Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Upaya Pencarian


__ADS_3

Setelah mengantar kakek Cokro pulang ke rumah, Devan mengarahkan mobil ke perusahaan ayahnya. Setelah meninggalkan mobil pada security lobby, dia langsung masuk ke dalam perusahaan. Petugas front office menghentikannya, tetapi setelah melihat bahwa Devan yang datang, akhirnya memberi tahu keberadaan Atmaja.


"Maaf Tuan, saya pikir ada tamu datang. Tuan Atmaja sedang memimpin rapat, mungkin sekitar 30 menit lagi akan berakhir. Silakan Tuan mau menunggu dimana." sapa petugas front office.


"Saya langsung ke ruangan papa." jawab Devan sambil berjalan meninggalkannya.


Sesampainya di depan ruang kerja Atmaja, Devan langsung mendorong masuk, kemudian dia duduk di sofa tamu. Untuk mengisi kekosongan menunggu, Devan membuka gadget dan fokus dengan apa yang sedang dia hadapi. Sejak tadi dia menahan gejolak perasaannya, tetapi untuk menjaga semuanya akhirnya dia menahan sendiri.


Hampir satu jam menunggu, Atmaja kembali ke ruang kerja. Dia agak terkejut melihat putra pertamanya sedang duduk di sofa ruangannya.


"Sejak kapan kamu datang Devan." tanya Atmaja yang kemudian duduk di depannya.


"Hampir sejam pa, tadi barusan mengantarkan kakek pulang ke rumah keluarga." sahut Devan.


"Kakekmu sudah menceritakan semuanya ya. Sekarang kamu kesini untuk mencocokkan dengan cerita papa. Itukah yang mau kamu tahu putraku."


Devan hanya tersenyum sinis sambil memandang papanya.


"Yah, siapa tahu papa akan menceritakan semua masa lalu papa. Tapi kalau papa keberatan, Devan juga tidak membutuhkan pa. Dengan cara Devan, cerita lama tentang papa dan mama Kinara akan sampai ke telinga Devan." kata Devan sambil berdiri untuk meninggalkan Atmaja sendiri.


"Duduklah Van, papa akan menceritakan semuanya padamu. Kamu putra papa, kamu layak untuk mengetahui semuanya." Atmaja menghalangi Devan yang hendak berniat pergi.


Devan Duduk kembali di hadapan Atmaja.


"Maafkan papa Van, papa tidak memiliki keberanian untuk menceritakan semua dari awal. Malah kakekmu yang berusaha keras untuk membuka semuanya." Atmaja mulai membicarakan masa lalunya.


"Papa menikah dengan mamamu, sebelum menikah dengan mama Rolland. Papa sangat mencintai mamamu, tapi kakekmu menginginkan papa menikah dengan Rengganis. Begitu melahirkanmu, tantemu menyerahkan kamu ke papa karena mamamu telah tiada." lanjut Atmaja pelan.


Devan merasa sesak di dada, tapi dia menahannya.


"Dimana makam mama pa, Devan ingin menemui beliau." tanya Devan lirih.


"Maafkan papa Van, sampai sekarang papa tidak diberi informasi dimana mamamu dimakamkan. Keluarga mamamu merahasiakannya dari papa. Mereka sudah lama pindah dari kota Bandung."

__ADS_1


"Karena merawatmu dengan Rengganis di Singapura waktu itu, papa tidak sempat mencari tahu dimana makam mamamu nak. Karena papa harus menyelesaikan studi di Singapura, dan mamamu memilih untuk bertahan di kota ini. Sehingga papa dengan Rengganis tinggal di Singapura."


"Begitu papa, balik ke kota ini, ternyata keluarga mamamu sudah pindah."


Atmaja hanya bisa menceritakan tentang keluarga mamanya sampai disitu. Sedangkan Devan hanya diam sambil berpikir.


"Pa.., Devan tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini. Apakah papa punya contact dengan saudara dari keluarga mama." tanya Devan.


"Kalau keluaga tidak ada Van, mereka sudah pindah ke kota lain. Tapi ada teman akrab mamamu, dia tinggal di sekitar Braga. Papa sudah pernah mencoba menemuinya beberapa kali, tetapi dia tidak pernah mau menemui."


"Papa bisa memberikan nomor contact atau alamat pada Devan. Nanti Devan akan mencari sendiri pa."


"Nanti sesudah papa sampai rumah, akan papa cari. Sepertinya papa pernah menyimpannya dulu. Siapa tahu, jika kamu yang mencoba untuk menemuinya, dia mau bertemu denganmu."


"Ya sudah pa, Devan tunggu kabar baik dari papa. Sekarang Devan pamit pa." akhirnya Devan pamitan untuk kembali.


Setelah dari perusahaan papanya, Devan tidak memiliki pikiran yang fokus. Tanpa dia sadari, dia mengemudikan mobil ke arah pulang ke apartemen.


*************************


Aleta membuat teh panas untuk menyegarkan pikirannya kembali. Masih di depan laptop, dia mengecek kembali apakah ada email masuk.


"Tet...tet...tet...," tiba-tiba terdengar bel pintu apartemen.


Aleta bergegas menuju pintu, kemudian mengintip tamu yang datang di siang hari. Dia agak kaget melihat suaminya sudah berada di depan pintu, tetapi dia segera membukakan pintu.


"Assalamualaikum," sapa Devan pelan.


"Wa Alaikum salam," Aleta menjawab kemudian menutup pintu kembali.


Devan langsung duduk di sofa, kemudian mengangkat gelas teh panas dan meminumnya beberapa teguk. Melihat ekspresi suaminya, Aleta merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Kok tumben jam segini sudah pulang mas, atau mas Devan hanya mampir saja." tanya Aleta kemudian dia duduk di samping suaminya.

__ADS_1


Devan tidak menjawab, tapi kemudian membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas pangkuan Aleta. Melihat perilaku suaminya yang tidak seperti biasanya, Aleta terdiam dan membiarkan Devan berbaring di atas pahanya. Setelah beberapa saat, Devan membuka matanya dan menatap mata istrinya.


"Sayang, maaf ya. Mas mengganggu pekerjaanmu ya." tanya Devan.


"Alhamdulillah sudah selesai mas. Jam 13 tadi sudah di ACC sama kak Radit. Syukurlah mas, kak Radit mengijinkan Aleta melakukan magang secara online." sahut Aleta sambil tersenyum.


"Mas Devan lagi ada masalah ya. Apakah Aleta boleh tahu, siapa tahu kita bisa menghadapinya bersama."


Aleta mencoba bertanya dengan perlahan pada suaminya. Tangannya dengan lembut memainkan rambut Devan.


"Mas lagi bingung, mau mulai dari mana."


"Ya sudah, kalau mas belum bisa cerita, tidak apa-apa. Mungkin lain waktu, mas bisa menceritakan pada Aleta." kata Aleta tidak memaksa suaminya.


Devan memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya kembali.


"Mas akan menceritakan padamu sayang. Karena mas juga dalam keadaan bingung."


Akhirnya Devan menceritakan kejadian dari pagi hari dengan kakek Cokro, dan siang hari dengan papanya. Aleta mendengarkan, sambil memainkan jarinya di rambut Devan.


"Mas Devan tenang dulu ya, saat ini lebih baik diam dulu. Nanti malam kita tunggu kabar dari papa, semoga papa segera menemukan alamat sahabat mama. Aleta janji akan menemani mas Devan, untuk mendatangi sahabat mama." ucap Aleta sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang," Devan kemudian bangun dan memeluk istrinya.


"Dalam hal ini, mama Rengganis sebenarnya juga tidak salah mas. Kalau Aleta pikir, mama Rengganis justru menjadi korban dari ketidakmampuan papa." kata Aleta hati-hati.


"Iya sayang, tapi mas mau ketemu makam mama dulu. Baru setelah itu, kita mencari mama Rengganis bersama-sama."


"Aleta akan menemani mas, dengan harapan semoga mama Kinara masih hidup. Mama hanya mencoba memberikan kesempatan untuk mama Rengganis sebagai istri papa." ucap Aleta tiba-tiba, yang mengagetkan Devan.


"Terima kasih sayang, semoga harapanmu yang terakhir menjadi akhir kenyataannya." ucap Devan sambil memberikan kecupan di kening Aleta.


Akhirnya siang itu, Devan tidak kembali ke tempat kerjanya. Dia berada di rumah membicarakan banyak hal dengan Aleta.

__ADS_1


**********************


__ADS_2