Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Wait and See


__ADS_3

Praduga yang dilakukan Devan dan sempat didiskusikan dengan lawyer beserta pelaksana operasional perusahaan yang ditinggalkan pak Broto, ternyata terbukti. Rico melaporkan bahwa mendapatkan somasi tuntutan hak waris dari Maurin.


"Hadapi saja Rico, jika Anggoro kurang piawai.., aku akan kirimkan pengacara yang sudah familiar di tingkat nasional. Kita akan lihat nanti di pengadilan bagaimana. Hal ini juga akan aku beritahukan pada Axel selaku pemilik hak waris atas nama pak Broto." Devan menjawab panggilan telpon dari Rico, yang memberi tahukan adanya somasi.


"Terima kasih pak Devan, untuk sementara apa yang harus saya lakukan dan persiapkan?" Rico menanyakan persiapan yang harus dia lakukan.


"Untuk saat ini, kamu diam saja. Wait and see, jika mereka melakukan gerakan, baru kita tindak lanjuti. Sepertinya jika mereka berani melawan kalian di pengadilan, Mommy nya anak-anak sudah menyampaikan jika Axel akan melakukan tuntutan balik atas penelantaran dia selaku anak kandung dari Maurin. Bukti-bukti sudah diprint out, pada saatnya akan menjadi senjata kita di pengadilan."


"Baik pak.., kami akan selalu menunggu arahan dan petunjuk dari Bapak. Mungkin itu dulu pak, yang bisa saya sampaikan. Terima kasih, dan selamat siang." Rico mengakhiri panggilan.


Tanpa menjawab, Devan langsung mematikan ponselnya. Kembali dia menekuni pekerjaan, dengan membaca laporan-laporan soft file yang dikirimkan oleh masing-masing divisi perusahaan. Tiba-tiba pintu ruangan didorong dari luar, dan terlihat Rolland yang sudah memiliki satu putri dari pernikahannya dengan Jenny masuk ke dalam ruangan Devan.


"Kak..., lagi sibuk tidak?" sambil bertanya, Rolland duduk di kursi yang ada di depan meja kerja kakaknya.


Devan menghentikan aktivitasnya, kemudian memandang adiknya sambil mengambil air mineral dan meminumnya.


"Ada apa? Lihat kan, berapa banyak laporan dari masing-masing divisi yang harus aku review. Seperti itu, kamu masih bertanya aku sibuk atau tidak."


"Cuma mau nanya saja. Cynthia kak.., anak itu ngambek dari beberapa hari yang lalu. Mamanya sudah tidak bisa kasih tahu dia, sekarang malahan mamanya minta aku yang menyelesaikan." Rolland mengadu tentang putrinya.


"Memang apa sebabnya Cynthia sampai mengambek. Suruh dia ke rumah Cokrodirjan, kalian juga tidak punya waktu apa, sampai jenguk kakek saja kalian sedikitpun tidak ada waktu? Kakek juga sudah sakit-sakitan, jika dibawa sama Aleta ke dokter, yah selalu penyakit tua jawabannya." Devan malah memarahi adiknya yang sudha lumayan lama tidak berkunjung ke rumah.


"Cynthia ingin ambil High School di luar negeri kak. Kami ada anak cuman satu, kalau dia pergi dengan siapa dia disana? Untuk ke rumah, nanti akhir pekan ke rumah kak. Kakak tahu sendiri, saat Jenny aku minta untuk re sign dari perusahaan ini, mauku dia di rumah mengawasi Cynthia dan merawat rumah. Tapi malahan diminta mengelola usaha keluarganya, jadi lebih sibuk dari dia dulu bekerja di perusahaan ini." Rolland malah curhat masalah istrinya.


"Untuk Jenny itu masalahmu sendiri, kakak tidak bisa ikut masuk ke dalam rumah tanggamu. Cuman pesan kakak, sekali-kali yang tegas dengan istri, ajak bicara berdua."


Devan kembali minum air mineral..

__ADS_1


"Untuk Cynthia, dapat informasi darimana dia tentang sekolah di luar negeri? Aku juga tidak setuju, jika kamu ijinkan anak itu sekolah disana, usianya masih labil. Dia masih ABG, belum bisa berpikir yang bijak. Tempat untuk usia seperti dia, masih dalam lingkungan keluarga. Atau minta dia untuk menunggu, jika kakak-kakaknya siapa tahu mau ambil kuliah di luar negeri." lanjut Devan lagi.


"Ya kak, maksudku juga. Aku minta kak Devan ikut menasehati anak itu, dia kan lebih menurut sama kakak, daripada sama aku papanya sendiri."


"Minta dia tidur di rumah! Nanti biar Aunty nya Aleta yang akan ajak bicara anak itu."


 


 


*******************


 


Axel terlihat sibuk sendiri di dalam kamarnya, dia menyiapkan satu filing file dalam tempat arsip merek Bantex. Dia juga sudah tampak rapi, seperti janjian dengan seseorang. Setelah merasa file yang akan dibawa sudah siap, Axel keluar dari kamarnya dan langsung mencari Aleta.


"Boleh saja,..., tapi mau kemana dulu? Tapi ganteng Mommy sudah rapi sekali, pakai kemeja, kok seperti mau wawancara pekerjaan." Aleta menggoda Axel.


Axel tersenyum, kemudian duduk disamping Mommy nya.


"Axel hanya akan menemui seseorang Momm. Nanti jika Axel sudah sampai rumah, pokoknya orang pertama yang akan tahu Axel menemui siapa adalah Mommy. Axel janji, tidak akan ada apa-apa, aman Momm." Axel terus merayu Aleta.


"No drugs..., no smoking.., no beer... Okay!!" Aleta menyampaikan larangan yang harus dipatuhi untuk tidak dilanggar.


"Okay Momm..., I.m swear!!!" dengan muka sumringah, Axel terlihat bahagia. Anak itu langsung memeluk erat Aleta, dan mencium kedua pipinya.


"Zidan sama Vian sepertinya ada di kamar, pergilah dengan mereka. Dan minta pak Asep untuk mengantarkan kamu. Mommy di rumah dulu, menjaga Opa Cokro, kondisinya sedang drop."

__ADS_1


"Beri Axel privacy Momm, kali ini Axel lagi butuh sendiri. Axel sudah pesan taksi, bentar lagi paling sudah sampai disini."


"Kok anak Mommy sudah tambah pinter akalnya, masak pesan taksi duluan. Baru minta ijin, kalau tadi Mommy tidak mengijinkan kamu pergi, apakah juga akan nekad pergi?" Aleta bicara dengan nada agak tinggi. Mendengar nada bicara Mommy nya, Axel mendadak agak kurang nyaman. Tapi untungnya, Aleta segera menyadari.


"Ya sudah..., tapi cukup sekali ini saja. Jangan kamu lakukan hal lagi seperti ini ke depannya."


"Terima kasih Momm..., pokoknya Mommy Aleta adalah Mommy yang paling perhatian di seluruh dunia."


Tiba-tiba pak Asep masuk ke rumah, dan langsung menghampiri Aleta dan Axel.


"Tuan Axel.., apakah pesan taksi?" tanya pak Asep.


"Iya pak Asep..., apakah sudah datang?"


"Sudah Tuan, dan sudah saya minta menunggu. Kok tidak minta pak Asep saja untuk mengantarkan Tuan, malah mengundang taksi? Apa sopiran pak Asep kurang nyaman?"


"Bukan begitu pak Asep, sopiran pak Asep nyaman kok, tenang lagi. Tapi kebetulan saat ini Axel lagi ingin mencoba jalan sendiri, nanti kalau Daddy jadi mengijinkan Axel kuliah di luar negeri, kan harus latihan dulu."


"Sudah ya pak Asep, Mommy.., kasihan sopirnya menunggu kelamaan. Axel berangkat dulu." Axel langsung berlari keluar.


"Pak Asep..., pakai motor saja biar tidak terlihat ikuti Axel. Awasi dia, aku kok agak curiga dia pergi kemana-mana. Jika ada apa-apa, jangan langsung ambil tindakan, beri tahu saya atau telpon Daddy nya anak-anak."


"Baik Nyonya...."


 


*****************

__ADS_1


__ADS_2