpa sadar terlepas suara lenguhan dari mulut istrinya, saat tangan Devan dengan sengaja melakukan re..masan di kedua bukit kembar milik Aleta.
"Daddy tunggu siang hari sayang..., kita lakukan *** after lunch. Okay..." bisik Devan sambil meninggalkan istrinya sendiri. Dengan muka merah, Aleta melempar bantalan kursi ke tubuh Devan.
__ADS_1
**********