Jodohku Di Tangan Kakek

Jodohku Di Tangan Kakek
Kebenaran


__ADS_3

Devan mengendarai mobil tanpa berhenti, bahkan Aleta tidak mau meminta suaminya untuk istirahat di jalan. Pukul 15.30 mereka sudah berada di Yogyakarta. Devan langsung membawa mobilnya memasuki hotel yang berada di Jalan Magelang, sebuah hotel yang menyatu dengan bangunan mall. Dia memilih hotel itu, karena mengingat bahwa mereka tidak membawa perlengkapan apapun.


Sesampainya di kamar, Devan langsung membaringkan badannya di atas ranjang. Aleta kemudian menghubungi room service untuk mengantarkan makanan.


"Tidurlah sebentar, Aleta baru memesan makanan di room service." ucap Aleta pada Devan.


Aleta kemudian masuk kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki, sebenarnya dia ingin mandi. Tetapi dia tidak membawa perlengkapan apapun kecuali yang melekat di tubuhnya. Setelah mencuci muka, Aleta kembali keluar, dan melihat suaminya sedang tertidur.


"Tet...tet..tet...," tiba-tiba bel pintu berdering.


Aleta bergegas membuka, dan petugas room service membawakan pesanan makanan untuk mereka.


"Terima kasih, nanti bayarnya sekalian check out ya." kata Aleta.


"Baik, tapi minta tolong tanda tangan di bill ini ya." sahut petugas room service ramah.


Setelah menandatangani bill, Aleta mengambil alih nampan dan membawa masuk ke dalam kamar. Dia meletakkannya makanan di atas meja sambil menunggu suaminya bangun. Tapi tiba-tiba Devan membuka matanya.


"Tidurlah dulu sayang, mas capai kan," kata Aleta menghampiri Devan di atas ranjang.


Devan menarik tangan Aleta, kemudian mencium tangannya.


"Terima kasih sayang, kamu mau menemani aku." ucap Devan lirih.


Aleta tersenyum mendengar perkataan suaminya.


"Sudah, sekarang mas mau makan dulu, tidur atau gimana. Kalau mau makan, Aleta sudah pesan via room service."


Devan kemudian bangun, dan memeluk erat tubuh istrinya. Setelah beberapa saat, dia melepaskan, kemudian beranjak bangun.


"Kita makan dulu, kemudian ke mall cari perlengkapan kita sebentar." kata Devan.


Aleta segera bangun dan mengikuti suaminya ke arah meja. Mereka menikmati makanan yang tersaji di atas meja, setelah selesai Aleta menaruh di luar ruangan.

__ADS_1


"Kita mungkin baru besok pagi mencari alamat keluarga mama. Kalau malam begini, kita agak susah cari lokasinya." kata Aleta.


"Habis Maghrib kita kesana, mas sudah kirim alamat itu tadi ke anak buah. Dan mas sudah mendapatkan lokasi pasti. Sekarang kita cari perlengkapan dulu." sahut Devan.


Aleta hanya memandang suaminya, dia melupakan kekuatan yang dimiliki oleh Devan. Kemudian mereka berdua menuju mall yang terkoneksi dengan hotel, untuk mencari perlengkapan.


*********************


Setelah sholat Maghrib, Devan mengajak Aleta mendatangi alamat yang diberikan Tante Yayuk. Mereka menyusuri jalan dengan mengandalkan share location google map, yang sudah dikirimkan orang-orang Devan. Akhirnya tidak berapa lama, mobil sudah memasuki sebuah bangunan rumah dengan pendopo di depannya.


"Location benar ini mas, tapi kok sepertinya sepi ya." kata Aleta sambil memandang bangunan rumah di depannya.


Sebuah bangunan rumah yang tidak besar, tetapi terconnect dengan pendopo. Tidak banyak lampu yang menyinari, hanya dari dalam rumah seperti tampak ada kehidupan.


"Ini alamat sudah dicari orang-orangku. Mereka tadi mau ikut kesini, tapi mas tidak enak dengan keluarga mama. Mereka aku larang untuk kesini. Ayo kita turun dulu." ajak Devan.


Mereka sudah berada di depan pintu, kemudian Devan mengetuk pintu tiga kali.


"Sebentar, tunggu ya." terdengar suara wanita setengah baya dari dalam rumah.


"Kalian mau bertemu dengan siapa, kebetulan saya tinggal sendirian di rumah ini." tanya wanita itu dengan ramah.


"Mohon maaf sebelumnya jika kedua kedatangan kami mengganggu. Apakah kami.bisa minta ijin duduk dulu. Karena ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan pada ibu." Aleta meminta ijin.


"Oh ya, mari masuk dulu. Silakan duduk." wanita itu dengan ramah menawarkan mereka untuk masuk.


Aleta mengganggu tangan Devan, kemudian mengajaknya duduk berhadapan dengan wanita tersebut.


"Kalian mau minum apa, teh atau kopi? Ibu buatkan dulu."


"Sudah ibu, tidak perlu repot. Jika diijinkan kami minum air mineral ini saja, nanti jika kami merasa haus Ibu." sahut Aleta sambil menunjuk air mineral yang sudah tersaji di atas meja.


"Oh Monggo..., silakan nak."

__ADS_1


Aleta tersenyum, sedangkan Devan hanya diam sambil mencuri pandang ke wanita yang duduk di depannya. Dia juga tidak tahu, karena dari tadi hatinya merasa deg-degan melihat wanita itu.


"Begini ibu, kami berdua ini datang dari Bandung." Aleta memulai pembicaraan.


Mendengar kata Bandung, wanita tadi agak berubah wajahnya tetapi terlihat kemudian menyesuaikannya kembali.


"Kami kesini karena mendapatkan alamat dari Tante Yayuk tadi pagi. Perkenalkan nama saya Aleta, dan ini suami saya dengan nama Devan. Kedatangan kami kesini, untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan makam mama. Mungkin dari ibu atau saudara ibu, kami bisa mendapatkan informasi tersebut."


Wanita itu tiba-tiba meneteskan air mata, yang dia berusaha untuk menghindar, tetapi tetap mengalir ke pipinya. Aleta menghentikan perkataannya, menunggu sampai suasana terkendali.


"Tidak perlu nak Aleta lanjutkan, kalian berdua mau mencari siapa. Mama kalian siapa namanya." wanita itu memotong cerita Aleta, setelah menghapus air matanya.


"Maafkan kami Ibu, jika kedatangan kami membuka luka ibu. Tapi mohon Ibu memahami kami, suami saya belum pernah mendengar berita tentang keberadaan mama Kinara. Jika ibu ada informasi, mohon kami diinformasikan." kata Aleta perlahan.


"Sejak kapan kalian tahu, jika memiliki mama Kinara. Apakah kalian tidak memiliki foto atau gambar darinya." wanita itu bertanya dengan terisak.


"Kami baru kemarin siang Ibu mendapat informasi ini, dan tadi pagi kami berhasil mendapatkan alamat Ibu dari Tante Yayuk. Hanya ini yang bisa kami lakukan, mohon berikan kami informasi." kata Aleta sambil menggenggam tangan wanita itu.


"Mendekatlah kalian berdua, duduklah di kanan kiri sini." kata wanita itu sambil menepuk kanan dan kiri tempat duduknya.


Aleta memberi kode pada Devan, kemudian mereka berdiri dan mengikuti perintah wanita itu. Mereka duduk di sebelah kanan dan kirinya. Tiba-tiba wanita itu merangkul Devan dan Aleta, dan mencium pipi keduanya.


"Anakku, menantuku. Maafkan mama sayang, maafkan." wanita itu menangis tersedu tanpa melepaskan pelukannya.


Mendengar perkataannya, Devan langsung bergeser menjauh dari wanita itu, tapi Aleta dengan cepat tangannya diletakkan di pundaknya.


"Aku adalah Kinara, maafkan mama. Waktu itu mama tidak bisa menolak keinginan kakek dan nenekmu sayang. Maafkan mama karena telah meninggalkanmu." wanita itu menangis tersedu sambil memeluk Devan.


"Kakek dan nenek memutuskan untuk pindah ke kota ini sayang, dan untuk memulai hidup baru, adik mama mengantarkan kamu ke tempat papamu. Maafkan mama," lanjutnya lagi.


"Aku masih hidup sayang, keluarga membuat cerita ini untuk memisahkan kita. 10 tahun kemudian mama sempat mencari kalian kembali di kota Bandung. Tetapi melihat kamu bahagia dengan Rengganis, akhirnya mama memupus keinginan mama."


Mereka bertiga terdiam, hanya menangis. Tiba-tiba Devan berdiri dan menarik tangan Aleta, kemudian tanpa pamit langsung membawa istrinya menuju mobil. Aleta menangkupkan kedua tangannya di depan dada, kemudian mengisyaratkan pada mama Kinara untuk memberikan waktu.

__ADS_1


*********************


__ADS_2