Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Upaya Pendekatan


__ADS_3

Pembelian perusahaan di kota Sukoharjo, Solo milik teman kakek Cokro akhirnya resmi dilakukan. Perusahaan itu saat ini sedang dilakukan pembenahan, untuk dijadikan sebagai cabang baru dari perusahaan yang berada di kota Bandung. Sebenarnya kakek Cokro menghendaki Devan untuk memimpin di kantor pusat, tetapi dengan alasan untuk sekalian mendampingi istrinya menyelesaikan kuliah, Devan memimpin cabang baru di kabupaten Sukoharjo.


Atmaja saat ini resmi menyandang status duda, dia diminta untuk sementara menangani kantor pusat, tetapi dia menolaknya. Karena kekurangan orang, kakek Cokro ikut menjadi Manajemen di kantor pusat menemani Rolland, dan sangat mengharapkan agar Devan segera kembali ke kota tersebut.


"Devan ....., segera kamu atur peresmian kantor cabang kita di Sukoharjo. Persiapkan dulu karyawan disana, setelah siap, kita akan lakukan peresmian secara formal dan kita publikasikan." Cokro mengarahkan cucunya.


"Iya kek, Minggu besok Devan dan Aleta akan berangkat ke kota Solo. Setelah nanti perusahaan dan karyawan siap, segera kita adakan peresmiannya."


"Devan juga sudah komunikasi dengan beberapa tim manajemen lama perusahaan disana, dan sudah melakukan koordinasi secara virtual."


"Pada dasarnya mereka siap untuk mengikuti instruksi dari pusat." Devan menjelaskan tahapan yang sudah dilakukannya.


"Iya, pastikan semua berjalan lancar. Kira-kira sampai kapan kamu akan di kota itu." tanya Cokro dengan nada keberatan.


"Kakek..., percayakan pada Rolland. Anak itu sudah dewasa kek, dia bisa mengurus kantor pusat."


"Keberadaan Devan di cabang, semua tergantung Aleta, karena untuk saat ini Devan tidak bisa hidup sendiri tanpanya."


"Kakek belum bisa mempercayakan urusan penuh perusahaan pada anak itu. Dia terkadang masih muncul sifat kanak-kanaknya." Cokro berbicara tentang Rolland.


"Atau mungkin segera kita nikahkan saja. Coba kakek tanyakan bagaimana hubungannya dengan Jenny." usul Devan.


"Benar juga ya, usianya juga sudah 25 tahunan. Nanti kita tanyakan bagaimana kelanjutan hubungan dengan Jenny. Sudah sana temani Aleta, kakek juga mau istirahat dulu."


"Siap kakek, terima kasih."


Devan dan kakek Cokro segera kembali ke kamar mereka masing-masing.


*******************


Aleta masih berada di depan laptop, dia mengerjakan tugas yang dikirimkan oleh Raditya. Melihat suaminya masuk kamar, dia menghentikan aktivitasnya sejenak.

__ADS_1


"Sudah selesai mas ngobrolnya dengan kakek."


"Sudah, kakek sudah berangkat tidur. Kamu baru mengerjakan apa sayang." Devan langsung menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Biasa, kerjaan magang mas. Sebenarnya tugas ini untuk besok pagi, dikirim ke email kak Radit jam 11 siang. Tapi Aleta kerjakan sekarang saja,. ini sudah selesai."


"Wah bagus ini branding-nya. Kalau begitu besok urusan branding perusahaan di Sukoharjo bisa kamu saja yang pegang sayang." komentar Devan sambil memegang mouse dan melihat-lihat hasil karya istrinya.


"Lah..., telat mas. Baru tahu ya kalau istri mas ini jago branding." kata Aleta menggoda suaminya.


"Iyakah, tapi mas Devan sebenarnya tidak membutuhkan istri yang jago branding. Mas sih butuhnya istri yang jago melayani mas saja."


"Ah..., mas Devan selalu pikiran dilarikan ke arah situ." sahut Aleta malu.


"Lha itu kan kebutuhan sayang, sudah selesai kan kerjaannya. Sekarang tugas utama segera dilaksanakan ya." bisiknya di telinga Aleta.


"Ah malu, mesti bicaranya belok kesitu." kata Aleta sambil menutup mukanya malu.


Melihat sikap malu istrinya, menjadikan Devan tersenyum Bahagia. Tanpa meminta persetujuan dari Aleta, seketika Devan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.


*************************


Tanpa ada yang tahu, ternyata Atmaja sudah sampai di kota Yogyakarta dengan menggunakan penerbangan komersial. Karena menggunakan pesawat ATR, dia turun di bandara Adisutjipto. Tanpa membawa perlengkapan apapun, dia langsung mencari mobil carteran untuk mengantarkan ke tempat Kinara.


Tidak berapa lama mobil yang dia Carter, sudah mengantarkannya ke tempat yang dia tuju. Melihat bangunan yang banyak didominasi kayu, dalam sebuah halaman yang banyak ditumbuhi pepohonan, Atmaja mengambil nafas segar. Dia langsung menuju ke arah pintu, kemudian menekan bel masuk.


Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara langkah dari dalam rumah. Atmaja mengatur hatinya, dia menunggu dengan sabar.


"Mas Atma..., apakah benar ini mas Atma." terdengar suara Kinara dari dalam.


Atmaja menengok ke arah suara, dan dia melihat Kinara yang sedang berdiri di depannya. Dia segera menghampiri istrinya itu, dan akan memeluk. Tapi Kinara menolak dengan tangannya, berusaha menjaga jarak.

__ADS_1


"Kinara...., kamu masih istriku sayang. Aku tidak pernah menceraikan kamu, karena berita kacau itu, yang menahan aku untuk mencarimu." ucap Atmaja perlahan.


"Silakan masuk dulu mas, duduklah dulu. Kita saling menjaga diri dari fitnah masyarakat. Saat ini kita di Kota Yogyakarta, kita tidak berada di Bandung mas."


Atmaja mengikuti langkah Kinara masuk ke dalam rumah. Dia langsung mendudukkan dirinya di kursi di samping Kinara. Tetapi istrinya segera menggeser tubuhnya, agak menjauh. Akhirnya mereka berdua duduk berhadapan.


"Kinara..., dengan siapa kamu tinggal disini. Mas Atma datang sekarang." kata Atmaja.


"Kinar tinggal sendiri mas, selalu sendirian sejak mas menikahi Rengganis." ucap Kinara tersenyum kecut.


"Maafkan aku Kinar, aku berusaha mencari dimana makammu. Karena kabar dari Kinanthi dan juga Yayuk kamu sudah tiada. Tetapi aku tidak berhasil menemukannya."


"Kinar ..., aku tidak pernah menceraikan kamu. Berarti sekarang ini, kamu masih berstatus sebagai istriku." kata Atmaja. Dia memandang Kinara, dengan permohonan.


Kinara terdiam, alasan dia tidak menikah sampai sekarang ini, karena dia masih berharap bersatu kembali dengan Atmaja. Tetapi, dia masih ingin menguji keseriusan Atmaja padanya.


"Pergilah ke papa mas. Papaku juga tinggal di kota ini. Jika papa setuju, maka Kinara akan mau bersatu lagi dengan mas Atma, itupun juga harus ada persetujuan dari Rengganis." ucap Kinara akhirnya.


"Aku akan menemui papamu Kinar. Berikan alamat tempat tinggal beliau, aku akan kesana untuk meminta maaf karena telah menelantarkan kamu Selama ini. Dan aku juga akan memintamu kembali untuk mendampingi aku."


"Dan kamu tidak perlu khawatir dengan Rengganis, kami sudah resmi bercerai Kinar."


Kinara melihat ke arah Atmaja, dan sepertinya dia ingat sesuatu.


"Mas Atma tadi kesini, langsung dari bandara ya. Maafkan Kinar mas, tunggu sebentar Kinar buatkan minuman dulu." Kinara langsung ke dapur untuk membuat minuman untuk Atmaja.


Atmaja membiarkan kepergian Kinara, dia tersenyum melihat istrinya yang tidak banyak berubah. Dia masih memiliki kelembutan dan aura keibuan, sama seperti saat mereka masih tinggal bersama.


Kinara membawa nampan dan dua cangkir dari arah dapur, kemudian meletakkan di atas meja.


"Ayo mas Atma, kita minum dulu."

__ADS_1


Dia kemudian menemani Atmaja untuk meminum teh, sambil menceritakan apa yang telah dia alami saat ini. Atmaja juga menceritakan kehidupan yang saat ini dia jalani.


**********************


__ADS_2