Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Positif


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Aleta segera menyelonjorkan kakinya di sofa. Baru sekarang dia merasakan penat yang teramat sangat. Tadi pada saat dia keluar masuk factory outlet, sedikitpun dia tidak merasakan kecapaian. Saat ini dia merasa kakinya gempor seperti habis digebukin.


Aleta menyalakan pendingin ruangan, dan tanpa sadar, di bawah dinginnya AC, Dev akhirnya tertidur pulas.


Pukul 18.15, Devan sampai di apartemen. Setelah memarkir mobil di basement, tanpa mampir-mampir Devan langsung masuk lift dan menuju tempat tinggalnya.


"Kenapa sepi, sepertinya lampu juga belum dinyalakan. Kemana Aleta?" Devan bertanya pada dirinya sendiri tentang keberadaan Aleta.


Di depan pintu kamar, Devan melakukan panggilan pada Tata untuk mengkonfirmasi keberadaan istrinya.


"Selamat malam kak Devan," tanya Tata.


"Malam, lagi pada dimana, jam segini belum pulang." tanya Devan tanpa.basa-basi.


"Tata di rumah kak, setelah menurunkan Aleta depan lobby, Tata langsung pulang." Tata menjelaskan dengan bingung.


"Jadi tadi kamu antar Aleta sampai apartemen," tanya Devan memastikan ucapan Tata.


"Iya kak, sekitar pukul 15,00 Aleta sudah Tata antar langsung ke apartemen. Memang Aleta sekarang pergi lagi," Tata balik bertanya.


"Ya sudah, selamat malam." tanpa memberi kesempatan Tata untuk menjawab salam, Devan langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Devan segera mengeluarkan acces card kemudian menempelkan pada sensor magnet yang ada di pintu. Setelah pintu terbuka Devan langsung masuk, dan mencari saklar lampu di tembok. Setelah lampu nyala, Devan melihat istri yang dicari sedang tertidur pulas di sofa. Dengan tersenyum, Devan mendekati istrinya yang sedang tertidur.


"Damai sekali tidurmu Aleta. Cantik, istriku ternyata memang sangat cantik." Devan berbisik sendiri sambil menatap dan mengagumi istrinya.


Devan menundukkan wajahnya kemudian memberikan kecupan di kening istrinya. Setelah melihat istrinya tidak terbangun, Devan tersenyum kemudian melangkah ke dalam kamar. Sesaat kemudian terdengar nyala shower di kamar mandi.


******


"Aleta sayang, Ayuk bangun. Sudah lewat Maghrib," bisik Devan perlahan membangunkan istrinya.


"Hmmm.., sebentar masih capai." sahut Aleta seperti mengigau.


"Sayang...,belum sholat Maghrib kan. Ayo bangun dulu, pamali." Devan mengguncang lembut tubuh Aleta.


Sesaat kemudian Aleta membuka matanya, dan terlihat di depannya Devan sudah mengenakan baju santai.


"Lho mas Devan kapan pulang, jam berapa ini." tanya Aleta bingung.

__ADS_1


"Ini hampir jam tujuh sayang. Ayo mandi dulu, lalu sholat Maghrib. Mas sudah duluan mandinya." kata Devan.


Dengan rasa malas Aleta bangun dari sofa kemudian setengah tertidur, berjalan masuk kamar mandi.


Begitu Aleta pergi membersihkan diri, Devan membuka pintu kulkas. Melihat isi kulkas penuh, muncul ide untuk memasak fast food. Setelah setengah jam berkutat di dapur, di meja makan sudah tersaji kentang goreng, sausage, dan sepiring mie goreng.


"Hum..sedap sekali aroma masakannya," Aleta muncul dari kamar dan langsung menuju ruang makan.


"Mas Devan yang masak semuanya." tanya Aleta tidak percaya.


"Iya, sudah ayo kita makan. Sekali-kali mas yang masakin kamu." kata Devan sambil mengambilkan garpu untuk Aleta.


"Tadi jalan kemana saja." tanya Devan.


"Cuman satu tempat ga kemana-mana. Keliling factory outlet saja ke Jalan Riau. Gempor kaki Aleta mas, disana tadi ga kerasa. Ternyata sampai rumah pegalnya minta ampun. He .he..," jawab Aleta.


"Lagian cari apa kamu kesana. Kalau mau cari barang yang branded, kamu tinggal pergi ke mall. Beli barang yang original, kartu yang aku berikan, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanmu." sahut Devan.


"Mas, kepuasan berbelanja itu bukan hanya terletak pada punya uang, dapat barang. Tapi seni untuk mencarinya, obrak abrik box itu merupakan hiburan tersendiri."


Devan teringat nasehat Rolland untuk mencoba memahami dari sisi gadis seumuran Aleta. Akhirnya dia hanya diam mendengarkan penjelasan Aleta.


"Tidak sayang, mungkin Laen kali mas Devan ikut hunting barang denganmu." kata Devan tersenyum.


Akhirnya mereka ngobrol sambil menghabiskan fast food di meja makan.


*******


Rengganis janjian ketemu dengan Maurin di kafe daerah Jln Braga. Sudah hampir habis separo gelas lemon squash, tapi Maurin belum muncul batang hidungnya. Untuk mengisi kejenuhan, Rengganis membaca berita online dari aplikasi ponsel.


"Maaf Tante, kejebak macet di jalan." tiba-tiba Maurin sudah berdiri di samping Rengganis.


Keduanya kemudian berpelukan dan melakukan cipika cipiki.


"Duduklah, Tante panggilkan waiters." kata Rengganis sambil melambaikan tangan memanggil waiters.


Seorang waiters perempuan menghampiri mereka dengan membawa menu book.


"Hot lemon tea satu, fetucini carbonara satu."

__ADS_1


"Baik kak, tunggu sebentar ya."


Setelah waiters pergi meninggalkan mereka, Maurin dengan mata berbinar bahagia mengeluarkan amplop warna putih dengan logo IDI. Kemudian dia menyerahkan amplop itu pada Rengganis.


"Apa ini Maurin," tanya Rengganis.


"Tante bisa membacanya sendiri," kata Maurin dengan senyum manisnya.


Perlahan Rengganis mengeluarkan kertas ukuran HVS Folio ukuran A4 dari amplop kemudian membukanya dengan hati-hati. Tiba-tiba matanya terbelalak membaca hasil Laboratorium.


"Maurin..., apa Tante tidak salah lihat sayang. Kamu positif," tanya Rengganis kaget.


Dengan wajah cerah Maurin menganggukkan kepalanya. Harapannya untuk menjadi putri di keluarga Cokro tinggal selangkah lagi.


"Iya Tante... ini anak kak Devan Tante. Maurin tidak pernah melakukannya pada laki-laki selain kak Devan." jawab Maurin yakin jika kehamilannya disebabkan oleh Devan.


"Selamat sayang, kamu akhirnya mengandung cucu Tante. Tante akan segera menjadi Oma." kata Rengganis terharu kemudian memeluk erat Maurin.


"Terima kasih Tante. Terus kapan Kak Devan akan menikahiku Tante?" tanya Maurin penuh harap.


"Sabar dulu Maurin, nanti malam datanglah ke rumah Cokrodirjan, Tante akan mengumpulkan keluarga Tante. Tante akan menyampaikan kabar bahagia ini, dan memaksa Devan untuk menikahimu." kata Rengganis mantap sambil melepaskan pelukannya.


"Benarkah Tante, bagaimana kalau kakek Cokro tidak menyetujui rencana ini Tante." tanya Maurin.


"Tenanglah Maurin, begitu kakek Cokro tahu jika kamu mengandung anak Devan, Tante yakin kakek Cokro akan segera menyelenggarakan pesta pernikahan kalian berdua."


"Terima kasih Tante Rengganis. Maurin sangat bahagia sekali hari ini." ucap Maurin. Rengganis menggenggam tangan Maurin.


"Mulai sekarang makanlah makanan yang memiliki kandungan nutrisi dan gizi yang tinggi. Tante tidak mau, cucu Tante kekurangan gizi dan terlahir dengan kondisi sakit-sakitan." kata Rengganis menasehati Maurin.


"Iya Tante, Maurin akan menuruti nasehat Tante demi anak kami."


"Setelah makan, kita langsung pulang Maurin, Tante harus mempersiapkan pertemuan nanti malam. Tante juga harus memastikan bahwa Devan nanti malam bisa hadir di rumah keluarga."


"Baik Tante, Maurin juga akan mempersiapkan diri."


Setelah pesanan Maurin datang, mereka segera menghabiskannya, kemudian bergegas pulang ke rumah masing-masing. Rengganis dengan hati yang diliputi kebahagiaan, segera mengirimkan messege kepada Devan agar datang ke rumah keluarga selepas Maghrib.


*******

__ADS_1


__ADS_2